NOW READING

Sacha Stevenson, YouTuber Bule yang Sudah 15 Tahun Tinggal di Indonesia

 1061
+
 1061

Sacha Stevenson, YouTuber Bule yang Sudah 15 Tahun Tinggal di Indonesia

by The Daily Oktagon
  • Sacha Stevenson sempat beberapa kali ganti konsep video, hingga akhirnya memutuskan untuk mengusung konsep sketsa.
  • Seri video How to act Indonesian yang populer dan viral, dibuat berdasarkan apa yang ia lihat dan alami sendiri selama di Indonesia.
  • Sejak menjadi YouTuber, pergaulan dan lingkungan Sacha menjadi lebih luas. Ia mengenal lebih banyak tipe orang Indonesia.

Sebagian dari Anda pasti tahu atau sudah pernah mendengar nama Sacha Stevenson, warga asing asal Kanada yang populer lewat seri video How to act Indonesian di channel YouTube miliknya.

Kalau belum, kami merekomendasikan Anda menonton seri video kocak tersebut. Berikut ini playlist How to act Indonesian episode 1 sampai ke-4:

Dalam seri video itu Sacha memainkan dua peran sekaligus; penulis script juga pemain utamanya.

Yang unik dan menarik banyak penonton dari seri video tersebut adalah kemampuan Sacha menangkap perilaku dan sifat umum orang Indonesia yang ia temui sehari-hari, serta mengemasnya jadi video blog bergaya sketsa ringan yang mengundang gelak tawa.

Tapi menurut Sacha pada The Daily Oktagon, tak hanya respon positif yang ia dapatkan, tapi juga banyak komentar negatif lewat kolom komentar di tiap videonya. Ia berkisah kalau dulu ia suka membalas komentar kelompok yang biasa disebut haters itu, tapi kini ia sudah lebih cuek dan mengabaikannya.

Ia berpikir positif dan menganggap hal itu sebagai penanda kalau ia berada di jalur yang tepat untuk menuju kesuksesan.

Banyak pula hal lain kami perbincangkan bersama Sacha. Perempuan yang tinggal di Indonesia sejak 15 tahun lalu ini pun tak segan bercerita banyak hal, mulai dari alasan ia membuat video tentang Indonesia di YouTube, keinginannya berkolaborasi dengan YouTuber Eka Gustiwana, sampai tips untuk Anda yang berminat menjadi YouTuber.

Baca juga tentang ulasan tiga kamera wajib untuk vlogger pemula

Berikut obrolan kami dengan Sacha Stevenson:

Awalnya, dari mana ide untuk membuat video YouTube muncul?

Ide untuk bikin video kebanyakan datang dari pengalaman hidup.

Aku sudah 15 tahun hidup di Indonesia, dan dari situ banyak sekali pengalaman seru dan menarik yang aku ingat. Aku juga suka terinspirasi dari pengalaman suami (orang Indonesia); saat pulang kerja, dia suka cerita kalau ada saja kejadian unik yang ia alami. Atau juga dari berita sehari-hari.

Biasanya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu video?

Aku ini sebetulnya orang yang sangat malas, ha-ha-ha. Aku maunya praktis saja, itu juga alasan aku pilih konsep video blogging di channel YouTube, karena gampang. Kalau misal music parody pasti makan waktu lama, karena harus bikin musik dulu, harus ada camera person, dan ini itu.

Buat aku yang seperti itu terlalu repot.

Tapi dengan konsep video blogging dan sketsa, aku bisa bikin dengan cepat. Contohnya, video How to act Indonesian yang pertama, kalau tidak salah aku coba perlu waktu empat jam dari awal sampai selesai; enggak perlu makan waktu terlalu lama. Ya, tergantung konsep videonya juga mau seperti apa sih…

Oh soal How to act Indonesian, bagaimana awalnya bisa terpikir seri video itu?

Ceritanya begini; dulu, beberapa tahun sebelum seri video itu ada, aku pingin banget jadi YouTuber dan sudah coba ini itu, tapi enggak menemukan sesuatu yang bisa viral. But, I kept trying and trying.

Aku sempat belajar dari JennaMarbles, YouTuber asal Amerika Serikat. Aku coba menganalisis karya-karya videonya dan YouTuber lainnya juga, lalu menyadari kalau mereka punya tema yang konsisten untuk video-video mereka.

Misal, kalau ambil tema komedi, ya komedi terus. Mereka pun pintar membuat atau memilih judul.

sacha stevenson

Kemudian aku berpikir, maybe I should make video series juga. Maka, akupun mulai melakukan hal itu untuk meningkatkan jumlah subscriber di channel YouTube-ku.

Saat itu aku menentukan tema yang aku usung adalah Indonesia.

Kenapa? Karena aku hanya tahu tentang Indonesia, dan tidak tahu banyak tentang Afrika atau hal lainnya. Mungkin, kalau aku tahu tentang make up, aku akan jadi make up vlogger.

Tapi ini aku tahunya Indonesia doang, dan budaya kehidupannya sehari-hari. Jadi aku bikin video How to act Indonesian seri 1, 2, dan 3. Waktu itu niatnya, kalau enggak ada yang nonton dan suka, aku bakal cari lagi konsep lain.

Tapi ternyata, this started going viral.

Dari berbagai video yang sudah kamu buat, video yang mana paling kamu banggakan?

Salah satu yang aku suka banget itu video aku soal sinetron; jadi itu parodi dari sinetron di Indonesia.

That was pretty fun to shoot and also I was pretty proud of the result. Aku sampai bikin soundtrack untuk sinetron-sinetron palsuku itu, ha-ha-ha.

Apakah kamu pernah membayangkan kalau akan sepopuler ini?

No! Waktu aku bikin How to act Indonesian, aku pikir mungkin bisa dapat 20.000 subscribers. Tapi tidak aku sangka, malah bisa di atas 200.000 subscribers. That’s crazy! Melebihi ekspektasiku! I’m happy about that of course.

Aktivitas di media sosial biasanya lekat dengan komentar negatif, dan di kolom komentar kamu juga ada. Bagaimana kamu menyikapinya?

Waktu aku lihat komentar tidak masuk akal dan jahat minta ampun di videoku, awalnya aku suka balas. Intinya, haters itu aku hate balik. Tapi kelamaan, aku sadar hal itu tidak ada gunanya, just wasting my time.

Sekarang aku lebih cuek dan sudah terbiasa dengan komentar negatif, jadi sudah tidak sakit hati lagi.Haters itu sebetulnya tanda bahwa kamu sedang ada di jalan menuju kesuksesan.

Apa hal-hal yang kamu anggap sebagai keuntungan dengan menjadi YouTuber?

Dulu lingkunganku sangat sempit, dan setelah menjadi YouTuber, aku jadi tahu tipe orang Indonesia yang belum pernah aku ketahui.

Mereka subscribe ke channel-ku. Aku membaca komentar mereka, dan menyadari sisi lain Indonesia yang tadinya belum aku lihat, karena sebelumnya aku seringnya nongkrong sama Satpam, dan tidak kerja kantoran.

Ada banyak tipe orang Indonesia yang belum aku temui, and I found them through YouTube. Aku juga jadi banyak tahu dan kenal banyak komunitas; makin banyak teman.

Contoh orang yang bisa aku temui gara-gara YouTube adalah Iwan Fals. And that was really cool!

Simak pula perangkat penunjang produksi video mumpuni untuk YouTube berkualitas 4K dan tidak harus mahal

Apakah ada keluarga, teman, atau orang terdekat kamu yang rajin nonton video kamu? Apa tanggapan mereka?

Ha-ha-ha, iya mereka sempat melihat video-video aku. Ada yang nonton terus, tapi ya ada juga yang kadang-kadang saja.

Tanggapan mereka? You know, kalau kita nonton video seseorang di YouTube dan kita kenal orang itu, mungkin orang itu jadi tidak terlihat keren lagi, karena kita sudah tahu dia seperti apa. Sama, sepertinya keluarga dan teman-temanku berpikir kalau di video-video itu aku tidak lucu. Biasa saja.

Tapi pernah, ibu suamiku menangis satu kali karena aku upload video 27 kata kasar dalam bahasa Sunda. Di video itu ada satu kata yang menurut dia terlalu kasar untuk diucapkan. Suamiku bilang, kalau dia melihat ibunya menangis sehabis menonton video itu. Tapi sekarang kami sudah berbaikan.

Kamu sudah berkolaborasi dengan YouTuber lain seperti skinnyindonesian24 dan Edho Zell. Selain mereka, apakah ada YouTuber lain yang ingin kamu ajak kolaborasi?

Ada! Namanya Eka Gustiwana kalau tidak salah, YouTuber yang videonya musik-musik itu. I would do collaboration with him.

But I think a lot of Indonesian YouTuber have a different market than me actually.

Misalnya Edho Zell; penonton videonya cenderung lebih muda daripada yang menonton videoku; seperti anak usia 13 sampai 17 tahun, pasti lebih banyak nonton Edho Zell daripada nonton videoku.

Penonton channel-ku kebanyakan berusia 24-35 tahun, bahkan lebih tua, meski ada beberapa yang muda juga.

Kamu juga punya akun Instagram (sacha_stevenson); apakah kamu tidak tertarik untuk membuat video pendek khusus untuk Instagram?

Akun Instagram sementara ini aku perlakukan seperti Facebook, tidak terlalu dibikin profesional karena selama ini aku masih pakai Instagram sebatas untuk menyimpan memori (kenangan) saja.

But I heard that it’s very good to do Instagram and also use Instagram to supplement YouTube video or lead people to YouTube channel. Ya mungkin memang belum niat aja sih

Ada tips atau saran untuk pembaca yang tertarik menjadi YouTuber?

Well, dulu aku mau jadi YouTuber seperti YouTuber Amerika yang menjadikan itu sebagai bisnis dan mereka bisa bekerja dari rumah. Tapi ternyata perjalanannya memang panjang dan perlu kerja keras, bahkan sedikit keberuntungan.

Itulah yang perlu diketahui, karena seringkali kita sudah bekerja keras selama satu tahun, tapi tidak ada hasilnya, karena keberuntungan belum muncul. So, you have to keep trying and trying. Jangan pasrah. You have to really want it, I think.

Ada juga beberapa yang beruntung. Video pertama yang mereka upload, langsung go viral. Tapi itu bisa dibilang sangat langka. Jadi, kalau memang ini hobi kamu dan pingin banget jadi YouTuber, jalani dengan ikhlas.

Jangan sibuk memikirkan, misalnya, “Oh aku cuma dapet 50 viewers. Udah ah.” If you really wanna be a YouTuber, kamu harus terus bikin dan bikin lagi.

Kalau orang tidak suka, coba ganti topik dan bereksperimen dengan topik lain sampai mulai terlihat banyak orang subscribe ke channel kamu.

Sacha sendiri, apakah ada target khusus? Jangka pendek dan jangka panjang mungkin?

Aku orang yang go with the flow. Maka itu, aku tidak terlalu pasang target. Aku sudah senang dan bersyukur banget dengan channel aku saat ini. I love my subscribers. I love my freedom to make whatever video I want. So i’m pretty happy.

Kalaupun ada target tertentu, untuk jangka pendek I’d like to have a YouTube video that get million views and I still have not done it. Tapi ya itu tadi, go with the flow. Kalau terjadi ya terjadi. Kalau enggak ya sudah tidak apa-apa.

Sementara jangka panjang, aku mau mempertahankan YouTube Channel ini, karena selain aku senang melakukannya, channel ini bisa jadi dokumentasi kehidupanku di Indonesia. Bukan hanya buat orang lain, tapi buat aku sendiri, misal saat aku tua nanti.

Apakah ada harapan lainnya?

I wish there were other Indonesian YouTubers that were speaking out against the thing in society that they don’t like, or that they wanna change, or like giving their opinion even it’s not popular opinion.

Karena kadang, dengan keadaan aku sebagai bule, sering ada komentar seperti, “Ya wajarlah dia kan orang asing.” Padahal aku yakin, banyak orang Indonesia juga merasakan hal yang aku rasakan. There are a lot of people, Indonesian people like me out there, I’ve met them and they’re crazy.

Seperti istilah “bule gila”, ada banyak juga “Indonesian gila”. And I wish I could see more like social activism on YouTube; tapi ya bisa juga, itu cuma mimpi, mungkin.

Ikuti pula uraian tentang cara menjadi YouTuber ternama ini

0 comments