NOW READING

Strategi Mengatasi Digital Divide

 1305
+
 1305

Strategi Mengatasi Digital Divide

by The Daily Oktagon

Meskipun jangkauan teknologi sudah semakin luas, tetapi kesenjangan digital (digital divide) tetap saja tidak dapat dihindari. Dibutuhkan campur tangan pemerintah dan pihak-pihak yang berkompeten untuk mengatasinya.

Secara umum, digital divide adalah ketimpangan yang diakibatkan ketidakseimbangan pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga tercipta kesenjangan antara individu, rumah tangga, kelompok, area geografis, dan perusahaan, dalam hal penggunaan teknologi informasi (information communication and technologies).

Masyarakat yang tinggal di perkotaan pasti sudah merasakan manfaat teknologi di dalam berbagai aspek kehidupannya. Sayangnya, bagi mereka yang tinggal di pedesaan, masih banyak yang belum mengenal dunia teknologi. Baik itu disebabkan ketidakmampuan membeli perangkat digital atau kurangnya skill untuk mengoperasikannya.

Foto: Shutterstock.com

Pendayagunaan Jaringan Bisnis

Di Indonesia, masalah digital divide disebabkan ketidakmerataan pembangunan infrastruktur jaringan komunikasi dan regulasi di setiap daerah, perbedaan wawasan, serta masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat mengenai manfaat teknologi informasi di dalam kehidupannya.

Langkah konkret yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan membenahi pembangunan jaringan informasi baik di kota maupun desa, (sehingga seluruh masyarakat dapat mengaksesnya), melakukan sosialisasi mengenai pentingnya teknologi, memberikan pelatihan cara penggunaan perangkat digital bagi mereka yang tidak tahu, serta menyediakan layanan e-commerce untuk usaha kecil dan menengah (UKM). Dengan demikian, akan terbentuk balai-balai informasi masyarakat (BIM) sesuai dengan konsep community telecenter (CTC), yang menurut penilaian dunia merupakan salah satu cara untuk mengatasi digital divide.

Pemerintah juga dapat menjalin kerja sama dengan sektor swasta untuk memaksimalkan pendayagunaan jaringan dunia usaha, serta menerapkan berbagai kebijakan pelayanan masyarakat yang berbasis digital (online). Dengan begitu, sedikit demi sedikit, masyarakat akan belajar dan membiasakan diri dengan penggunaan teknologi.

Foto: Shutterstock.com

Penghambat Bisnis Berbasis Online

Selain menjadi permasalahan negara, digital divide merupakan musuh terbesar bagi para pengusaha yang menjalankan bisnisnya secara online. Kesenjangan ini mempersempit market, karena produk/jasa yang ditawarkan hanya dapat diakses oleh masyarakat yang tinggal di perkotaan dan sudah ‘melek’ teknologi.

Namun, selalu ada kesempatan dalam kesempitan. Pengusaha yang cukup peka ternyata mampu mengubah permasalahan digital divide menjadi peluang besar. Ketika banyak pihak yang hanya menunggu pemerintah menyelesaikan masalah ini, mereka memilih strategi ‘jemput bola’. Perusahaan-perusahaan berbasis online di beberapa negara berkembang mulai bertindak. Mereka mendatangi daerah-daerah yang telah terjangkau jaringan informasi, tetapi yang masyarakatnya belum menyadari pentingnya penggunaan teknologi.

Perusahaan-perusahaan tersebut memperkenalkan produk/jasanya, memberikan pelatihan cara mengakses situs/website mereka, dan bagaimana teknik untuk melakukan transaksi (proses jual beli) di sana. Menguntungkan, karena golongan masyarakat tersebut mungkin hanya mengenal dan mengetahui situs/website pihak yang memberikan mereka pelatihan, dan tentunya akan membeli barang/jasa yang mereka butuhkan melalui perusahaan tersebut.

Permasalahan digital divide tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat. Perusahaan-perusahaan online bisa turut membantu pemerintah untuk mengatasinya karena semakin merata penggunaan teknologi, maka peluang bisnis pun akan semakin terbuka.

0 comments