NOW READING

Smart Home untuk Ayah Modern, Demi Produktivitas Keluarga

 1454
+
 1454

Smart Home untuk Ayah Modern, Demi Produktivitas Keluarga

by The Daily Oktagon
  • Problem umum yang kerap dihadapi keluarga milenial bisa diakali dengan adopsi teknologi yang hadir menjadi ‘penyelamat’.
  • Salah satu manisfetasi nyata adalah smart home, perangkat rumahan pintar
  • Kehadiran smart home diklaim sangat memudahkan aktivitas keluarga. Tak hanya sekadar canggih, peran smart home nyatanya juga dapat memangkas efisiensi dan waktu aktivitas.

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar adalah fakta. Merujuk pada data yang dimuat di TIME, Jakarta misalnya masuk sebagai salah satu kota terpadat di dunia dengan populasi mencapai lebih dari 18,19 juta jiwa.

Dari jumlah itu, sebagian besar tentu saja merupakan keluarga, sebagai unit terkecil dari masyarakat. Bagi keluarga yang tinggal di ibukota besar seperti Jakarta, tuntutan hidup tentu sangat besar.

Dorongan ini mau tak mau menciptakan pola yang mengharuskan pasangan suami istri bekerja ekstra. Sehingga keduanya yang sama-sama bekerja, tak jarang menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah.

Gaya hidup seperti ini tentu membawa beberapa dampak, mulai dari kurangnya atensi kepada keluarga di rumah, hingga masalah keamanan tempat tinggal.

Masalah dalam keluarga modern ini tentu bisa dicari solusinya, salah satunya dengan penerapan teknologi. Salah satu manifestasi nyata adalah smart home, perangkat rumahan pintar yang wujudnya tak jauh berbeda dari perabot elektronik rumahan reguler pada umumnya.

teknologi smart home di indonesia

Bedanya, smart home bisa ‘berbicara’ sesama perangkat berkat teknologi Internet of Things (IoT). Jadi pada dasarnya, semua perangkat smart home terkoneksi dengan jaringan internet. Mengontrolnya pun sangat mudah, hanya dengan memakai smartphone, tablet, atau juga komputer.

Kehadiran smart home diklaim sangat memudahkan aktivitas keluarga. Tak sekadar canggih, peran smart home nyatanya juga dapat memangkas efisiensi dan waktu aktivitas. Lantas, apakah para kepala keluarga di Indonesia benar-benar merasakan dampak positif dari penggunaan smart home? Simak ulasannya.

Praktis dan Cepat

Adopsi teknologi lewat smart home, memang belum dirasakan seluruh keluarga di Tanah Air. Namun setidaknya, pelan tapi pasti smart home bisa diterima oleh keluarga, khususnya para ayah modern.

Eros Akbar misalnya, bisa dikatakan adalah salah satu dari para kepala keluarga yang menggunakan perangkat smart home sebagai instrumen utama penunjang aktivitas hariannya.

Pria yang berprofesi sebagai fotografer ini mengaku menggunakan perangkat smart home hampir setiap hari. Misalnya saja kemampuan menyalakan lampu, AC dan kipas angin langsung dari smartphone-nya.

Erros smart home

Eros Akbar (Dok. Pribadi)

“Smart home sebetulnya tidak serumit namanya. Menggunakan perangkat pun sangat mudah. Untuk starter, saya mulai dari lampu pintar. Menyalakan dan mematikan lampu cuma cukup dari smartphone, lewat aplikasi khusus,” kata Eros yang mempunyai putri berusia enam tahun.

Tak hanya rumah yang makin cerdas, smart watch juga, bahkan tampil lebih gaya 

Selain untuk kebutuhan peralatan rumah tangga, Eros juga menggunakan sejumlah tool smart home untuk keamanan rumahnya. Ia memasang kunci rumah elektronik yang tersambung ke smartphone.

Hal ini ia lakukan tak terlepas dari pekerjaan dirinya yang tidak mengenal ‘jam kantor’ sehingga sewaktu-waktu. bahkan saat malam, harus pergi keluar rumah yang berlokasi di Tangerang itu.

“Jika istri dan anak sudah istirahat Sementara saya harus kerja, saya bisa keluar tanpa harus repot merogoh kantong untuk mencari kunci rumah. Cukup gunakan aplikasi khusus yang terkoneksi ke slot pintu rumah, jadi lebih cepat dan praktis,” jelas Eros

Eros pun memanfaatkan sejumlah kamera CCTV untuk meningkatkan keamanan rumah. Ia menghubungkan kamera CCTV ke dalam aplikasi khusus yang terinstal di smartphone-nya. “Saya bisa tahu kondisi rumah kapan saja. Ini setidaknya cukup membuat saya tenang,” lanjut Eros.

Sementara Dicksy Andriaputra lebih memanfaatkan smart home sebagai perangkat yang menunjang produktivitasnya.

Dicksy mengaku mempunyai kesibukan tinggi dalam aktivitas keseharian. Istrinya pun pekerja kantoran. Sementara anaknya sudah beranjak sekolah dasar. Pria 36 tahun ini mengaku mempekerjakan asisten rumah tangga, namun cuma untuk mengurus sang anak.

“Kalau urusan bersih-bersih rumah, saya coba dengan perangkat smart home. Seperti vacuum cleaner. Awalnya saya kurang familiar dengan konsep ini, namun lama-kelamaan sangat membantu,” ungkap pria yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi ini.

Dicksy dan keluarga (Dok. Pribadi)

Vacuum cleaner yang ia sebutkan, hanya perlu disambungkan dengan aplikasi di smartphone. Cara mengontrolnya pun bak remote control, ia hanya perlu mengatur gerak vacum cleaner dan intensitas penghisapan.

“Untuk sekarang, saya cuma pakai vacuum cleaner sebagai perangkat smart home. Tapi tidak menutup kemungkinan bila ke depannya mau memaksimalkan kegiatan dengan perangkat lain, saya ingin coba TV pintar,” ungkap pria yang berdomisili di Kelapa Gading ini.

Akan Menjadi Tren

Adopsi teknologi dengan perangkat smart home di kalangan keluarga modern, dianggap akan menjadi tren untuk ke depannya. Seperti disampaikan pakar IoT Setiaji, para keluarga di Indonesia harus bersiap dengan kemajuan teknologi yang lebih masif, khususnya dalam bidang smart home.

Pria yang juga menjabat sebagai kepala UPT Jakarta Smart City ini menilai, peran ayah modern dengan perangkat smart home berpotensi memiliki korelasi yang kuat. Apalagi jika dihubungkan dengan produktivitas rumahan.

“Mereka bisa mengajari anak-anaknya dengan teknologi, namun dengan cara yang lebih fun. Mulailah dari IoT dan perangkat pintar,” kata Setiaji.

Teknologi tak hanya membantu keluarga, namun juga kegiatan ibadah. Simak ulasannya

Meski demikian, Setiaji menekankan, ada baiknya penyerapan ilmu smart home oleh ayah dapat dibatasi dan dikaji kembali.

“Sebagai kepala keluarga, mereka harus bisa memilah yang mana yang bisa dilakukan oleh si smart home, dan yang mana yang bisa dilakukan secara mandiri. Karena jika tidak, ini tentu akan menjadi kultur yang anomali dan memanjakan anak-anak,” ia meneruskan.

Bagaimana pun, Setiaji optimistis jika smart home akan menjadi salah satu tren besar, apalagi di Indonesia. Dengan populasi lebih dari 235 juta jiwa dan 297 juta jiwa pelanggan seluler, otomatis potensi pasar IoT Indonesia untuk kawasan Asia Tenggara menjadi yang terbesar.

Dengan demikian, diharapkan Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam pertumbuhan IoT terbesar di Asia Tenggara. Dampak lain, keluarga sebagai unit terkecil masyarakat pun semakin bisa menjalani hidupnya dengan lebih terkendali.

0 comments