NOW READING

Ulasan Soal Drone dalam Kegiatan Jurnalistik oleh Komunitas Pewarta

 3840
+
 3840

Ulasan Soal Drone dalam Kegiatan Jurnalistik oleh Komunitas Pewarta

by The Daily Oktagon

Communities - DJI-Phantom-2-V2-RTF - Sumber foto http-::www.modellhobby.de:

Penggunaan drone sebagai hobi atau penunjang pekerjaan memang bukan hal yang aneh lagi. Bahkan sudah banyak komunitas yang bermunculan mewadahi penggiat fungsi pesawat nirawak itu.

Kini, siapapun bisa membeli drone dan menggunakannya untuk keperluan masing-masing; entah sekadar merekam video dari ketinggian, berlakon selfie atau ngetren disebut dronie, hingga menggunakannya untuk menunjang kegiatan produksi karya jurnalistik.

Menurut Awi Wicaksono, pendiri Komunitas Drone Indonesia (KDI), drone ini dirasakan mulai mencuat popularitasnya sejak masa kampanye calon Presiden RI 2014 lalu; ketika salah satu kontestan Joko Widodo mengangkat soal drone saat acara debat Capres Minggu (22/6/2014) dengan lawannya saat itu Prabowo Subianto. Joko Widodo mengatakan Indonesia membutuhkan drone untuk ketahanan nasional.

Akibatnya, kata ” drone” ramai diperbincangkan di media sosial. Kami pun sempat mencatat, kata “drone” yang diangkat Joko Widodo itu mengundang lebih dari 20 ribu kicauan tentang drone di linimasa Twitter pada malam acara debat Capres tersebut. Tak hanyaitu, saat kampanye akbar kedua calon Presiden itu berlangsung, dokumentasi pun dilakukan dengan bantuan drone untuk menunjukkan ribuan massa yang terkumpul.

Sejak itu mulai penggiat drone mencuat, dan makin banyak pengendali drone (lumrahnya disebut pilot) yang aktif melakoni aktivitas jurnalistik oleh warga atau citizen journalism; karena dengan drone mereka bisa mendapatkan video yang lebih informatif secara visual, dengan sudut gambar yang tidak tercapai secara konvensional, contohnya: bird view angle.

Penggunaan drone oleh komunitas pewarta

Tren penggunaan drone pun menular ke industri media massa. Portal berita Kompas.com misalnya, membuat laman khusus bertajuk Drone Journalism. Laman ini mengombinasikan berita dalam bentuk artikel dengan rekaman video dari drone.

Lalu Berita Satu TV juga jadi salah satu stasiun televisi yang aktif memanfaatkan drone untuk peliputan musibah, seperti pada saat kebakaran Wisma Kosgoro di Jakarta, Senin (9/3/2015). Dikendalikan Juniadi Wardana sebagai pilot, drone itu berhasil menangkap kerusakan yang terjadi akibat kebakaran di lantai atas gedung itu dari ketinggian, seperti pada tayangan berjudul Drone Report berikut ini:

Sementara Deden Dudi, Executive Producer ANTV Sport mengaku, menggunakan drone untuk mengambil gambar yang tak terjangkau manusia dengan cara biasa. Namun, menurut pengguna drone DJI Phantom 3 ini, ia tidak selalu menggunakan drone dalam semua peliputan berita.

“Biasanya, saya menggunakan drone ketika gambar yang dibutuhkan tidak bisa diambil oleh kamera biasa, bahkan yang tetap terasa sulit meski sudah menggunakan alat seperti JimmyJib sekalipun,” ujar Deden, yang kerap menyematkan kamera GoPro HERO3+ atau HERO4 pada drone-nya itu.

Communities - DSC03523_1 - Sumber foto http-::blueskyaboveandacamerakit.com:

Deden yang menggunakan drone sejak 2003 menambahkan, bahwa pengambilan gambar dengan drone bisa jadi “pemanis” dan menampilkan angle baru yang sedap dipandang dan pemirsa yang menyaksikan pun terpuaskan.

Pernyataannya itu pun diamini kamerawan Trans7, Rendro Baskoro yang sesekali juga menggunakan drone dalam peliputan berita. Menurut Rendro, ia menggunakan drone untuk menampilkan perspektif baru dalam pengambilan gambar.

Drone saya gunakan ketika ada kejadian yang tidak bisa diambil dari darat,” ujar lelaki yang telah mengoperasikan drone untuk kegiatan jurnalistik sejak dua tahun lalu ini.

Rendro, yang menggunakan drone DJI S800 dan DJI Phantom 2, mengaku pertama kali meliput dengan drone saat memberitakan kemacetan lalu lintas. “Dengan drone, kita bisa melihat kemacetan di jalan sudah sejauh mana,” tambah Rendro.

Faktor privasi dan kode etik, serta keamanan penggunaan drone

Meski proses perekaman dengan drone terkesan bisa dilakukan begitu saja, sebetulnya ada aturan main yang herus dipatuhi para pilot drone; terutama terkait soal privasi dan lokasi penerbangan drone.

Dijelaskan Deden dari ANTV bahwa pilot dan media yang melakukan peliputan harus mendapatkan izin dari pengelola gedung atau permukiman sekitar area penerbangan; kecuali jika pengambilan gambar dilakukan di ruang publik.

 

community-drone-1

“Itu pun kita juga tidak dianjurkan merekam secara candid, atau situasi ketika subjek tidak mengetahui bahwa ia sedang direkam,” ujar Deden mengimbuhkan.

Hal ini dibenarkan Awi dari Komunitas Drone Indonesia. Bahkan menurutnya, memang ada beberapa lokasi di Indonesia yang menekankan pelarangan drone terbang tanpa izin; beberapa di antaranya adalah tempat wisata.

“Candi Prambanan dan Borobudur sudah melarang drone terbang tanpa izin. Kita bisa menerbangkan drone di area tersebut jika sudah mendapatkan izin dari pihak berwenang. Syaratnya, penggunaan drone bukan buat tujuan komersil, contohnya untuk keperluan foto pranikah,” tambah Awi yang saat ini menggunakan drone DJI Phantom Vision Plus.

Sekadar catatan tambahan, dikutip dari situs  Dronejournalism.org, ada pula kode etik penggunaan drone terkait urusan jurnalistik, privasi dan lokasi ini; yaitu:

  • Penggunaan drone mematuhi kode etik jurnalistik.
  • Penggunaan drone harus mematuhi peraturan yang berlaku, karena tidak semua tempat bisa jadi area penerbangan drone.
  • Perekaman dengan drone harus menghormati privasi orang lain, misal dengan hanya menerbangkannya di ruang terbuat atau ruang publik.
  • Nilai berita harus sepadan dengan risiko penggunaan drone yang mungkin saja berakibat celaka di sekitar area penerbangan.
  • Pilot drone harus berpengalaman dan terlatih menerbangkan drone atas dasar faktor keamanan.

Karena soal keamanan ini juga tak kalah penting. Komunitas Drone Indonesia (KDI) selalu menekankan hal ini dalam setiap pertemuan kopi darat komunitas.

“Siapa saja bisa membeli drone, bahkan yang harganya puluhan juta sekalipun. Tapi kita selalu mengedepankan faktor keamanan dan tidak ingin ada korban karena drone,” ujar Awi si pendiri KDI.

Lebih detail lagi, Awi memaparkan tiga faktor keamanan yang harus diperhatikan saat menerbangkan drone, yaitu:

  • Tidak boleh terbang lebih tinggi dari 200 meter, karena sudah termasuk ketinggian terbang pesawat komersial.
  • Tidak boleh terbang rendah hingga dekat dengan ketinggian kepala manusia.
  • Tidak boleh terbang tepat di atas tempat keramaian.

Soal poin ketiga, Awi menerangkan, sebetulnya drone tidak boleh terbang tepat di atas kerumuman orang. Drone sebaiknya mengambil gambar kerumunan itu dari samping atau area yang di bawahnya tidak ada manusia.

community-drone-2

Alasannya, jika sewaktu-waktu drone itu jatuh karena kehabisan baterai atau kendala teknis lain, tidak ada manusia yang menjadi korban. Walau demikian, pada praktiknya kita masih sering melihat drone merekam keramaian dari atas; lazimnya pada saat konser musik.

Dari cerita di atas kita bisa memahami bahwa pemanfaatan drone tidak lagi sebatas untuk hobi saja. Ketika digunakan untuk kegiatan jurnalistik, rekaman yang diambil menggunakan drone bisa memperkaya informasi produk jurnalistik.

Namun, tentu dalam operasionalnya, si pilot atau pengendali drone serta badan usaha media yang bertanggungjawab harus patuh pada kode etik, menghormati privasi dan menjaga keamanan masyarakat di sekitar area penerbangannya.

0 comments