NOW READING

Workshop Fotografi untuk Jurnalis: Harus Jeli dan Bermental Baja

 1494
+
 1494

Workshop Fotografi untuk Jurnalis: Harus Jeli dan Bermental Baja

by The Daily Oktagon
  • Menggali informasi awal sebelum terjun ke lapangan adalah langkah pertama yang harus ditempuh oleh seorang fotografer.
  • Ketika berada di lapangan, seorang fotografer harus jeli dan cermat memahami kondisi lapangan seperti apa.
  • Pendekatan ke narasumber penting dilakukan supaya fotografer lebih baik lagi dalam menjalankan tugasnya.

Jurnalisme dan fotografi memiliki tautan erat satu sama lain yang tak terpisahkan. Bayangkan saja, apa jadinya kalau jurnalisme tidak ditemani foto-foto penunjang yang relevan dengan beritanya? Bahkan dalam beberapa kasus, kehadiran foto-foto itulah yang jadi daya tarik orang mengikuti berita.

Terkait hal itu, diskusi tentang fotografi jurnalisme digelar Sabtu, 8 Oktober pekan lalu, di Oktagon, Gunung Sahari, Jakarta. Membahas hal ini, Oktagon menggandeng narasumber kompeten di tersebut, yaitu Adek Berry; fotografer kantor berita Perancis, AFP, yang punya segudang pengalaman lapangan terkait fotografi jurnalisme.

Dalam diskusi tersebut Adek tidak hanya berbagi pengalamannya selama mengabadikan beragam peristiwa, mulai dari festival tradisional terbesar di Papua, bencana alam, hingga daerah konflik di Afganistan, tapi juga memberikan tips kepada para peserta diskusi, yang kebanyakan adalah fotografer.

Simak juga pembahasan tentang penggunaan drone dan perizinannya, di laporan event lainnya berikut ini

Menggali Informasi Awal Sebelum Terjun ke Lapangan

Mengawali presentasinya, Adek yang sebelumnya bekerja di media cetak, menampilkan kumpulan jepretannya pada peserta, dan salah satu yang menarik di sini adalah hasil potretnya di Festival Lembah Baliem, Papua.

“Tantangan terbesar memotret di sini adalah pencahayaan. Kalau tidak cermat, hasilnya bisa overexposed gara-gara sinar matahari yang sangat terang,” ujar Ade pada para peserta yang sudah hadir di Oktagon sejak kurang dari pukul 9 pagi.

Kemudian, Adek menyarankan pada peserta yang hadir, bahwa ketika seorang jurnalis foto ditugaskan ke suatu tempat, ia harus melakukan pencarian informasi awal terlebih dahulu.

“Kalau ke Festival Lembah Baliem, misalnya, cari tahu festivalnya bagaimana dan foto-foto karya orang lain yang sudah ada tentang festival ini seperti apa. Pelajari. Dari situ kita bisa perkirakan berapa jarak memotret kita dan lensa apa saja yang kita perlukan nanti,” kata Adek.

jurnalis fotografi jurnalisme

Di samping itu, penggalian informasi awal juga sangat berguna untuk mengantisipasi apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di lokasi itu.

“Kita harus menyesuaikan dengan kondisi setempat. Misalnya, di Afganistan, mereka enggak terima fotografer laki-laki masuk ke rumah. Dengan kita tahu informasi lapangan, kita pun tahu bagaimana kendala yang akan kita hadapi,” tutur Adek.

Cermat Saat di Lapangan

Tantangan sebenarnya buat seorang fotografer muncul ketika ia ada di lapangan. Ia mesti pandai menganalisis kondisi lapangan. Contohnya, ketika ditugaskan untuk mengabadikan aksi demonstrasi, ia harus paham betul pihak mana yang akan cenderung over power selama aksi berlangsung.

“Kalau polisi over power, kita lebih baik (memotret) dari sisi polisi. Kalau ada dorong-dorongan (antara polisi dan peserta aksi demonstrasi), kita enggak akan terdorong,” tutur Adek.

Tapi di sisi lain, Adek mengakui bahwa tidak semua fotografer punya kemampuan lapangan yang bagus, terutama pemula.

jurnalis fotografi jurnalisme

“Ada yang punya street skill yang bagus, punya kemampuan lapangan yang bagus, tapi ada juga yang tidak. Tapi at least yang paling penting riset dulu lah, biar tahu informasi awal lapangan itu seperti apa,” ujar Adek yang tampil bergaya kasual dengan hijab berwarna kuning.

Bertindak cermat di lapangan juga sangat diperlukan untuk memahami kondisi, apakah memungkinkan untuk memotret atau tidak. Adek menegaskan, kalau kondisinya tidak memungkinkan untuk memotret, seorang fotografer sebaiknya tidak usah memotret.

Pendekatan ke Narasumber

Bayangkan kalau tiba-tiba ada orang tak dikenal memotret Anda, mungkin Anda merasa risih, bukan? Itu pula yang setidaknya dirasakan narasumber yang hendak kita potret. Mengatasi hal ini, fotografer sebaiknya melakukan pendekatan ke narasumber untuk meminta izin.

“Fotografer itu, baru angkat kamera aja, kadang ada narasumber yang udah marah. Lakukan approach ke narasumber. Cobalah minta izin dan bersikap terbuka. Itu sangat membantu,” kata Adek.

Tantangan lain adalah, kadang lapangan tempat fotografer bertugas memang sangat ‘selektif’ terhadap fotografer.

“Ketika di Syiria saya pernah ditanya, ‘Are you Muslim? Are you Christian?’. Pas saya jawab saya Muslim, ditanya lagi, ‘Are you Sunni? Are you Syiah?’ Di sini yang namanya pendekatan berperan sangat penting,” tutur Adek.

Baca juga ulasan workshop human interest photography di sini

Menangani Tekanan Mental dan Bersikap Netral

Setelah seorang fotografer menggali informasi awal dan memahami kondisi lapangan, bisa jadi kondisinya jauh lebih berat dari perkiraan.

Dalam pandangan Adek, yang penting adalah si fotografer menjunjung profesionalisme dan idealisme ketika bertugas di lapangan, fokus saja memikirkan tugas dan tenggat penyerahan foto pada tim di kantor.

“Paling pas, selesai (tugas di lapangan), baru kita mikir, merenung, atau bahkan nangis karena apa yang kita saksikan langsung di lapangan,” ujar Adek.

Untuk beberapa tugas lapangan tertentu, seperti liputan di daerah konflik atau bencana, tidak jarang ada yang mengalami trauma setelah tugasnya selesai. Adek menilai, trauma adalah wajar buat siapapun yang bertugas di daerah konflik, di mana cukup lazim menyaksikan mayat-mayat tergeletak di berbagai tempat.

“Justru kalau gak ada trauma (ketika pertama kali liputan ke lapangan seperti itu), (fotografer) itu (ber-)masalah. Sekelas tentara pun kadang ada yang trauma,” kata Adek.

jurnalis fotografi jurnalisme

Selain penting untuk matang secara mental, fotografer juga mesti bersikap netral. Menurut Adek, netralitas adalah harga mati buat seorang jurnalis foto. Sikap ini penting untuk menyampaikan informasi yang tidak mengandung opini pribadi si fotografer.

“Saat bertugas di konflik di Ambon, posisinya kan saya seorang Muslimah yang berjilbab. Dan selama di sana, saya harus betul-betul memosisikan diri sebagai jurnalis. Saya sempat ditanya-tanya ini-itu, tapi kalau pendekatan kita bagus, kita datang baik-baik, kita akan diterima kok,” tutur Adek.

Pentingnya Keterangan Foto

Supaya informasi yang disampaikan ke audiens lewat foto tidak bias, diperlukan keterangan foto (caption) yang kuat. Tanpa caption, orang bisa jadi menebak-nebak, peristiwa apakah itu? Siapa sosok di dalam foto itu? Dan soal caption ini, ada dua macam: short caption dan extended caption.

Caption itu penting. Ada loh fotografer yang enggak tahu cara nulis caption. Ada juga yang enggak tahu siapa yang dia potret. Yang seperti ini, biasanya mereka nunggu fotografer lain yang tahu soal itu,” kata Adek.

Adapun informasi yang setidaknya wajib ada di caption sebuah foto mampu menjawab beberapa pertanyaan berikut ini: Peristiwa atau kejadian apakah itu? Siapa sosok di foto? Dan kapan peristiwa atau kejadian itu berlangsung?

Lalu, khusus foto berita hard news, Adek sangat menyarankan fotografer mengirimkan foto itu seadanya saja ke tim di kantor; fotografer tidak perlu mengolah dan mengedit foto tersebut. “Foto hard news seadanya saja. Biasanya kan perlu cepat, sangat ditunggu,” ujar Adek.

jurnalis fotografi jurnalisme

Keterangan dan sederet kiat di atas bikin lebih dari 25 peserta yang hadir di workshop berjudul Photography for Journalist ini merasa puas.

Bagaimana tidak, dengan registrasi Rp 50.000, mereka bisa mendengar insights langsung dari praktisi sekaliber Adek Berry, mendapat kesempatan bertemu dan berjejaring dengan peserta lainnya, voucher Rp 100 ribu dari Oktagon, serta doorprize. Jadi, jangan sampai lewatkan event Oktagon berikutnya!

Seperti pada workshop still life photography yang tak kalah seru berikut ini

0 comments