NOW READING

Riza Marlon dan Monumen Dokumentasi Satwa Liar

 2034
+
 2034

Riza Marlon dan Monumen Dokumentasi Satwa Liar

by The Daily Oktagon

Publik mengenalnya sebagai Riza Marlon, seorang fotografer alam liar. Karyanya banyak ditemukan pada berbagai publikasi Lembaga Swadaya Masyarakat asing yang sudah dikenal luas, sebut saja World Wild Fund, The Nature Conservacy, hingga Wildlife Conservation Society. Ia juga kerap berkontribusi di stasiun TV asing, seperti TV New Zealand Natural History, serta National Geographic TV and Film.

Sebagai fotografer yang menjelajahi Indonesia sejak 1990, Riza banyak mendokumentasikan keanekaragaman satwa Tanah Air. Sebagian di antaranya luput dari mata masyarakat umum karena menghuni pedalaman hutan belantara. Hasil pengamatannya itu telah ia tuangkan ke dalam dua buah buku.

Karya pertama, “Living Treasures of Indonesia,” yang diluncurkan pada 2010, menampilkan satwa yang dipotretnya selama 20 tahun di wilayah Indonesia Barat dan Timur. Ini merupakan buku satwa liar pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Sedangkan buku kedua Bang Caca, sapaan akrabnya, “Panduan Visual dan Indentifikasi Lapangan 107+ Ular Indonesia,” khusus membahas soal ular di Indonesia yang juga tergolong jarang didokumentasikan.

Rupanya, karya Riza tidak berhenti di situ saja. Riza menuturkan rencana buku ketiga yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat. Ia pun buka-bukaan soal niatnya menggandeng fotografer alam liar seluruh Indonesia yang populasinya tergolong langka, agar mengikuti jejaknya mendokumentasikan satwa liar dalam bentuk buku.

Riza menyebut buku berisi kumpulan karyanya bagaikan monumen. Kini dia pun tengah menyelesaikan buku ketiganya. The Daily Oktagon pun berkesempatan mewawancarai pria lulusan Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta ini. Berikut cerita Riza Marlon dan monumen dokumentasi satwa liar.

Riza_2

Saat mengerjakan buku pertama, Anda mengerjakan sendiri atau bersama tim?
Tadinya mau ada yang bantu interview saya untuk menulis buku ini. Setelah dipikir-pikir, ini kan buku saya. Jadi, saya yang paling tahu gambar ini maksudnya apa dan menceritakan apa. Akhirnya, saya juga yang menulis. Ada teman-teman yang membantu sebagai editor foto dan tulisan, karena perlu ada sudut pandang orang lain untuk mengontrol kualitasnya.

Jadi, wildlife photographer di Indonesia, setelah motret harus bisa menulis juga. Harus mengerti desain juga, menguasai perangkat lunak seperti Photoshop atau InDesign. Harus belajar macam-macam, termasuk marketing untuk memasarkan bukunya.

Apa yang akan dibahas pada buku ketiga?
Buku ketiga membahas satwa di kawasan Indonesia tengah, memperdalam buku pertama setebal 216 halaman yang berisi satwa Indonesia Barat sampai Timur. Saya tertarik dengan Indonesia tengah, yang saya bilang sebagai truly Indonesia, karena satwanya lain. Tidak ada di Barat dan tidak ada di Timur.

Secara peta penyebaran satwa, ini menarik. Tingkat endemisnya dan kelangkaannya tinggi, tidak ada di wilayah lain di dunia. Jumlah halamannya sama, 216, mencakup Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Maluku. Buku ketiga sudah jalan mulai 2010 sampai 2015. Stok fotonya sudah full digital, berbeda dengan buku pertama yang 70 persennya masih analog. Bulan Desember dan Januari sudah mulai masuk tahap desain.

Mungkin, kalau ada pihak yang support, nanti akan ada lagi buku khusus tentang satwa Indonesia Barat atau Indonesia Timur. Saya berharap, makin ke sini, orang akan makin kenal saya, dan saya semakin mendapat support. Kita perlu support banyak pihak kalau ‘main’ di nature photography. Seperti sponsorship hingga dukungan penerbit atau distributor untuk sosialisasi apa yang sedang saya programkan.

Perbedaan seperti apa yang Anda rasakan saat menggarap buku pertama dengan buku ketiga?
Sekarang sudah enak, ada handphone. Zaman dulu masih surat-suratan. Menuju ke lokasi pun naik kapal laut, karena beda harga tiket pesawat dengan kapal laut jauh banget. Transportasi menggunakan kapal laut takes time. Sampai di Sulawesi saja bisa lima hari, ke Maluku enam hari, lalu ke Papua satu minggu. Menuju Papua, untuk di jalan butuh waktu dua minggu.

Saat perjalanan ke Indonesia Timur, saya jarang bareng dengan proyek fotografi. Biaya dari kocek sendiri, sehingga diatur sefisien mungkin. Membawa film juga tidak banyak. Bisa dikatakan, pada tahun 1990 ke 2010, memotret alam liar dianggap mahal dan sulit. Apalagi kalau harus naik gunung dulu untuk mencari binatangnya. Padahal, ketika itu, kondisi alam boleh dibilang masih baik. Binatang masih banyak dan sedikit lebih mudah dipotret. Walaupun secara teknis sedikit sulit karena teknologinya belum berkembang seperti sekarang ini.

Sekarang teknologi makin tinggi, tetapi kerusakan lingkungan makin tinggi juga. Laju dokumentasi lebih lambat daripada laju kehancuran alam yang menjadi rumah satwa. Kalau rumahnya hancur, akhirnya mereka makin tidak bisa hidup. Itu yang jadi concern saya. Kalau kita menunggu kaya, menunggu jago, dan menunggu alat kita lengkap, binatang sudah makin habis dan makin sulit ditemukan. Kita pilih mana?

Tujuan Anda membuat buku tentang satwa liar?
Ini karena concern saya tadi. Setidaknya sudah pernah terdokumentasi dengan baik, walaupun sudah dilakukan oleh peneliti. Tetapi publik kan tidak bisa baca bahasa ilimiah yang rumit. Saya menerjemahkan itu dengan gambar agar lebih gampang dicerna masyarakat.

Saya beri keterangan sedikit, ada muatan ilmiah berdasarkan literatur. Kalau misalnya satwa ini sudah jarang atau cuma ada di daerah tertentu, biar masyarakat lebih mudah mengenal, lalu mencintai, baru kemudian peduli. Sebab, logikanya kalau tidak kenal, publik tidak akan cinta apalagi peduli.

Apa benar satwa liar Indonesia lebih banyak didokumentasikan fotografer asing?
Ini pertanyaan saya dulu ketika masih kecil. Saya ini produk anak kecil yang dari dulu yang senang melihat gambar binatang, tetapi oleh orang tua dikasih buku berisi binatang-binatang Afrika, Australia, atau Antartika. Karena di toko buku adanya itu, kita lebih hafal binatang-binatang itu.

Dari dulu saya memang senang binatang. Seiring perjalanan waktu, tidak sengaja masuk Fakultas Biologi, sambil menekuni hobi motret dan jalan. Itu tiga kombinasi yang baik untuk jadi fotografer alam. Begitu lulus kuliah, saya merasa kenapa tidak ada buku-buku tentang satwa Indonesia. Akhirnya, tahun 1990 saya memutuskan untuk menekuni ini supaya keilmuan saya terpakai, sambil menjalankan hobi saya.

Bagi saya, buku ini semacam monumen. Dan ini penting untuk Indonesia, bahwa ada orang Indonesia yang mengerjakan ini, walaupun belum dihargai dan diapresiasi dengan baik. Tapi tidak apa-apa. Sekarang kan sudah banyak grup wildlife photography di media sosial. Biar saya jadi pionir, menjadi payung teman-teman yang baru mulai menjalankan sebagai hobi. Setidaknya, di mana-mana saya bisa berbagi, agar teman-teman daerah jadi jago di kampungnya sendiri dulu, tidak harus keliling Indonesia.

Ada beberapa grup yang sudah bikin buku. Kadang-kadang saya suka beri kata pengantar atau jadi editor. Itu bentuk support saya sama kawan-kawan, baik individual atau kelompok fotografi di berbagai daerah.

Banyak profesi di Indonesia tidak mendapatkan apresiasi, termasuk wildlife photographer. Apa yang membuat Anda bertahan?
Saya bertahan karena komitmen. Wildlife photography itu long-term commitment dan long-term investment, karena kan harus mengeluarkan uang dulu untuk membuat stok foto. Namun, saya diuntungkan dengan popularitas.

Sekarang, saya sudah disambut dengan baik oleh berbagai grup atau pihak di Indonesia, walaupun kadang-kadang bukan materi yang kita barter, tetapi sharing pengalaman. Walaupun ada honor atau fee, itu tidak besar. Jika bicara populer, saya sudah populer. Tetapi saya tidak mau dibilang fotografer profesional. Karena profesional harus diikuti juga dengan penghasilan finansial yang bagus.

Bagaimana proses yang Anda lakukan sebelum melakukan pemotretan?
Melakukan riset kecil dulu. Karena saya kuliah Biologi, peta penyebaran satwa liar sudah di luar kepala. Misalnya, saya tahu pembagian Indonesia barat ada Sumatera, Kalimantan, dan Jawa yang masih masuk Asia. Beberapa binatangnya mirip, bahkan sama persis, dengan yang ada di Sabang, Malaysia, dan Thailand.

Jadi, kita tidak mungkin mencari burung Cendrawasih di Sulawesi atau di Jawa, atau di Sumatera. Pengetahuan ini berdasarkan riset. Setelah itu, kita cari tahu lagi, data satwa ini paling banyak di mana. Kalau sekarang sudah enak, ada Google. Kalau dulu kan belum. Benar-benar harus ke sana, melihat, dan menyamakan persepsi dengan guide lokal.

Terkadang, kalau mereka bilang banyak, belum tentu persepsi banyaknya sama dengan kita. Ternyata banyak yang dimaksud karena mereka sering melihat. Wajar, mereka hidup dari kecil sampai dewasa di sana. Sehingga perlu menyamakan persepsi antara saya, sebagai ahli Biologi dan fotografer dari Jakarta, dengan ahli lokal di daerah.

Guide yang baik adalah pemburu, karena biasanya kebutuhannya untuk konsumsi. Jadi dia tahu persis keberadaan satwa, musim kawin, sarangnya, dan waktunya. Informasi itu menurut saya yang paling mahal. Kita tinggal hitung berapa nilai investasinya, tiket pesawat, guide, sewa mobil, homestay, hingga makan. Katakanlah, jika keluar biaya Rp 10 juta, apakah worth it kita memotret satu jenis satwa. Usahakan cari yang lain, misalnya lima atau 10 jenis.

Seiring berjalannya waktu, saya punya banyak informan yang akurat. Awal-awalnya banyak tertipu juga. Banyak orang yang omong besar. Setelah kunjungan berulang, pengetahuan yang kita punya menjadi lebih detail dan matang. Banyak juga LSM atau stasiun TV asing yang mengontak saya untuk menunjukkan tempat-tempat satwa, menjadi fixer, atau penerjemah.

Jadi yang paling penting dalam pemotretan satwa liar adalah informasi yang akurat. Kita bisa berangkat tanpa info, tetapi jangan berharap banyak dapat sesuatu yang baik. Termasuk juga ketika kita mengulang pemotretan pada kunjungan kedua atau ketiga, jangan berharap bisa memperbaiki gambar yang sebelumnya. Bisa tidak dapat atau malah hasilnya lebih buruk lagi. Karena binatang tidak bisa ditebak.

Ingin mempelajari cara memotret hewan, coba tips berikut. Ini Tips Memotret Makro dari Pakarnya

Bekantan

Bekantan karya Riza Marlon

Apa saja perlengkapan fotografi yang wajib Anda bawa?

Tergantung. Satu teori yang saya pegang adalah jangan pernah mengeluh dengan alat yang ada. Sebenarnya, dengan alat sederhana, misalnya lensa normal, kita bisa memotret satwa sampai dekat. Cuma perlu persiapan lebih matang. Maju semeter demi semeter. Kalau untuk maju tujuh meter butuh waktu tujuh hari, ini jadi cost juga.

Katakanlah satu hari untuk bayar porterhomestay, dan lain-lain butuh Rp 1 juta. Seminggu berarti habis Rp 7 juta. Hitung-hitungan bisnisnya, ini rugi. Bagaimana kalau kita membeli lensa lensa tele 300 milimeter? Cukup satu kali datang, kita sudah bisa motret full frame dan tidak perlu berlama-lama di satu tempat.

Niat dan passion adalah hal paling penting. Kalau kita diberikan lensa 500 milimeter dengan kamera seri terbaru, tetapi tidak punya niat dan passion, sama saja. Ini bukan soal mahal atau tidaknya peralatan. Memang, kalau perlengkapannya ada, kita bisa bawa semua.

Mengantisipasi jangan sampai tidak membawa alat yang diperlukan di lapangan. Body atau kamera, misalnya, sebaiknya bawa backup. Karena kita tidak bisa pulang kalau terjadi apa-apa pada kamera. Kadang kota terdekat saja tidak menjual baterai.

Jadi wildlife photography perlu pengorbanan. Kalau tidak kita tidak mulai, ini akan digarap orang lain. Karena mereka melihat kekayaan ini tidak kita apa-apakan. Tetapi ketika terbengkalai lalu dimanfaatkan orang lain, baru kita marah. Biasanya kan begitu.

Cangak_Abu

Cangak Abu karya Riza Marlon

Bisa diceritakan lokasi paling berkesan yang pernah Anda datangi?
Papua. Masalahnya, untuk ke sana ongkosnya mahal sekali. Di sana orang-orangnya sangat dekat dengan alam. Kadang di belakang rumah penduduk, kita masih banyak menemukan satwa yang bagus.

Orang asing tidak banyak yang berani ke sana karena tidak ada informasi. Mereka juga sama, tidak mau spenduang tanpa hasil. Tetapi ada yang gila-gila juga. National Geographic pernah melihat garis-garis di hutan dari pencitraan satelit, seperti crop circle yang dibuat alien.

Mereka rela menghabiskan puluhan jam, bahkan berminggu-minggu, untuk sampai ke lokasi yang ada di rawa-rawa pedalaman Papua itu. Ternyata memang ada suku yang memanfaatkan rawa untuk kehidupan di sana. Ini gila, mereka mau spend uang menjelajahi pelosok. Ide-ide yang tidak mungkin tetap di-support demi menemukan hal baru untuk disajikan ke publik.

Obsesi apa yang belum tercapai?
Obesi saya sekarang adalah memotret untuk dijadikan buku. Saya lagi berpikir, saya ini menua. Pengalaman saya mengamati orang-orang lama, usia mereka menua tetapi otak semakin liar dan gila. Saya belum tahu, kawan-kawan lain seberapa jauh mau menjadikan ini sebagai sebuah profesi. 10 tahun ke depan, saya tidak yakin akan ada yang menggantikan saya, fotografer yang gila-gilaan ke lapangan untuk mengambil stok foto.

Nah, media sosial kan berkembang pesat, sehingga membuat buku tidak wajib saya yang potret. Bisa saja saya jadi produser atau pengamat, lalu membuat sistem dengan Memorandum of Undesrtanding (MoU) yang jelas menggunakan foto karya kawan-kawan fotografer alam liar di daerah.

Rencana bukunya dari konsep-konsep yang sudah terbayang, seperti ular atau burung Raja Udang. Setelah buku ketiga, saya sudah punya rencana melanjutkan dengan konsep tentang primata. Dari 52 jenis primata di Indonesia, saya sudah punya 28 di antaranya. Tetapi tidak wajib juga harus lengkap semuanya. Ini kan proyek idealis. Kalau menunggu sampai lengkap, kapan lagi? Nanti keburu tidak cukup umur, biaya, dan tenaga untuk mengumpulkan semuanya.

Untuk proyek buku burung Raja Udang, ada beberapa teman di Indonesia Barat yang sudah saya tarik foto-fotonya. Saya megang Indonesia Tengah. Dari 47 atau 49 spesies Raja Udang, saya sudah ada setengahnya. Tinggal fotografer di wilayah Timur yang belum mengirim foto. Saya juga lagi menantang, siapa yang bisa desain bukunya.

Orangutan_Kalimantan

Orangutan Kalimantan karya Riza Marlon 

Nanti sistem honor para kontributor seperti apa?
Saya tidak main uang. Misalnya, sebuah foto saya hargai, sebut saja Rp 500 ribu. Saya akan tulis nama fotografernya. Dia dapat fee satu buku tiap satu foto. Lalu, misalnya harga jual buku Rp 250 ribu, maka dia akan mendapatkan tambahan dua buku senilai Rp 500 ribu.

Apakah Anda tidak merasa terancam jika ada semakin banyak fotografer satwa liar?
Saya inginnya masyarakat ada pilihan. Misalnya ada fotografer A dan B membuat buku dengan judul sama. Biar publik yang menilai mana yang bagus dan mana yang dia perlu. Jangan seperti buku saya yang cuma semata wayang.

Saya sebenarnya tidak suka, karena tidak punya saingan. Sehingga saya tidak terpacu untuk lebih gila lagi. Ibaratnya berkendara di jalan tol, ngapain saya tancap gas, toh tidak ada yang mau nyusul. Kita pun jadi tidak tahu, apakah kita berjalan pelan atau kencang.

Obesesi lain saya adalah memperkaya dunia satwa dalam bentuk gambar pada berbagai media. Saya juga bikin kaos, mug, dan macam-macam media. Itu juga salah satu support saya untuk travel sampai sekarang. Mungkin ada publik yang tidak suka baca buku, tetapi lebih suka pakai kaos. Mereka juga bisa beli mug, atau pin. Ada yang mencontoh tidak apa-apa. Saya malah lebih terpicu lagi. Ketimbang melakukannya sendirian.

Maleo_Sekanwor

Maleo Sekanwor karya Riza Marlon

Lengkapi peralatan foto Anda dengan Empat Lensa Baru Sigma untuk Segala Kebutuhan

0 comments