NOW READING

Seminar Fotografi: Mengelola Bisnis Pre-Wedding dengan Jitu

 3290
+
 3290

Seminar Fotografi: Mengelola Bisnis Pre-Wedding dengan Jitu

by The Daily Oktagon
  • Narasumber fotografer dan penata gaya populer
  • Portofolio dan pengelolaan berbagai elemen dalam bisnis menjadi kunci awal
  • Jangan lupakan unsur penataan gaya model yang tak kalah penting

Bisnis fotografi masih tetap menarik perhatian para pasangan calon pengantin yang menginginkan foto pra pernikahan atau pre-wedding (pre wed). Pengelolaan bisnis pre wed inilah yang menjadi salah satu bagian penting dalam acara tema dalam “Seminar Photography With Rio Motret”, di Gedung Jakarta Design Centre, 1 Desember 2016.

Sesuai judul seminar, Fotografer Rio Wibowo atau yang dikenal sebagai Rio Motret menjadi pembicara utama. The Daily Oktagon sendiri menjadi media partner acara tersebut.

Bagi pemula yang benar-benar baru memulai bisnis, membuat portofolio yang baik tentu menjadi syarat sebelum benar-benar terjun ke bisnis ini. Portofolio menurut Rio dapat dibuat dengan berbagai cara, mulai dari cara “murah” menggunakan teman sendiri sebagai model, atau menyewa model dari sebuah agency yang bayarannya relatif tidak terlalu besar.

Ketika fotografer sudah memutuskan terjun ke bisnis ini, maka banyak hal di luar teknis fotografi yang harus diperhitungkan secara mendetail sehingga tidak merugi.

prewed

Rio misalnya menyebutkan persoalan penyediaan album foto, kanvas, wedding box, cetak digital, make-up, tarif izin lokasi pemotretan, hingga ongkos transportasi yang harus dihitung dengan cermat, sehingga masih masuk akal ketika dibandingkan dengan tarif yang harus dibayar klien.

Hal ini menurutnya bisa ditangani dengan berbagai hal. Dalam penyediaan barang misalnya, fotografer harus pandai mencari jalan keluar. “Cari tempat jual kanvas dan cetak dove yang murah, tapi hasilnya bagus. Lalu semua pengeluaran dikali dua. Dengan tarif segitu, kita bisa mendapat penghasilan yang lumayan,” ungkap Rio.

Lalu, setelah berjalan beberapa lama dan klien mulai berdatangan, barulah si fotografer bisa menaikkan tarif menjadi tiga kali lipat. Namun Rio menggarisbawahi agar tidak terlalu cepat menaikkan harga jual sesuka hati. “Naikin harga setiap tahun bolehlah, tapi jangan juga tiap tiga bulan, langsung naik,” jelas fotografer yang telah berkarir selama 12 tahun ini.

Beberapa alat pendukung bisnis pre wed bisa diintip di sini

Konsisten Akan Proses

Selain terus mengasah kemampuan teknis fotografi dan insting bisnis, sikap konsisten menjadi kunci pengelolaan usaha fotografi pre-wedding yang lain.

Menurut Rio, konsistensi yang dia maksud merujuk pada disiplin fotografer dalam mengerjakan sebuah projek pemotretan. Sejak awal bertemu klien, menerima tawaran hingga menyelesaikan orderan, seorang fotografer tidak boleh telat dalam pekerjaannya.

Sebab, sering kali fotografer bersemangat saat di lapangan tapi lalai saat melakukan editing dan finishing. “Janji harus ditepati, ketepatan waktu itu sangat penting. Jika tidak sanggup menyelesaikan sebulan, jangan memaksakan bilang bisa. Karena jika tidak terpenuhi, klien bisa kecewa,”ujarnya.

Pengagum fotografer asal Amerika Annie Leibovitz ini mengatakan konsistensi terhadap pekerjaan memang memerlukan proses. Menjadi fotografer yang handal dan terkenal di dunia pre-wedding memang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan bobotnya lebih berat.

Kunci Menata Gaya

Setelah membeberkan berbagai hal seputar bisnis fotografi pre wed, acara dilanjutkan dengan sesi Styling. Urusan mengarahkan pasangan untuk berpose tentu menjadi salah satu faktor penting lainnya dalam menghasilkan foto pre wed yang baik.

Dalam sesi ini fashion stylist Adi Surantha menjadi pembicaranya. Adi sendiri sudah sering bekerjasama dengan Rio, termasuk menggarap berbagai foto pre-wedding para artis.

Sebagai seorang penata gaya, Adi menyaratkan dibutuhkan sosok yang sangat detail, termasuk siap mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi di lapangan. Misalnya saja aksesori tambahan yang diperlukan dalam pemotretan, khususnya bagi calon pasangan pengantin perempuan seperti kalung, anting, dan pernak-pernik lainnya.

rio sip2

Adi dalam sesi styling

 

Adi cukup menjelaskan secara detail tentang apa yang harus disiapkan seorang penata gaya. Dalam urusan gaun yang dipakai perempuan misalnya, Adi menyarankan pakaian yang terbuat dari kain sifon, “karena efeknya bagus dan jatuhnya lembut dibanding satin dan organdi,” ujarnya.

Faktor-faktor non teknis pun tidak luput dari perhatian Adi. Seorang penata gaya diharapkan mempunyai kemampuan untuk membuat suasana pemotretan tak terasa tegang dan kaku.

Ini Adi buktikan sendiri saat sesi latihan pemotretan yang dilakukan Rio dan peserta dalam acara seminar tersebut. “Pre wed itu harus keluar aura cinta, makanya becandain dikit pasangannya biar suasana fun, cair. Jadi hasilnya di foto bagus,” celetuknya.

Buat foto pre-wedding sendiri? Coba saja dengan mengikuti kiat-kiat ini

Antusiasme Peserta

Seminar yang berlangsung sehari itu sendiri berlangsung cukup interaktif. Di tengah presentasi Rio, seorang peserta yang berasal dari Manado bernama Fernando Menur menanyakan pengalaman Rio menghadapi klien yang yang lumayan berduit dan menginginkan lokasi pemotretan di luar negeri.

Dengan sigap, Rio yang baru saja menangani pemotretan di New Zealand beberapa waktu lalu, menjawab jika portofolio sudah mumpuni, pemotretan di dalam atau luar negeri tidak menjadi masalah karena klien pasti bersedia mengeluarkan duit berapa pun, jika sudah melihat track record si fotografer.

“Kalau portofolio sudah keren, (lokasi) di pasar Jakarta pun tetap bagus. Sekali pun di Paris, kalau hasil jelek buat apa? Mulailah dari sekitar Anda dulu yang bagus, di Manado coba ambil spot Danau Linow, bisa gak menampilkan yang beda?”ujar pria penggemar Nikon ini.

rio sip3

Mega Novetrisha, salah satu peserta dari Jakarta, mengaku puas dengan sharing yang didapatnya dari dua narasumber. Menurut dia, pemaparan Rio soal detail persiapan dan kebutuhan untuk memulai berbisnis fotografi cukup lengkap.

“Penjelasan dia tadi lumayan menjawab pertanyaan saya, mengenai berapa harus pasang tarif, perhitungan pengeluaran, pegawai, dan macam-macam,” ujar perempuan yang berencana membuka studio foto ini.

Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan saat foto pre-wedding bisa dilihat di sini

Dari 30 peserta yang mengikuti seminar, banyak yang berasal dari daerah di luar Jakarta. Menurut Ketua Event Organizer Expo-Sure Nonie Agustina, beberapa fotografer pemula ini antara lain berasal dari Bengkulu, Medan, Palembang, Manado, dan Pemalang.

Dia berharap kegiatan ini bisa membuat para peserta menjadi lebih percaya diri dalam merencanakan bisnis fotografi mereka di daerah. “Mereka datang jauh-jauh karena Rio. Semoga mereka bisa bikin bisnis fotografi yang kekinian, dengan mendapatkan trik-trik foto langsung dari ahlinya,” jelasnya.

Mempunyai keinginan untuk terus belajar memang menjadi kunci sukses eksistensi fotografer profesional. Dan para peserta seminar hari ini menjadi orang-orang yang beruntung mendapatkan pembelajaran berharga dari seorang Rio Motret yang sarat pengalaman.

0 comments