NOW READING

Tren Generasi Terkini: Kekerasan Fisik yang Berlanjut dengan Cyber-bullying

 1118
+
 1118

Tren Generasi Terkini: Kekerasan Fisik yang Berlanjut dengan Cyber-bullying

by The Daily Oktagon
  • Kasus penindasan khususnya di dunia maya saat ini sering terjadi di kalangan remaja.
  • Mereka tidak tahu bahwa perilaku mereka telah melanggar hak asasi dari korban.
  • Perilaku penindasan ini pun memberi dampak negatif bukan hanya di diri korban, tapi juga pelakunya.

Kehadiran media sosial merupakan salah satu hasil perkembangan dari dunia teknologi. Semua orang bisa memiliki satu bahkan lebih akun dan bisa membagikan isi pemikiran kita saat itu juga. Selain itu, konten yang dibagikan bisa dalam bentuk seperti teks, foto atau video, semuanya dikembalikan kepada si pemilik akun. Hingga saat ini, sudah muncul beragam situs dan aplikasi media sosial yang populer seperti Facebook, Instagram, juga Twitter.

Tak terkecuali di Indonesia, yang memiliki jumlah pengguna aktif sekitar 79 juta di 2014. Penggunanya sendiri didominasi oleh kalangan muda usia 18-25 tahun. Tak sedikit pula dari anak-anak di bawah umur tersebut yang memiliki minimal satu akun untuk sebuah media sosial.

Sayangnya, mereka yang terbilang pelajar ini masih kurang mendapat edukasi mengenai literasi digital. Kurangnya pengawasan dari orang tua mengakibatkan munculnya kasus cyber-bullying dengan pelaku usia belia seperti dua kasus berikut.

Perilaku orang Indonesia dalam menggunakan internet dan smartphone mereka dapat dilihat pada artikel berikut.

Foto: Shutterstock

Kekurangan Orang Lain Menjadi Bahan Cacian

Salah satu kasus penindasan dilakukan oleh beberapa mahasiswa sebuah universitas di Jakarta. Peristiwa ini berawal dari kumpulan mahasiswa yang menghina salah satu teman mereka dengan panggilan autis.

Autis atau autisme adalah sebuah penyakit gangguan perkembangan syaraf yang kompleks. Penderita biasanya mengalami kesulitan saat berinteraksi dengan orang lain. Pelaku penindasan terdiri dari tiga orang yang terus mencela korban dengan panggilan autis.

Saat peristiwa terjadi, salah satu dari pelaku merekam kejadian dan mengunggahnya melalui InstagramStory miliknya. Kemudian, video tersebut menjadi viral dan ditonton publik. Banyak yang berkomentar agar pelaku tersebut dikeluarkan dari universitas, tetapi pihak kampus sendiri hanya memberikan hukum dalam skala berat dan sedang.

Saat ini, kasus telah selesai ditangani pihak universitas dan pelaku sudah meminta maaf kepada korban dan orang tuanya. Setelah dikonfirmasi pun, sebenarnya korban penindasan bukanlah penderita autisme, ia normal seperti orang lainnya.

 

Foto: Shutterstock

 

Sindiran Pada Teman Berakhir Penindasan

Pada Juli 2017, viral sebuah video penindasan siswi SMP terhadap siswi lainnya di depan pusat perbelanjaan, Thamrin City. Peristiwa ini berawal dari pertengkaran kecil antara dua siswi yang sudah berteman dekat sejak SD. Penyebabnya pelaku tidak terima dengan sindiran korban yang dianggap merugikan.

Pelaku pun menyuruh korban untuk datang ke Thamrin City setelah pulang sekolah. Tepatnya di dalam area perbelanjaan, penindasan pun dilakukan pelaku bersama beberapa temannya. Rambut korban ditarik dengan kencang hingga dirinya terjatuh ke lantai dan di akhir video si korban berpose mencium tangan pelaku dan difoto oleh beberapa siswa yang ikut menonton peristiwa tersebut.

Beberapa anak lainnya yang ikut menyaksikan kejadiannya merupakan siswa SMP, bahkan siswa SD. Di antara mereka juga mendokumentasikan peristiwa dengan video berdurasi 50 detik yang diunggah ke media sosial dan menjadi viral.

Kasus ini masih diselidiki pihak kepolisian dengan menggunakan Undang-undang Sistem Peradilan Anak. Untuk anak usia 12 tahun melalui kesepakatan bersama dan melakukan diversi untuk pelaku usia 13 tahun.

Pantau kegiatan anak dalam menggunakan internet dengan tip pada artikel berikut.

Foto: Shutterstock

Cerminan Anak Bangsa Tidak Terpuji

Kedua kasus di atas menjadi satu hal yang sangat disayangkan bisa terjadi. Di satu sisi, para mahasiswa yang seharusnya sudah memiliki pengetahuan mengenai moral mampu menahan diri untuk menindas orang lain. Begitu juga dengan peristiwa penindasan di Thamrin City yang dilakukan siswi SMP. Di usia yang masih belia, mereka melakukan satu tindakan tidak terpuji dan dengan sengaja membaginya melalui media sosial. Hal ini menunjukkan kurangnya pengetahuan mengenai literasi digital yang mereka miliki.

Sebagai pelaku penindasan, mereka perlu diberi pemahaman mengenai moral manusia untuk saling menghargai dan menghormati. Untuk pengunggah video ke media sosial, mereka perlu lebih memahami mengenai literasi digital. Penggunaan yang bijak dalam membagi konten akan sangat berpengaruh pada tanggapan dari pengguna media sosial lainnya.

Cyber-bullying merupakan permasalahan masyarakat secara luas, terutama para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Untuk itu perlu sikap tegas yang diberikan kepada pelaku penindasan agar tidak melakukan hal tersebut pada orang lain. Penyebaran konten pun perlu pengawasan lebih, khususnya pemerintah agar kasus seperti di atas tidak menjadi viral dan merusak nama bangsa.

 

 

0 comments