NOW READING

Salon Foto Indonesia, Ajang Apresiasi Insan Fotografi

 4757
+
 4757

Salon Foto Indonesia, Ajang Apresiasi Insan Fotografi

by The Daily Oktagon

Di kalangan penggila fotografi, Salon Foto tentu sudah tidak asing lagi. Salon Foto Indonesia, ajang apresiasi insan fotografi yang dihelat oleh Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI) ini selalu dinanti. Tahun ini, Salon Foto Indonesia (FSI) diadakan di Semarang, Jawa Tengah, yang berlangsung Juni-Desember 2015.

Tidak tepat bila menyebut acara ini sebagai kompetisi foto. Sebab, sejak pertama kali diadakan pada 1973, tujuan SFI adalah ajang apresiasi foto melalui pameran yang telah melalui proses kurasi. Karena itu, jarang sekali terdapat hadiah berupa uang. Kalau pun ada, lebih untuk menarik minat para calon peserta.

Jika dunia musik punya Grammy Award dan insan film punya Academy Award, maka fotografi punya Salon Foto. Fotografer mengikuti SFI demi mendapat gelar atau pengakuan dari sesama kolega. Memperoleh serta menambah gelar dengan mengikuti SFI menjadi pencapaian tersendiri dari karier seorang fotografer.

Panita_SalonFoto_SFI_ke-34

Pencinta fotografi wajib baca artikel berikut, Enche Tjin dan Fotografi : Berawal dari Benci Jadi Menggeluti

Pengakuan Lewat Gelar Fotografi
Kalau Anda pernah memperhatikan, beberapa fotografer memasang gelar khas fotografi di belakang namanya. Seperti misalnya Agatha Bunanta, salah seorang perempuan di Indonesia yang punya gelar fotografi terbanyak: Agatha Anne Bunanta, ARPS, EPSA, EFIAP/bronze, UPI Crown 4.

Mengutip dari artikel yang pernah ditulis oleh Arbain Rambey, gelar-gelar tersebut adalah pengakuan dari lembaga foto internasional terhadap kemampuan karya dan jerih payah sang fotografer. Saat para penggemar fotografi saling berkumpul dan bertukar kartu nama, gelar-gelar fotografi sangat berperan di sini. Dengan mengetahui gelar tersebut, setidaknya di antara sesama fotografer mengetahui posisi dan kemampuan si pemilik gelar.

Gelar-gelar fotografi tersebut diberikan oleh berbagai lembaga yang diakui kekuatannya di lingkungan fotografi. Untuk lingkup Indonesia, lembaga yang memiliki kekuatan untuk memberikan gelar fotografi adalah FPSI. Sedangkan di lingkup dunia, ada empat lembaga fotografi internasional, yaitu:

  • RPS (Royal Photographic Society) yang berkantor pusat di Bath, Inggirs
  • PSA (Photographic Society of America) yang berkantor pusat di Amerika Serikat
  • FIAP (Federation Internationale de l’art Photographique) yang berkantor pusat di Paris
  • UPI (United Photographic International) yang berkantor pusat di Yunani

Dalam lomba internasional, setiap foto yang diterima atau terpilih untuk pameran akan mendapatkan satu poin. Dan poin itu dikumpulkan sampai mencapai jumlah tertentu yang bisa diajukan sebagai gelar fotografi.

Sedangkan pada SFI, seperti diutarakan oleh Harto Solichin Margo selaku Ketua Umum FPSI, fotografer yang karyanya menang akan mendapatkan medali serta poin tertentu. Jika sering juara, poin akan terakumulasi dan sang fotografer berhak atas gelar khusus A.FPSI, atau “Artist of FPSI.” Gelar A.FPSI sendiri ada lima, dari satu bintang hingga lima bintang. Syarat poin untuk mendapatkan tiap gelar tersebut adalah sebagai berikut:

  • 30 poin untuk A.FPSI* (Artist of FPSI One Star)
  • 60 poin untuk A.FPSI** (Artist of FPSI Two Stars)
  • 90 poin untuk A.FPSI***(Artist of FPSI Three Stars)
  • 120 poin untuk A.FPSI**** (Artist of FPSI Four Stars)
  • 150 poin untuk A.FPSI***** (Artist of FPSI Five Stars)

Sedangkan untuk perolehan poin dihitung dengan cara:

  • Terpilih / Accepted = 1 Point
  • Penghargaan / Honorable Mention + 1 = 2 poin
  • Medali Perunggu / Bronze Medal + 2 = 3 poin
  • Medali Perak / Silver Medal + 3 = 4 poin
  • Medali Emas / Gold Medal + 4 = 5 poin
  • Pasangan Terbaik / Best Set (4 Karya Foto Accepted) + 2 = 6 poin

“Semakin banyak poin yang dicapai, gelar yang telah didapat pun akan terus meningkat Dan ini akan menjadi pencapaian tersendiri bagi seorang fotografer,” jelas Solichin seperti dikutip dari Pikiran Rakyat Online.

Salon Foto Indonesia 2015 Semarang
Dalam sejarah penyelenggaraan, Semarang sudah empat kali menjadi tuan rumah SFI. Semarang terakhir kali menyelenggarakan SFI pada tahun 2002 silam. Prestasi fotografer dari kota ini juga tak kalah dengan daerah lain. Lima tahun lalu, misalnya, fotografer Semarang, yang juga merupakan jurnalis Suara Merdeka, Nugroho Dwi Adhiseno, berhasil meraih medali emas.

Penentuan tuan rumah SFI 2015 sempat diwarnai perdebatan panjang. Alasannya karena calon pelaksana tidak hanya satu, yaitu Komunitas Foto Semarang (KFS) dan Klifonara (Klub Seni Fotografi Bina Nusantara). Setelah tidak menemukan kata sepakat melalui musyawarah, diadakan pemungutan suara untuk menentukan keputusan. KFS akhirnya mendapatkan suara terbanyak dan Semarang terpilih menjadi tuan rumah SFI ke-36 tahun 2015.

Setiap ajang SFI terdiri dari empat kategori. Tiap kategori memperebutkan hadiah berupa medali emas (untuk satu pemenang), medali perak (dua pemenang), medali perunggu (lima pemenang), dan piagam penghargaan (sepuluh pemenang). Tahun ini, empat kategori yang dibuka antara lain Cetak Warna, Monokrom, Soft Copy Travel, dan Soft Copy Fashion. Menurut Ketua II Panitia SFI 2015 Rendy Prananta, Soft Copy Fashion merupakan kategori baru dan baru pertama kalinya diadakan di Semarang.

Peraih_Medali_Emas_Kategori_Cetak_Warna

Peraih Medali Emas Kategori Cetak Warna 2013

 

 

Peraih_Medali_Perak_2_Kategori_Cetak_Warna

Peraih Medali Perak Kategori Cetak Warna 2013

 

Peraih_Medali_Perak_1_Kategori_Travel

Peraih Medali Perak Kategori Travel 2013

“Panitia penyelenggara berhak mengubah satu kategori. Kebetulan, KFS mengubah kategori tahun lalu, yaitu Creative, menjadi Fashion,” jelas Adithya Zen, salah seorang Juri FSI 2015.

Menurut lelaki yang akrab disapa Adit ini, awalnya, sebelum masuk era digital, hanya ada kategori cetak berwarna dan hitam putih (monokrom). Pada perkembangannya, sekitar tahun ‘80-an, ada penambahan kategori slide. Kategori soft copy baru hadir setelah hadirnya kamera digital untuk menggantikan kategori slide.

“Kalau melihat perubahan saat itu, sebetulnya digantinya slide menjadi soft copy untuk memudahkan saja, juga karena biaya cetak mahal. Akhirnya sekarang wadahnya terbagi untuk peserta yang ingin memberikan foto dalam bentuk cetak dan soft copy berupa fail dalam CD,” ujar fotografer yang juga pemilik rumah produksi Zen Link ini.

Dampak Era Digital pada Karya Peserta
Semakin pesatnya perkembangan fotografi digital membawa dampak tersendiri bagi SFI. Selain makin variatifnya subyek foto, lokasi pemotretannya pun tidak hanya di Indonesia saja. Menurut Adit, dampak ini mulai terasa secara signifikan sejak empat tahun terakhir, nyaris berbarengan dengan kemampuan kamera mirrorless yang makin mumpuni.

“Fotografer yang punya sedikit uang berlebih bisa pergi ke luar negeri untuk memotret dengan alat-alat yang tidak seribet dulu,” ujar Adit yang pada SFI 2014 lalu di Medan meraih medali perak untuk kategori Creative. “Bukan sesuatu yang aneh jika ada foto peserta yang menampilkan aurelia borealis atau pemandangan di Greenland maupun Selandia Baru.”

Sayangnya, kemudahan yang ditawarkan fotografi digital kerap dimanfaatkan oleh segelintir fotografer untuk berlaku curang. Sepanjang 10 tahun terakhir, juri SFI tak henti-hentinya menemukan peserta yang mengirimkan foto yang bukan karyanya. Bisa jadi, karena ada ribuan foto yang diseleksi oleh juri, para oknum ini menganggap mereka bisa lolos dengan mudah. Beruntung, juri-juri FSI yang juga dibantu oleh koordinator juri dalam menjalankan tugasnya dengan baik.

Selain berkat kejelian mata juri menyeleksi foto-foto yang masuk, seperti diungkapkan oleh Adit, proses verifikasi memang dilakukan dengan ketat, khususnya pada babak final. Begitu semua foto dari tiap kategori lolos ke final, juri akan menghubungi peserta untuk mengirimkan fail asli atau RAW foto terpilih.

“Jika tidak sanggup memberikan, peserta akan didiskualifikasi. Peserta lain yang peringkatnya ada di bawah pun akan tergeser ke atas,” jelas Adit yang saat ini menyandang gelar fotografi S.sn , AFIAP, A. FPSI.

Peraih_Medali_Perunggu_Kategori_Travel

Peraih Medali Perunggu Kategori Travel 2013

Peraih_Medali_Perunggu_Kategori_Kreatif_

Peraih Medali Perunggu Kategori Kreatif 2013

Hingga awal Oktober, panitia masih mengumpulkan foto-foto yang dikirimkan peserta SFI 2015. Penerimaan fotonya sendiri telah ditutup pada 21 September lalu. Kemudian, proses penjurian akan dilakukan pada tanggal 16 hingga 17 Oktober, sehari setelah diadakannya Munas FPSI. Apabila Anda ingin melihat karya-karya para pemenang, tidak ada salahnya untuk mengunjungi Pameran Foto SFI ke-36 di Semarang pada bulan Desember mendatang.

Anda tertarik mencoba teknik fotografi? Yuk, baca artikel menarik ini, Mengupas Lima Aspek Penting Fotografi Jalanan

0 comments