NOW READING

Workshop Roy Genggam: Fotografi Itu Melukis dengan Cahaya

 2199
+
 2199

Workshop Roy Genggam: Fotografi Itu Melukis dengan Cahaya

by The Daily Oktagon
  • Sudah sekitar 30 tahun Roy Genggam menggeluti dunia fotografi.
  • Berbagai pandangan ia utarakan, mulai dari tidak memotret nude, fotografer yang berkarakter, hingga istilah “melukis dengan cahaya”.
  • Workshop juga diisi dengan demo foto yang unik, dengan kehadiran model binatang.

Albert Einstein pernah berkata, “pengalaman adalah sumber pengetahuan”. Dengan pengalaman di dunia fotografi sekitar 30 tahun, Roy Genggam tentu sudah menjadi “sumber” pengetahuan yang layak untuk dibagikan kepada orang lain.

Maka jadilah gelaran workshop The Daily Oktagon bertajuk  “Close and Personal with Roy Genggam” yang berlangsung 4 Februari 2017 di Oktagon, Gunung Sahari, dipenuhi dengan berbagai petuah dan tips yang rasanya tidak akan bisa didapatkan oleh fotografer pemula.

Roy memulai workshop-nya dengan menerangkan perkenalannya dengan dunia visual bermula saat di bangku kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 80-an. Ia pun mulai membuat film-film pendek dan sempat memenangkan sayembara film pendek yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta.

Roy juga sudah lama bergelut di dunia fotografi, termasuk dengan memotret di beberapa majalah dan akhirnya menekuni fotografi iklan.

Roy mengaku berkomitmen untuk tidak pernah memotret nude, memotret iklan alkohol dan untuk 10 tahun belakangan juga sudah tidak memotret iklan rokok. “Dalam hidup, kita harus punya sikap dan keyakinan terhadap pekerjaan kita,” paparnya kepada 20 peserta workshop.

Workshop dengan fotografer senior lain juga sempat digelar. Intip acaranya di sini

Harus Bisa Adaptasi 

Dalam presentasinya Roy banyak memberikan tips dan trik untuk peserta workshop tentang dunia fotografi komersial yang kompleks dan punya tantangan tersendiri.

Berangkat dari pengalamannya, klien Roy datang dari berbagai bidang, mulai dari produsen susu, perbankan, otomotif, sampai kopi. Keragaman latar belakang itu yang membuatnya harus membagi otak untuk berbagai angle, komposisi hingga persiapan detil, karena setiap klien punya tantangan yang beda.

Namun dengan adanya kerumitan itu, Roy tetap menekankan pentingnya kemampuan fotografer untuk bisa menjawab dan beradaptasi terhadap tantangan tersebut. “Bahkan kalau bisa, setiap foto iklan yang dibuat tidak ketahuan kalau itu yang motret saya,” ungkapnya.

Slide3

Fotografer komersil juga dituntut untuk memahami perkembangan teknologi sehingga bisa mendapatkan sistem kerja yang lebih efisien. Roy misalnya tak segan untuk memberi masukan pada klien untuk hal-hal lain yang bisa dikerjakan oleh orang lain.

“Misalnya untuk mengambil foto sachet sebuah produk yang hampir semuanya pasti berkerut dan jelek, saya biasanya bilang ke klien pakai saja 3D artist, profesi yang kian menjamur di tengah berkembangnya fotografi digital,” jelasnya.

Tertarik dengan fotografi perjalanan? Simak artikel workshop-nya di sini

Menariknya, Roy Genggam mengaku kebanyakan proses foto komersilnya dikerjakan di dalam studio. “Zaman sekarang mudah sekali membuat setting di dalam studio, mau foto ala pantai, jalanan pun bisa, banyak trik yang bisa kita gali. Kalau zaman analog dulu, terkadang kita harus foto ke luar studio dan pasrah pada alam, butuh kesabaran tinggi menghadapi cuaca yang tidak menentu,” terangnya.

Roy juga membuka sebuah rahasia fotografi yang terlihat remeh, namun bisa mendatangkan keuntungan di kemudian hari. Menurutnya, sebisa mungkin mengambil stok foto sebanyak-banyaknya saat sedang photo hunting. “Ini (stok foto) bisa jadi uang lho di masa mendatang, untuk background foto komersil yang macam-macam tanpa kita harus membeli dari situs foto, tinggal buka file,” ungkap Roy.

Demo yang Unik

Terbagi dalam dua sesi, workshop fotografi hari itu berlanjut dengan demo foto yang berlangsung cukup unik. Demo yang mengambil setting seperti layaknya di sebuah hutan itu diikuti dengan semangat oleh para peserta.

Untuk mendukung suasana “hutan”, bahkan demo fotografi hari itu melibatkan seekor ular boa. Menurut Roy, mengabadikan bintang terbilang sulit karena membutuhkan kesabaran.

Hal ini sudah berulang kali ia alami, tak terkecuali saat ini ia tengah menyusun buku fotografi tentang gajah. Demi mewujudkan personal interest-nya itu, dirinya sudah bolak-balik ke Taman Nasional Way Kambas di Lampung.

Slide4

Slide1

Dengan berbagai dinamika yang ada, Roy mengibaratkan bahwa dunia fotografi itu seperti melukis dengan cahaya. “Lighting itu penting dalam dunia fotografi dan kita jangan terlena untuk terus mencoba dan belajar,” jelas pria bernama lengkap Roy Gajah Seto Genggam Nusantoro ini.

Jika tertarik menekuni bisnis foto wedding, simak hasil workshop-nya di sini

Penuturan dan demo yang dilakukan Roy disambut dengan antusias oleh para peserta. Sesi tanya-jawab tidak disia-siakan para peserta untuk “mengambil” ilmu yang dipunyai Roy.

Seorang peserta workshop bertanya pada Roy tentang brand kamera yang biasa dia gunakan dan jadi favoritnya. “Wah saya memakai semua merek kamera supaya tahu hasil foto masing-masing (merek). Ini sudah saya lakukan sejak zaman fotografi analog hingga kini di tengah era digital,” ujar pria pengguna kamera FujiFilm ini.

Sementara Hendru, salah satu peserta workshop yang juga memenangkan doorprize menjelang acara berakhir mengungkapkan bahwa workshop ini bukan saja memberi inspirasi, juga membuka wawasannya akan dunia fotografi. “Roy memaparkan dengan step by step yang rinci dan juga bisa kita aplikasikan,” ungkap Hendru.

Slide2

Satu lagi workshop yang seru sukses digelar The Daily Oktagon. Berbagai workshop menarik lainnya pun sudah siap digelar. Tunggu saja laporan kami dari event-event selanjutnya.

 

0 comments