NOW READING

Realisasi Smarthome yang Semakin Nyata di Era Internet of Things

 2327
+
 2327

Realisasi Smarthome yang Semakin Nyata di Era Internet of Things

by The Daily Oktagon

Bagaimana perkembangan realisasi teknologi smarthome pada 2016? Jika melihat dari Consumer Electronics Show (CES) 2016 di awal Januari ini, sepertinya akan lebih menjanjikan. Berbagai produsen teknologi meluncurkan berbagai produk yang berkenaan dengan smart home di ajang elektronik dan teknologi yang disebut sebagai terbesar di dunia tersebut.

Dari sisi konsumen, sambutannya pun terlihat baik. Dalam survei yang diadakan agen property Coldwell Banker di Amerika Serikat misalnya, dari 4.000 lebih partisipan yang 45 persennya menyatakan rencana investasi, atau memiliki teknologi smarthome sebelum 2016 berakhir. Dan keinginan itu tidak hanya datang dari konsumen yang memang pemerhati teknologi. Sekitar 36 persen dari konsumen yang menginginkan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) itu mengaku awam teknologi.

Kali ini, The Daily Oktagon mengajak Anda untuk menggali sejauh mana realisasi smarthome yang semakin nyata di era Internet of Things. Yuk, simak artikel berikut.

Kendali Suara hingga Non Antre

Maka tak heran jika berbagai teknologi smarthome semakin gencar bermunculan. Di ajang CES, kehadiran produk smart home berbasis kendali suara (voice control) oleh beberapa produsen besar menjadi salah satu perhatian utama. Kesuksesan Amazon Echo, smart speaker yang dilengkapi layanan cloud-based voice yang sudah hadir sebelumnya, membuat produsen lain mulai tertarik.

shutterstock_120247552

Alarm.com, lewat Amazon Echo, sudah memungkinkan penghuni rumah untuk mengendalikan pencahayaan lewat perintah suara. Sementara LG meluncurkan Smart ThinQ Hub, alat yang berfungsi sebagai gateaway untuk sensor pintar dan berbagai produk elektronik rumah seperti mesin cuci, oven, dan mesin pendingin ruangan.

Perkembangan teknologi smarthome saat ini juga tidak hanya dapat dirasakan saat pengguna berada di dalam rumah. Vinli, anggota baru daru program developer Icontrol, di ajang yang sama juga memperkenalkan aplikasi Vinli Home Connect yang memungkinkan pengguna dapat menghubungkan rumah pintar dengan mobil pintar. Contohnya saja, ketika mobil meninggalkan rumah, akan ada notifikasi bagi rumah untuk menghidupkan lampu dan sistem keamanannya.

shutterstock_274969298

Sementara untuk urusan belanja di supermarket, 2016 diperkirakan menjadi tahun konsumen akan lebih sering meninggalkan dompetnya di rumah. Teknologi Near-Field Communications atau NFC, dikenal juga sebagai teknologi saling mendekatkan perangkat untuk mengirim-menerima data diperkirakan lebih banyak diadaptasi oleh peritel. Didukung oleh berbagai aplikasi mobile payment dan kehadiran terminal pembayaran para merchant, konsumen cukup membawa smartphone saat berbelanja.

Manufaktur ATM Diebold, pada awal tahun ini meluncurkan konsep checkout mandiri di smartphone yang memungkinkan pembeli menggunakan perangkat mobile untuk memindai barang yang ingin dibeli saat berbelanja di toko. Pada akhirnya, pembeli dapat melakukan check out di terminal mandiri Point of Sales lewat teknologi NFC.

“Konsep ini membuat pembeli dapat melakukan scan barang yang ingin dibeli lewat mobile device. Dan ketika sudah siap untuk mebayar, hanya cukup mendekatkan smartphone ke unit checkout mandiri yang tersedia,” kata Diebold. Dengan adanya teknologi ini, maka pemandangan tradisional orang mengantri di kasir bisa perlahan hilang.

Mau tahu lebih banyak soal IoT? Yuk, baca ulasan berikut, Dinamika Inlfuencer di Tengah Perkembangan Internet of Things

Kerikil Smarthome

Kendati teknologi smarthome perlahan tapi pasti semakin banyak digunakan, berbagai tantangan masih menghadang. Survei dari Support.com kepada lebih dari 3.000 konsumen di Amerika misalnya, memperlihatkan bahwa 1 dari 3 pemilik sistem smarthome saat ini masih mengalami kesulitan akan rumitnya menyiapkan, mengkonfigurasikan, dan dukungan perawatan yang konsisten.

Survei juga memperlihatkan, antara pemilik perangkat rumah pintar dan pembeli potensial, terdapat perbedaan antara kebutuhan dan keinginan pembeli awal. Pembeli potensial ini cenderung lebih makmur secara ekonomi dan lebih awas teknologi, berhadapan dengan mayoritas konsumen yang lebih melihat nilai ekonomis untuk membeli, dan memerlukan perawatan pelanggan yang lebih komprehensif.

shutterstock_223532569

42 persen pemilik smarthome yang disurvei misalnya menyatakan, perangkat rumah pintar terlalu mahal, termasuk ongkos perawatannya. Jumlah ini naik menjadi 67 persen dari potensi pembeli baru untuk perangkat rumah pintar.

Sementara itu, lebih dari sepertiga atau 37 persen dari pemilik menginstal semua perangkat rumah pintar mereka sendiri, dan 61 persen dari pemilik ingin memperbaiki masalah sendiri. Adapun 43 persen pembeli potensial bersedia membayar tenaga instalasi profesional. Jadi, penggunaan smarthome akan semakin cepat, namun relatif masih akan menemui sedikit kerikil di tahun ini.

Nah, Anda termasuk yang mana? Semoga ulasan di atas dapat menginspirasi Anda untuk menjalani gaya hidup digital agar semakin mudah.

Simak artikel berikut untuk Anda yang ingin menambah pengetahuan mengenai update dunia digital di 2016

0 comments