NOW READING

Virtual Reality dalam Perjalanannya Menjadi Device Terfavorit

 2123
+
 2123

Virtual Reality dalam Perjalanannya Menjadi Device Terfavorit

by The Daily Oktagon

Mari lupakan sejenak soal smartphone, tablet, atau ultrabook – atau jejaring sosial. Pernahkah terbayangkan oleh Anda ketika bermain game terasa begitu nyata? Anda dapat ‘masuk’ ke dalam permainan itu sendiri.

Anggap saja, dalam game tersebut, Anda dalam sebuah misi untuk menumpas segerombolan orang jahat. Lalu, dengan menggunakan sebuah teknologi, Anda seolah-olah berada dalam situasi permainan tersebut, dan sambil memegang senjata. Tak usah kaget, ini hanyalah permainan.

Semua itu dapat terjadi berkat Virtual Reality (VR) – teknologi yang memungkinkan realitas dituangkan dalam dunia maya karena disimulasikan oleh komputer. VR dirancang untuk dapat digunakan via komputer, smartphone, dan konsol gaming. Bentuk produknya semacam kacamata dalam bentuk besar, di mana Anda dapat melihat langsung situasi game, misalnya. Perangkat VR juga didukung oleh perangkat tambahan seperti headset.

Oculus

Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa tahun 2016 akan menjadi kebangkitan VR – begitu menurut beberapa analis. Teknologi adalah sebuah keniscayaan dan bahwasannya VR akan menjadi teknologi masa depan. VR mungkin dianggap sebuah penemuan baru dalam dunia teknologi. Padahal sejatinya, teknologi VR sudah ada sejak berpuluh tahun lamanya, tepatnya sejak tahun 1990. Hanya saja keterbatasan teknologi dan perangkat saat itu dirasa mustahil untuk diadopsi.

Adalah Jaron Lanier, The Father of Virtual Reality – atau Bapaknya Virtual Reality — yang mempopulerkan VR lewat VPL Research, sebuah perusahaan yang pertama kali mengembangkan dan menjual perangkat VR pada 1985 silam.

Kemudian, segelintir perusahaan teknologi ternama, sebut saja Facebook, Omni, Microsoft, dan Oculus membawa gaungnya kembali. Tren VR yang ‘kembali’ lagi mulai terasa sekitar 2010. Tengok saja Oculus yang getol bikin Oculus Rift.

Tentu dengan segala perkembangannya, tidak salah kalau kita menyebut teknologi virtual reality sebagai produk yang bakal populer. Bukan tidak mungkin, smartphone, apalagi komputer akan ditinggalkan orang, karena lebih mengandalkan perangkat ini. Nah, The Daily Oktagon kali ini menyajikan ulasan lengkap virtual reality dalam perjalanannya menjadi device terfavorit.

Microsoft kian bersemangat dalam mengembangkan HoloLens, sebuah headgear yang memiliki lensa transparan dan punya fungsi mutakhir. Ini yang mungkin mendorong Facebook untuk mengakuisisi Oculus pada 2014 senilai US$ 2 miliar.

Dalam sebuah wawancara, Lanier mengungkap bahwa Oculus Rift mengingatkannya pada masa kanak-kanak 30 tahun silam. “Aku mendukung kesuksesan mereka, akan sangat bagus apabila VR dapat menyenangkan hati banyak orang,” tutur Lanier.

shutterstock_291241604

Kini beberapa produk VR sudah diluncurkan dengan berbagai keunggulan masing-masing yang siap mewakili sang pemilik.

Apa Manfaat Virtual Reality?

Perlu dicatat, VR tak hanya milik game saja. Dalam perkembangannya, teknologi itu dapat diaplikasikan ke berbagi macam hal.

Meminjam kalimat CEO Apple, Tim Cook, VR bukan lah sebuah teknologi untuk pasar spesifik (niche), melainkan teknologi yang memiliki banyak aplikasi menarik. Apple bahkan dikabarkan tengah tertarik mengembangkan perangkat VR.

shutterstock_326562737

Sementara, Social Media Week Jakarta, mengungkapkan bahwa VR tak harus identik dengan video game atau hiburan visual lainnnya. Beberapa perusahaan di dunia sudah membuktikan bahwa VR dapat memberikan pengalaman belajar baru yang bermanfaat. Misal untuk penyandang autis, membantu siswa kedokteran, membantu terapi psikologis, hingga belajar mengemudi mobil.

Jaron Lanier pun optimistis memandang bahwa teknologi ini dapat digunakan oleh orang buta warna sekalipun. “Saya masih berharap VR dapat memimpin level baru komunikasi antara banyak orang. Misalnya, simulasi yang melibatkan perasaan dan kepekaan. Dengan begitu, orang buta atau buta warna dapat menggunakannya,” ujar Lanier.

Baca juga, Ehang, Pelopor Drone Virtual Reality serta Quadcopter Tanpa Pilot

Akankah Disambut Antusias di Indonesia?

Secara teknologi, mungkin negara-negara berkembang seperti Indonesia, berada di beberapa langkah ke belakang. Namun, Indonesia pun diprediksi memiliki antusias yang sama seperti negara-negara lain di dunia terhadap teknologi ini.

Pengamat teknologi yang juga Praktisi Cloud, Teguh Prasetya mengakui bahwa antusias masyarakat bergantung pada kombinasi fitur dan harga. Jika memang perangkatnya murah dan kaya fitur, tentu adopsi akan lebih cepat.

“Perlu diingat bahwa sifat pasar Indonesia yang value for money-nya sangat tinggi. Bagaimana pun juga, (saat ini) VR belum menjadi basic needs kita,” jelasnya.

shutterstock_258248681

Kendati demikian, Teguh tak apatis terhadap adopsi teknologi VR di masa depan. Ia memperkirakan bahwa Indonesia membutuhkan waktu selama dua tahun ke depan untuk mengadopsinya secara signifikan.

“Saat ini tentu belum belum banyak aplikasi, konten, maupun perangkat VR di pasaran. Pemanfaatannya akan sangat banyak terjadi para film, video, informasi lokasi, hingga aplikasi bisnis,” ungkap Teguh.

Sebagai produsen? “Tentu bisa juga (Indonesia menjadi produsen VR), karena baik tools maupun raw material-nya mudah didapatkan,” kata Teguh menutup percakapan.

Anda tentu juga tidak akan melewatkan artikel berikut, Persaingan Smarthome di 2016, Mana yang Terbaik?

0 comments