NOW READING

Smartphone Modular, Inovasi Jitu atau Sekadar Tren?

 839
+
 839

Smartphone Modular, Inovasi Jitu atau Sekadar Tren?

by The Daily Oktagon
  • Smartphone modular disebut dapat mengganti peran utama smartphone di masa mendatang. Langkah sejumlah vendor besar untuk ‘lepas landas’ dari konsep smartphone reguler bisa dibilang cukup berani.
  • Menurut pengamat, teknologi ini sebuah gebrakan inovatif, namun relatif belum dapat meyakinkan pasar.
  • Vendor sendiri terus berinovasi agar smartphone modular luncuran mereka semakin praktis dan dirasakan kegunaannya oleh konsumen.

Anda sudah baca artikel kami tentang Moto Mods, smartphone yang memilki berbagai alat bantu yang bisa meningkatkan kemampuannya, termasuk menjadi kamera berkualitas tinggi dan projector mini?

Sebagian dari Anda mungkin sudah tahu bahwa smartphone dengan konsep seperti ini mempunyai sebutan smartphone modular. Konsep unik ini sebetulnya sudah dikenal di dunia teknologi selama dua tahun terakhir.

Keberadaan smartphone modular perlahan sudah mulai diterima masyarakat. Hanya saja, smartphone bongkar pasang ini belum bisa diadopsi seutuhnya. Kepraktisan dan tingginya harga perangkat ditengarai jadi hambatan utama konsumen.

Dua vendor yang diketahui masih bermain di segmen smartphone modular adalah Lenovo dan LG. Perangkat andalannya, Moto Z dan LG G5, mencuri perhatian pasar selama satu tahun terakhir.

Teknologi modular disebut dapat mengganti peran utama smartphone di masa mendatang. Bagaimanapun, langkah dua vendor besar ini untuk ‘lepas landas’ dari konsep smartphone reguler yang dijual di pasaran bisa dibilang cukup berani.

Lantas, apakah teknologi modular bisa menjadi inovasi yang menandakan kelahiran generasi smartphone terbaru di masa depan, atau cuma tren sesaat? Ikuti ulasannya bersama The Daily Oktagon berikut ini.

Pionir Modular

Sekadar flashback, teknologi modular pertama kali diusung seorang desainer teknologi Belanda, Dave Hakkens pada 2013. Saat itu, ia menggunakan smartphone sebagai media utama perangkat.

Hakkens ingin membuat sebuah ponsel yang ‘abadi’ dan ramah lingkungan. Dalam hal ini, perangkat tersebut diharapkan bisa mengurangi limbah elektronik.

phonebloks_concept_3

Pria lulusan studi Design, Communication and Space di Sint-Lucas School of Arts tersebut akhirnya menciptakan smartphone modular yang bernama Phonebloks. Ia mengklaim perangkat tersebut sebagai smartphone modular pertama yang ada di dunia.

Baca: Ada modular, ada juga smartphone dengan strategi gender. Benarkah strategi itu?

Secara desain, Phonebloks mengusung bodi smartphone dengan bentuk persegi panjang. Karena modular, smartphone terdiri dari susunan kotak kecil yang bisa dibongkar pasang.

“Komponen kotak kecil memiliki fungsi masing-masing. Ada kamera, Bluetooth, gyroscope, baterai, dan masih banyak lagi,” kata Hakken.

Pun begitu, ia mengungkapkan bahwa dirinya bukan yang pertama menciptakan smartphone berkonsep modular. “Di luar sana, masih banyak yang berusaha menciptakan konsep ini, sayangnya kandas di tengah jalan,” ia menambahkan.

Sayangnya, konsep modular ala Hakken kurang mendapat tempat di pasar. Penjualannya pun disebut melempem.

Inovatif Vs Realisasi

Praktisi teknologi senior, Herry Setiadi Wibowo, mengatakan bahwa teknologi modular adalah gebrakan inovatif namun kurang dapat meyakinkan pasar.

Ia berpendapat, meski sudah ada sejumlah vendor menjajal peruntungan di segmen smartphone modular, konsumen belum mau beralih secara langsung.

Antusiasme pasar menurutnya masih belum yakin dengan smartphone yang bisa dibongkar pasang. “Edukasi dari pihak vendor harus lebih diperluas agar mereka bisa tahu manfaat dan teknologi yang ditawarkan dari modular itu seperti apa,” imbuhnya.

Konsumen, menurut Herry masih ragu dengan smartphone bongkar pasang. Mindset ini masih menjadi batasan antara produsen smartphone modular dengan konsumen. “Smartphone reguler dengan satu fungsi utama sekarang ini masih memikat hati mereka. Ya kalau dilihat, fungsionalitas smartphone modular bisa lebih unggul dalam beberapa hal,” lanjutnya.

Herry memberikan contoh ‘kegagalan’ smartphone modular seperti Project Ara, smartphone modular Google.

Secara mekanisme, Ara adalah smartphone modular yang memanfaatkan magnet. Jadi, setiap komponen akan terhubung dengan papan utama mainboard. Perannya adalah menjadi penghubung tiap komponen agar bekerjasama sebagai ponsel.

Mekanisme ini diharapkan bisa mempermudah proses penggantian komponen ponsel yang rusak atau ingin ditingkatkan, sehingga dapat mengubah kebiasaan konsumen saat membeli sebuah ponsel baru dengan alasan ingin meningkatkan sebuah fungsi tertentu, misalnya kemampuan kamera atau layarnya.

Bicara kemampuan, baca ulasan berbagai smartphone dengan kemampuan audio canggih

Saat itu, Ara seharusnya diluncurkan pada 2015. Sayangnya, Google memilih untuk menutup Project Ara pada akhir 2016. Alasannya, mereka ingin merampingkan bisnis di bidang hardware. Padahal prototipe Project Ara sempat ditampilkan di depan publik dalam acara konferensi teknologi bernama LAUNCH.

Kesiapan vendor menggarap smartphone modular lantas menurut Herry harus menjadi prioritas utama. “Dari contoh Ara, meski desain dan teknologinya sudah sangat canggih, tetap saja akhirnya berhenti karena tidak dapat melakukan realisasi dalam kesiapan hardware,” tandas Herry.

Gebrakan Vendor

Namun contoh kegagalan dan respon pasar yang kurang menggembirakan bukan berarti industri smartphone modular akan terus meredup.

Herry setuju dengan contoh Lenovo dengan Moto Z misalnya. Smartphone itu hadir dengan sejumlah komponen mod yang fungsinya optimal. Berbeda dengan modular lain yang harus dibongkar pasang, Moto Z menurutnya mengusung konsep modular yang praktis.

Moto_Z

Kemudahan yang ia maksud adalah cara menggunakan komponen Mods secara magnetis ke smartphone. Dengan begitu, pengguna tak perlu repot menggonta-ganti komponen dengan membongkar pasang dan memakan waktu.

“Fungsionalitas dari smartphone modular kembali ke cara penggunaannya. Mungkin para vendor harus belajar dari kegagalan dengan melihat faktor apa yang membuat konsumen tak tertarik menggunakan modular,” timpalnya.

Simak artikel ini untuk ulasan smartphone dengan lampu flash ganda

Hidup Berdampingan

Herry menilai, smartphone modular sudah pasti akan menjadi tren untuk saat ini. Dan bicara soal inovasi, konsep tersebut sudah menjadi terobosan menarik di ranah teknologi.

“Untuk saat ini, modular tengah menjadi tren. Namun bukan berarti ia akan mematikan smartphone konvensional. Konsep menarik ini bisa dipakai secara terus menerus, tanpa harus berganti perangkat baru,” ungkap Herry.

LG_G5

Teknologi modular bisa akan berkembang jika memang para vendor berbenah soal inovasi teknologi, serta mencari cara menggunakan perangkat modular dengan langkah paling praktis.

Mereka juga bisa menghemat proses perakitan dan bongkar pasang komponen, agar akhirnya definisi dari modular itu sendiri tak lepas dari fungsinya.

0 comments