NOW READING

Tren Live Streaming yang Makin Nyaring

 704
+
 704

Tren Live Streaming yang Makin Nyaring

by The Daily Oktagon
  • Live streaming telah menjadi tren yang mendunia. Berbagai kalangan memanfaatkannya sebagai penopang eksistensi di media sosial.
  • Perkembangan live streaming di media sosial sudah terlacak sejak 2010. Kini, hadirnya fitur live streaming di berbagai raksasa media sosial semakin menguatkan tren ini
  • Teknologi memungkinkan perkembangan live streaming ke bentuk baru, termasuk video 360 derajat

Istilah “siaran langsung” tentu tidak asing lagi. Menonton pertandingan sepakbola di televisi atau internet jadi contoh mudah. Namun siaran langsung kini tidak hanya menjadi milik stasiun televisi. Individu sudah dapat membuat saluran siaran langsung pribadinya melalui media sosial.

Fungsi media sosial yang dulu hanya sebagai wadah aspirasi atau aktivitas kini berkembang, termasuk hadirnya kemampuan live reporting yang kini lebih dikenal sebagai live streaming.

Berbagai media online, platform media sosial, kalangan politikus, selebritas, hingga awam perlahan memanfaatkan live streaming sebagai penopang eksistensi di media sosial. Dari yang urusan “serius” ketika menghadiri rapat, hingga “laporan langsung” saat menghadiri pesta pernikahan temannya.

Seperti apa dinamika live streaming di dunia teknologi sehingga menjadi tren teknologi yang begitu menggema? Simak penelusuranThe Daily Oktagon berikut ini.

Dari Desktop Beralih ke Mobile

Live streaming untuk penggunaan individual sebenarnya sudah mulai muncul di dunia maya sejak 2010. Tujuannya adalah menayangkan rekaman secara langsung sehingga dapat dilihat oleh viewers saat itu juga (real time). Hanya, untuk dapat menggunakan layanan ini, awalnya pengguna harus memakai perangkat desktop atau laptop.

Sebut saja layanan live streaming CliponYu. Sayang, layanan ini tidak begitu menggema di kalangan anak muda. Saat itu memang tak mudah pula bagi para netizen menerima konten berbentuk live streaming. Masalah koneksi hingga jenis perangkat yang digunakan acap menjadi hambatan, sehingga butuh waktu cukup lama bagi pengguna media sosial bisa familiar terhadap fitur tersebut.

(mirtmirt)

(mirtmirt)

Di tengah ketidakjelasan arah live streaming, pada 2015 muncul Periscope yang percaya diri mengukuhkan sebagai aplikasi penyedia live streaming untuk smartphone iOS dan Android. Periscope kemudian disebut sebagai dalang pembangkit tren live streaming karena platform-nya memadai dan praktis. Apalagi, video yang disiarkan dari Periscope bisa diunggah ke akun Twitter.

Peran media sosial memang berkembang seiring waktu. Simak penelusurannya di sini

Dengan memungkinkannya live streaming dari smartphone, teknologi ini menurut pengamat media sosial Nukman Luthfie, perlahan mulai diterima masyarakat dan menjadi gaya hidup. “Sementara mau tak mau penyedia layanan yang sudah lebih dulu hadir (yang cuma menawarkan fitur di desktop) harus go mobile juga,” lanjut Nukman.

Tren live streaming pun semakin membesar setelah teknologi ini ikut diluncurkan beberapa raksasa media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram beberapa waktu lalu.

Facebook punya Facebook Live, sedangkan Instagram punya fitur live streaming yang bisa disiarkan langsung dari Stories. Twitter pun tak mau ketinggalan dengan mengintegrasikan aplikasi Periscope di linimasa agar pengguna tak perlu lagi repot menggunakannya secara terpisah.

Nukman menilai, peran serta para raksasa media sosial untuk terjun ke ranah live streaming adalah hal lumrah. Fungsi media sosial akan meningkat dua kali lipat karena adanya fitur tersebut. “Selain memperketat persaingan, adanya fitur live streaming juga dapat menambah value dari keuntungan bisnis perusahaan,” jelasnya.

Semakin Canggihnya Live Streaming

Berbagai aplikasi dan media sosial yang menghadirkan fitur live streaming beberapa tahun belakangan tentu juga terbantu oleh perkembangan teknologi terkini, di saat penetrasi smartphone sudah berkembang dengan pesat, serta adopsi teknologi berbasis Long Term Evolution (LTE, atau umumnya disebut 4G) yang sudah cukup diterima masyarakat saat itu.

shutterstock_398412625

Menggunakan layanan live streaming perlahan bukan lagi sebuah perkara besar. Stigma masyarakat terhadap rumitnya live streaming juga mulai berubah. Saat ini, pengguna bisa langsung menyiarkan video via perangkat mobile semudah menjentikkan jari.

Pengamat media sosial Nukman Luthfie membenarkan menjamurnya live streaming sebagai tren di media sosial kini karena adopsi smartphone dan teknologi 4G yang masif. “Dulu, mau siaran juga harus pakai web cam sehingga rumit. Sekarang, smartphone hadir dengan teknologi yang oke, kamera depan yang bagus, serta ekosistem aplikasi yang mumpuni,” jelas Nukman.

Kalau bicara streaming musik, bisa baca artikel ini

Tak hanya semakin mudah, perkembangan teknologi live streaming saat ini juga semakin canggih sehingga terlihat semakin mengasyikkan. Twitter di penghujung 2016 meluncurkan live streaming yang memungkinkan penayangan video berformat 360 derajat. Sehingga misalnya saja Anda menayangkan kegiatan di pantai, di saat itu pula penonton bisa memutar video Anda hingga 360 derajat, untuk melihat berbagai sudut keindahan pantai yang tengah Anda tayangkan.

Langkah Twitter ini tentu tidak terlepas dari sudah tersedianya produk-produk kamera video yang mampu merekam video 360 derajat. Samsung Gear 360 misalnya, hadir dengan dua lensa fish eye yang masing-masing mempunyai rentang pandang 180 derajat. Tangkapan video dari dua kamera ini kemudian disatukan sehingga memperoleh video 360 derajat.

Produk lain semacam Ricoh Theta mampu merekam video berkualitas HD selama 25 menit pada 30 frame per detik. Hasil rekaman dapat segera dibagikan ke media sosial menggunakan Wi-Fi.

Sementara Nikon tidak mau kalah dengan meluncurkan 360 KeyMission yang mampu merekam dengan kualitas di 4K UHD. Bahkan produk ini hadir dengan teknologi Vibration Reduction (VR) yang dapat mengurangi efek goyang agar hasil videonya tetap tajam.

Mau tahu caranya membuat video 360 derajat? Intip artikel ini

Layaknya drone dimana penggunanya memerlukan “mata”, kamera yang rata-rata bertubuh ringkas ini perlu dihubungkan ke smartphone agar pengguna dapat melihat apa yang sedang direkam oleh kamera video. Samsung Gear 360 misalnya, kompatibel dengan smartphone premium semacam Samsung Galaxy S7. Sementara Ricoh Theta dapat disokong iPhone dan smartphone Android.

Dengan berbagai kemajuan tersebut, tak heran jika sudah banyak pengguna menggunakan live streaming untuk menyiarkan kegiatan sehari-hari. Beberapa media online besar pun memanfaatkan fitur ini untuk menyiarkan laporan khusus. Menurut Nukman, pergerakan tren ini relatif agresif dan berdampaknya besar.

“Sekarang live streaming digunakan banyak orang, untuk siaran mulai dari yang nggak penting sampai yang paling penting selevel berita sekalipun. Terlepas dari semua konteksnya, kita harus akui bahwa pengguna Indonesia menikmati fitur ini,” lanjutnya. Maka tak ada alasan untuk segera mencoba. Selamat melakukan “siaran langsung” dengan live streaming!

 

0 comments