NOW READING

Tiga Dekade Foto Aksi di Indonesia: Di Balik Bingkai Para Juara

 4545
+
 4545

Tiga Dekade Foto Aksi di Indonesia: Di Balik Bingkai Para Juara

by The Daily Oktagon

Majalah olahraga Sport Illustrated seperti mendapat durian runtuh ketika Neil Leifer membawa foto Muhammad Ali berwajah garang meneriaki Sonny Liston yang terlentang tak berdaya di atas ring tinju. Tak tanggung-tanggung, redaksi langsung menghadiahi foto tersebut menjadi sampul edisi khusus “The Century’s Greatest Sports Photos” pada 1965.

Foto_Tjandra_3

Sejak saat itu, fotografi olahraga yang termasuk fotografi aksi ini mulai naik kelas. Jepretan-jepretan dari pertandingan olahraga tak lagi melulu soal freeze shot saja, tetapi juga banyak yang berhasil menyajikannya sebuah kesatuan cerita. Ukuran bagus dan tidak sebuah foto olahraga bukan lagi terukur oleh seberapa tajam dan akurat warna yang dilukis fotografer dengan cahaya, tetapi sedalam apa emosi dan isu yang berhasil diangkat.

Paham Neil Leifer diamini pula oleh Tjandra Moh Amin. Karya-karya Tjandra selama tiga dekade di gelanggang olahraga Indonesia selalu menyajikan sisi lain dari gerak dan laga sang atlet di lapangan. Mengawali karir sejak 1993 di Tabloid Bola, Tjandra melihat tantangan tersendiri di foto olahraga. Baginya, foto olahraga menuntut teknis yang spesifik dan berkaitan dengan menangkap momen yang berlangsung cepat sehingga bertambah kesulitannya.

Foto_Tjandra_1

“Fotografi olahraga itu bukan cuma soal freeze action, saja. Ada banyak teknik yang bisa dipakai untuk membuat momen jadi lebih berkesan. Misalnya, teknik low speed (panning) yang menghasilkan foto lebih berdimensi dan memiliki layer-layer untuk dinikmati. Jadi, foto olahraga enggak bikin bosan,” ujar Tjandra, suatu kali.

Bagi Tjandra sendiri, sepak bola adalah salah satu olahraga yang jika difoto sering kali membosankan. Teknik sliding, tackling, dan gerakan-gerakan yang muncul sepanjang pertandingan tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Pada kondisi tersebut, seorang fotografer olahraga harus bisa mencari aspek lain yang bisa memperkaya foto.

“Masalahnya, teman-teman fotografer saat ini merasa sudah mapan dan enggak perlu lagi belajar atau cari referensi,” tutur fotografer yang juga pernah merasakan pengalaman bergabung dengan pelatnas SEA Games Singapura 1993 untuk olahraga taekwondo.

Bicara soal perangkat, Tjandra mengaku tak terlalu mengalami perubahan besar dengan kehadiran era digital. Ia sudah terbiasa dengan perangkat analog berbagai seri, mulai dari Nikon F2, Nikon F3, hingga Nikon F5. Seiring dengan perkembangan teknologi, ia juga mulai beradaptasi dengan kamera digital pada Nikon D1x.

“Saat itu kapasitas Nikon D1x masih di 2 megapixel. Bagus secara tangkapan momen, tetapi kualitas gambar jauh sekali dari film. Karena alasan ini, beberapa tahun kemudian saya rekomendasikan penggunaan Canon di kantor karena kualitas warna yang jauh lebih netral. Nikon terlalu kuning dan kontras,” jelas Tjandra.

Namun, keterbatasan teknologi pada era tersebut tidak pernah menjadi kesulitan baginya. Kendala paling berarti justru pada kurangnya referensi. Anda harus membeli buku fisik, bukan browsing internet, untuk bisa mengetahui tren yang sedang berkembang di internasional. Semakin banyak referensi, Tjandra semakin sadar jika foto olahraga tak melulu soal lensa panjang dan high speed.

Ia justru banyak menemukan pengalaman menarik dan penting. Ia dituntut untuk lebih teliti saat memotret agar mendapat warna dan cahaya sesuai keinginan. Ia juga tak merasa repot ketika harus membawa lightmeter ke mana-mana saat pemotretan.

Ia juga ingat ketika harus menyulap kamar mandi hotel menjadi laboratorium mini. Hampir setiap pulang event ia harus memilih dan mencetak foto secara manual. Lalu, foto yang sudah jadi kemudian dipindai dan dikirim ke redaksi. Kini, tiga dekade kemudian, rangkaian produksi itu sudah dieliminasi dengan kehadiran teknologi digital.

Foto_Tjandra_2

“Karena senang mengerjakannya, semua itu enggak pernah terasa sulit. Cuma generasi sekarang yang suka lebay mendramatisir keadaan. Memang beda zaman, jadi buat apa dibanding-bandingkan? Yang terpenting adalah fotografer tidak boleh lupa pada basic,” ujar Tjandra.

Sebelum drone marak seperti saat ini, fotografer harus paham dan teliti di mana meletakkan kamera yang tepat untuk menghasilkan foto bagus. Untuk bisa mencapai hasil tersebut, fotografer perlu punya pengetahuan yang cukup tentang peraturan olahraga dan karakteristik atlet yang bertanding. Tjandra sudah paham betul di mana ia harus meletakkan kamera.

“Biasanya, saya selalu pakai top angle dengan magic arm, kamera trap untuk angle tak biasa, dan satu kamera dengan lensa panjang untuk cover master sepanjang pertandingan. Karena itu, dulu saya enggak sayang untuk investasi Pocket Wizard supaya bisa strobist dan pasang bracket kamera,” kata Tjandra yang tak ragu membeli sendiri alat-alat penting yang sering dianggap remeh dan tidak diperlukan oleh redaksi.

Uniknya kini, meski sudah tersedia berbagai pilihan digital, Tjandra justru kembali menggunakan film lagi.

“Sekarang semua orang bisa foto. Untuk bisa jadi fotografer, kita harus terampil dengan (medium) analog lagi. Lagi pula saya jenuh pakai digital yang banyak tidak mencerdaskannya. Motret ini-itu mengandalkan digital imaging terus,” tutup Tjandra yang kini menggunakan Mamiya untuk memproduksi foto olahraga komersil.

Melukis cahaya dari panggung ke panggung

Selain dari tepi panggung olahraga, fotografi aksi juga mencakup potret panggung dalam arti yang lebih populer dipahami banyak orang: panggung musik!

Firdaus_Fadlil

“Di Woodstock ’94, ada ratusan ribu orang hilir mudik. Harus diakui, show-nya sendiri biasa saja. Dan saya sering kesulitan dapat akses ke panggung karena harus antre dengan wartawan lain dari seluruh dunia. Solusinya foto dari jauh pakai lensa 500 mm. Untuk tiga lagu saat konser, saya bisa menghabiskan 7-9 roll film,” kenang Daus yang langganan dikirim ke luar negeri untuk memotret konser.

Setelah menjadi fotografer majalah HAI pada akhir ‘80-an, Daus mulai menyelami fotografi panggung. Ajang lokal hingga internasional jarang luput dari bidikan kameranya. Bukan hal aneh jika ia harus terbang puluhan jam hanya untuk memotret konser berdurasi dua jam.

“Saya pernah ke Amerika untuk liput Sepultura. Karena mereka lagi enggak ada konser, alhasil diajak jalan-jalan pakai jet pribadi buat nonton pertandingan bola Libertadores dan santai di Rio de Jenairo,” tutur fotografer yang selalu membawa lensa 70-200 mm dan 17-40 mm ini.

Berkat kualitas foto yang baik, Daus juga sering mendapat job eksklusif memotret para artis dunia yang sedang tur. Salah satu klien pertamanya adalah Julio Iglesias.

Daus paham betul angle andalan Julio dan bagaimana aksi terbaiknya saat di panggung. Sederet nama lain yang pernah menjadi klien Daus adalah Bobby Brown, Mr. Big, Metallica, dan Anggun.

“Proses kerja dengan mereka enggak sulit. Biasanya mereka sudah pernah lihat foto-foto saya. Jadi begitu tur langsung telepon saya dan minta jadi official photographer,” bebernya.

Karena masih memegang kamera analog, maka ia dituntut untuk mahir dan cekatan menggonta-ganti roll film saat memotret konser. Ada teknik tersendiri agar gulungan film bisa masuk dengan pas tanpa rusak ke dalam kamera. Selain itu, memotret panggung dengan kamera analog juga harus cermat memilih film dengan satu ISO tertentu.

Foto_Firdaus_Fadlil_-_Original_size

“Sekarang asyik bisa pilih banyak ISO dengan kamera digital. Dulu, kita harus memikiran betul-betul pencahayaan di panggung sepanjang konser supaya efektif cuma dengan satu ISO,” jelas Daus.

Ia juga menjelaskan betapa kamera digital membuat proses produksi foto menjadi sangat singkat. Pada beberapa situasi, ia bahkan tak perlu lagi mencetak foto. Tinggal transfer ke iPad, fotonya pun segera terbit di website atau media online lainnya.

Kendala lain dari memotret panggung dengan kamera analog adalah kita tidak pernah bisa tahu hasil sebelum dicetak. Alhasil, banyak kejutan yang bisa terjadi.

Daus, yang belajar motret secara otodidak dari brosur dan boks kamera, justru menemukan banyak hal menarik dari kesalahan-kesalahan yang dibuat. Ia jadi tahu bagaimana teknik cross-processing, membuat foto dengan warna aneh tapi tetap enak dilihat, dan teknik panning yang hingga kini terus berkembang.

Terlepas dari perkembangan teknologi foto yang semakin canggih, satu hal yang tidak pernah hilang dari fotografi panggung adalah kreativitas pemotret. Tata cahaya dan properti yang semakin futuristik tidak akan memberi hasil maksimal jika musisi yang dipotret tidak memberikan aksi terbaiknya.

“Setelah ambil foto yang ‘aman’ dengan wajah artis fokus dan kelihatan jelas, kita bisa main kreativitas. Mulai main zoom, panning, siluet, ubah posisi, atau framing dengan tiang-tiang. Effort itu yang akan bikin foto jadi bagus. Tanpa aksi artis dan kreativitas, foto panggung akan jadi biasa saja,” ujarnya memberi bocoran.

3DEKADEFOTOGRAFI

Daus juga menjelaskan jika keberadaan tata cahaya di panggung bukan didesain untuk kebutuhan fotografi, melainkan visual yang dilihat penonton. Bagaimana mungkin lampu megah dan indah tersebut dipersembahkan untuk fotografer yang hanya memiliki kesempatan tiga lagu setiap konsernya? Banyak tata cahaya panggung yang bagus tetapi justru membuat pusing fotografer. Misalnya, ketika musisi mengeluarkan ekspresi yang bagus, lampu mendadak backlight, over, atau justru terlalu gelap sehingga harus menggunakan low-speed.

“Oasis itu salah satu band yang konser di mana pun pasti cuma pakai lampu merah-kuning yang itu-itu saja. Salah satu promotor yang paling peduli lighting itu Megapro. Panggung mereka selalu kuat intensitas cahayanya. Tapi, Jay Subiakto juga bagus banget kalau sudah menata panggung. Cuma, ketika kita foto, setengah mati kejar low-speed, karena intensitas cahayanya rendah banget,” tutur Daus yang tak pernah ragu menggunakan ISO 3.200 saat foto konser meski hasilnya “coral” (noisy).

Kini, Daus menggunakan kamera DSLR Canon EOS 5D Mark II untuk memotret aksi para musisi di panggung. Dan ia mengistirahatkan Hasselblad serta Nikon F3 yang menemaninya keliling panggung musik dunia puluhan tahun silam.

Ketika mirrorless beraksi

Siapa sangka jika DSLR yang selama ini dilihat powerful dan menjawab segala keterbatasan kamera analog, masih bisa ditandingi oleh teknologi lain? Pada 2014 kemarin, banyak pakar fotografi yang menganggap kamera DSLR akan mengakhiri posisinya sebagai idola. Banyak yang memprediksi jika DSLR akan digantikan oleh kamera Mirrorless Interchange-able Lens Camera.

Banyak hal yang ditawarkan oleh kamera yang biasa disebut sebagai mirrorless ini; kualitas gambar setara DSLR, mudah dibawa, dan lebih compact. Selain itu, kamera mirrorless juga memberikan tangkapan yang lebih aktual karena tidak perlu memerlukan pantulan dari lensa kaca pada kamera DSLR.

Fariz Adnan, fotografer yang sudah memotret berbagai konser dan musisi ini, termasuk dalam generasi yang menikmati segala fitur dan kepraktisan kamera mirrorless. Baginya, teknologi kamera mirrorless sangat membantu profesi fotografer kini. Dengan ukuran yang compact, mirrorless bisa memberikan keleluasaan ketika memotret di panggung atau kondisi yang memerlukan mobilitas tinggi.

“Fitur yang paling membantu itu fokus peaking di kamera, jadi saya bisa menghemat budget untuk lensa,” ujar fotografer yang kini menggunakan Sony A7 sebagai ‘senjata’ andalan.

Karir fotografer Adnan justru berawal dari musisi. Berawal dari itu, Adnan mulai sering berburu foto-foto konser band lokal dan luar negeri dengan kamera pertama yang ia punya dulu, yakni Olympus EPL-1 pada 2011. Seiring dengan jam terbang yang semakin tinggi, Adnan pun semakin mengukuhkan diri sebagai fotografer musik. Nama-nama besar di industri musik mulai tertarik bekerja sama dengan Adnan untuk memotret momen.

Salah satu hasil fotografi musik Adnan terbaru adalah photo story “1 Day with Raisa – Magnum Raisa” pada konser tunggalnya di 2015. Tak hanya memotret aksi panggung saja, Adnan mendapat kesempatan untuk mengabadikan kegiatan Raisa mulai dari persiapan hingga gladiresik.

Bicara soal gear andalan, Adnan tak pernah ketinggalan membawa kamera Sony A7 dengan lensa 28-200mm, 50mm f/1.7, dan 135mm f/2.8. Untuk penunjang foto-foto high angle, Adnan selalu membawa monopod yang sangat membantu ketika memotret panggung.

3DEKADEFOTOGRAFI2

“Saya enggak sabar tunggu lensa Zoom 28-135 mm f/2. Bentuknya minimalis dan harganya terjangkau. Ada juga adaptor lensa AF apapun ke body mirrorless tanpa mengurangi kecepatan auto focus-nya.” Adnan menjelaskan gear idaman yang diyakini bisa memudahkan fotografi panggung.

Terlepas dari berbagai kepraktisan digital yang sudah dimiliki oleh Adnan sebagai penikmat mirrorless, dalam memotret panggung ia tetap mengandalkan suguhan tata cahaya dan set panggung saat konser.

“Kalau lighting dan set panggung kurang memadai saya harus rela hasil foto-fotonya biasa, saja,” ujar Adnan yang mengaku sulit dapat akses ke photo pit ketika konser.

Di akhir interview, kami iseng bertanya pada Adnan perihal seberapa tahu dan paham ia tentang fotografi dengan kamera analog.

“Wah, kalau untuk (fotografi) analog saya buta banget,” tutup Adnan, kemudian tertawa.

0 comments