NOW READING

Tsamara Amany, Memaksimalkan Teknologi dalam Berpolitik

 74
+
 74

Tsamara Amany, Memaksimalkan Teknologi dalam Berpolitik

by The Daily Oktagon

Seluruh foto: Dok. Tsamara Amany

  • Tsamara Amany adalah salah satu politikus muda yang menggunakan sarana media sosial untuk menyampaikan pandangan-pandangannya.
  • Menurutnya perkembangan teknologi saat ini sudah digunakan oleh beberapa partai politik untuk menjalankan visi-visinya.
  • E-budgeting yang bisa menyeluruh secara nasional merupakan inovasi digital yang diharapkannya bisa digunakan untuk Indonesia.

Selama lima tahun terakhir media sosial Twitter sering dijadikan media untuk menyampaikan pandangan dan opini di ranah politik. Media sosial ini dianggap ampuh untuk menggiring opini yang ingin disampaikan ke khalayak luas. Salah satu politikus yang aktif di Twitter untuk menyampaikan pandangan politiknya adalah Tsamara Amany.

Politikus muda ini menggunakan perkembangan teknologi digital yang identik dengan generasinya ini untuk mengutarakan pandangan sekaligus mengajak banyak anak muda lainnya untuk turut aktif di politik. The Daily Oktagon berkesempatan untuk berbincang dengan Tsamara, tentang sejauh mana pemanfaatan perkembangan teknologi digital saat ini di panggung dunia politik.

Lagi sibuk apa belakangan ini?

Kuliah, apalagi ini tingkat akhir, jadi sudah mulai mengajukan judul skripsi. Selain itu sibuk mengurus partai juga. Ini sudah mau masuk periode verifikasi KPU dan banyak isu-isu penting juga yang harus kita sikapi, seperti isu pemberantasan korupsi yang mau diperlemah dan isu intoleransi yang muncul dari sebagian kelompok kecil yang suaranya lantang.

Yang membuat Anda tertarik dunia politik?

Politik itu hakikatnya mulia. Namun, selama ini politik disalahgunakan orang-orang untuk kepentingan pribadi, bukan untuk publik. Saya ingin terjun, berhadapan langsung dengan politisi-politisi kotor itu, kalau perlu berdebat keras untuk mengembalikan politik ke asalnya yang mulia.

Saya sadar bahwa mengubah sistem harus dari dalam sistem itu sendiri. Percuma mengkritik keras, kalau mereka yang di dalam sistem tidak mendengarkan kita.

Teknologi pun digunakan komunitas Syar’i Lifestyle untuk “tularkan’ hijab fashionable.

Apa tantangan saat masuk ke dunia politik di usia muda?

Saya tahu banyak orang meremehkan kemampuan berpolitik saya karena usia. Tidak apa-apa, saya jadikan motivasi saja, agar makin sering untuk ketemu tokoh-tokoh untuk belajar, dan makin sering baca buku. Intinya bagi saya, dalam politik, saya tak butuh dipuja atau dicaci, saya butuh mencapai tujuan saya: mewujudkan sila ke-5 Pancasila, keadilan sosial.

Seberapa jauh ketertarikan generasi muda saat ini terhadap politik?

Anak muda itu dasarnya tidak apatis. Mereka “dipaksa” apatis, karena tidak pernah dilibatkan dalam politik di negeri ini. Jarang sekali ada partai politik yang menempatkan anak muda di pucuk pimpinan.

Mereka juga jarang diajak ngobrol kalau ada keputusan-keputusan penting. Makanya, saya ingin terjun langsung dan ajak sebanyak-banyaknya anak muda agar mereka bukan hanya jadi penonton, tapi juga jadi pemain yang menentukan Republik ini ke depan.

Sejauh mana Anda menggunakan teknologi digital saat ini untuk membantu pekerjaan sehari-hari?

Wah, efektif banget. Saya menggunakan media sosial untuk mengungkapkan pandangan-pandangan politik dan menjalin komunikasi dengan banyak anak-anak muda yang minat terjun ke politik. Orang banyak yang meremehkan kekuatan media sosial, tapi saya selalu bilang ke mereka jangan remehkan hal ini.

Seperti halnya teknologi digital lainnya yang memudahkan kehidupan manusia, media sosial juga memudahkan kita untuk mengantarkan pandangan-pandangan kita kepada orang lain. Perkara bagus atau tidak, semuanya kan terletak pada substansi konten yang ditampilkan, baik melalui tulisan maupun video.

Pendiri bangsa juga rajin menulis, kok. Lihat saja koleksi tulisan Bung Karno di buku Di bawah Bendera Revolusi, banyak sekali. Bedanya, dulu belum ada media sosial saja.

Baca juga: Bagaimana Masa Depan Teknologi di Tangan Millennial Indonesia?

Gadget-gadget apa saja yang kamu gunakan untuk mendukung pekerjaan kamu sehari-hari?

Saat ini saya menggunakan iPhone 6 dan MacBook, tapi lebih seringnya menggunakan iPhone saja. Fitur-fiturnya praktis dan memungkin saya bekerja mobile. Misalnya, Twitter yang sering saya gunakan untuk menungkapkan pandangan dan opini dan juga fitur Office lainnya untuk membuka dokumen-dokumen.

Apakah dunia politik sudah memanfaatkan potensi perkembangan teknologi digital saat ini?

Ada yang iya, ada yang tidak. Kalau di partai saya, di PSI, teknologi digital sangat dimanfaatkan. Bahkan sistem kaderisasi saja, kita pakai e-learning dengan modul-modul dari lembaga-lembaga yang kredibel.

Untuk mencari dana saja kita membuat toko online seperti market place yang membuat setiap orang bisa jualan dan kami dapat komisi dari situ.

Kira-kira inovasi digital apa lagi yang kamu harapkan hadir di masa depan untuk membantu kamu dalam pekerjaan sehari-hari?

Saya kepikiran, negeri ini harus menerapkan sistem e-budgeting secara nasional. Inilah yang ingin saya wujudkan dalam UU nanti kalau saya masuk dalam sistem. Pada dasarnya setiap warga negara berhak mengetahui uang pajaknya digunakan untuk apa saja dan transparansi anggaran adalah hak publik. Sistem e-budgeting dapat membuat warga negara setidaknya bisa memantau pemakaian anggaran tersebut.

Semoga semakin banyak “Tsamara” yang lain, hadirnya anak muda yang peduli politik dan melek teknologi tentu bisa membawa negara ke arah lebih baik.

Simak profil Billy Tjong, desainer busana yang juga gemar fotografi.

0 comments