NOW READING

Rini Sugianto, Sang Animator The Avengers Asal Indonesia

 118
+
 118

Rini Sugianto, Sang Animator The Avengers Asal Indonesia

by The Daily Oktagon
  • Berawal dari membuat 3D untuk bangunan, Rini menjajal dunia animasi.
  • Perkembangan teknologi digital telah membawa dunia animasi yang awalnya dalam bentuk 2D hingga sekarang menjadi 3D dengan bentuk yang lebih nyata.
  • Dalam pembuatan animasi, Rini mengatakan software yang lebih stabil sangat dibutuhkan agar pengerjaan tidak mengalami hambatan.

Nama Rini Sugianto adalah nama yang mengharumkan dunia animasi Indonesia berkat karya-karyanya di dunia perfilman internasional. Hasil kreasinya dapat dilihat di film-film seperti The Avengers, The Adventure of Tintin, The Hobbit: An Unexpected Journey, Iron Man 3, hingga The Hunger Games: Catching Fire.

Setelah lulus dari program pascasarjana Academy of Art University San Fransisco dan sempat bekerja di Weta Digital, Selandia Baru, kini Rini mantap menetap di Amerika Serikat untuk melanjutkan karier animasinya. Simak pembicaraan The Daily Oktagon bersama Rini Sugianto tentang dunia animasi dan penggunaan teknologi digital di dalamnya.

Bisa ceritakan awalnya Anda bisa menyukai dunia animasi ini?

Saya terjun ke dunia animasi sebenarnya agak tidak direncanakan. Buat saya ini merupakan sebuah proses yang dinamis. Setelah lulus dari jurusan arsitektur Universitas Parahyangan, saya mulai belajar 3D yang lebih fokus ke arah bangunan.

Dari sinilah saya mulai mempelajari lebih lanjut bidang 3D ini, yang kemudian memperkenalkan saya ke dunia animasi. Setelah mencoba mempelajari animasi, saya mulai merasakan di sinilah passion saya yang sesungguhnya.

Pengalaman berharga yang Anda rasakan selama menjalani karier sebagai animator di luar negeri?

Ada banyak sekali, salah satunya bagaimana bekerja di perusahaan yang besar dengan pegawai ribuan dan berasal dari mancanegara. Saya juga belajar banyak tentang apa saja yang terlibat dalam pembuatan film-film besar berskala Hollywood ataupun internasional.

Apa yang menjadi hal yang paling menantang dengan menjadi seorang animator?

Membuat penonton percaya kalau karakter di film tersebut benar benar hidup. Di dunia visual efek, seorang animator harus bisa menggerakkan karakter tersebut, sampai penonton tidak bisa membedakan mana yang peranan aktor dan mana yang hasil kreasi CGI.

Selain itu, industri animasi ini sangatlah kompetitif dan saingannya dari berbagai macam latar belakang. Kualitas animator-animator baru juga terbilang menyegarkan dan bisa bersaing dengan pemain lama.

Seorang animator harus memiliki mata yang jeli terhadap detail animasinya dan juga sense of timing. Kedua hal inilah yang paling fundamental.

Simak profil Pinot, si pembuat trailer Star Wars berbekal komputer “jadul”.

Proyek apa yang paling berkesan selama Anda menjadi animator?

Film The Adventures of Tintin salah satunya karena inilah proyek film pertama saya. Namun, film The Hobbit menjadi salah satu proyek paling besar yang pernah saya kerjakan.

Sejauh mana peran serta perkembangan teknologi saat ini dalam mengembangkan dunia animasi?

Dulu sebelum teknologi berkembang seperti sekarang, animasi dimulai dengan 2D dan gambar seperti yang terdapat di film-film keluaran Disney. Sekarang semuanya ke arah digital, hasilnya seperti memberikan kehidupan atau nyawa ke dalam karakter animasi.

Pembuatannya lebih kompleks memang, tapi berkat perkembangan teknologi ini animator sekarang lebih memiliki ruang gerak untuk berimajinasi lebih jauh lagi.

Bagaimana Anda sendiri memanfaatkan perkembangan teknologi digital ini untuk membantu pekerjaan?

Dengan memanfaatkan advanced software dan tool yang tersedia. Hal ini jelas akan membantu animator untuk bekerja lebih cepat.

Film animasi Tintin yang melibatkan Rini

Sedang cari laptop untuk desain? Intip artikel ini.

Peralatan atau gadget apa saja yang paling mendukung Anda dalam bekerja?

Hal yang terpenting adalah sebuah komputer dengan spesifikasi mumpuni untuk mendukung software-software yang digunakan, terlepas apapun mereknya. Untuk pekerjaan animasi saya banyak menggunakan Autodesk Maya dan juga perangkat Wacom.

Ada alasan khusus kenapa memilih perangkat tersebut?

Selain untuk mempermudah pekerjaan, bagi saya Wacom juga sangat membantu untuk menghindari cedera seperti carpal tunnel (sebuah sindrom yang berkaitan dengan aktivitas pergelangan tangan).

Aplikasi-aplikasi apa saja yang Anda gunakan untuk berkarya?

Maya adalah salah satu software yang paling banyak digunakan untuk pembuatan animasi. Fitur-fiturnya lengkap dan pengoperasiannya juga cukup intuitif. Sementara itu, untuk mereview hasil animasinya saya terbiasa menggunakan RV atau Quicktime.

Baca juga: Tsamara Amany, Memaksimalkan Teknologi dalam Berpolitik

Inovasi teknologi digital apalagi yang diharapkan hadir agar semakin memudahkan Anda berkarya?

Mungkin untuk bentuknya saya belum terbayang apa yang saya harap hadir, tapi mungkin yang paling penting adalah terciptanya software yang lebih baik dan stabil agar pengerjaan animasi tidak terhambat.

Satu lagi, saya juga berharap adanya universal tool yang bisa membantu sekaligus mempermudah dalam pembuatan sebuah animasi.

Berawal dari 3D untuk membuat bangunan, Rini Sugianto mencoba mengembangkan dirinya di dunia animasi yang ternyata menjadi passion-nya. Sampai saat ini Rini telah terlibat dalam proses produksi animasi game hingga film-film di Hollywood. Sebuah karier yang membanggakan!

0 comments