NOW READING

Tren Instagram Dua “Kepribadian”, Cara Baru Branding Diri?

 1380
+
 1380

Tren Instagram Dua “Kepribadian”, Cara Baru Branding Diri?

by The Daily Oktagon
  • Instagram kini menjadi media sosial manifestasi personal branding yang ampuh.
  • Tak sedikit pula pengguna memiliki dua akun. Satu akun untuk berbagi konten yang terencana, sementara satu lagi untuk berbagi konten “random” dan spontan.
  • Tren ini menurut pengamat bisa membawa pengaruh psikologis, baik positif maupun negatif.

Media sosial idealnya menjadi tempat berkomunikasi yang efektif. Namun pandangan tersebut belakangan terlihat bergeser. Awal mula Instagram lahir misalnya, media ini berperan sebagai wadah komunikasi dengan cara visual.

Kini, fungsinya dirasa menjadi lebih luas. Banyak yang mengandalkannya untuk tujuan personal branding yang ampuh. Konsekuensinya, tak sedikit pula pengguna memiliki dua akun dengan tujuan yang berbeda.

Mengapa harus demikian? Sebabnya, dua akun ini memiliki kepentingan konten yang tidak sama. Satu akun untuk berbagi foto dan video dengan tampilan seadanya dan tidak beraturan, sementara satu akun lagi untuk berbagi konten dengan feed yang tertata, artsy, dan enak dilihat.

Tren ini belakangan dikenal dengan istilah Finstagram. Menurut artikel ini, Finstagram adalah akun Instagram rahasia atau rekaan yang lebih kepada kegunaan menampilkan foto-foto yang “apa adanya”.

Apakah memang perlu menata dua akun media sosial demi menciptakan branding diri yang diharapkan? Simak penelusurannya bersama The Daily Oktagon berikut ini.

Akun Pertama, Penuh Rencana

Fenomena Finstagram nyatanya terjadi di kalangan pengguna yang mayoritas berasal dari generasi milenial dan generasi Z (Post-Millennials). Salah seorang pengguna Instagram Annisa Gita Madrid misalnya, membenarkan hal tersebut tengah terjadi di lingkungannya.

Ia mengaku membuat dua akun Instagram, masing-masing @gitaf***kingmadrid dan satu lagi akun (yang tidak mau ia sebutkan namanya) versi Finstagram.

Sementara Devi Rossa, mahasiswi studi perhotelan ini mengunggah post kesehariannya di akun ‘asli’-nya, @devirossa. Sementara, akun Finstagram-nya, @devi_rossa digunakan untuk berbagi koten random.

Menurut hasil penelitian tahun 2015 oleh Pew Research Center, 92 persen remaja terhubung dengan dunia internet setiap hari, dan lebih dari separuh remaja (61 persen adalah perempuan) secara aktif memeriksa akun Instagram setiap hari. Hal ini tanpa dirasa menciptakan “tekanan” kepada pemilik akun untuk mengunggah foto yang “harus” mendapatkan banyak pujian (likes).

Akibatnya, banyak foto merupakan hasil perencanaan matang dan tidak apa adanya. Di akun @gitaf***kingmadrid milik Gita tadi misalnya, sampai tulisan ini dibuat menampilkan 84 post foto dan video yang tertata baik dan rapi.

Padanan warnanya bagus, tone filter foto yang indah dan terkesan kekinian. Segala jenis penataan feed coba diatur dengan cara yang kreatif. Tak ayal, post yang Gita unggah selalu mengantongi likes sedikitnya 100 jempol.

Menurut Gita, untuk mengunggah tiga foto berformat sejajar misalnya, biasanya ia akan menggunakan tema tertentu. “Contoh, saat posting foto buah-buahan, maka dua foto berikutnya harus buah juga. Kalau lagi selfie, juga harus sama asal dengan pose yang berbeda,” tutur mahasiswa di salah satu universitas di wilayah Senayan ini.

Menurut Gita, ada alasan ini menggunakan dua akun. Menurutnya, Instagram adalah media sosial yang tepat untuk menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya karena orang lain bisa menilai kita berdasarkan feed yang diatur. “Karena itu, kita coba tata sedemikian rupa agar menciptakan pola citra diri,” jelas pengguna iPhone 6 ini.

Usaha Gita tidak sia-sia. Akunnya memiliki 1.019 pengikut, sedangkan ia hanya mengikuti 576 akun. Gita mengungkapkan, akun itu jelas ingin mempertontonkan citra diri yang ia ‘lukis’ di dalam Instagram.

Kamera mirrorless bisa jadi “senjata” hasilkan foto bagus. Baca ulasannya di sini 

Akun Kedua, “Apa Adanya”

Namun ada sisi lain dari IG yang terus berkembang dan kemudian menjadi populer, yaitu fenomena Finstagram tadi. Akun-akun yang sengaja dibuat untuk menampilkan foto-foto yang jauh lebih spontan dan terbuka.

Gita sendiri tidak menampik soal akun Finstagram buatannya yang digunakan untuk berbagi kesehariannya tanpa harus repot meng-edit foto-fotonya terlebih dahulu.

“Saya lebih suka post random gitu, seperti quotes, foto-foto teman-temen abis kuliah. Feed-nya lebih nggak tertata, mostly juga nggak di-edit pake filter-filter yang fancy. Kadang, saya ngerasa di sini lebih enak. Nggak harus pretentious,” tandasnya.

Serupa dengan Gita, Devi menggunakan akun Finstagram-nya untuk menayangkan konten yang tidak bertema dan spontan. “Bahkan maknanya susah dimengerti orang lain,” kata Devi yang sehari-hari menggunakan iPhone SE.

Gita juga mengungkap, akun versi Finstagram miliknya ini kerap digunakan untuk men-stalking akun lain. “Ini soalnya akun yang satunya digembok. Jadi saya bebas mau liat-liat siapa. Kalau mereka mau lihat balik, nggak bisa. Soalnya juga foto-fotonya random, acak-acakan,” ia menambahkan.

Biar hasil foto di iPhone makin ok, gunakan ragam aksesori ini

Dampak Psikologis

Apa yang dilakukan Gita dan pengguna Finstagram lain, dipandang pengamat media sosial Nukman Luthfie sebagai perubahan wujud media sosial yang “normal”. Media sosial kini dianggap bagian dari identitas seseorang.

Meski begitu, tren ini bisa membawa pengaruh psikologis. Buruknya, pengguna tidak akan bersyukur dengan kehidupan aslinya. “Mungkin bagi mereka (pengguna Instagram yang tidak memiliki akun kedua) melihat akun-akun temannya ini akan terkesima, secara otomatis ingin ikut-ikutan,” kata Nukman.

Dampak yang akan dirasakan pengguna Instagram yang hendak membuat akun keduanya, yang secara tak langsung akan “memaksanya” untuk menata feed Instagram miliknya secantik mungkin. “Efeknya, ia tidak akan menjadi dirinya sendiri, bahkan dengan hal-hal yang bisa saja ia tidak sukai,” jelas Nukman.

Dampak berikutnya, akan ada satu waktu saat mereka akan merasa lelah dengan yang dilakukan. Akibatnya, mereka akan jenuh dengan branding diri, karena justru merasa kehilangan citra dirinya.

Kalau ini artikel “branding” diri ala Brata Rafli, pelaku industri fintech Tanah Air 

Hal ini terjadi pada selebgram asal Australia, Essena O’neill, yang memutuskan untuk menutup akun Instagram-nya dengan total 800 ribu followers. Alasannya, ia merasa lelah karena tidak dapat ‘memperlihatkan’ kepribadian aslinya di akun tersebut.

Namun Nukman menilai, dampak psikologis yang didapat bisa jadi tidak sepenuhnya buruk. Misalnya jika si pengguna mengikuti figur seperti Mark Zuckerberg, karena selalu menebarkan informasi positif dan motivasi untuk terus belajar.

“Mau buat Finstagram tak ada yang melarang. Asal, kita nyaman dan tahu tujuannya. Hanya perlu diingat konsekuensinya. Semua post feed milik kita tentu ada pertanggungjawabannya,” pungkas Nukman. Jadi, Anda tertarik menguatkan “branding” dengan membuat multi akun Instagram?

0 comments