NOW READING

Sederet Hal yang Perlu Diperhatikan Juru Foto Pre-wedding

 7723
+
 7723

Sederet Hal yang Perlu Diperhatikan Juru Foto Pre-wedding

by The Daily Oktagon

tempe

“Nentuin konsep foto prewed!”

Kalimat itu meluncur dari Avy (28 tahun) saat ditanya, “Apa bagian paling menyenangkan saat mempersiapkan pernikahan?”

Foto pranikah atau lebih lazim disebut foto pre-wedding memang sudah seperti bagian yang melekat dengan persiapan acara pernikahan, terutama di kalangan masyarakat perkotaan.

Foto pranikah juga kerap jadi menu utama penyedia jasa fotografi pernikahan. Salah satu pemilik studio foto di Jawa Tengah mengaku, permintaan terhadap jasa foto pranikah pada 2015 ini meningkat pesat dibandingkan dua tahun terakhir.

Tumbuhnya kebutuhan terhadap foto pranikah itu pula yang menurut David Soong, pendiri  Axioo Wedding Photography, menjadi daya tarik menjamurnya jasa fotografi pernikahan (wedding photography), mulai dari amatir sampai profesional, murah meriah hingga yang menelan biaya besar.

Sebagai salah satu pengusaha di bidang fotografi pernikahan yang juga populer menggarap genre pranikah, David justru menyebut ramainya persaingan itu sebagai atmosfer positif. Menurutnya, semakin banyak jasa yang muncul, para calon pelanggan pun jadi punya banyak opsi untuk menyesuaikan dengan bujet dan konsep yang mereka inginkan.

Pesona foto pranikah

Seperti disebut David, foto pranikah ibarat magnet untuk penyedia jasa foto pernikahan menarik pelanggan. “Umumnya para penyedia jasa fotografi menawarkan konsep foto pranikah yang matang, hingga calon mempelai bisa fokus dengan persiapan lain. Bagi si pasangan, tak apa jika harus merogoh kocek ekstra, asalkan foto pranikah mereka tergarap istimewa,” ujar David menerangkan.

axioo-daniel-rachel-prewedding-europe-featured

Genre fotografi komersial ini sendiri mulai tumbuh di Indonesia menjelang akhir era 1990-an —saat itu beberapa biro fotografi mulai memperkenalkan eksperimen foto pemandangan yang dipadukan dengan aksi mesra sepasang kekasih; salah satu pelakon yang cukup dikenal saat itu adalah fotografer Marsio Juwono. Seiring waktu gaya fotografi ini pun kian diminati dan populer.

Mengutip dari  artikel yang ditulis fotografer Arbain Rambey di Klinik Fotografi Kompas, potret pranikah ini muncul dan populer di Indonesia, dan hingga kini hanya lazim dilakukan masyarakat Indonesia —artinya, di luar negeri, konsep foto pranikah secara khusus itu tidak lumrah.

Menurut Arbain, hal itu terjadi karena kebiasaan penggiat dan pelanggan jasa fotografi yang kerap melebarkan kegiatan dokumentasi pernikahan ke berbagai segi. Apalagi, tradisi pernikahan di Indonesia sangat beragam karena kekayaan kulturalnya, yang ibarat pelatuk, memicu kebutuhan menampilkan konsep unik percintaan dari masing-masing pasangan lewat dokumentasi foto.

Mulai dari pre-wedding, lalu dokumentasi prosesi pranikah (jika ada) seperti upacara Siraman pada tradisi Jawa atau malam Bainai dari Sumatera Barat, dokumentasi acara akad nikah, lalu resepsi; belum lagi layanan menyiapkan galeri foto pre-wedding untuk ditampilkan saat resepsi, atau layanan cetak dan pengemasan usai pernikahan.

Namun, dari berbagai layanan itu, foto pranikah memang mengibarkan daya tarik khusus. Selain unik, hasil foto pranikah memiliki fungsi yang lebih umum; tak hanya bisa ditampilkan pada undangan pernikahan, tapi juga saat pesta resepsi, dekorasi di rumah, bahkan untuk foto profil Facebook atau Instagram —karena hasilnya yang relatif spesial.

Maka wajar jika jasa foto pranikah jadi menu utama yang kerap dipastikan kualitasnya oleh para penggiat usaha fotografi pernikahan.

Pentingnya berkomunikasi dengan klien

Untuk menghasilkan foto pranikah yang baik, David Soong, pemilik dan pengelola Axioo Wedding Photography menjelaskan bahwa penggarapan proyek fotografi pranikah membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik. Menurutnya, mengerjakan foto pranikah itu soal memahami pasangan yang akan menikah, dan pemahaman membutuhkan alur komunikasi yang baik.

axioo-boby-herlina-prewedding-europe-featured

“Secara teknis memang tidak jauh berbeda dengan foto produk atau foto model, tapi tingkat kesulitan soal komunikasi berbeda; karena pada model yang sudah biasa berpose, eksekusi tentu lebih mudah. Sementara foto produk relatif lebih mudah lagi. Sementara foto pranikah berhadapan dengan klien yang tidak biasa beraksi di depan kamera,” ujar David menguraikan.

“Di Axioo biasanya kami menggali dulu keinginan atau konsep dari klien, lalu memetakannya dan menyumbangkan saran agar konsep itu berkembang lebih matang. Jadi ego mesti dijaga, karena ini soal proses kreatif untuk menyatukan ide agar kemauan klien klop dengan hasil maksimal yang kami upayakan,” sambungnya.

Ia pun mengimbuhkan, jika sudah cocok dan bisa berkomunikasi lancar dengan klien, kemungkinan mendapat hasil foto yang memuaskan semakin tinggi.

Menyiapkan peralatan sesuai kebutuhan

Tak hanya soal membangun relasi dengan klien, urusan peralatan juga kerap jadi pertimbangan fotografer pranikah. Menurut David Soong peralatan untuk kebutuhan foto pranikah sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan; tidak harus terkesan canggih dengan peralatan lengkap.

“Kadang memang perlu membawa berbagai jenis lensa, mulai dari yang standar, wide hingga tele. Tapi kadang juga kami hanya pakai satu lensa saja. Bahkan saya pernah memotret hanya dengan lensa 50mm Canon. Sesuai kebutuhan saja,” katanya berkisah. Apalagi, foto pranikah cenderung dilakukan di luar ruang, sehingga tidak butuh pencahayaan khusus.

“Kalau pun membutuhkan pencahayaan, sebaiknya menggunakan alat portabel yang mudah dibawa-bawa,” tambahnya.

David Soong sendiri mengaku menggunakan Profoto B1, dan belakangan baru beralih ke model yang lebih baru, Profoto B2. “Selain ringkas, off-camera flash ini juga dilengkapi dengan baterai hingga pencahayaan bisa tetap maksimal meski lokasi pemotretan jauh dari colokan listrik,” kata David menjelaskan.

Elemen penting usaha jasa foto pranikah: jangan berlebihan soal alat dan word of mouth

Menyediakan layanan foto pranikah, menjaga kualitas komunikasi dengan klien dan menggunakan peralatan sesuai kebutuhan saat menggarap proyek tentu hanya bisa dilakukan jika memiliki klien. Hal ini pula yang kerap jadi tantangan para pelaku usaha foto pranikah.

axioo-denny-fransiska-prewedding-turkey-featured

Terkait urusan bisnis, hal penting pertama yang sebaiknya diperhatikan para pelaku adalah jangan mengeluarkan modal terlalu besar. Menurut David Soong yang membangun Axioo Wedding Photography bersama Fen Soong, kebanyakan fotografer terlampau pusing dengan pengadaan peralatan yang serba canggih dengan harga mencekik.

“Padahal alat itu hanya sarana. Yang terpenting adalah ‘ the man behind the viewfinder’. Untuk pemula sebaiknya beli alat sesuai kemampuan, baik secara bujet atau pun skill. Lalu, manfaatkan alat itu dengan mengoptimalkan kreativitas. Jangan bergantung pada alat,” ujar David menandaskan.

Lalu gunakan berbagai jenis media sosial seperti Instagram, Twitter dan Facebook untuk pendukung promosi. “Karena promosi jasa foto pernikahan atau pranikah adalah soal word of mouth,” tukasnya.

Saran tambahan dari David, selalu anggap serius setiap foto yang digarap; hal ini akan bikin kita fokus menjaga kepuasan klien. Jika mereka senang, maka rekomendasi positif pun tersebar ke khalayak yang lebih luas dan kelas jadi klien baru untuk si fotografer.

0 comments