NOW READING

Seperti Ini Tren Belanja Online di 2018

 1666
+
 1666

Seperti Ini Tren Belanja Online di 2018

by The Daily Oktagon
  • Pertumbuhan transaksi perdagangan e-commerce selama 2017 dinilai cukup bagus
  • Nilai investasi di sektor belanja online pada 2017 mencapai lebih dari USD5 miliar
  • Pertumbuhan industri e-Commerce di Indonesia diprediksi mencapai nilai US$ 130 miliar pada tahun 2020

Pertumbuhan industri e-Commerce di Indonesia diprediksi mencapai nilai US$ 130 miliar pada tahun 2020. Dengan pertumbuhan per tahun mencapai 50 persen. Belum lagi pemain di industri belanja online ini pada 2017 semakin ramai.

Pertumbuhan transaksi perdagangan e-commerce selama 2017 dinilai cukup bagus. Tidak heran jika e-commerce masih menjadi primadona para investor di 2018. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan, nilai investasi di sektor belanja online pada 2017 mencapai lebih dari USD5 miliar. Melihat pertumbuhan yang positif ini, ShopBack, mencoba menganalisis beberapa hal yang akan menjadi buah bibir di sektor e-commerce di 2018.

Baca juga : Tips Bebas Khawatir saat Belanja Online

Pola Belanja Makin Bergeser ke Online

Pertumbuhan belanja online di Indonesia yang terus meningkat membuat perubahan pola belanja masyarakat yang semakin bergeser ke online shopping. Sepanjang 2017, beberapa gerai ritel di Indonesia berhenti beroperasi. Bahkan, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) memprediksi akan ada lebih dari 50 gerai ritel yang berhenti beroperasi dan mencoba mengubah format bisnis mereka ke arah online.

Perubahan pola perilaku belanja ini juga ditunjukkan dengan volume transaksi e-commerce yang meningkat. Laporan tahunan yang dikeluarkan We Are Social menunjukkan, persentase masyarakat Indonesia yang membeli barang dan jasa secara online dalam kurun waktu sebulan di 2017 mencapai 41% dari total populasi, meningkat 15% dibanding tahun 2016 yang hanya 26%.

Dari survei terhadap lebih dari 1000 responden di Indonesia untuk melihat pola berberlanja online masyarakat Indonesia, sebanyak 70,2% responden mengaku bahwa keberadaan toko online memengaruhi perilaku belanja mereka. Mereka menjadi lebih sering berbelanja online dibanding berbelanja di toko offline.

 

Penggunaan Uang Digital Makin Marak

Tahun ini, jumlah pengguna smartphone di Indonesia diprediksi akan mencapai lebih dari 100 juta pengguna (lembaga riset digital eMarketer). Jumlah ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika. Hal ini tentunya menjadi potensi yang sangat besar untuk mengembangkan mobile wallet di Indonesia.

Sepanjang 2017, ada beberapa mobile wallet yang sering diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, yakni GoPay, Jenius, TCash, Pay Pro, dan OVO. Dilihat dari Google Trends, volume pencarian untuk kelima  mobile wallet ini mengalami peningkatan. Hal yang paling menakjubkan terjadi pada OVO. Aplikasi yang diperkenalkan awal 2017 ini telah menduduki peringkat teratas, Top Free Appkategori keuangan di App Store dan posisi ketiga di Google Play Store dengan jumlah pengunduhan lebih dari 1 juta.

Tahun 2018 akan menjadi saksi pertumbuhan mobile wallet di Indonesia. Baru-baru ini OVO dari Lippo bermitra dengan Grab untuk menyediakan layanan uang elektronik. Dengan kerja sama tersebut, pengguna aplikasi Grab, sudah bisa menggunakan GrabPay untuk membayar biaya perjalanan mereka. Selain itu, GoPay dari Go-Jek, yang juga telah mengakuisisi tiga perusahaan tekfin pada Desember lalu.

 

Jasa Pengiriman Lebih Cepat

Kendala pengiriman barang yang lama menjadi salah satu permasalahan e-commerce dalam dua tahun belakang. Kemunculan jasa transportasi online dengan fitur pengiriman barang pun menjadi solusi dari permasalahan ini.

Kecepatan dan harga yang cukup terjangkau dibanding jasa pengiriman logistik konvensional menjadi alasan konsumen lebih memilih layanan pengiriman di hari yang sama (same day service delivery) serta satu hari (one-day service delivery). Namun, ini hanya berlaku untuk pengiriman dalam kota saja. Jasa pengiriman logistik konvensional masih menjadi pilihan untuk pengiriman antarkota.

 

Penjual di Sosmed Pindah ke Toko Online

Google mencatat ketertarikan masyarakat Indonesia berkecimpung di dunia e-commerce semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan data Top 10 trending pencarian di Google sepanjang 2017 dalam hal “Cara Menjadi”.

Dari data tersebut, masyarakat Indonesia penasaran akan bagaimana cara menjadi agen Bukalapak, reseller online shopping, dan Penjual Lazada, yang masing-masing berada di peringkat 6, 7, dan 9. Bukan itu saja, pada 2017 penjual online di sosial media, seperti Instagram dan Facebook juga semakin banyak bermunculan. Di 2018,  fenomena baru akan terjadi, dimana para penjual online, terutama yang di Instagram mulai pindah lapak ke platform e-commerce.

 

Penjualan tiket online meningkat

Mulai bergesernya pola perilaku belanja masyarakat Indonesia, tentunya berdampak pada penjualan tiket. Selain penjualan tiket di sektor transportasi, penjualan tiket untuk acara-acara pertunjukan, musik, dan juga olahraga mulai marak dijual secara online. Baru-baru ini, penjualan tiket laga pertandingan Indonesia kontra Islandia pun mencetak rekor penjualan tiket online.

Berdasarkan data PPSI, sebanyak 20 lembar tiket laga ini sudah habis terjual secara online. Bahkan, pada 10 Januari 2018, sebanyak 7,542 tiket telah terjual dalam satu hari dan mencetak rekor penjualan tiket online terbanyak dalam satu hari di Indonesia.

Di 2018, akan banyak gelaran acara yang akan menyedot animo masyarakat. Sebut saja, gelaran pesta olahraga terbesar di Asia, Asian Games 2018 yang akan dilaksanakan pada Agustus mendatang. Gelaran ini diprediksi akan turut berkontribusi pada peningkatan penjualan tiket di Indonesia.

Baca juga : Seberapa Aman Berbelanja di Toko Online?

Selain tren prediksi di atas, juga ada beberapa prediksi lain di industri e-commerce Indonesia yang menjadi tren di 2018, antara lain :

Memanfaatkan Robot Chat

Beberapa pemain e-commerce saat ini masih memiliki divisi Customer Service untuk menangani segala macam kebutuhan pelanggan. Bahkan untuk memperkuat layanannya, tak jarang para pelaku menyiapkan layanan konsumen selama 24 jam.

Namun dengan kehadiran chatbot yang berasal dari sejumlah perusahaan teknologi diperkirakan akan menjadi tren baru di dunia e-Commerce. Terlebih, banyak konsumen memanfaatkan smartphone untuk beragam keperluan, sehingga kehadiran chatbot dapat dipakai untuk meningkatkan interaksi dengan mereka.

 

Optimalisasi Smartphone

Kementerian Komunikasi dan Informatika memprediksi pada 2018 jumlah pengguna smartphone aktif di Indonesia mencapai 100 juta orang. Dengan jumlah tersebut, Indonesia akan menjadi negara pengguna smartphone terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika.

Meskipun transaksi e-Commerce pada 2016 masih didominasi PC, tapi pada 2017 kondisi akan berubah. Jumlah transaksi melalui smartphone diprediksi akan mengalahkan transaksi dari PC.

Untuk itu, dengan tren perilaku konsumen saat ini, pelaku e-Commerce harus bisa memaksimalkan aplikasi mobile yang dimiliki. Proses tersebut dapat dimulai dengan optimalisasi UI dan UX, termasuk promo eksklusif bagi pengguna aplikasi.

 

Program Customer Loyalty

Berdasarkan riset, sejumlah pelanggan yang memanfaatkan transaksi online mengatakan rela berganti merek demi kupon yang tersedia. Kini sejumlah kupon pun sudah disediakan pelaku e-Commerce untuk mendukung pengalaman berbelanja.

Pada tahun ini, sejumlah e-Commerce pun diperkirakan akan semakin banyak menawarkan kupon untuk menarik lebih banyak konsumen. Sejumlah kupon eksklusif di hari-hari besar untuk pengguna aplikasi makin bertebaran pada 2017.

0 comments