NOW READING

Seorang Angel dalam Diri Shinta Dhanuwardoyo

 2407
+
 2407

Seorang Angel dalam Diri Shinta Dhanuwardoyo

by The Daily Oktagon

Eksistensi Shinta Dhanuwardoyo di ranah industri teknologi digital Tanah Air terus menancapkan kukunya lebih dalam. Dia pertama kali dikenal lewat kecerdasannya meramu Bubu Award, pesta Blogger, pernah memimpin Plasa.com, hingga larut dalam inkubasi Nusantara Ventures. Kini, wanita yang pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 99 Powerful Women ini pun aktif menjadi seorang angel investor.

Sejak Oktober lalu, Shinta tergabung dalam Angel-eQ Network bersama 15 tokoh bisnis dunia lan, mulai dari Chief Executive Officer AirAsia Tony Fernandes, pemilik klub sepakbola Inter Milan Erick Thohir, hingga pengusaha terkenal Sandiaga Uno. Langkah yang diambil Shinta tidak mengagetkan banyak pihak, justru rasanya bakal mendapat dukungan, mengingat begitu potensialnya para pengusaha start up digital lokal yang terus berkembang saat ini, serta perkembangan penggunaan Internet of Things di Indonesia.

Berikut perbincangan The Daily Oktagon dengan wanita yang pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 99 Powerful Women ini. Ketahui lebih dalam seorang angel dalam diri Shinta Dhanuwardoyo.

Baca juga artikel menarik berikut, Peluang Perempuan Berkarir di Industri IT

Shinta_New

Semakin banyaknya angel investor yang berminat pada pengusaha lokal. Ada dampak langsung atau tak langsung ke penerapan Internet of Things (IoT) di Tanah Air?
Dampaknya lebih kepada berbagai perusahaan startup berbasis teknologi. Kebanyakan, mereka membuat platform, sehingga secara tidak langsung membuat IoT di Indonesia semakin berkembang. Namun, angel investormemang merupakan hal yang baru di Indonesia.

Mungkin dahulu orang lebih mengenal investor dari venture capital, sementara kalau angel investor lebih individual dan menggunakan dana pribadi. Dengan semakin banyaknya angel investor, saya berharap para tech startup lebih dapat berkembang, karena lebih memungkinkan tersedianya mentoring, hingga akses terhadap networking yang dimiliki para angel. Dukungan dalam bentuk uang mungkin relatif lebih sedikit.

Jadi para angel investor bisa lebih spesifik melihat kebutuhan startup?
Benar. Kalau venture investor mungkin relatif sudah banyak portfolio sehingga mungkin sudah sibuk. sehingga seorang angel seharusnya bisa lebih dalam. Kalau saya sebagai angel investor, maka saya hanya akan melakukan investasi pada perusahaan yang saya suka atau yang mempunyai passion serupa, yang mungkin berhubungan dengan hal yang saya suka pula.

Kalau venture, itu merupakan perusahaan finansial, sehingga belum tentu bisa melakukan investasi pada perusahaaan yang ia suka, memperhitungkan return-nya bersama general atau limited partner lain yang ada di dalam investasi tesebut.

Shinta Bubu IMG_1692

Shinta Saat Menyerahkan Bubu Award dalam IDByte Startup Hunt 2015

Kembali ke penerapan IoT di Indonesia, bagaiamana pengamatan Anda ?
Bicara IoT menurut saya akan berbicara terhadap empat hal. Diawali dengan device, yang bisa berupa mobiletablet, atau, personal computer. Device ini butuh koneksi seperti wi-fibroadband, dan mobile Internet. Dengan adanya koneksi itu, terjadi pertukaran data. Kalau ditutup dengan adanya transaksi, maka menurut saya itu menjadi lengkap sebagai Internet of Things karena dapat mengubah sesuatu, sebuah disruptive platform atau pun disruptive technology. Sebut saja misalnya Go-Jek, IoT pada akhirnya juga menjadi bagian dari e-commercekarena ditutup dengan transaksi.

Mengapa harus lengkap dengan empat hal itu?
Karena menurut saya kunci keberadaan IoT itu harus mengubah sesuatu.

Praktisi teknologi Onno Purbo pernah bilang bahwa penerapan IoT sudah sangat diperlukan?
Bukan saja diperlukan, namun saat ini memang sudah berjalan. Semua platform aplikasi yang ada sekarang sudah menjadi bagian dari IoT. Ambil contoh Go-Jek yang sudah mengubah ekonomi akar rumput. Saya sendiri berharap lebih banyak yang mengarah ke situ, sehingga masyarakat yang berada di dalam kelas ekonomi tersebut bisa mempunyai kehidupan yang lebih baik.

Saya sendiri sekarang sedang mendukung Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Di asosiasi ini saya menangani bagian teknologi komunikasi, sehingga memikirkan cara agar pedagang pasar bisa menggunakan teknologi dan menjadi lebih kuat dengan bantuan teknologi. Saya sudah sempat mengobrol dengan sebuah aplikasi yang business model-nya adalah agar orang bisa melalui sebuah platform atau aplikasi untuk membeli aneka kebutuhan dari pasar tradisional. Hal-hal seperti ini yang membuat tidak hanya orang-orang di kelas perekonomian AB, namun juga kelas lainnya mendapatkan kegunaan dari IoT.

Aplikasi ini sudah berjalan?
Sudah ada aplikasinya, namanya Groceria. Setahu saya sudah mulai dilakukan di Surabaya karena developer-nya ada disana. Namun, mereka juga sedang mencoba menerapkan ini juga di Jakarta. Sistemnya kurang lebih seperti Go-Jek, ada orang lain yang akan membeli keperluan barang di pasar dan mengantarkan kepada pengguna aplikasi.

Misi aplikasi ini memang mau memperkuat pasar tradisional, sehingga hanya mau bekerja sama dengan pasar tradisional. Sampai saat ini penggunanya masih kecil, namun mudah-mudahan bisa terus berjalan, dan seharunya memang bisa berjalan.

Dalam jangka pendek, IoT lebih penting penerapannya untuk masyarakat ekonomi kelas bawah?
Ya semuanya. Tentu kelas atas juga butuh. namun saya melihatnya hanya karena teknologi dapat membuat lompatan jauh, sebuah perubahan dahsyat dalam masyarakat.

Motivasi lain terlibat bersama APPSI?
Kebetulan ketuanya adalah Sandiaga Uno yang juga teman saya. Ketika diminta untuk membantu, tentu saya bersedia. Saya juga melihat jika selama ini mencoba membantu startup yang peruntukannya relatif untuk masyarakat kelas menengah atau atas, kenapa tidak bisa untuk masyarakat kelas lainnya?

Saya bercermin dari Go-Jek yang mampu mengubah kehidupan para pengojek, yang tak hanya mampu meningkatkan pendapatan sekitar 5-10 persen, namun katanya bisa mencapai 100 persen lebih. Dengan adanya platform seperti pasar tradisional tadi misalnya, mudah-mudahan bisa mengurangi keberadaan tengkulak sehingga membuat harga pasar lebih baik.

Saya juga sedang berusaha mempertemukan APPSI dengan internet.org milik Facebook dan Indosat selaku partner-nya, sehingga para pedagang pasar mendapatkan berbagai pelatihan cara menggunakan Internet dengan baik. Karena setahu sayan sebagian pedagang pasar sudah menggunakan Facebook juga.

Selain ekonomi kelas bawah, dimana IoT relatif lebih dibutuhkan saat ini?
Menurut saya di bidang seperti kesehatan. Mungkin saja misalnya diaplikasikan pada masyarakat yang tinggal di remote area. Mereka yang kesulitan mendapatkan tenaga medis, namun dengan menggunakan aplikasi tertentu tetap medapatkan diagnosa tenaga medis tanpa harus bertemu langsung.

Bidang pendidikan juga diperlukan, sehingga setiap orang dapat belajar dari mana pun dan kapan pun. Pada akhirnya semuanya bisa mengubah perekonomian bangsa, karena sudah menjadi connected economy, ekonomi berbasis digital.

Jika orang bertanya, apa itu ekonomi baru? Ya inilah ekonomi baru tersebut. ekonomi berbasis sumber alam, misalnya bisnis minyak, bahkan bisa dibilang sudah menjadi ‘ekonomi lama’. Ekonomi berbasis digital juga sudah tidak bisa dibilang baru, karena sudah berjalan. Jadi, bisa saja misalnya dalam waktu yang tidak lama lagi, 10 besar orang terkaya di Indonesia bukan berasal dari industri ‘ekonomi lama’.

IMG_5645

Shinta dalam Ajang IDByte yang Diadakan Bersama Indosat

Hambatan penerapan IoT di Indonesia?
Lebih kepada pengguna, migrasi dari yang tidak, menjadi menggunakannya. Misalnya bagaimana dulu memesan taksi melalu telepon langsung, sekarang dengan menggunakan aplikasi. Hambatan ini relatif terjadi di generasi yang lebih tua. Kalau anak muda cenderung lebih gampang mengadopsinya. Edukasi tentu diperlukan. Di samping itu, dukungan infrastruktur yang lebih baik juga sangat diperlukan.

Anda menggunakan aplikasi untuk keperluan transportasi juga?
Saya menggunakan Uber walau terhitung jarang. Saya biasanya baru menggunakannya ketika berada di luar negeri. Go-Jek biasanya saya gunakan untuk antar barang. sementara global positioning system (GPS), Google Maps, atau Waze, biasanya saya pakai kalau untuk ke lokasi yang saya benar-benar tidak tahu saja.

Perkembangan aplikasi ini sudah sangat membantu?
Saya mendapat respons positif dari banyak orang jika berbagai aplikasi seperti itu membantu hidupnya. Itu yang sudah saya katakan tadi, merupakan disruptive technology. Sesuatu yang tadinya tidak terpikirkan bakal ada, namun ternyata akhirnya ada dan mengubah gaya hidup tertentu.

Pengalaman pribadi menggunakan aplikasi tersebut?
Paling terasa membantu ketika menggunakan apps seperti Uber ketika di luar negeri. Karena kita tidak mempunyai mobil pribadi di negara tersebut, sementara aplikasi seperti ini bisa digunakan di berbagai negara. Jadi, bagi saya itu cukup revolusioner.

Anda juga wajib membaca artikel berikut, Mikey Moran, Bicara Peluang dan Tantangan Era Digital Indonesia

0 comments