NOW READING

Workshop Fotografi Perjalanan: Tak Asal Indah, Tapi Penuh Esensi

 2480
+
 2480

Workshop Fotografi Perjalanan: Tak Asal Indah, Tapi Penuh Esensi

by The Daily Oktagon
  • Tidak cukup hanya memiliki penguasaan terhadap teknis kamera, tapi juga melibatkan elemen non teknis dan non fotografis.
  • Pentingnya riset yang matang dan observasi dalam travel photography
  • Mencari dan menemukan esensi The Spirit of the Place

Akhir-akhir ini traveling telah menjadi gaya hidup yang tak bisa dipisahkan bagi banyak orang. Kesempatan untuk berpergian kian terbuka lebar. Kemunculan media sosial juga seolah memunculkan hasrat menggebu tiap orang untuk traveling, hingga berbagai dokumentasi yang ‘berakhir’ di laman media sosial.

Siapapun bisa jadi pelancong dan mengabadikan momen berpergian mereka (dengan atau tanpa dibekali kamera canggih sekalipun). Namun, workshop yang digelar 3 Desember 2016 lalu di Oktagon, Jakarta bersama fotografer travel profesional, Sandy Wijaya, membawa kita lebih jauh pada hakikat dan pemaknaan travel photography.

Apa itu Travel Photography?

Jika ditelusuri dari definisinya, travel photography atau fotografi perjalanan merupakan sub-kategori fotografi dengan cakupan genre yang luas dan melibatkan dokumentasi mengenai lingkungan, manusia, budaya, adat istiadat, dan sejarah.

Photographic Society of America (PSA) sendiri mendefinisikan fotografi perjalanan sebagai karya foto yang mampu mengekspresikan perasaan, waktu dan tempat tertentu tanpa batasan geografis.

Sandy mengingatkan,  dalam memotret tentu ada maksud dan tujuan. “Saat kita hendak ke Flores atau Myanmar misalnya, kita sudah tahu tujuannya. Cuma sekadar tahu atau ingin menggali lebih dalam. Seharusnya intensi ini muncul sebelum kita memutuskan untuk mendatangi wilayah itu,” pesan pria yang mengawali terjun ke dunia fotografi secara otodidak.

fotografi

Dalam fotografi perjalanan, fotografer tidak cukup hanya memiliki penguasaan terhadap teknis kamera, tapi juga keterampilan melakukan pengamatan. Foto perjalanan yang berhasil, tak semata ditinjau dari sisi estetika, komposisi yang bagus, atau keberhasilan menangkap momen, tapi juga sukses menangkap “jiwa”.

“Foto itu bisa mencerminkan state of mind atau kondisi berpikir seorang fotografer saat memotret. Jika hatinya tenang, bisa terbaca dari fotonya,” ungkap Sandy mengingatkan perlunya pemahaman elemen non-fotografis untuk menghasilkan fotografi perjalanan yang baik.

Jika sedang merintis usaha fotografi pre wedding, simak kiatnya di sini

Kekuatan Riset

Sandy memaparkan beberapa persiapan yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk menghasilkan foto perjalanan yang baik.

Seharusnya dengan berbagai kemudahan yang tersedia saat ini, tidak ada alasan untuk malas melakukan riset. Maka, sebelum melakukan perjalanan, ada empat hal yang perlu dicermati lebih lanjut. Keempat hal itu adalah lokasi, cuaca, waktu, budaya dan peralatan.

Kita hendak ke mana, objek wisata atau lokasi mana saja yang akan dikunjungi menjadi bagian riset pertama. Memahami cuaca dan waktu terbaik untuk memotret juga esensial. “Suatu wilayah tertentu tentu punya waktu terbaik, misalnya saat sunrise, sunset, di saat musim semi atau musim salju.”

sandy4

Meriset lokasi, cuaca dan waktu cenderung lebih cepat ketimbang mempelajari budaya setempat yang biasanya cukup luas dan mendalam. Cobalah mencatat do’s dan dont’s dan kebiasaan masyarakatnya.

Sandy bahkan menggunakan istilah “GPS” atau Gunakan Penduduk Setempat, untuk “memanfaatkan” penduduk lokal untuk menggali informasi tentang lokasi yang mungkin belum terjamah fotografer lain.

Mengetahui format foto yang akan dilakukan juga menjadi bagian penting. Apakah Anda akan membuat photo stories, yang arahnya ke penceritaan, pengungkapan opini dan sudut pandang, atau membuat photo series sebagai upaya pendokumentasian tanpa narasi lebih dalam.

Jika seluruh elemen tersebut sudah lengkap, maka Anda pun bisa mulai menyiapkan peralatan memotret yang akan dibawa, sesuai dengan yang dibutuhkan.

Fotografi itu Seni Observasi

“When you are in Rome, do as the Romans do.” Ungkapan tersebut perlu diamini para fotografer perjalanan. Sandy menekankan bahwa fotografi adalah seni observasi. Artinya, keterampilan utama seorang fotografer tidak sebatas menguasai teknis kamera, tetapi keterampilan untuk mengamati.

Keterampilan observasi, bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki secara alami setiap orang, namun kabar baiknya keterampilan tersebut bisa diasah. “Buka diri kita agar lebih sensitif terhadap lingkungan sekitar, mulai dibangun dari kehidupan sehari-hari kita,” ujar pengguna Sony SLT sebagai salah satu gear-nya ini.

“Pengamatan yang baik akan cahaya, subyek atau obyek, bayangan, warna, tekstur, ruang, bentuk dan pola akan meningkatkan karya foto. Pengetahuan teknis hanya akan membawa kita untuk menghasilkan foto yang benar, namun belum tentu dapat menghadirkan spirit of the place,” lanjut Sandy.

Workshop fotografi untuk jurnalis. Baca artikelnya di sini 

Membangun Esensi Spirit of The Place

Spirit of the Place mengacu pada aspek yang abstrak, unik, khas serta otentik dari sebuah tempat tertentu dan erat kaitannya dengan perspektif seorang fotografer dalam membangun “jiwa” dalam sebuah karya foto. Inilah yang menentukan karya foto perjalanan dianggap berhasil.

Menurut Sandy, dalam membangun esensi Spirit of the Place ini tidak selalu mudah ditemui, karena kerap tersembunyi. Perlu pemahaman lebih lanjut dengan area disiplin yang tidak berkaitan dengan fotografi, sebut saja mengenai sejarah, budaya, adat istiadat, keyakinan, cerita rakyat yang melingkupinya.

fotografi

Sandy mengisahkan perjalanannya ke Lhasa, Tibet, beberapa waktu lalu. Setelah melakukan riset dan observasi, Sandy mengetahui ada hubungan yang istimewa antara masyarakat Tibet dengan cahaya. Bagi mereka, cahaya adalah representasi Ilahi. Ia menghabiskan empat hari menginap di rumah penduduk dan baru hari ketiga mendapatkan foto yang diharapkan.

Tentu tak seluruhnya sulit ditemukan, perwujudan fisik dalam membangun Spirit of the Place bisa kita temui dengan mudah melalui arsitektur, pakaian dan karya seni dalam wujud musik dan tarian.

Sekitar 40 peserta yang hadir hari itu seolah disadarkan kembali, bahwa fotografi perjalanan tak sekadar mendokumentasikan keindahan lokasi dan segala hal yang ditemukan sepanjang berpergian. Tapi lebih dari itu, lewat fotografi perjalanan kita mampu mempelajari manusia dengan segala atribut dan interaksinya.

Memotret human interest juga ada kiatnya. Selangkapnya di sini

Workshop Penuh Ilmu

Acara hari itu sendiri berlangsung dengan dinamis. Sandy sendiri mengakui bahwa workshop berlangsung seru,termasuk lontaran berbagai pertanyaan dari para peserta. “Harapan saya setelah acara ini, peserta dapat lebih memaksimalkan potensi skill dan atau gear selama travelling, melihat dari sudut pandang yang berbeda ketika mengunjungi suatu tempat,” ungkapnya.

fotografi

Pendapat senada datang dari para peserta. Ignatius Budi misalnya, mengaku sudah beberapa kali mengikuti workshop yang diadakan The Daily Oktagon dan merasakan banyak manfaatnya. Sementara Christine Sitorus menyatakan mendapatkan berbagai ilmu seperti persiapan dan konsep foto dalam travel fotografi.

Bahkan tak hanya mendapat ilmu, Christine siang itu menjadi orang yang beruntung karena berhasil mendapatkan doorprize dari Oktagon. “Tentu saya mau ikut lagi kalau ada workshop seperti ini lagi,” ujar wanita yang berdomisili di Kuningan, Jakarta itu. Bagi Anda yang belum sempat ikutan, ditunggu saja event The Daily Oktagon selanjutnya!

0 comments