NOW READING

Tren Kamera Analog di Era Digital: Bukan Sekadar Nostalgia

 1437
+
 1437

Tren Kamera Analog di Era Digital: Bukan Sekadar Nostalgia

by The Daily Oktagon
  • Fotografi, kini jadi lebih mudah, praktis, dan cepat. Lalu, bagaimana dengan nasib kamera analog—kamera jadul (zaman dulu) yang menggunakan roll film? Apakah perangkat itu punah?
  • Jika tidak, apa yang membuatnya masih relevan di tengah era teknologi modern? Apa nilai lebih dari kamera analog, hingga bahkan sampai kini masih cukup kuat tren penggunaannya?
  • Sederet pertanyaan itulah yang coba digali pada artikel ini; untuk mencari tahu posisi tren kamera analog di era digital seperti saat ini.

Tak bisa disangkal, evolusi teknologi memengaruhi banyak hal di sekitar kita, termasuk urusan kamera.

Coba saja kita ingat-ingat, dulu tak banyak orang biasa yang memiliki ‘kamera besar’. Tapi, makin ke sini, tak sulit lagi menemukan seseorang yang bukan profesional di bidang fotografi menenteng kamera DSLR saat berkumpul bersama teman-teman.

Teknologi membuat kamera yang mampu menghasilkan gambar maksimal menjadi mudah digunakan oleh siapapun. Bahkan kini, selain mudah juga makin ringkas lewat jenis mirrorless yang makin menonjol popularitas di tengah masyarakat.

Fotografi jadi lebih mudah, praktis, dan cepat. Belum lagi ada kebutuhan untuk segera membagikan foto juga video yang diambil ke saluran media sosial yang diinginkan.

Banyak orang menyukainya, hingga nyaris semua perusahaan manufaktur kamera ternama dunia menyesuaikan diri dengan minat pasar, dan mengadopsi serta mengembangkan kamera digital yang ringkas dan canggih.

Lalu, bagaimana dengan nasib kamera analog—kamera jadul (zaman dulu) yang menggunakan roll film? Apakah perangkat itu punah? Jawabannya: Tidak.

Bagaimana mungkin device yang bisa dibilang usang itu masih bertahan di tengah gelombang popularitas kamera digital yang ringkas dan praktis tadi?

Munculnya Kebutuhan untuk Memahami Fotografi Lebih Dalam

Tren, punya cara bekerja yang menarik. Sedikit merujuk ke sudut pandang studi sosial yang pernah disampaikan ilmuwan Everett Rogers pada 1964; secara sederhana tren merupakan hasil dari proses difusi inovasi, alias penyerapan atau adopsi ide atau teknologi baru oleh masyarakat.

Singkat cerita, tahapan adopsi dan tren tadi terjadi secara berurutan, mulai dari mengetahui tentang teknologi baru, misalnya. Lalu masuk ke tahap tertarik dan mengikutinya, dan dilanjutkan ke tahap evaluasi.

Di tahap evaluasi itulah mulai muncul kebutuhan pada sebagian dari kita untuk melihat lebih dalam, entah untuk sekadar memahami lebih detail lagi, atau mungkin merasa menemukan kelemahannya.

Hal ini pula yang kami simpulkan sedang terjadi di bidang fotografi; dari teknologi kamera digital mulai diperkenalkan dan diketahui makin banyak orang; berlanjut pada minat terhadap kamera DSLR atau mirrorless yang terus mencuat tinggi; sampai akhirnya mulai ada kebutuhan untuk mendalami fotografi lebih dari sekadar menekan tombol dan menyimpan gambar.

Munculnya kebutuhan yang terakhir itu sebetulnya bagian dari perkembangan tren kamera atau fotografi; dan bukan kemunduran atau kembali ke cara lama. Karena dari proses evaluasi inilah biasanya muncul pemikiran-pemikiran untuk inovasi selanjutnya; meski biasanya terlihat sebagai nostalgia saja.

kamera analog

Contohnya, ada salah seorang penggiat fotografi yang tak sengaja menemukan kamera usang di gudang rumahnya; ia pun iseng mencobanya, dan di tengah proses mencoba-coba menentukan setelan yang pas saat memotret, sampai menunggu hasil cuci cetak foto selama beberapa jam, ia merasa jadi ingin mempelajari tentang fotografi lebih dalam lagi.

Tak ada yang salah dengan kemudahan menggunakan kamera digital, tapi kemudahan itu makin lama mungkin terasa biasa saja, hingga wajar saja kalau penggunanya seperti ingin mencari tantangan baru.

Hal serupa terjadi tak hanya di Indonesia. Di Hong Kong misalnya, sejak satu tahun belakangan kamera analog di kalangan anak muda muncul sebagai gelombang aktivitas fotografi yang fresh di tengah derasnya pemasaran kamera digital.

Bukan berarti beralih dari teknologi baru, tapi kadang mereka bosan dan merasa kalau teknologi kamera analog tak hanya menawarkan fungsi teknisnya, tapi juga mengasah teknik dan ‘rasa’. Maka itu, komunitas fotografi bertema retro terus berkembang, dan mengombinasikan dengan gaya hidup digital terkini, yaitu membagikannya di saluran media sosial, seperti Instagram.

Baca juga ulasan tentang Hasselblad X1D, kamera mirrorless format medium pertama di dunia

Kamera Analog, Menarik karena Menantang

Di Indonesia pun, komunitas sejenis yang ada di Hong Kong cukup banyak tersebar di berbagai kota di Nusantara. Kami berbincang dengan salah satu penggiatnya, Wihinggil Prayogi, yang juga pendiri Komunitas Kamera Analog Yogyakarta.

Ia menyatakan kalau kamera analog masih layak jadi kebutuhan, terutama untuk yang ingin lebih serius mendalami fotografi; entah sebagai hobi ataupun profesional. Menurutnya, fotografi analog bukan hal kuno, hanya mekanismenya saja yang manual.

“Menurut saya, tak semua proses yang terjadi di digital bisa kita lihat. Maka itu, analog memberikan perspektif proses penciptaan gambar yang berbeda, sebuah seni fotografi murni, tanpa olah dan edit,” katanya menjelaskan.

kamera analog

Galeri foto hasil jepretan kamera analog di website Komunitas Kamera Analog Yogyakarta. (Sumber: kameraanalogjogja.com)

“Analog memiliki kombinasi unsur fisika, matematika dan kimia. Fisika kita bisa lihat dari segi kamera, sedangkan matematika dari segi perhitungan serta ketepatan pengambilan gambar, serta kimia dari segi pencucian seluloit. Nah, kalau fotografi digital kan tidak melewati aspek kimia prosesnya,” sambungnya.

Wihinggil melanjutkan kalau itulah asyiknya menggunakan kamera analog, dan tidak terdapat pada kegiatan fotografi digital. Melewati tahapan proses panjang serta mengeksplorasi teknik seperti panning, freeze, slow speed dan berbagai teknik lainnya.

“Tantangannya justru di situ. Kita tak bisa hapus file, nggak bisa lihat hasil sementara di layar LCD. Semuanya butuh intuisi. Belum lagi, kita dibatasi oleh roll film,” imbuhnya.

Belum selesai, tantangan berikutnya adalah pengolahan foto di kamar gelap. Pada fase ini, fotografer juga harus cermat mengamati gambar ketika dicelup pada bahan kimia agar hasilnya memuaskan.

“Di sinilah sensasinya berbeda dengan membidik foto lewat DSLR atau mirrorless. Kita butuh skill yang perlu di asah. Semuanya bak proses yang perlu kita ikuti dan tidak boleh dilewatkan satu pun,” sambungnya.

Secara teknis, Wihinggil menganggap kamera analog memiliki keunggulan yang tidak dimiliki kamera digital, yaitu pada sensornya. Kamera analog pasti memiliki sensor full frame, baik yang jenis saku maupun SLR.

“Sensor full frame artinya menandakan gambar jepretan kamera analog lebih baik ketimbang digital,” tandasnya.

Ikuti juga ulasan mendalam Canon G7 X Mark II yang merupakan kamera compact yang bertenaga

Tak Hanya Menantang Secara Teknis, Desain ‘Jadul’ dan Roll Film Juga Jadi Daya Tarik

Hal lain yang membuat kamera analog disukai adalah desainnya yang khas. Bahkan, tak sedikit kamera terkini mengadopsi pesona desain retro itu; sebut saja misalnya, Fujifilm X-100T, Olympus E-P3, atau Nikon DF.

“Desain retro kamera analog juga sering jadi faktor penarik utama. Lekuk bodinya punya karakteristik unik. Memang sih, semua kembali ke pilihan masing-asing; tapi dari desain saja, biasanya orang mudah membedakan atau memiliki kesan kalau desain tersebut diadopsi dari kamera analog,” ujar Wihinggil.

kamera analog

Lepas dari desain, penggunaan roll film juga jadi pemikat perangkat lawas ini. Masih menurut Wihinggil, roll film lawas yang kini masih jadi favorit para penggiat fotografi analog adalah 35mm.

“35mm masih jadi andalan. Format film kecil yang punya ukuran bagian sensitif cahaya 24x36mm di setiap pengambilan gambar. Biasanya sih digunakan untuk 24 sampai 36 kali pengambilan foto,” katanya menjabarkan.

Soal roll film ini juga bisa jadi bukti kalau permintaan pasar masih ada, kalaupun tidak bisa dibilang tinggi. Karena untuk roll film 35mm misalnya, kini dijual dengan harga mahal; karena barang mulai langka, tapi tidak sedikit juga yang masih mencarinya.

Contohnya, roll film 135/35mm Fujifilm Superia 200 Color, biasanya dijual dengan harga Rp 45.000. Sedangkan, roll film lain bisa dilego mulai dari Rp 50 ribu, sampai yang paling mahal Rp 800 ribu untuk roll film Kodak sekelas Portra 400 35mm Fresh 02/2018.

“Banyak loh yang kecantol sama kamera analog saat ini, karena ketagihan coba-coba motret pakai roll film yang berbeda-beda,” timpal Wihinggil.

Tren Kamera Analog, Bukan Semata Soal Nostalgia

Dari cerita di atas, mulai dari bagaimana minat terhadap kamera analog masih bertahan di tengah meluasnya penggunaan kamera digital, tantangan yang ditawarkan, sampai daya tarik seperti desain dan roll film; bisa disimpulkan kalau kamera analog bukan sekadar gejala yang muncul sesaat, tapi fenomena nyata di tengah perkembangan dan inovasi di bidang fotografi.

“Dari bagaimana cara bekerjanya, sensasi saat memotret, sampai menikmati hasilnya. Saya pikir ini bukan tren sementara, tapi bagian dari rasa penasaran yang menyatu dengan pengalaman yang menyenangkan,” kata Wihinggil dari Komunitas Kamera Analog Yogyakarta.

Coba intip juga tips jitu membeli kamera mirrorless berikut ini

Kalau kembali merujuk pada tahapan adopsi inovasi, wajar saja kalau di bidang fotografi sudah memasuk tahap evaluasi, di mana beberapa atau banyak penggunanya yang makin berusaha melihat aktivitas ini lebih dalam lagi. Hasilnya, ada proses re-search atau pencarian ulang makna dari kegiatan tersebut.

“Lewat kegiatan memotret secara analog, kepekaan pada objek dan menikmati momentum yang tepat terasah. Pada praktiknya, sense dan feeling lebih banyak bermain. Ada value yang terasa mengasyikkan dan bisa dibilang penting,” pungkas Wihinggil.

Dan lewat tahapan ini, beberapa tahun ke depan, mungkin inovasi akan menjawabnya dengan teknologi atau fitur yang mampu melayani kebutuhan yang dipenuhi oleh kamera analog tadi. Pada titik itu, kembali, kita dan pengguna kamera mungkin akan melakukan evaluasi lagi dari sudut pandang lainnya.

Mungkin memang begitulah perputarannya; terus menerus. Bahwa, masa depan terbentuk karena proses memahami sejarah yang berkelanjutan.

Nah, buat kembali melirik ke karya foto analog, pada Sabtu, 5 November 2016, dari pukul 09.00 WIB di Oktagon, Gunung Sahari, Jakarta, akan digelar pameran bertajuk Analog Portrait by Tompi. Ya, selain menggeluti seni tarik suara, ia juga berkecimpung di bidang fotografi, terutama fotografi analog.

Jika Anda memesan tiketnya sebelum Rabu, 26 Oktober ini, Anda akan mendapatkan harga khusus Rp 75.000 saja; untuk keterangan detailnya, bisa dicek di laman Facebook Oktagon.co.id. Ayo cepat, karena kapasitas terbatas sampai 50 orang saja!

0 comments