NOW READING

Workshop Digital Photography: Menciptakan Mood di Dalam Foto

 1785
+
 1785

Workshop Digital Photography: Menciptakan Mood di Dalam Foto

by The Daily Oktagon
  • Workshop Discover Digital Photography menghadirkan dua narasumber, fotografer profesional bidang fashion dan graphic designer.
  • Workshop bertujuan mengasah kemampuan teknik memotret dan mengolah kreativitas peserta ketika menyunting hasil bidikan.
  • Selain diperkenankan belajar memotret dan menyunting hasil akhir, foto bidikan mereka juga diikutkan dalam kompetisi yang diadakan di akhir acara.

Fotografi tak melulu tentang belajar membidik suatu objek, namun juga cara ‘mengemas’ momen yang hendak diabadikan dalam teknik khusus. Kalau perlu, hasil bidikan perlu ‘pengolahan’ agar mendekati ekspektasi. Secara kesinambungan, barulah proses ini dianggap ’sah’ disebut fotografi.

Hal ini menjadi fokus utama dalam workshop Discover Digital Photography yang diadakan 18 Januari 2017 lalu di Aula D Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Workshop yang dihelat Atma Jaya Ventures ini mengajak 22 pesertanya untuk menyelami seluk beluk dunia fotografi, dan pentingnya korelasi antara memotret objek dengan baik dan proses setelahnya, yaitu pengolahan citra digital (digital imaging) untuk memoles hasil akhir.

Workshop dihadiri dua narasumber andal, yaitu Denny Herliyanso, fotografer profesional bidang fashion yang juga editor foto salah satu majalah wanita ternama di Indonesia, serta Tri Suwandi, seorang senior graphic designer.

Seperti apa benang merah dari workshop Discover Digital Photography? Untuk lebih lengkapnya, simak laporan The Daily Oktagon yang juga menjadi pendukung acara ini.

Teknik Pendalaman Genre

Menurut Denny Herliyanso, fotografi adalah aktivitas yang dinamis. Kadang mudah dilakukan, kadang seringkali sulit. Untuk itu dibutuhkan teknik yang spesifik agar dapat menciptakan mood dari momen atau objek yang hendak dibidik.

Denny lantas memberi contoh bidang fotografi yang digelutinya, fotografi fashion. “Ini adalah salah satu genre fotografi dengan teknik khusus yang perlu didalami, agar fotografer bisa mengerti mood dari objek yang hendak dipotret,” jelasnya

Slide4 ok

Pendalaman teknik sebuah genre menurut Denny dapat menghasilkan hasil foto yang berkesan. Maka ia menekankan, para fotografer juga seyogyanya menyelami karakter dan latarbelakang dari objek sehingga bisa melahirkan genre yang diinginkan.

Salah satu caranya adalah jeli melihat tren. Timbulnya sebuah tren tentu berawal dari sebuah budaya, yang dalam konteks fashion menurut Denny kebanyakan dari Eropa.

“Namun (tren) tidak mesti selalu dijadikan bahan contekan, setiap perancang punya fantasi masing-masing. Kita bisa blend in dengan tren dari masing-masing perancang,” ungkapnya.

Kalau mau belajar fotografi perjalanan, simak di sini

Asyiknya Memotret dengan Lighting

Hal lain yang ditekankan Denny dalam penciptaan mood adalah teknik lighting, yang sangat diperlukan terlebih di fotografi dalam ruangan.

Dalam praktik yang dilakukan bersama peserta, ia memberikan contoh beberapa teknik lighting, di antaranya front light, oval light, side light dan back light. Terdapat tiga jenis lighting yang disediakan langsung oleh Oktagon, di antaranya ada Profoto B2 , Profoto Pro-8A dan Profoto D2.

Slide1 ok

Teknik yang menurutnya paling sering digunakan adalah front dan oval light. “Front light memanfaatkan cahaya secara utuh ke depan objek. Area objek akan jadi fokus utama di foto karena akan dapat cahaya yang utuh,” paparnya.

Sedangkan oval light, yang juga menjadi teknik lighting favoritnya, adalah teknik menggunakan arah cahaya dari sudut 45 derajat dari posisi fotografer.

Oval light membantu menciptakan dimensi pada sebuah objek. Menariknya, teknik pencahayaan ini tak perlu menghilangkan bentuk objek namun lebih memberikan aksen yang lebih elok,” ungkap Denny.

Malam penghargaan untuk fotografer. Simak lebih jauh di artikel event kami.

Teknik side light, menariknya termasuk ke dalam salah satu teknik favorit para peserta karena dianggap paling simpel. Teknik ini, lanjut Denny, memanfaatkan cahaya dari arah samping objek. “Cahaya yang kena ke objek cuma setengah, memberikan efek khusus dalam suatu foto.

Sementara, teknik back light membutuhkan kemampuan dan pencahayaan yang tidak berlebihan. Denny menekankan fotografer harus bisa memprediksi apakah cahaya yang membelakangi objek cukup atau terlalu berlebih.

“Harus bisa diukur supaya balance. Dari situ, pinggiran objek yang terkena back light akan terpancar garis cahaya yang membuatnya semakin cantik,” jelasnya.

Pentingnya Digital Imaging

Tri Suwandi yang mengisi sesi kedua memfokuskan pada pentingnya digital imaging di dunia fotografi.

Untuk proses pengolahan pasca pemotretan, ia meyakini sudah dilakukan dari zaman dulu. “Semua foto tentu harus ditinjau ulang lagi, apa ada yang perlu diperbaiki, diperhalus, atau diubah,” ucap Wandi.

Namun salah satu pembeda dinamisnya dunia fotografi di zaman dulu dan sekarang adalah perkembangan teknologi. Proses digital imaging sudah seperti suatu keharusan. Dalam industri fotografi fashion khususnya, digital imaging bahkan sudah masuk ke dalam proses fotografi.

Wandi bahkan berpendapat digital imaging dalam fotografi fashion adalah proses yang saat ini porsinya bahkan bisa lebih besar dari aktivitas mengambil foto sendiri.

Dewasa ini proses pengolahan foto secara digital berkutat dengan berbagai hal seperti pengaturan warna, penyeimbangan cahaya, komposisi foto, saturasi warna, dan level noise. “Beban editor digital bisa lebih besar dari fotografer karena (editor digital) yang memegang hasil akhirnya,” tutur Wandi.

Wadah Asal Skill

Workshop tentu tidak hanya diisi oleh “teori” yang disampaikan para pembicara. Terdapat sesi praktik untuk para peserta. Denny membawa para peserta memotret para model tamu dengan teknik yang mereka pelajari.

Tersedia tiga jenis latar dengan masing-masing pencahayaan yang berbeda, dari satuhingga tiga lighting. Dari posisi lighting yang diletakkan, para peserta harus memotret model dengan teknik khusus agar dapat menciptakan genre dari foto yang mereka abadikan.

Setelah selesai melakukan pemotretan, Wandi mengajak peserta meng-edit foto di komputer. Untuk memudahkan peserta, mereka juga menggunakan perangkat Wacom Pen Tablet agar proses pengolahan berlangsung lebih lancar dan praktis.

slide2 ok

Slide3 ok

Hasil akhir foto pun dikompetisikan untuk kemudian ditentukan pemenangnya. Terdapat berbagai hadiah yang diberikan kepada masing-masing pemenang, seperti filter kamera, power bank, travel bag, cleaning kit kamera hingga memory card.

Juara pertama pemenang kompetisi, yaitu Rizky Farras mengaku senang karena tak menyangka ditunjuk sebagai juara. Tujuannya datang ke acara ini hanya untuk mengasah kemampuan teknik pengambilan foto yang apik dan careful. “Semoga makin banyak workshop seperti ini lagi ke depannya,” ujar pria pengguna Canon EOS 10D ini.

Alasan serupa datang dari peserta lain. Dominik Reynaldo menyebut kehadiran workshop sangat berguna untuk meningkatkan pemahaman teknik fotografinya. “Plus saya juga masih awam untuk urusan edit,” tutur Dominik yang masih duduk di kelas XII SMA Regina Pacis.

Jangan hanya paham cara membidik, namun juga cara menyimpan kamera. Simak di sini

Ferdian Suprapta, Direktur Atma Jaya Venture, mengaku senang workshop bisa terselenggara. Menurutnya, fotografi adalah salah satu elemen penting yang harus diasah generasi millenials.

Atma Jaya Venture sendiri merupakan lembaga khusus yang mengadakan proyek, workshop dan training bersertifikasi dari Universitas Katolik Atma Jaya.

“Kami senang acara ini bisa mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Semoga semua sharing yang disampaikan narasumber berguna bagi peserta dan tak hanya disimpan di atas kertas, namun bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari,” ungkap Ferdian.

Kita semua tentu setuju. Terus mengasah teori dan praktik merupakan kombinasi penting untuk menjadi fotografer handal. Untuk itu, Anda tentu jangan melewatkan berbagai workshop seperti ini di masa mendatang.

 

0 comments