NOW READING

Teknologi Berbasis Kecerdasan Buatan, Bala Bantuan atau Ancaman?

 1094
+
 1094

Teknologi Berbasis Kecerdasan Buatan, Bala Bantuan atau Ancaman?

by The Daily Oktagon
  • Kecerdasan buatan dipandang bak dua mata pisau. Di satu sisi, ia bisa membantu umat manusia.
  • Namun di sisi lain, kecerdasan buatan dianggap berisiko. Kemampuannya yang konon bisa lebih cerdas dari manusia kelak bisa dianggap menjadi pemicu kehancuran manusia.
  • Lantas, apakah kecerdasan buatan ada di ‘tempat’ yang tepat? Akankah keberadaannya membantu umat manusia dan mengembangkan teknologi sesuai dengan yang diharapkan, atau justru perlahan mendominasi dunia dengan mengancam manusia?

Kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence) adalah salah satu ‘akar’ teknologi yang kini berkembang agresif dalam beberapa tahun terakhir.

Penggunaan kecerdasan buatan bahkan bukan lagi jadi sesuatu yang asing di mata masyarakat. Beberapa perusahaan teknologi besar seperti Facebook, Google, hingga Tesla dan SpaceX turut menjajal teknologi tersebut ke dalam platform-nya.

Tujuan utama tentu adalah demi otomatisasi semata, agar semua berjalan lebih cepat, praktis, dan tersinkronisasi.

Meski awalnya cuma dibuat sebagai sistem, ‘otak’ dari kecerdasan buatan sekarang mampu bekerja layaknya manusia. Ia bisa mengotomatisasi hampir semua pekerjaan, mulai dari merespon instruksi, mencatat jadwal, mendeteksi kejanggalan, hingga menayangkan channel favorit TV Anda.

Terlepas dari itu, kecerdasan buatan juga hadir dalam sejumlah ‘wajah’ dalam perangkat. Sebutlah robot, kendaraan otonomos, sistem operasi, prosesor smartphone, perangkat Internet of Things (IoT), hingga asisten virtual.

Bagaimanapun, kecerdasan buatan dipandang bak dua mata pisau. Di satu sisi, ia bisa membantu umat manusia. Pekerjaan yang sulit, dipermudah. Tugas yang dikerjakan beberapa orang, bisa diselesaikan dengan satu orang saja.

Namun di sisi lain, kecerdasan buatan dianggap berisiko. Kemampuannya yang konon lebih cerdas dari manusia, kelak bisa dianggap menjadi pemicu kehancuran. Memang, asumsi tersebut saat ini masih terdengar terlalu berlebihan. Akan tetapi, bukan berarti kita bisa tinggal diam saat kecerdasan buatan terus menggurita.

Para pakar teknologi sudah memberikan peringatan agar sejumlah perusahaan di atas harus berhati-hati agar tidak terlepas dari kontrol dan dikendalikan kecerdasan buatan.

Lantas, apakah kecerdasan buatan ada di ‘tempat’ yang tepat? Akankah keberadaannya membantu umat manusia dan mengembangkan teknologi sesuai dengan yang diharapkan, atau justru perlahan mendominasi dunia dengan mengancam manusia?

Harus Dikontrol

Pakar internet dan kecerdasan buatan Dr. Suyanto, S.T., M.Sc, berpendapat kecerdasan buatan adalah teknologi inovatif yang sifatnya tak bisa terelakkan.

Dalam arti, kecerdasan buatan lama kelamaan akan digunakan semua lapisan masyarakat. Selama tujuannya baik, ia bisa dikontrol–dan harus tetap dikontrol agar penggunaannya tetap wajar dan sebagaimana mestinya.

“Selagi platformnya mendukung, bisa dipantau dan diprogram, jelas (kecerdasan buatan) tidak akan mengancam. Lagipula, kini kecerdasan buatan porsinya sebatas virtual. Ia hadir dalam bentuk software. Simpelnya, yang paling sering ditemui sekarang itu ya asisten virtual seperti Siri, Google Assistant, Bixby, dan kawan-kawannya,” ujar Suyanto kepada The Daily Oktagon.

Meski demikian, pria yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan I di Bidang Akademik dan Dosen Fakultas Informatika Telkom University Bandung tersebut berujar, bukan tidak mungkin jika kecerdasan buatan akan berkembang dan pada akhirnya ‘menciptakan’ lahan pekerjaan dengan sendirinya di masa depan.

Inovasi robot-robot AI di dalam rumah, simak artikel lengkapnya di sini.

Dengan demikian, Suyanto menekankan, bisa dibilang kecerdasan buatan memang akan menggantikan pekerjaan manusia, walau tidak semuanya.

“Dalam waktu lima hingga sepuluh tahun lagi, kecerdasan buatan pasti perannya lebih besar. Kita bisa lihat sekarang perusahaan-perusahaan raksasa teknologi sudah bermain di ranah kecerdasan buatan. Peluang mereka untuk berkembang pasti akan lebih banyak,” katanya.

Gantikan Pekerjaan Manusia

Ketika Suyanto menyebut kecerdasan buatan akan menggantikan pekerjaan manusia, konteksnya tergambar dalam situasi mesin dan robot (yang sudah ‘dibenamkan’ kecerdasan buatan) akan mengambil alih pekerjaan yang bisa dilakukan olehnya.

Merujuk pada data yang dimuat pada laporan ilmiah University of Oxford dan Yale, Suyanto mengungkap robot yang telah terotomatisasi bisa melakukan pekerjaan manusia–bahkan lebih baik–pada 2062.

“Peluangnya 50 persen. Sebelum 2062, nanti mereka (robot dan mesin berbasis kecerdasan buatan) akan bisa menerjemahkan bahasa asing pada 2024. Pada 2027, sudah bisa mengerjakan tugas tertulis. Pada 2031, bisa bekerja di ritel–sebagai karyawan toko, bisa menjadi asisten bedah pada 2053, dan terus menjadi lebih pintar beberapa tahun kemudian,” imbuhnya.

Lalu, jika memang asumsi kecerdasan buatan akan berevolusi lebih dari sekadar software dan akan menggantikan pekerjaan manusia dalam beberapa puluh tahun ke depan, akankah tingkat kecerdasannya setara dengan manusia?

Sutanto menjawab, bisa jadi. Namun lagi-lagi, pihak yang bertanggung jawab menciptakan program kecerdasan buatan itu harus mengendalikannya agar tidak lepas kontrol dan ‘membahayakan.’

“Maksudnya membahayakan ya nggak sampai bunuh orang. Jangan sampai kaya Facebook. Soalnya ada satu kasus waktu itu Facebook besut chatbot berbasis kecerdasan buatan, namanya Bob dan Alice. Tapi dua-duanya terpaksa dimatikan ternyata mereka bekerja lebih cerdas dari yang diharapkan,” timpal Sutanto.

Facebook menonaktifkan kecerdasan buatan mereka, temukan alasannya di sini.

Selain itu, Sutanto menilai, perusahaan-perusahaan besar pembesut program kecerdasan buatan harus memantau sistemnya saat kelak menggantikan pekerjaan manusia.

Meski tidak semua pekerjaan bisa digantikan, kecerdasan buatan tetap berpotensi mengancam profesi manusia.

“Si pemilik (kecerdasan buatan) ya harus bisa atur porsinya, misalnya nanti pekerjaaan waiter itu 70 persen kecerdasan buatan dan 30 persen manusia, ya jelas tidak akan bisa. Kalau demikian, kesenjangan ekonomi akan meningkat. Banyak pengangguran gara-gara pekerjaannya diganti robot,” lanjutnya menerangkan.

Bakal Kuasai Dunia

Berbeda dengan apa yang disampaikan Sutanto, Director of Engineering Google Ray Kurzweil memprediksikan dalam waktu kurang lebih 28 tahun lagi, kecerdasan buatan akan menguasai dunia, tepatnya pada 2045.

Meski ‘menguasai’, bukan berarti kecerdasan buatan akan mendominasi. Dalam hal ini, kecerdasan buatan akan ‘melahap’ semua lahan pekerjaan.

Simak cerita saat gamers dikalahkan oleh kecerdasaan buatan di artikel ini.

Kurzweil menyebut, pada waktu itulah kecerdasan buatan dan manusia akan semakin dekat. Dengan demikian, singularitas akan terjadi sepenuhnya.

Pada momen ini, manusia akan bekerja lebih baik dengan bantuan kecerdasan buatan. Sebagian pekerjaan akan digantikan oleh robot, tetapi kecerdasan buatan tidak merusak lahan pekerja yang sudah dikuasai manusia sama sekali.

Jadi, baik atau buruk dampaknya, pemanfaatan kecerdasan buatan pada akhirnya kembali lagi kepada yang menggunakan.

Alangkah lebih baik, sambung Sutanto, pemerintah dari negara-negara maju yang kini sudah berkembang dengan kecerdasan, menciptakan regulasi soal kecerdasan buatan untuk mengatur alur birokrasi perusahaan pencipta program kecerdasan buatan agar bisa mengaturnya dan tetap mengendalikannya dalam trek yang semestinya.

“Kalau bisa, peraturan ini bersifat permanen dan berlaku bagi semua negara. Karena kita tahu, kecerdasan buatan bisa menjadi permasalahan paling mendasar bagi umat manusia. Dampaknya mau bagaimana, ya kita yang atur. Bukan dia (kecerdasan buatan). Selagi masih kita kontrol, tentu tidak akan merugikan,” pungkas Sutanto.

0 comments