NOW READING

Spontan ala Komunitas Street Photography Indonesia

 4417
+
 4417

Spontan ala Komunitas Street Photography Indonesia

by The Daily Oktagon

Sumber foto utama: Akun Facebook Indonesia on The Streets

  • Banyak orang mulai mencoba menggeluti street photography, alasannya tak perlu kamera besar, lighting dan persiapan khusus untuk mengabadikan momen di jalanan.
  • IOS masih bersifat platform based. Komunitas tersebut memiliki laman Facebook dengan jumlah anggota lebih dari 17 ribu orang di seluruh Indonesia.
  • Hasil bidikan para anggota IOS beragam dan menarik, mulai dari foto-foto arsitektur, street fashion,hingga demonstrasi.

Fotografi jalanan, atau lebih sering disebut street photography, adalah genre yang mulai marak dilirik para fotografer awam hingga profesional. Alasannya sederhana, pada era perkembangan teknologi seperti saat ini, perangkat untuk mengabadikan momen di jalanan tak lagi milik kamera profesional semata.

Tentu ada banyak alat yang bisa digunakan untuk memotret suasana hiruk-pikuk jalan ibukota, mulai dari kamera saku, action hingga smartphone sekali pun. Justru, smartphone malah jadi salah satu perangkat yang dinilai paling pas untuk melakukan street photography. Selain praktis dan simpel, banyak smartphone di pasaran kini hadir dengan kamera yang kualitasnya setara dengan kamera digital.

Inilah yang mendorong orang-orang perlahan coba menggeluti street photography. Terlebih tak perlu perlengkapan lighting yang rumit dan persiapan khusus untuk mengabadikan momen di jalanan.

Street photography di Indonesia sendiri sudah mengalir sebagai tren di masyarakat urban. Bahkan, untuk memayungi aktivitas tersebut, dibentuk komunitas khusus yang berkutat seputar street photography, yaitu Indonesia on The Streets (IOS).

Seperti apa kiprah IOS dalam menggerakkan tren street photography di ranah fotografi Indonesia?The Daily Oktagon mencoba mengupasnya.

Bisa Dilakukan Semua Orang

Saat ini, komunitas IOS masih bersifat platform based. Komunitas tersebut memiliki laman Facebook dengan jumlah anggota lebih dari 17 ribu orang dari seluruh Indonesia.

Mekanismenya juga tidak rumit. Peminat bisa bergabung dengan gratis dan menunggu approval dari pengelola akun (admin). Setelahnya, baru bisa beraktivitas di IOS. Aktivitas yang ditawarkan beragam, mulai mengunggah karya foto, meet and greet, diskusi, hingga berbagi tips seputar street photography.

Para fotografer di Bali tidak mau kalah mengadakan street photography

Berdirinya komunitas IOS awalnya didasarkan atas keinginan untuk menyalurkan hobi dan minat para fotografer dengan street photography. Meski begitu, bukan berarti komunitas ini hanya dibuat khusus untuk kalangan profesional.

Widya Sartika Amrin, salah satu admin komunitas IOS di Facebook, mengatakan bahwa semua orang bisa bergabung di komunitas IOS. “Pada dasarnya, street photography itu gampang-gampang susah. Bisa dilakukan semua orang, sehingga semua bisa join komunitas ini asal mengikuti aturan,” jelas Widya.

Aturan yang dimaksud adalah, unggahan foto karya anggota di laman Facebook IOS harus orisinil. Sementara format tampilan foto terbaik setidaknya harus memiliki sisi panjang 960 px. “Anggota juga hanya bisa unggah dua foto per harinya,” lanjut Widya.

photography

Mahesh Krishnamurthy/Komunitas IoS

Menurut Widya, animo para anggota komunitas IOS cukup besar. Apalagi, street photography dianggap bukan jenis fotografi yang sulit. Terbukti, hasil bidikan para anggota IOS benar-benar beragam dan menarik.

Banyak jenis foto street photography yang dipamerkan para anggota, mulai dari foto-foto arsitektur, gedung bertingkat, street fashion, seni rupa di jalanan, patung-patung, suasana pasar kaki lima hingga demonstrasi.

“Paling banyak yang unggah itu dengan kamera smartphone, ada juga yang pakai kamera profesional. Menariknya, tema yang diambil dari jalanan sangat unik. Cukup terkesima karena mereka benar-benar berani spontan. Hasilnya mengesankan,” tutur Widya yang sudah menekuni fotografi sejak di bangku kuliah.

Maka tak heran jika “senjata” yang dipakai anggota komunitas ini beragam. Widya misalnya, disamping memakai Canon EOS 6D, terkadang menggunakan smartphone iPhone 6s atau Samsung Galaxy S7.Sementara anggota lain Bani Gusti, mengaku sering memakai Huawei P9 sebagai smartphone andalan saat membidik momen.

Mobile photography adalah fotografi masa depan? Baca lengkapnya di sini

Spontanitas Tanpa Batas

Widya menyebutkan, anggota komunitas IOS yang mengunggah foto-foto jalanannya cenderung berani untuk spontan, salah satu elemen penting yang membangun jiwa dari street photography sehingga bisa menghasilkan foto jalanan yang cukup memikat mata.

“Mengambil momen itu sulit. Harus spontan, kalau tidak bakal kehilangan momen yang diinginkan. Untungnya, anggota-anggota komunitas ini sudah kecantol mindset tersebut,” lanjut peraih dua medali emas pada kontes Indonesia Salon Photo ini.

photography

Odjie Babo/Komunitas IoS

Street photography sendiri bisa dilakukan di mana saja. Bukan berarti karena namanya street photography, harus dilakukan di aspal jalanan. Gang sempit atau ruas jalan kecil pun bisa jadi inspirasi yang unik bagi para fotografer untuk mengambil momen yang pas.

“Street photography bisa jadi kegiatan yang menyenangkan jika mereka sudah tahu betul ‘medan’ yang dikuasai dan sering spontan mengambil foto. Genre ini memiliki karakteristik yang dinamis dan selalu memberikan refreshment. Dari sinilah, kejutan dari sebuah keajaiban momen yang diambil akan muncul berkat spontanitas yang dilakukan,” paparnya.

Karena spontanitas, tak sedikit hasil foto-foto bidikan anggota IOS memiliki ‘pesona’ yang begitu kental dengan nuansa khas street photography.

Contoh saja, foto sebuah gedung-gedung di jalanan yang memberikan kesan kekokohan sebuah kota, hingga objek kecil yang tidak tersentuh seperti bunga dan lumut yang tumbuh di dinding jalanan yang seolah mengisyaratkan bahwa keindahan itu tak harus selalu ditemukan di tempat yang luas.

Mau belajar tentang memotret human interest? Baca tipsnya di sini

Tren yang Tak Lekang Waktu

Anggota komunitas IOS, seperti disampaikan Widya, optimistis bahwa tren street photography tak bersifat sementara. Menurut mereka, street photography adalah genre yang timeless, tak pernah lekang oleh waktu.

Apalagi, di era pengaruh media sosial yang begitu besar saat ini, wadah berbagi hasil karya sangat banyak. “Facebook jadi contohnya, selain itu ada Instagram, sehingga mereka benar-benar totalitas menunjukkan karyanya,” timpal Widya.

photography

Yo Gi/Komunitas IoS

Street photography, selain mudah dan tidak merepotkan, juga membuat para fotografer belajar untuk jujur terhadap keadaan. “Tak sekadar mengkatrol rasa spontan, para anggota IOS juga belajar untuk mengolah emosi kala merekam suasana jalan yang ingin dipotret,” jelasnya.

“Street photography bukan hanya perkara teknis mengatur ISO, diafragma, speed, tetapi juga belajar menyampaikan aspirasi sosial secara kreatif, unik dan tak terlepas dari karakteristik mereka sendiri,” pungkas Widya. Anda tertarik untuk mencoba street photography?

0 comments