NOW READING

Upaya Masyarakat Fotografi Indonesia Majukan Industri

 3159
+
 3159

Upaya Masyarakat Fotografi Indonesia Majukan Industri

by The Daily Oktagon

Pelanggaran hak cipta kerap terjadi di dunia kreatif, tak terkecuali fotografi. Selama ini, fotografer yang karya fotonya digunakan tanpa izin kadang tidak tahu harus mengadu ke mana. Kini pelaku aksi comot perlu berpikir dua-tiga kali sebelum menggunakan foto tanpa seizin pemiliknya. Sebab, Masyarakat Fotografi Indonesia (MFI) akan memastikan fotografer punya suara lantang agar jerih payahnya dihargai.

Peserta_Kongres_Fotografi_Indonesia

Kongres Fotografi Indonesia

Bagi sebagian orang, nama MFI mungkin masih terdengar asing. Wajar saja, MFI yang lahir dari Kongres Fotografi Indonesia pertama, 12 Oktober 2014, baru merayakan hari jadi pertamanya. Organisasi ini siap memfasilitasi komunikasi dan penyampaian informasi antara pemangku kepentingan di industri fotografi, salah satunya soal isu HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Tidak hanya fotografer, tetapi juga institusi pendidikan, pelaku usaha, dan pemerintah.

The Daily Oktagon berbincang langsung dengan Ketua Badan Pengurus MFI, Hermanus Prihatna mengenai upaya lembaganya memajukan industru fotografi Indonesia.

Hermanus_Prihatna_1

 Hermanus Prihatna

“Ketika MFI terbentuk, salah satu program kami adalah mengedukasi soal HAKI. Kebetulan, MFI memayungi empat pilar: fotografer, pendidikan, bisnis, dan pemerintah. Karena mereka lah pelaku-pelakunya,” ujar Hermanus.

Selama setahun lalu, MFI merealisasi program tersebut lewat beberapa kegiatan yang bertujuan mengedukasi para pemangku kepentingan di dunia fotografi. Tidak hanya itu, bagi fotografer yang merasa karyanya digunakan tanpa izin, MFI sedang menyiapkan informasi di situsnya berupa langkah seperti apa yang bisa ditempuh untuk mengklaim haknya.

“Ini masih dalam proses. Mungkin cara ini tepat, ketimbang fotografer bertanya-tanya terus,” kata Hermanus.

Ingin mengenal komunitas fotografi? Baca artikel menarik berikut, Komunitas Fotografi Hijab, Bukan Sekedar Memotret Model

Tak Cuma Soal HAKI
HAKI bukanlah satu-satunya masalah yang menjadi perhatian MFI. Sebagai subsektor ekonomi kreatif, kontribusi fotografi tergolong paling rendah. Merujuk data 2013 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), fotografi yang berada dalam satu kategori bersama subsektor film dan video, menyumbang nilai tambah Rp 8,4 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sektor ekonomi kreatif.

PDB keseluruhan sektor berada di angka Rp 641 triliun, sehingga kontribusi subsektor fotografi, film, dan video hanya 1,3 persen dari total PDB. Dari 16 subsektor ekonomi kreatif, sumbangsih industri fotografi Indonesia berada di urutan paling belakang.

“Melihat fakta tersebut, ini menjadi tugas kita bersama-sama untuk memompanya menjadi lebih tinggi. Lagi-lagi, di dunia fotografi, isinya bukan fotografer saja. Industrinya juga ada,” ucap Hermanus.

Penandatanganan_prasasti_Kongres_Fotografi_Indonesia_oleh_Menteri_Pariwisata_dan_Ekonomi_Kreatif_Mari_Elka_Pangestu

Penandatanganan Kongres Fotografi Indonesia oleh Menteri Pariwisata dan Eknomi Kreatif Marie Elka Pangestu

Fakta ini juga yang membuat Kemenparekraf menempatkan fotografi sebagai subsektor yang perlu mendapat perhatian besar. Upaya pemerintah dalam meningkatkan perkembangan fotografi di Indonesia adalah mendorong kehadiran wadah yang memfasilitasi para pemangku kepentingan fotografi. Jauh sebelum pelaksanaan Kongres Fotografi Indonesia atau cikal bakal MFI, telah dilakukan Forum Group Discussion (FGD) di sejumlah kota besar di Indonesia yang mengundang para pemangku kepentingan fotografi, seperti juru foto, komunitas fotografi, penerbit, percetakan, biro iklan, dan sebagainya.

Hasil dari FGD tersebut kemudian menjadi materi diskusi kongres, yang akhirnya memunculkan wacana dan usulan tentang pentingnya kehadiran MFI, sebagai wadah yang mandiri dan non-komersial, MFI pun siap memfasilitasi para pegiat fotografi.

Pemetaan Industri Lewat Direktori
Informasi terkait fotografi di Indonesia bisa dibilang masih terpencar. Seperti misalnya, ketika seseorang ingin mencari fotografer, sulit menemukan sumber kredibel yang menyediakan informasi secara detail. Hermanus mengatakan, untuk mengisi minimnya informasi itu, MFI tengah melakukan pemetaan industri fotografi yang disajikan dalam bentuk direktori.

Direktori yang masih dalam proses pengembangan itu akan berisi informasi terkait institusi pendidikan, fotografer, komunitas, dan pelaku usaha. Dalam melakukan pemetaan untuk melengkapi direktori tersebut, MFI tidak bekerja sendiri. Organisasi ini dibantu oleh mitra yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.

“Misalnya, mitra itu akan memberitahukan di wilayahnya ada apa? Fotografernya siapa saja, bisnis yang bergerak di bidang fotografer apa saja, dan sebagainya. Kita tidak punya peta seperti ini. Harapannya jika ini berjalan, otomatis industri fotografi Tanah Air terdongkrak,” kata Hermanus.

MFI tidak bekerja sendiri dalam memacu industri fotografi. Lembaga yang sekretariatnya berlokasi di Gedung Graha Bakti Antara, Jl. Antara No. 53 Pasar Baru, Jakarta Pusat ini membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berafiliasi dan bersama-sama memajukan fotografi.

Tertarik berkontribusi? Anda bisa menghubungi alamat di atas, atau langsung mengunjungi situsnya di mfi.or.id.

Yuk, baca juga artikel ini, Salon Foto Indonesia, Ajang Apresiasi Insan Fotografi

0 comments