NOW READING

Sketsa Hidup Digital Para Desainer Grafis

 2451
+
 2451

Sketsa Hidup Digital Para Desainer Grafis

by The Daily Oktagon
  • Tiga desainer grafis berbagi harapan dan kegelisahan di era digital
  • Berteman dengan berbagai gadget untuk mengelola desain di tengah teknologi digital yang terus berkembang
  • Dunia visual di era digital menjadi lebih dinamis seiring kemudahan dan tantangan yang muncul

Sebuah survei menyatakan 90 persen informasi yang masuk ke dalam otak adalah gambar (visual). Studi lain mengemukakan, 40% orang merespons informasi lebih baik lewat visual daripada teks saja.

Informasi di atas mungkin tidak asing lagi bagi para desainer grafis. Profesi ini memang mencakup makna kerja yang luas, meliputi penciptaan ilustrasi, tipografi, dan fotografi untuk mengkomunikasikan sebuah pesan.

Dan sebagai sumber pengkaryaan, dunia teknologi digital tentu tak terpisahkan dari sepak terjang para desainer grafis. The Daily Oktagon berbincang dengan tiga sosok desainer grafis yang sudah terbiasa berkomunikasi secara visual. Pekerjaan mereka jelas dipermudah dengan adanya teknologi digital, namun juga mendatangkan tantangan baru yang harus ditaklukkan.

Ykha Amelz (Ilustrator)

Sebagai ilustrator, ruang ekspresi Ykha tidak terbatas. Tahun lalu ia bersama tiga temannya membuat brand womenswear bernama DIBBA. Ia sekaligus ditunjuk sebagai Head of Graphic and Print Design brand tersebut. Proyek personal bersama sang suami yang terinspirasi dari french bulldog mereka, Babbot, pun masih berjalan.

Baginya di tengah banyaknya bermunculan ilustrator dan seniman muda berbakat, dibutuhkan konsep dan karakter karya yang kuat sebagai pembeda karya satu dengan yang lain. Apalagi kini karya dengan proses manual bisa dibuat dengan proses digital, sehingga anak-anak muda kian “mudah” menggeluti bidang kreatif.

Ykha Amelz (Foto oleh Hakim Satriyo)

Ykha Amelz (Foto oleh Hakim Satriyo)

“Salah satu tantangan di era yag serba praktis ini adalah jangan takut mencoba mempelajari gadget atau program digital terbaru. Terus mengasah diri lewat latihan dan pengalaman. Meski sepertinya generasi baru banyak yang mengira ini sesuatu yang bisa didapatkan dengan instan,” ujar Ykha, yang tetap menilai karya manual memiliki nilai lebih tersendiri walau bukan berarti seniman harus berhenti beradaptasi.

Teknologi adalah alat bantu yang sangat berguna bagi profesinya dan ia gunakan setiap hari untuk mencari referensi, proses coloring, dan layout bagi proyek-proyeknya. Menurutnya, perangkat elektronik juga sangat membantu mempercepat timeline pengerjaan dan lebih mempermudah proses aplikasi ke berbagai media.

Print_design Ykha untuk koleksi pertama DIBBA

Print_design Ykha untuk koleksi pertama DIBBA

Ykha menggunakan notebook Macbook Pro dan pen tablet Wacom Intuos Draw untuk menunjang pekerjaannya sehari-hari. Terkait alasannya memilih notebook tersebut, ia mengaku mudah melakukan sinkronisasi dengan gadget-gadet lainnya seperti smartphone. “Ditambah sisi visualnya juga menarik,” imbuhnya

Sementara pen tablet Wacom Intuos Draw dipilih dengan alasan ukurannya yang kecil sehingga mudah dibawa dan harganya paling bersahabat. “Feature-nya juga sudah cukup dengan yang aku perlukan untuk coloring digital,” jelas Ykha.

Namun Ykha mencoba untuk tidak terpaku dengan dukungan berbagai gadget tersebut. Ia mengaku tetap harus melatih tangannya untuk menggambar manual. “Terasa lho, jika terlalu lama tidak menggambar bisa seperti berkarat,” lanjut penggemar pelukis legendaris Tino Sidin ini.

Pengaruh teknologi digital juga dirasakan desainer Alvin Tjitrowirjo. Simak alasannya di sini.

Adit Wardhana (Design Director)

Adit telah berkecimpung di dunia desain hampir satu dekade. Saat ini ia menjadi design director di Cornwell, sebuah creative agency di Melbourne, Australia. Sebagai design director, ia memimpin tim yang terdiri dari para desainer grafis untuk mendesain dari awal, membuat masterplanning proyek-proyek komersial, event, branding hingga tahap eksekusi.

Segala hal yang digarap, meski bernafaskan desain, namun bisa diproses lintas medium. Tahun ini misalnya, salah satu proyeknya adalah menciptakan pengalaman baru bagi penonton di ajang Grand Prix Formula 1 di Melbourne. Ia kemudian memadukan teknologi dengan seni “manual”, yakni grafiti.

Adit Whardana

Adit Whardana

desain

Beberapa karya grafis Adit

Sekarang ini dengan adanya perangkat elektronik yang makin canggih, menurut Adit sangat membantu menerjemahkan visi menjadi ide dan kemudian menjadi kenyataan. Adit menggunakan Macbook Pro dan iPhone untuk pekerjaan sehari-hari. Macbook dirasakan ringkas sehingga mudah untuk dibawa kemana pun. “Lagipula, produk yang satu ini didesain dengan sangat baik,” ungkap pria kelahiran 17 Oktober 1987 ini

Selain itu Adit mulai melirik produk Apple lagi yaitu iPad Pro. Gadget ini ia rencanakan untuk mendukung keperluannya menggambar berbagai hal. Dan yang paling penting, dapat terhubung dengan mudah dengan dua produk lainnya tadi. “Semoga bisa integrate, agar gambar-gambar bisa tersimpan di di dalam satu tempat,” ungkap Adit.

Jika sedang mencari tablet dengan harga terjangkau, lihat rekomendasinya di sini

Diluar gadgetnya, Adit mengaku tetap mengandalkan bulpen dan kertas putih saat melakukan concept sketching. “Dengan maraknya creative software yang siap digunakan, kita lihat banyak orang lebih menekankan pada konten dan hampir kehilangan arts of craftmanship,” ungkap Adit yang juga pengamat tipografi.

Ia juga melihat tantangan di era ini datang dari begitu banyaknya informasi baik di dunia digital dan nyata. Adit merasa harus memastikan bahwa desain kreatif yang dihasilkan punya nilai, penting dan orisinal. “Terkadang kita terjebak pada ilusi gadget canggih berarti kualitas yang dihasilkan akan sama canggihnya. Saya rasa problem kita di masa depan adalah akan banyak bermunculan para operator desain yang berkualitas baik tapi tidak cukup banyak para pemikir,” ucapnya.

Jati Putra (Digital Artist)

Karya digital surealis milik seniman bernama lengkap Jati Putra Pratama sempat viral di kanal media sosial beberapa waktu lalu. Beberapa media luar negeri bahkan sempat memasukkan namanya ke dalam daftar seniman yang menginspirasi pembuatan video klip Coldplay berjudul Up&Up.

Sejak video klip tersebut muncul, seni digital surealis jadi banyak digemari. “Saya ikut senang dan bangga, karena menggeluti seni tersebut jauh sebelum video tersebut muncul,” terang Jati yang mulai menggeluti seni digital surealis sejak 2014.

Jati Putra

Berdasarkan pengamatannya, industri kreatif semakin berkembang dan kian variatif berkat era teknologi dan digital. Tak hanya makin banyak peminat, tapi para pelaku seni banyak yang terjun ke industri ini. Namun di setiap kemajuan tentu memiliki efek samping. Salah satu yang memprihatinkan menurut Jati adalah soal hak cipta.

Menurutnya, semua orang yang menggunakan smartphone atau perangkat elektronik canggih lain saat ini dapat menelusuri karya-karya para seniman, terutama digital artist, dan menyebarluaskan kembali karya-karya tersebut tanpa memberi akreditasi. “Bahkan yang terburuk adalah mengakui karya tersebut tanpa malu-malu,” ujar pria kelahiran 29 April 1991 ini.

Jati tentu tidak anti perkembangan teknologi. Berbagai kemajuan yang ada baginya adalah sebuah tantangan yang harus dilewati. Misalnya di saat sebuah video tutorial beredar mengenai cara pembuatan gambar seperti yang Jati hasilkan, ia tetap tenang.

Salah satu karya Jati

Salah satu karya Jati

Baginya, hasil karya orang per orang tetap saja akan mempunyai pendekatan berbeda. “Setiap seniman punya ciri khas sendiri dalam berkarya, termasuk saya,” ungkap penggemar Salvador Dali ini.

Ia pun pengguna gadget, bahkan merasa harus memakainya. “Karena saya digital artist, yang setiap berkarya maupun menjalankan pekerjaan setiap saat selalu menggunakan gadget, terutama laptop.

Apa benar Macbook begitu canggihnya? Simak perbandingannnya dengan notebook lain di sini

Jati paling sering menggunakan Macbook Pro yang berfungsi dalam proses editing. Sementara smartphone-nya iPhone, berguna untuk proses finishing pewarnaan dengan menggunakan berbagai aplikasi. “Keduanya juga sangat mudah untuk saling terkoneksi, sehingga memudahkan pekerjaan saya,” ungkap Jati yang masih berobsesi menggelar solo exhibition ini.

Ketiga desainer grafis ini telah menunjukkan bahwa tantangan dari perkembangan teknologi terkini bukanlah penghalang untuk terus berkarya. Bahkan teknologi telah menjadi penunjang profesi yang tak terpisahkan untuk tetap menghasilkan karya visual terbaik.

0 comments