NOW READING

Wanita (Makin) Melek Teknologi Lewat Girls in Tech

 1443
+
 1443

Wanita (Makin) Melek Teknologi Lewat Girls in Tech

by The Daily Oktagon

Mendiang Eleanor Roosevelt (aktivis hak asasi manusia dan istri mantan Presiden Amerika Serikat Franklin Roosevelt) pernah berkata, “Wanita itu ibarat kantung teh. Anda tidak akan tahu seberapa kuat dirinya hingga Anda rendam kantung teh itu ke dalam air panas.”

Sebagian wanita di Indonesia mungkin belum mengetahui potensi besar yang ada di dalam dirinya, sebelum akhirnya ia terjun pada bidang yang benar-benar ia sukai.

Di mata Aulia ‘Ollie’ Halimatussadiah, Anantya, dan Ria Ariyanie, mereka percaya wanita Indonesia adalah sosok dengan potensi dan kompetensi besar, terutama di sektor teknologi. Maka sejak 2011, ketiganya aktif dalam Girls In Tech Indonesia (GIT-ID), wadah atau komunitas untuk pemberdayaan wanita di bidang teknologi. GIT-ID sendiri merupakan bagian dari GIT community yang berpusat di Amerika.

Baca juga tentang komunitas Fotokita yang terbentuk dari kegiatan lomba foto

Sudah hampir lima tahun GIT-ID berjalan aktif. Seperti awal mulanya, ketiga wanita tadi tercatat sebagai pengurusnya. Ollie dan Anantya sebagai Co-Managing Director, Ria Ariyanie sebagai Board of Advisor, dan dibantu juga oleh beberapa relawan. Mereka pun masih aktif melakukan berbagai kegiatan, sehingga wanita Indonesia di bidang teknologi, seperti yang diibaratkan Eleanor, dapat menjadi “kantung teh” yang kuat.

The Daily Oktagon pun berbincang dengan Ollie, yang juga aktif sebagai Chief Content Officer Zetta Media, tentang kiprah GIT-ID.

girls in tech

Salah satu inisiator Girls in Tech Indonesia Aulia ‘Ollie’ Halimatussadiah, duduk di urutan kedua dari kiri gambar.

Bisa ceritakan beberapa kegiatan terakhir yang dilakukan GIT-ID?

Kami membuat inisiatif Girls In Tech #WhyNot. Kami ingin wanita di Indonesia punya mimpi tinggi, dan tidak takut melakukan apa yang mereka inginkan. Jika mau jadi astronot, why not? Mau jadi techpreneur, why not? Kampanye ini terdiri dari beberapa kegiatan, antara lain meet up yang biasanya dihadiri sekitar 50-80 orang dengan seorang pembicara, sehingga bentuknya lebih seperti seminar.

Kick off inisiatif ini sudah dilakukan Mei lalu lewat sharing bersama dua pemimpin dalam industri teknologi yaitu Revie Sylviana, SVP Digital Service Smartfren dan Citra Agus, CEO IMX. Di Juli nanti, bertema Going Global With Tech, sementara di Oktober ada Digital Marketer & Content Creation.

girls in tech

Kemudian ada juga workshop bersama mitra seperti Facebook, lewat rangkaian kampanye #SheMeansBusiness. Ada juga workshop bersama Clevio Indonesia, Zetta Media dan Makedonia. Kemudian kami ada juga mentor dinner, yang mengundang mentor untuk bicara bersama. Peserta bisa belajar banyak dari sang mentor, yang kebanyakan adalah pengusaha sukses di bidang IT.

Untuk workshop, kita selalu mencari tema-tema yang menarik, misal di July ada Digital Business Acceleration, untuk Agustus ada Apps & Web Builder, September bertema Digital Marketer/Consultant “Become A Digital Pro”, lalu Oktober Tech Builder & Data Analyst, hingga November untuk Content Creation.

Seperti apa komunitas yang relevan dengan digital lifestyle? Baca perbincangan dengan Shafiq Pontoh di sini

Bagaimana cara menjaga eksistensi komunitas ini?

Rajin membuat kegiatan. kami punya meet up dua bulanan. Dan selalu membuat campaign. Tahun lalu kami adakan #WomanWin bekerjasama dengan Twitter. Kami buat kompetisi ide, ada 10 finalis yang melakukan pitching dan terpilih 3 orang pemenang.

Apa rencana ke depan GIT-ID?

Di akhir kampanye #WhyNot, kami berencana mau membuat buku tentang perempuan-perempuan yang mempunyai filosofi “Why Not?”

Menurut Anda, bagaimana kiprah wanita Indonesia saat ini di industri teknologi Tanah Air?

Sudah semakin menggembirakan perkembangannya. Latar belakang pendidikan saya IT, dan sempat menjadi web developer. Dulu perempuan di bidang ini masih sedikit, mungkin hanya sekitar 20 persen dari total populasi pekerja IT.

Tetapi sekarang semakin banyak. Bisa juga dilihat dari banyaknya perempuan yang hadir di acara-acara yang kami adakan, juga yang berkiprah di perusahaan-perusahaan teknologi, atau bahkan membuat startup sendiri.

girls in tech

Apa saja yang dapat membantu wanita Indonesia agar dapat berbicara banyak di industri teknologi Tanah Air?

Kami dapat memberikan banyak inspirasi, bahwa di industri ini perempuan juga dapat terjun ke dalamnya, dan terdapat banyak posisi yang bisa ditempati perempuan. Sekarang juga lagi booming soal fintech (financial technology), edutech, dan healthtech startup, yang semuanya berhubungan dengan perempuan. Jadi kalau ada sentuhan perempuan di berbagai sektor, tentu akan lebih seimbang dan kuat startup-nya.

Setelah memberi inspirasi, tentu harus diberi bekal pengetahuan yang memadai, dapat dengan bentuk workshop seperti yang sudah kami lakukan. Terakhir, access to funding.

Menurut Anda, ada kondisi khas yang dialami wanita Indonesia di dunia teknologi Tanah Air?

Budaya ketimuran yang tinggi, sehingga dari dulu sudah terbiasa “diselamatkan” oleh orangtua atau bermain aman, sehinga perempuan tidak bisa “aneh-aneh” atau mencoba hal yang relatif susah.

Maka ketika dewasa, perempuan Indonesia melihat dunia IT yang didominasi pria, sehingga beranggapan bahwa dunia ini sulit untuk dilakukan oleh wanita. Padahal tidak. Dunia teknologi tidak serumit dan seseram yang terlihat. Perlu mindset awal yang percaya bahwa teknologi dapat dilakukan oleh siapapun. Jadi tinggal masalah kepercayaan diri.

girls in tech

Anda lama berada di industri teknologi digital, apa kunci pengembangan diri selama berkarier?

Selalu ingin tahu, dan melihat masalah sebagai peluang, sekaligus aktif untuk mencari solusi dari masalah itu, yang justru bisa dijadikan celah bisnis. Dan tentu saja aksi nyata dari solusi yang sudah ada dengan memanfaatkan dan memaksimalkan teknologi.

Selain untuk mengembangkan karier, optimalisasi teknologi juga bisa untuk kegiatan pendidikan seperti homeschooling. Simak bahasannya di sini

0 comments