NOW READING

Workshop Membuat Video YouTube: Viral Belum Tentu Jadi Patokan Eksis

 1874
+
 1874

Workshop Membuat Video YouTube: Viral Belum Tentu Jadi Patokan Eksis

by The Daily Oktagon
  • YouTuber bule Sacha Stevenson, berbagi tips dan pengalaman jadi YouTuber yang eksis dengan video berkualitas.
  • Menurut Sacha, jika ingin membuat video yang baik disarankan untuk memiliki peralatan yang lengkap; karena ia pernah berpengalaman bikin video dengan kualitas suara kurang baik karena hanya merekamnya dari perangkat kamera, dan tanpa tool perekam audio.
  • Menurut Sacha, membuat video YouTube itu ibaran memasak. Sebagian ada yang menganggap enak, tapi ada juga yang tidak suka. Karena itu jangan hiraukan komentar negatif.

YouTube telah menjelma jadi lahan empuk untuk mempertebal pundi-pundi.

Tak sedikit para pembuat konten video (atau lebih akrab disapa dengan julukan ‘YouTuber’) yang awalnya sekadar iseng menggarap satu atau dua video, kian serius mengemas channel-nya dengan ragam konten video menarik untuk menarik views.

Buktinya, kini sudah banyak YouTubers lokal yang ‘hidup’ dari situs berbagi video ini. Layaknya selebritas, mereka bahkan sudah memiliki fanbase dengan jumlah yang tak main-main.

Barometer sukses seorang YouTuber diukur dari penilaian pihak YouTube. Setelahnya, baru uang yang bicara. YouTube baru memberlakukan sistem monetisasi jika video yang diunggap memiliki persyaratan berikut: Kualitas video baik, orisinal, dan ditonton banyak orang.

Bicara soal views, video yang menarik banyak penonton biasanya disebut viral. Lihat saja, beberapa tahun terakhir, jagat maya beberapa kali dihebohkan banyak video dengan konsep ‘dadakan’ yang pada kemudian menjadi viral.

Yang terbaru, sebut saja PPAP (Pen Pineapple Apple Pen) dari Pikotaro yang belakangan dibicarakan banyak orang. Jumlah penontonnya—hingga artikel ini diterbitkan—sudah menyentuh angka 100.580.151. Jumlah fantastis berkat konsep unik yang terkesan nyeleneh. Keuntungannya pun pasti besar.

Dan meski berasal dari YouTube, bukan berarti hanya ramai ditonton di situ saja. Video juga bisa tersebar ke platform lain seperti Facebook, Path, sampai Instagram.

Lalu, bagaimana dengan pembuat kontennya? Apakah pasti akan jadi terkenal? Atau ditenggelamkan video buatannya? Bagaimana dengan kita yang ingin jadi YouTuber biar bisa dikenal banyak orang?

Dalam workshop bertajuk The Secret To Become A Well-Known YouTuber di Oktagon, Jakarta, Sabtu 15 Oktober 2016, penggiat video YouTube Sacha Stevenson berbagi ketertarikannya soal kaitan di antara viralitas dan eksistensi di dunia pembuatan video YouTube.

Tak hanya itu, ia juga berbagi tentang ramuan membuat konten yang berkualitas, dengan tahap kontinuitas yang tepat pula. Seperti apa? Ikuti ulasan The Daily Oktagon berikut ini:

video youtube sacha

‘Senjata’ YouTuber Harus Lengkap

Pada awal sesi yang dihadiri setidaknya 15 orang ini, Sacha mengumbar detail peralatan yang dibutuhkan untuk membuat video yang menarik.

“Ini memang banyak, kalau buat pemula, modal kamera smartphone juga nggak apa-apa,” katanya sembari menunjukkan boks berisi perintilan kamera dan aksesorinya di depan para peserta workshop.

Meski begitu, perempuan kelahiran Kanada ini menekankan soal pentingnya melengkapi ‘senjata’ untuk membuat video berkualitas. “Ya, jika memang niat dan benar-benar mau dilihat banyak orang, don’t botherbuat mengumpulkan peralatan dan aksesori yang complete,” ia melanjutkan.

Sacha sendiri menggunakan Canon EOS 7D sebagai kamera utamanya kala merekam video. Adapun ‘senjata’ lain yang ia gunakan untuk melengkapi proses perekaman meliputi tripod, external audio recorder, green screen, alat lighting, hingga software editor video.

Awalnya pun tidak mulus buat Sacha. Ia mengaku sempat gagap teknologi saat mesti menggunakan alat-alat bawaannya untuk pertama kali.

“Awalnya saya bingung. Saya enggak tahu cara editing video itu bagaimana, saya waktu itu masih jadi cave man (manusia purba). Akhirnya saya belajar secara autodidaktik dari internet, saya googling caranya gimana,” ceplos Sacha.

Ia juga menjelaskan kalau audio itu elemen penting saat menggarap video. Belajar dari pengalaman awalnya ketika membuat video, ia memiliki video denagan kualitas suara kurang bagus, karena hanya merekamnya dari kamera saja.

“Dulu saya rekam gambar dan audio dari device yang sama. Hasilnya? I can’t even hear my voice clearly. Saya lalu belajar gimana cara bikin video dengan rekaman suara berkualitas oke. Akhirnya saya belimicrophone external, yang bisa digantungi dan ditempel di belakang badan,” tuturnya menjelaskan.

Langkah menantang Sacha itu pula yang membawanya jadi YouTuber ternama hingga kini; dan semua itu tidak berjalan secara instan.

Berawal dari channel lama yang ia beri nama Sacha’s Old Channel, hingga pada 2013 ia mencuat lewat seri video How to Act Indonesian; serial yang mengangkat parodi aksi dan kebiasaan orang Indonesia, yang dianggap ajaib dari sudut pandang seorang bule. Hal ini dilakoni oleh Sacha sendiri.

Baca profil lengkap Sacha Stevenson, YouTuber bule yang sudah 15 tahun tinggal di Indonesia, di sini

video youtube sacha

Konsistensi untuk Jadi Viral Genius

Sacha mengaku, kala menggarap How to Act Indonesian, ia sempat belajar dari beberapa channel YouTube populer. Salah satu di antaranya adalah channel JennaMarbles dari Amerika Serikat. Ia pun mengambil kesimpulan kalau video yang viral ternyata belum bisa eksis secara konsisten.

Ia menilai, channel JennaMarbles bisa jadi salah satu contoh ideal, karena memiliki video dengan tema-tema konsisten yang berpeluang viral.

“Saya berpikir, kalau saya mau bikin video dengan tema komedi ya seterusnya harus komedi. Di sini saya putar otak bagaimana bikin video yang viral tapi tetap konsisten dan rajin upload,” ia mengatakan.

Poin ini yang dipandang Sacha menantang sebagai YouTuber; yaitu konsisten membuat video berkualitas secara kontinu, tapi tetap memiliki kemungkinan viral.

“Menurut saya, viral itu enggak perlu ditonton jutaan. Viral juga belum tentu jadi patokan eksis. It will come as the time goes by within your existence,” timpal Sacha yang kini sudah mengantongi lebih dari 200 ribusubscribers YouTube.

Meski begitu, Sacha juga menambahkan, kalau video viral memang jadi momentum pas untuk mengukuhkan eksistensi di ranah YouTube.

Ia mengambil contoh video PPAP, seharusnya momen ini jadi kesempatan yang tepat untuk menggarap video dengan konsep serupa secara terus menerus. “Jika yang terkenal PPAP saja, saya yakin viral-nya sesaat. Orang hanya ingat kontennya saja. Bukan kreatornya,” katanya.

Selain itu, disampaikan juga oleh Sacha, kalau jumlah subscriber menjadi patokan eksistensi seorang YouTuber.

“Orang-orang subscribe ke channel YouTube karena mereka nggak hanya lihat satu video saja. Tapi beberapa atau almost all. Kalau video yang sekali viral tiba-tiba hilang, potensi subscriber justru sedikit,” terang Sacha.

Simak juga ulasan tentang tiga kamera wajib untuk vlogger pemula, di sini

video youtube sacha

Deal With Haters

Tak semua video karya Sacha, ternyata disukai netizen. Buktinya, salah satu videonya yang ia unggah kala pemilihan Presiden 2014 lalu menuai kontroversi dan perdebatan.

Malah, tak sedikit netizen melontarkan komentar pedas. Menariknya, para haters ini malah membuatnya tak gentar.

Sometimes, ada yang bikin aku jadi lebih semangat bikin video. Apa yang mereka bilang ada benarnya juga. Tapi ada juga yang komentarnya scary, but I’ll pass it on. Sometimes, I love haters,” ia mengakui.

Membuat video di YouTube menurut Sacha ibarat memasak. Rasanya mungkin sebagian dianggap enak, sisanya malah tidak suka.

“Yang tidak suka (haters) justru bikin kita penasaran, bagian mana sih yang bikin enggak enak? Kalau ternyata kita yang salah, ya kita minta maaf kalau masakannya tidak enak. Tapi kalau ternyata proses kita benar, mungkin mereka yang kurang paham,” jelas Sacha.

Terkait cara menghadapi haters ini pun, menurut Sacha susah-susah gampang.

“Awalnya mungkin kita balas, tapi perlu disadari it’s just wasting your time. Komentar negatif itu biasa. Yang penting, be yourself and continue. Fokus untuk tetap eksis lewat video-video yang kita buat lebih penting,” ujarnya.

As long as kontennya positif dan orisinil, you’ll be going to take it to another level,” pungkasnya menutup sesi workshop kali ini.

Usai acara, para peserta pun mengambil kesempatan berkenalan langsung dan berfoto bersama Sacha. Hanya dengan Rp 75.000 peserta puas dengan pengetahuan yang di-share Sacha, lengkap dengan sesi makan siang dan menikmati kopi bersama.

Kalau Anda tertarik bergabung dalam perbincangan dan workshop seputar gaya hidup digital, pantau informasi event Oktagon di laman Facebook atau Instagram kami. Karena berbagai topik seru yang dipandu pembicara berpengalaman bakal bikin digital lifestyle Anda lebih menyenangkan untuk dijalani.

Ikuti berbagai artikel laporan events yang diadakan atau didukung The Daily Oktagon di sini

0 comments