NOW READING

Yuk, Kenali Konsep Internet of Things dalam Dunia Kesehatan

 4375
+
 4375

Yuk, Kenali Konsep Internet of Things dalam Dunia Kesehatan

by The Daily Oktagon

Studi kesehatan di Amerika Serikat menunjukkan, infeksi telinga telah membuat anak-anak lebih sering datang ke dokter dibandingkan keluhan penyakit lain. Dan sekitar 80 persen anak, setidaknya akan menderita infeksi telinga saat berusia tiga tahun. Bagaimana jika kemudian sebuah aplikasi di smartphone dapat menjadi “dokter” dari infeksi itu?

Sebuah aksesori bernama Oto Home kini dapat digunakan layaknya otoskop, alat yang digunakan dokter untuk melihat bagian dalam telinga pasien. Aksesori buatan CellScope ini dapat digunakan orang tua di rumah, dengan memasangnya di kamera iPhone. Setelah menangkap video keadaan di kanal telinga si anak, video dapat dikirim ke dokter lewat e-mail. Dengan biaya yang telah ditentukan, dokter kemudian mendiagnosa dan memberikan resep obat.

oto-home

Kehadiran Oto Home menurut pembuatnya lebih kepada ide untuk menolong keluarga yang tinggal di daerah terpencil, sehingga cepat terhubung dengan dokter anak. “Kami ingin membawa dokter ke dalam rumah, disamping kemudahan transaksi perbankan yang sekarang dapat dilakukan di ponsel,” ujar salah satu pendiri dan CEP CellScope, Erik Douglas.

The Daily Oktagon sudah menyiapkan ulasan lengkap mengenai perkembangan tersebut. Yuk, kenali konsep Internet of Things dalam Dunia Kesehatan

Sebelum lanjut, baca juga, Membuka Peluang Baru dengan Teknologi 3D Printing di Era Digital Lifestyle

Lebih Praktikal

Perkembangan Internet of Things (IoT) jelas sudah menjalar ke segala bidang, tak terkecuali sektor kesehatan yang pada tahun ini akan semakin terlihat realisasinya. Jim Hunter, Chief Scientist dan Technology Evangelist dari Greenwave Systems menyatakan 2016 sebagai tahun transformasi dari IoT yang teknikal menjadi praktikal dan aplikatif. Oto Home tadi bisa dikatakan contoh kongkritnya.

Orang awam tentu sudah merasakan transformasi ini lewat berbagai produk wearable seperti Fitbit atau Apple Watch. Di ajang Consumer Electronic Show 2016 pada awal tahun ini, para produsen bahkan telah melangkah lebih lanjut dengan tidak hanya membuat fitness wearable dalam bentuk jam tangan. Sepatu olah raga Under Armour meluncurkan sneaker Gemini 2 yang telah dilengkapi sensor, sementara produsen pakaian OM menghadirkan pakaian dalam wanita dengan teknologi serupa.

shutterstock_291787514

Dari sebuah laporan yang diterbitkan ECRI Institute, kehadiran berbagai produk wearable, lewat teknik analisis data yang besar, terbukti efektif dalam prediksi awal fungsi saraf pasien untuk penyakit Parkinson, Alzheimer, demensia, cerebral palsy, manajemen pasca stroke otak, hingga serangan epilepsi. Beberapa wearable juga disebut memiliki kemampuan mendeteksi ketika pasien kemungkinan telah kejang, jatuh, atau tremor.

Pantau Jarak Jauh

Dari sisi tenaga medis, kehadiran wearables tentu amat menjanjikan karena dapat memantau pasien rawat jalan dari jarak jauh, maupun rawat inap dengan lebih nyaman, sekaligus dapat memberikan lebih banyak data untuk para dokter. Transparency Market Research pada akhir tahun lalu sudah memprediksi bahwa pada 2018, lebih dari lima juta wearable dan sensor kesehatan mobile akan digunakan untuk kepentingan kesehatan, sementara tren remote patient disebut akan menjadi sebuah revolusi cara penanganan pasien

Teknologi mengawasi pasien dari jarak jauh dapat menjadi metode penting untuk mengurangi biaya kesehatan dan mempertebal kemungkinan kesembuhan pasien. Contohnya, dokter yang menemukan perubahan pada tanda-tanda vital pada pasien penyakit jantung, dapat mengganti pengobatan sebelum masalah yang lebih serius datang, sehingga pada akhirnya mereduksi kebutuhan dan biaya ruang darurat. Dokter pun dapat melacak status kesehatan pasien di rumah, dan melakukan konsultasi lewat koneksi video call.

shutterstock_155723777

Walau perkembangan IoT di bidang kesehatan terus melangkah jauh, Jim Hunter mengingatkan beberapa kemungkinan tantangan yang harus diantisipasi semua unsur pengguna. Unsur privasi misalnya, akan menjadi masalah tersendiri. Jim memprediksi, terganggunya privasi pengguna wearable misalnya, kemungkinan terjadi karena berbagai kegagalan keamanan dari penyedia IoT.

Akibatnya, yurisdiksi hukum akan mulai memberlakukan aturan yang lebih menguntungkan privasi konsumen, dengan membatasi perpindahan, analisis, hingga komersialisasi data kesehatan.

“Saya tidak akan terkejut bila di masa datang akan ada beberapa class action atau tindakan litigasi pidana dari pasien atau pihak lain yang bermula dari masalah ini,” ungkap Jim. Benar-tidaknya prediksi Jim, masa depan IoT di bidang kesehatan terlihat terang-benderang.

Simak juga ulasan menarik ini, Realisasi Smarthome yang Semakin Nyata di Era Internet of Things

1 comments