NOW READING

Tren Game MOBA di Indonesia, dari Warnet ke Smartphone

 100
+
 100

Tren Game MOBA di Indonesia, dari Warnet ke Smartphone

by The Daily Oktagon
  • Penetrasi game MOBA di pasar lokal terus meningkat tajam. Penyebabnya, akses untuk bermain game tak lagi sesulit dulu.
  • Tren game MOBA yang begitu besar sekarang juga tak bisa lepas berkat kepopulerannya di era 2000-an awal. Pada waktu itu memang MOBA hanya hadir di perangkat PC. Dan kini, ‘budaya’ permainan MOBA telah meluas ke lanskap konsol dan mobile.
  • Jika dikaji, MOBA untuk PC di Indonesia didominasi dengan judul seperti Dota 2, Point Blank, dan League of Legends, MOBA versi mobile lebih dikuasai oleh Mobile Legends, AOV, dan Vainglory.

MOBA alias Multiplayer Online Battle Arena adalah salah satu genre permainan komputer yang tengah digandrungi banyak pemain di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Penetrasi game MOBA di pasar lokal terus meningkat tajam. Penyebabnya, akses untuk bermain gametersebut tak lagi sesulit dulu.

Platform untuk memainkan game yang sering dijuluki ‘game online’ ini dulu masih sangat terbatas, yaitu Personal Computer (PC). Padahal, kala itu tidak semua orang punya komputer sehingga pemain harus pergi ke warnet (warung internet) untuk bermain MOBA.

Berbeda dengan zaman sekarang, MOBA bisa dimainkan hampir di seluruh perangkat, mulai dari konsol seperti PS4 dan Xbox One, hingga smartphone iOS dan Android.

Game MOBA yang dirilis untuk perangkat iOS dan Android membuka peluang bagi para pengembang untuk membesut ragam game. Kini banyak judul game MOBA bermunculan untuk kedua perangkat tersebut, dari yang gratisan hingga berbayar.

Arena of Valor (AOV) terbitan Garena dan Mobile Legends terbitan Moonton adalah game yang mendominasi untuk saat ini. Namun tidak semua game MOBA yang ada, sukses mencuri perhatian pasar. Ujung-ujungnya, kompetisi lewat iklan jadi senjata andalan. Lantas, bagaimana tren itu kemudian juga mewabah di Tanah Air?

Mendunia Berkat Era PC

Menurut pengamat game Remy Fabian Subijakto, tren game MOBA yang begitu besar sekarang tak bisa lepas berkat kepopulerannya di era 2000-an awal.

Gamer PC di 2000-an awal pasti kalau tidak main MOBA, ya strategi atau simulasi. Cuma beberapa tahun kemudian, MOBA berkembang menjadi tren. Pengaruh perangkat PC kemudian berpindah ke konsol dan smartphone,” ujarnya.

Awalnya, jelas Remy, MOBA diragukan untuk berkembang mengingat penghalang antar platform begitu besar. Sulit bagi para pengembang untuk bisa “memindahkan” game dari PC ke perangkat mobile seperti smartphone, terlebih investasi waktu dan dana yang dibutuhkan sangat besar.

Remy pun tak menampik soal perkembangan MOBA yang kini begitu pesat, khususnya di Indonesia. Semakin ke sini, MOBA banyak dimainkan di smartphone, walau PC tetap jadi pilihan .

Remy merujuk bukti bahwa game seperti Point Blank versi PC masih menjadi game nomor satu di Indonesia. “Di sisi lain, game League of Legends (LoL) pertumbuhannya cukup bagus. Game-game PC ini malah memicu pola kebutuhan pasar akan perangkat yang lebih mobile,” lanjutnya.

Karena itu, Remy menilai pola ini membawa kebiasaan gamer yang tadinya bermain di PC pada akhirnya menjajal MOBA versi mobile. “Budayanya telah berakulturasi lebih luas, dari yang tadinya di warnet menjadi ke smartphone,” jelasnya.

Cerita penyanyi Giring Nidji soal kegandrungannya akan game, ada di sini. 

Mobile Jadi Platform Efektif

Penetrasi MOBA di Indonesia terbilang tinggi akibat jumlah pemain mobile yang terus meningkat. Remy mengamini hal ini. Perangkat mobile menjadi platform paling efektif untuk mendompleng penetrasi MOBA.

“Ini adalah fenomena menarik. Sistem kontrol analog (MOBA yang ada di mobile) awalnya dianggap konyol karena pada dasarnya MOBA itu kan lebih cocok dimainkan di PC, pemain mengontrolnya dengan click andpush di keyboard dan mouse.

Tetapi, nyatanya itu malah dijadikan elemen penting di MOBA versi mobileuntuk memudahkan pemain yang mau belajar MOBA,” tuturnya menjelaskan.

Gamer MOBA lain Bernhard Martin Pasaribu berpendapat sama dengan Remy. Hanya Benhard menambahkan fakta menarik. Jika MOBA untuk PC di Indonesia didominasi dengan judul seperti Dota 2, Point Blank, dan League of Legends, sementara MOBA versi mobile lebih dikuasai oleh Mobile Legends, AOV, dan Vainglory.

Adegan di game Arena of Valor (Dok. Garena)

Pria yang gemar bermain game MOBA di Oppo F3 ini juga mengaku penasaran dengan MOBA versi mobilekarena begitu hype di komunitas.

“Ternyata, yang paling mirip sama MOBA versi PC itu Vainglory. Sementara, Mobile Legends dan AOV lebih berbeda dari sistem mekanik,” terang pria yang juga berprofesi sebagai Shoutcaster di League of Legends Indonesia ini.

Namun ia mengungkap perbedaan yang kentara antar kedua versi alat ini. Menurutnya, kedua segmen ini memiliki karakteristik yang timpang tindih. Dari sisi identitas, MOBA di PC masih dipersepsikan “serius”, sedangkan MOBA di mobile cenderung casual.

“MOBA untuk mobile itu hanya dijadikan untuk media bermain saja. AOV, Mobile Legends, Vainglory, mungkin cuma dijadikan sebagai game mengisi waktu luang atau berkompetisi santai. Sementara, PC itu untuk pemain yang lebih pro dan bisa berjenjang hingga kompetisi e-Sports,” ujar Benhard yang sekarang sedang menggunakan gaming laptop Asus ROG Zephyrus ini.

Benhard berharap ke depan para pengembang game MOBA bisa mengoptimalkan server agar pengalaman bermain lebih baik dan stabil. Ia juga ingin MOBA bisa menjadi genre utama di lanskap e-Sports Indonesia serta dunia.

“Semoga pengembang bisa menciptakan mindset bahwa MOBA itu ramah buat pemula. Yang penting, diharapkan juga mereka bisa mengembangkan MOBA lebih luas dan membuat gamer awam tahu apa itu MOBA,” harapnya.

Simak review 3 laptop gaming keren di artikel ini!

Platform MOBA

Bicara platform mobile, maka game AOV dan Mobile Legends bisa dibilang sebagai simbol kesuksesan MOBA di platform jenis ini. Hal ini diamini Herry Sudharma, salah seorang gamer MOBA ‘garis keras’.

“Apalagi saat ini keduanya juga sering mengadakan turnamen, baik dari masing-masing game (AOV dan Mobile Legends) atau dari komunitasnya sendiri,” kata Herry yang menggunakan gaming laptop MSI GS63VR.

Game online memang sedang sangat populer saat ini. Puncak peningkatan gamer MOBA di Indonesia, terjadi sejak Januari 2015. Ada total 27 juta pemain per hari dan 67 juta pemain jika ditotal dalam waktu sebulan.

Bila dikaji, hampir sebagian besar pemain merupakan kalangan gamer profesional e-Sports, yakni ajang kompetisi game MOBA bergengsi. Bahkan menurut laporan lembaga riset SuperData, ada 71.5 juta gamerbergabung dengan kompetisi game yang diadakan di e-Sports pada 2013.

Selain itu, 53 persen gamer Indonesia tercatat menjadi gamer MOBA yang loyal. Tak cuma Mobile Legends dan AOV, game lain yang mereka mainkan seperti League of Legends, Heroes of the Storm, Dawngate, Heroes of Newerth, Infinite Crisis, Strife, dan Smashmuck Champions.

Dengan tren semacam ini, tidak heran jika dalam beberapa bulan mendatang, “wabah” game online di Tanah Air akan semakin menghebat!

Baca juga: Blizzgamers Indonesia, Komunitas Gamer “Garis Keras”.

0 comments