NOW READING

Tompi dan “Lagu” Foto Analognya

 1223
+
 1223

Tompi dan “Lagu” Foto Analognya

by The Daily Oktagon
Sumber foto utama: IG @dr_tompi
  • Penyanyi dan dokter bedah ini ternyata juga mencintai dunia fotografi
  • Meski relatif baru terjun ke fotografi, Tompi sudah berani mengadakan pameran dan membuka usaha fotografi
  • Baginya, dunia tarik suara dan fotografi dapat bersinergi dengan baik

Tompi, siapa yang tidak familiar mendengar nama ini? Penyanyi jazz yang memiliki nama asli Teuku Adifitrian itu memang sudah malang melintang di blantika musik Tanah Air sejak awal 2000-an.

Menariknya dari seorang Tompi, selain merupakan pelaku seni musik, sosoknya juga dikenal sebagai dokter. Ia meraih gelar Spesialis Bedah Plastik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 2010 silam.

Beruntung bagi Tompi bersimbah talenta unik, karena dunia tarik suara dan kesehatan jelas berbeda, ibarat langit dan bumi. Namun bagi Tompi, semua tidak ada yang tak mungkin. Kedua jalur profesi yang berbeda ini menurutnya adalah perjalanan yang sangat ia nikmati.

Selain bernyanyi dan membedah plastik, pria kelahiran Serambi Mekah, 22 September 1978 silam itu juga memiliki sebuah hobi yang ia nilai tak kalah pentingnya dengan kedua profesinya tersebut: Dunia fotografi.

Tak sekadar untuk mengisi waktu luang, Tompi bahkan sempat berperan sebagai juru foto di beberapa pagelaran seni. Ia pernah memamerkan karyanya lewat sebuah pameran foto dari pementasan Bunga Penutup Abad yang diadakan Agustus 2016 lalu, bekerjasama dengan The Daily Oktagon.

Pada kesempatan itu, foto-foto hasil karya Tompi memperlihatkan sebuah elegi, emosi, serta gelapnya pembawaan karakter drama dalam warna hitam putih khas bidikannya. Untuk menelusuri kiprah Tompi di dunia tarik suara dan fotografi, simak wawancara eksklusifnya bersama The Daily Oktagon berikut ini.

Bagaimana rasanya menjalani tiga profesi berbeda sekaligus di saat yang bersamaan?

Seru, asyik. Menantang juga. Tapi, no big deal. Ketiganya bisa dijalankan asal dengan pembagian waktu yang fair. Kalau nyanyi dan motret, cukup sinergi. Apalagi saya baru saja merilis album terbaru, bertajuk “Romansa”.

Proses penggarapan album ini memang sudah rampung sejak lama, dirilisnya juga sekitar satu setengah tahun lalu. Namun kali ini, saya ingin merayakannya bersamaan dengan sebuah pameran fotografi.

Mengapa memilih rilis album merangkap dengan pameran foto?

Saya ingin merilis album dengan cara yang berbeda. Saya sebetulnya juga mau memilih self statement ke publik bahwa dunia seni itu nggak harus tarik suara melulu kok.

Saat meluncurkan album dan pameran foto di Oktagon

Saat meluncurkan album dan pameran foto di Oktagon

Setiap orang pasti punya bakat. Di samping memiliki bakat, mereka juga pasti ada beberapa potensi bakat lain yang bisa diasah. Dengan ini, saya ingin memberikan pesan bahwa everybody can work and create at the same time.

Tompi mengaku ada tantangan dalam meluncurkan album saat ini. Apa saja itu?

Kalau bicara awal mula di dunia tarik suara, semua orang mungkin sudah tahu. Bagaimana awal mula Tompi terjun ke fotografi?

Waktu SMA ke kuliah yang iseng-iseng coba fotografi, cuma belum serius banget. Saya akui baru menggeluti dunia fotografi baru-baru ini. Untuk yang analog saja. saya baru mulai dua tahun yang lalu. Ya kalau sekarang, mostly saya foto-foto pakai kamera analog.

Saya ingat, Benny Asrul, Tommy N. Armansyah dan Haryanto R adalah orang-orang yang pertama kali memperkenalkan saya ke fotografi analog. Saya diajarin nggak cuma jepret-jepret saja, juga belajar processing untuk develop secara manual. Dari situ saya rajin ikut gathering berbagai komunitas.

Berarti, secara spesifik lebih nyantol sama fotografi analog?

Nggak juga, sometimes I do digital. Cuma yang saya suka banget dari kamera analog ini, adalah proses dan hasilnya. Saya benar-benar mencintai karakter gambar dari foto analog. Banyak yang bisa dikulik, jelas berbeda dari efek digital. Saya rasa, gambar analog memiliki karakter yang lebih kuat ketimbang digital.

Saat "bereksperimen" di rumah (dok. IG @dr_tompi)

Saat “bereksperimen” di rumah (dok. IG @dr_tompi)

Saya benar-benar menghayati proses pemotretan dengan kamera analog. Secara tak langsung, ini memecut saya untuk lebih selektif dalam membidik momen. Saya harus bisa ngukur, mengira-ngira apakah fit the frame. Semua harus benar-benar matang dipersiapkan, sebelum akhirnya eksekusi.

Kamera analog menolak “menyerah” di era digital. Simak artikelnya di sini

Dengar-dengar, Tompi lebih suka sama foto hitam-putih?

Saya secara personal memang lebih memilih karakter warna monokrom, karena bisa diselesaikan sampai proses pencetakan. Oh ya, untuk dimensi frame saya juga lebih suka portrait. Nggak tahu kenapa saya benar-benar suka sama portrait. Lebih ngena saja.

Tapi bukan berarti saya jarang motret dengan film warna. Menurut saya, foto-foto hitam putih itu juga punya karakter tersendiri daripada yang berwarna. I am enjoying myself ‘singing’ through these black and whites. Meski cuma dikerangkeng sama warna hitam putih, setiap foto yang dihasilkan punya makna yang berbeda.

Contoh saja di pameran Chinese Ink yang saya adakan 2-8 November lalu di Oktagon, saya ingin menuangkan rasa keresahan soal rasisme. Dari situ, emosi masing-masing frame terpampang dengan pembawaan yang unik dan memiliki pesan yang mendalam.

Apakah hobi ini bisa disamakan dengan profesi dokter dan penyanyi yang Tompi tekuni?

Bagi saya, profesi adalah hobi. Vice versa. Kebetulan semuanya saya benar-benar suka. Untuk fotografi sendiri, saya membuka usaha bisnis khusus untuk foto wedding dan foto portrait, yaitu Glympsphoto.

Saya sama yang lain juga buka toko fotografi analog yang jual segala jenis film analog, namanya Soup N Film. So, udah bisa dibilang kerjaan belum nih?

bunga penutup abad tompi

Salah satu karya Tompi yang sempat dipamerkan di Oktagon

Para musisi lain juga bicara soal kehidupan digitalnya. Intip artikelnya di sini

Gear dan film yang Tompi gunakan untuk memotret dengan kamera analog?

Banyak ya, untuk yang sistem 135mm mostly saya pakai kamera Nikon FM3a.

Lensanya sendiri 58mm f1.2. Kalau medium format, saya lebih doyan Hasselblad 503CW pakai lensa makroplanar 120mm. Kalau ukuran favorit ya 8×10, udah paling asyik view-nya seperti itu.

Tapi itu bukan jadi patokan juga. Terakhir di Chinese Ink, saya pakai kamera Hasselblad H5D dan Leica M4-2Hasselblad H5D dan Leica M4-2. Basically, kembali lagi ke kebutuhan saya. But most of the time, hitam putih dan analog, both will give me a muse.

0 comments