NOW READING

Workshop Still Life Photography: Seni Khusus ‘Menghidupkan’ Benda Mati

 6758
+
 6758

Workshop Still Life Photography: Seni Khusus ‘Menghidupkan’ Benda Mati

by The Daily Oktagon
  • Pada workshop “Still Life Photography” yang diadakan di kantor pusat Oktagon, Jakarta, Sabtu (13/8/2016), Ken O. Sanjaya mengungkapkan kiat-kiat khusus terkait pengerjaan foto dengan konsep still life yang apik dan berkarakter.
  • Ken menegaskan, kamera bukan menjadi patokan yang harus mengkotak-kotakan mindset fotografer ketika membuat foto still life. Kreativitas lah yang menjadi senjata khusus untuk menciptakan foto still life yang penuh dengan makna.
  • Still life sendiri dulu memang sempat menjadi tren di Indonesia. Cuma, tren tersebut seolah memudar karena kebanyakan orang sekarang sekadar mengambil foto saja, dan melupakan pakem khusus dalam mempersiapkan Still Life.

Still Life menjadi salah satu genre fotografi mainstream yang ternyata membutuhkan kiat khusus. Padahal, banyak foto-foto bertebaran luas di media sosial yang mengadaptasi konsep serupa. Sayangnya, menurut Ken Obert Sanjaya, foto-foto tersebut masih belum bisa dikategorikan ke dalam Still Life Photography.

Pada workshop “Still Life Photography” yang diadakan di kantor pusat Oktagon, Jakarta, Sabtu 13 Agustus 2016, fotografer profesional tersebut mengungkapkan kiat-kiat khusus bagaimana menciptakan foto dengan konsep still life yang apik dan berkarakter.

Namun, sebelum lebih jauh berguru bersama Ken, ada baiknya kita menyegarkan pengetahuan dulu tentang apa itu Still Life Photography.

Atau Anda mungkin tertarik mengikuti ulasan event The Daily Oktagon lainnya tentang pencahayaan oleh fotografer profesional asal Hong Kong, Patrick Fong

Still Life: Seni Mempercantik Benda Mati

Dijelaskan Ken saat berbincang dengan The Daily Oktagon, still life merupakan salah satu genre fotografi yang membutuhkan teknik dan skill khusus dalam mengambil foto dengan objek benda mati, tidak bergerak.

Dalam genre ini, si fotografer harus mengatur posisi objek—atau bahkan sekelompok objek—menjadi susunan yang pas, serta juga menyesuaikan latar belakang dan pencahayaan agar sinergis dengan objek yang difoto.

Still life sebetulnya banyak cabangnya lagi, cuma yang lagi in sekarang itu food photography. Sayangnya, saya lihat, yang banyak (diunggah di media sosial) sekarang belum mengadopsi konsep still life secara penuh.

Ada empat pilar penting dalam still life, yaitu objek yang menarik, komposisi, pencahayaan dan teknik pengambilan foto,” kata pria yang sudah berkecimpung di dunia perfilman selama 11 tahun ini.

Ken yang juga menguasai hampir semua kategori fotografi ini menjelaskan, still life juga tak bisa lepas dari yang namanya konsep dan desain. Menurutnya, ‘senjata’ ampuh yang harus dimiliki para fotografer ketika menciptakan foto still life adalah kreativitas.

“Kreativitas, daya cipta menjadi tuntutan bagi semua yang ingin mengambil still life. Ya, semacam senjata wajib. Kadang, kita selalu mentok dengan objek dan tempat yang sebetulnya bisa di-expand lebih luas. Thinking out out the box itu juga perlu kalau mau hasil yang wah,” ia melanjutkan.

contoh foto still life

Salah satu karya fotografer Still Life asal Inggris, Dennis Pedersen. (Sumber: dennispedersen.com)

Kamera Bukan Patokan

Ken menegaskan, kamera bukan menjadi patokan yang harus mengkotak-kotakan mindset fotografer ketika membuat foto still life. Kamera baginya hanya menjadi alat penunjang, sementara kreativitas berada dalam prioritas pertama yang harus diemban setiap fotografer.

Di tengah-tengah sesi, Ken memperagakan bagaimana memotret sebuah objek es krim dengan pencahayaan yang minim, saat itu ia menggunakan dua jenis kamera Nikon dan Canon. Ia pun memberikan tips agar dapat menciptakan konsep still life yang baik tanpa terkesan dibuat-buat dan menjadi natural.

Framing harus diatur, jika konsep dan desain sudah dipikirkan. Coba hemat pencahayaan dengan meminimalisirnya. Kalau belum maksimal, coba hadirkan flexible mirror untuk membantu menangkap cahaya dan menghasilkan cahaya yang lebih stabil, serta tidak boros lampu,” kata Ken sambil memperagakan fotografinya.

Ken menekankan, persiapan yang paling krusial kala menciptakan still life adalah pencahayaan dan konsep. “Di poin ini, kita harus memaksimalkan semuanya,” lanjutnya.

Peserta workshop Still Life Photography di Oktagon

Peserta workshop Still Life Photography di Oktagon

Di samping itu, Ken mengungkap bahwa semua orang bisa menggunakan perangkat selain kamera profesional kala mengambil foto still life.

Still life tidak membutuhkan alat profesional. Saya ingin membangun komunitas fotografer dengan kerinduan akan teknik dan skill khusus dalam menciptakan Still Life Photography. Alat-alat seperti kamera smartphone, serta gadget lain sebetulnya bisa menciptakan foto still life asal dengan persiapan baik,” katanya menambahkan.

Simak bahasan tentang Komunitas Fotokita yang lahir dari lomba foto

Pudarnya Still Life Sebagai Tren Fotografi

Berhubung banyak foto dengan jenis serupa yang hadir di media sosial, lantas apakah still life menjadi tren fotografi yang sedang hangat-hangatnya dilakukan? Ken menjawab bahwa still life ternyata tidak menjadi tren fotografi yang digandrungi banyak orang.

Pun demikian, Ken memang membenarkan bahwa still life dulu memang sempat menjadi tren di Indonesia. Cuma, lanjutnya, tren tersebut seolah memudar karena kebanyakan orang sekarang sekadar mengambil foto dengan objek pilihan namun melupakan kiat-kiat khusus dalam mempersiapkan still life.

Ken Obert Sanjaya

Ken Obert Sanjaya

“Banyak yang menganggap mudah mengambil foto still life. Padahal butuh cara khusus dan persiapan yang betul-betul detail. Menurut saya pribadi, kebanyakan foto-foto yang hadir sekarang belum sesuai dengan kriteria still life,” ia berpendapat.

Lantas, ketika ditanyakan tren fotografi yang sedang hype, Ken justru menjawab tren yang sedang berlangsung sekarang adalah tren di mana orang-orang menemukan objek yang menurut mereka pas, memotretnya dan mengunggahnya di media sosial.

“Tren fotografi yang sedang berkembang justru sekarang bukan still life, trennya malah suka pamer. Banyak yang tidak memikirkan hasil, yang penting lebih ke habit atau pride (gengsi). Alangkah lebih baik kalau dipersiapkan semua konsepnya, framing yang oke dan tentunya, kreativitas yang apik,” tutupnya.

Baca juga artikel lain, seperti tips bikin foto GIF seru dengan aplikasi Boomerang berikut ini

0 comments