NOW READING

Pusat Riset Apple di Indonesia. Ada manfaatnya?

 1669
+
 1669

Pusat Riset Apple di Indonesia. Ada manfaatnya?

by The Daily Oktagon
Sumber foto utama: plo3
  • Apple disebut bakal membangun pusat riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia pada 2017 mendatang.
  • Dampaknya diperkirakan tidak akan sampai memengaruhi harga jual iPhone di Indonesia
  • Pusat riset akan membuka potensi besar bagi sektor TIK Indonesia

Anda penggemar iPhone? Rasanya harus menyimak artikel ini. Berawal dari kebijakan mengenai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk ponsel 4G yang saat ini tengah digalakkan pemerintah.

Tujuannya tak lain adalah menumbuhkan industri Teknologi, Informatika, dan Komunikasi (TIK) dan menutupi kesenjangan digital di Indonesia.

TKDN pun sudah disahkan dengan beberapa ketentuan. Para vendor harus memenuhi aspek manufaktur (70%), aspek riset dan pengembangan atau R&D (20%), serta aspek aplikasi (10%). Terhitung per 1 Januari 2017, semua smartphone yang masuk ke Indonesia wajib memenuhi seluruh aspek tersebut.

Tanpa terkecuali iPhone, salah satu smartphone premium yang cukup mendapat tempat di hati para konsumen Indonesia. Menjawab aturan ini, perusahaan yang didirikan oleh mendiang Steve Jobs ini disebut segera membuka pusat R&D di Indonesia. Tanpa ini, tak akan ada iPhone yang ‘lolos’ masuk ke sini.

Profil smartphone flagship iPhone7 bisa disimak di sini

Konfirmasi Pemerintah

Meski sempat molor, toh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) pun akhirnya memastikan bahwa raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) ini siap membangun pusat R&D di Indonesia pada 2017 mendatang.

“Apple sekarang tengah mengurus perizinan,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara beberapa waktu lalu.

iOS Developer Academy pertama di Italia (Dok: Apple Newsroom)

iOS Developer Academy pertama di Italia (Dok: Apple Newsroom)

Pria yang karib disapa Chief RA bahkan mengancam bahwa Apple tak boleh memasarkan produknya di Indonesia jika tidak membangun pusat R&D. “Pusat R&D harus ada di 2017, jika tidak mereka tidak boleh dagang di Indonesia beberapa waktu lalu,” tegasnya.

Sementara menurut Kementerian Perindustrian, Apple akan menginvestasikan dana sebesar US$ 48 juta atau setara Rp 626,7 miliar selama tiga tahun untuk membangun tiga pusat pengembangan industri software.

Lalu, apa keuntungannya bagi pasar Indonesia? Benarkah akan menurunkan harga jual iPhone yang selama ini dicap sebagai ponsel dengan harga selangit? Padahal di Indonesia, pasarnya masih kalah pamor dengan ponsel Android.

iPhone sendiri dipasarkan di Tanah Air dengan harga beragam, tergantung kapasitas memorinya. Harga model-model terbaru tak pernah dipatok di bawah Rp 5 juta.

Menurut Pengamat Telematika, Ridwan Effendi, pembangunan pusat R&D ini tidak akan berdampak besar terhadap konsumen di Indonesia. Harga jual iPhone tidak akan terlalu terpengaruh mengingat hal itu biasanya dikendalikan langsung dari perusahaan.

“Dampak positifnya, bagi end-user, mungkin akan ada banyak aplikasi khas Indonesia yang dapat dikembangkan,” ungkap Ridwan.

Tamu mencoba Touch Bar terbaru MacBook Pro (Dok: Apple Nowsroom)

Tamu mencoba Touch Bar terbaru MacBook Pro (Dok: Apple Nowsroom)

MacBook Air vs Xiaomi Mi Notebook Air, mana lebih unggul? Jawabannya ada di sini

Berkah Industri TIK

Kendati begitu, lanjutnya, kehadiran pusat riset perusahaan yang memiliki pendapatan US$215,6 miliar pada 2015 ini akan membuka lapangan kerja yang sangat luas bagi tenaga-tenaga TIK Indonesia. Mereka dapat berkontribusi untuk mengembangkan sektor TIK di Indonesia yang sering dianggap jalan di tempat.

“Tenaga kerja kita bisa ikut mengembangkan industri hardware, software, dan aplikasi,” ungkap Ridwan yang juga Seketaris Jenderal Pusat Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB kepada The Daily Oktagon.

Jika mengacu data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Seluruh Indonesia (APJII), Indonesia mengantongi 132,7 juta pengguna internet di 2016. Jika ditambah dengan jumlah pengapalan smartphone ke Indonesia yang mencapai 6,5 juta unit, artinya Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan aplikasi dan produk TIK lainnya.

(Dok: Apple Newsroom)

(Dok: Apple Newsroom)

Setiap tahunnya, di Indonesia terdapat kurang lebih 200 ribu lulusan TIK. Kehadiran Apple dan kawan-kawannya akan mampu menyerap tenaga-tenaga TIK yang kompeten. Sektor TIK Indonesia dapat tumbuh dengan sendirinya.

Ridwan menambahkan, jika memungkinkan, Apple dapat membuka pabrik agar iPhone dapat diproduksi di sini. Perlu diketahui, saat ini saja, perusahaan yang berdiri sejak 1976 ini masih memproduksi smartphone-nya di Tiongkok.

“Nah kalau ini (membuka pabrik) jelas, bukan hanya penyerapan tenaga kerja saja, tapi pengurangan defisit perdagangan kita,” tambahnya.

Berkah atau tidaknya dengan adanya pusat riset Apple di Indonesia, tentu masih menunggu waktu. Jika berkah tersebut benar adanya lewat penyerapan tenaga kerja yang dapat mengembangkan sektor TIK, kehadiran pusat ini tentu patut ditunggu.

Kalau yang ini tentang Apple Watch dan “obsesinya” merebut pasar jam tangan konvensional

0 comments