NOW READING

​Alamanda Santoso​: Sukses Itu Bermanfaat untuk Orang Lain

 2287
+
 2287

​Alamanda Santoso​: Sukses Itu Bermanfaat untuk Orang Lain

by The Daily Oktagon
  • Namanya Alamanda Santoso. Ia dikenal sebagai Vice President of Technology Product di PT Go-Jek Indonesia (Go-Jek), dan kini mengurus divisi bernama People’s Journey.
  • Alasannya bergabung dengan Go-Jek adalah untuk belajar dan menyerap isi otak sang pendiri, Nadiem Makarim. “Itu saja. Tak lebih,” tandas Ala, panggilan akrab Alamanda.
  • Ala berpesan, kalau kerendahan hati dan keinginan untuk terus belajar bisa membawa seseorang lebih dekat dengan apa yang ingin dicapai. Selain itu, selalu usahakan diri kita berguna untuk orang lain.

Sudah jadi rahasia umum kalau bidang teknologi dan informasi identik dengan pria. Dominasi itu makin kentara bila ruang lingkupnya dikerucutkan ke coding atau programming.

Hal ini, disadari atau tidak, juga sudah terlihat tanda-tandanya sejak di bangku kuliah, misalnya, di jurusan ilmu komputer. Mahasiswi jurusan ilmu komputer–dan jurusan lainnya yang linear–biasanya jauh lebih sedikit ketimbang mahasiswa di bidang lain. Bahkan dalam satu kelas mungkin bisa dihitung dengan jari.

Stereotip ini pun berlanjut di lapangan kerja, tak terkecuali di Silicon Valley, Amerika Serikat, sebagai tempat di mana perusahaan-perusahaan teknologi dunia berada. Di antara perusahaan terbaik di sana seperti Facebook, Google, Twitter, dan Apple, partisipasi wanita hanya ada di kisaran 30 persen.

Pada tataran peran yang lebih teknis, angka itu makin mengecil. Di Twitter, contohnya, peran teknis yang dimainkan wanita hanya 10 persen.

Terlepas dari itu semua, barangkali kita juga bisa bernapas lega mengingat kini kian lazim wanita yang menjalankan peran vital di perusahaan teknologi. Sebut saja Sheryl Sandberg yang menjabat sebagai COO di Facebook, Marissa Mayer yang menjadi CEO di Yahoo, serta Megan Whitman yang menjalankan dua peran sekaligus sebagai Presiden dan CEO di Hewlett-Packard Enterprise dan Chairwoman di HP Inc.

Simak pula cerita tentang kiprah para wanita di bidang teknologi di Indonesia lewat Girls in Tech

Lantas bagaimana kondisinya di Indonesia? Tidak jauh berbeda, sepertinya. Berkenaan dengan hal ini, The Daily Oktagon berkesempatan berbincang dengan Alamanda Shantika Santoso, Vice President of Technology Product di PT Go-Jek Indonesia (Go-Jek).

Ala, demikian sapaan akrabnya, merupakan orang yang bertanggung jawab langsung terhadap segala produk teknologi yang ada di Go-Jek. Belakangan ia mulai mengurus divisi baru Go-Jek yang bernama People’s Journey.

Seperti apa obrolan kami dengan Ala? Apa yang menjadi motivasi dan inspirasinya? Serta apa makna sukses bagi dirinya? Simak wawancaranya berikut ini.

Mengapa tertarik dengan dunia coding atau programming yang lazimnya digeluti pria?

Dari kecil saya suka desain dan gambar. Berawal dari gambar di kanvas, lalu beralih ke Photoshop di komputer. Sejak saat itu saya mulai suka membuat banyak desain. Karena kebetulan saya suka ngulik komputer juga, setelah desainnya jadi, saya membuat blog.

Tapi blog zaman dulu beda sama blog sekarang. Setelah desain blog saya jadi, saya berpikir blog ini harus dijadikan situs web. Sejak saat itu saya mulai belajar coding. Waktu itu usia saya baru 14 tahun.

Berlanjut di bangku kuliah, selain Matematika, saya menyenangi Komputer. Di Kampus saya juga kebetulan memang ada program double degree. Teman-teman kuliah saya kemudian tahu saya memahami coding, mampu mendesain, dan bisa membuat situs web.

Ini jadi pintu gerbang bagi saya untuk terjun lebih dalam ke dunia teknologi. Waktu itu saya pernah menjalankan startup sendiri namanya Pen Tool Studio, tempat saya dan tim menggarap berbagai proyek situs web.

Waktu itu Go-Jek belum sebesar ini. Apa yang mendorong Anda berlabuh ke Go-Jek?

Nadiem Makarim (Chief Executive Officer di Go-Jek) bukan sosok asing bagi saya. Saya sudah lama mengenal Nadiem. Kemudian ada Rama Notowidigdo (Chief Product Officer di Go-Jek), yang saya kenal sejak di Kartuku. Nadiem pun pernah bekerja di Kartuku. Jadi kami memang sudah saling kenal sebelum di Go-Jek.

Selain itu saya tahu persis Nadiem Makarim yang pernah menjadi Managing Director di Zalora Indonesia sudah lumayan terkenal di dunia startup. Saat di Kartuku saya melihat sosok Nadiem memang brilian. Nadiem sangat paham bagaimana cara membangun sebuah produk yang bagus.

Jadi bisa dibilang, motif saya berlabuh ke Go-Jek pada mulanya hanya untuk belajar ke Nadiem. Itu saja, tak lebih. Apa yang ada di dalam pikiran saya waktu itu adalah, pokoknya saya harus bisa serap isi otak dia.

Yang tak kalah penting, kami punya cita-cita yang sama: Kami ingin membangun Indonesia, kami ingin membantu orang lain.

Baca juga tentang perkembangan transportasi via layanan online menurut para pakar

alamanda santoso gojek

Apa hal paling menantang selama menjalankan peran ini?

Tantangan? Sebenarnya saya sangat senang menjalankan peran ini. Waktu itu, ketika masa-masa awal kami membuat aplikasi Go-Jek, server kami error. Coba bayangkan, sekelas Pokemon saja server-nya bisa error, apalagi server kami saat itu.

Permasalahannya, waktu kami merencanakan pembuatan aplikasi ini, kami tidak mengira aplikasi ini diunduh sebanyak itu dalam waktu singkat. Jadi saat itu server kami memang tidak kuat. Ibaratnya, kami naik bemo, tapi dituntut harus melaju 200 kilometer per jam. Itu tantangan pertama, istilahnya scalability.

Setelah saya belajar bagaimana menangani server yang error atau bug di aplikasi, tantangan terberat lainnya ternyata orang-orang di tim. Karena dulu tim saya masih tergolong kecil, saya masih bisa memantau anggota tim satu per satu.

Kalau di tim besar, masalah di anggota tim makin banyak. Yang saya tangani bukan lagi masalah teknis seperti bug, melainkan curhat anggota tim. Setiap hari ada saja yang bilang ke saya, “Mbak, mau curhat dong.” Pokoknya kekeluargaan kami sangat kuat.

Bukan hanya itu, banyak pula anggota tim saya yang bertanya tentang career path saya setelah di Go-Jek mau ke mana. Mereka itu Generasi Y, sehingga cara berpikir dan tantangan yang ingin mereka peroleh sangat beda dengan generasi-generasi sebelumnya. Dulu orang kerja cuma buat ngasih makan anak-anaknya, tapi sekarang kan beda.

Hal lain yang juga saya pelajari adalah, secara tidak langsung saya mempelajari psikologi orang-orang. Misal memetakan faktor psikologi pengguna aplikasi supaya mereka kembali menggunakan aplikasi. Itu kan kaitannya langsung ke otak.

Sama halnya seperti bagaimana caranya orang suka masuk ke Instagram atau Facebook. Saya juga jadi belajar bagaimana memberi perlakuan yang tepat ke mereka. Si A harus diberi perlakuan begini, si B harus diberi perlakuan begitu, dan sebagainya.

Berapa orang bawahan Anda?

Ada 130 orang. Career path mengantarkan saya ke divisi People’s Journey.

Apa yang Anda lakukan di divisi tersebut?

Lebih ke experience orang-orang yang ada di dalam Go-Jek, karyawan Go-Jek. Karyawan Go-Jek sekarang sudah mencapai ribuan orang dalam waktu satu tahun. Saya kemarin berpikir apakah mereka betul-betul paham Go-Jek itu hatinya seperti apa, karena saya selalu bilang, “This company is built by heart.” Kalau di dalam Go-Jek tidak ada hati, Go-Jek tidak akan tumbuh secepat ini.

Sejak awal kami mendirikan perusahaan ini bukan hanya untuk bisnis semata, namun juga untuk Indonesia. Ini kepercayaan yang kami pegang erat. Ini pula yang membuat kami bergerak cepat.

Jadi misalnya ketika server sedang error, yang dipikirkan itu bukan soal bos marah-marah, melainkan ada ratusan ribu mitra driver yang menunggu server kami normal supaya bisa terima order dari customer.

Kami paham betul, bagi mitra driver, uang seratus ribu betul-betul berharga. Karena itu, mindset kami adalah kami bekerja bukan untuk bos kami, melainkan untuk ratusan ribu mitra driver kami di seluruh Indonesia.

Ikuti juga kisah figur perencana keuangan wanita Ligwina Hananto

Siapa role model Anda dalam menjalani karier?

Nadiem dan Rama. Itu kalau yang orangnya riil ada di dekat saya. Kalau role model lainnya, Pak Habibie dan Pak Anies Baswedan. Kalau di luar negeri, lumayan banyak profesor-profesor di Amerika Serikat yang saya kagumi semisal Daniel Pohlman dan Daniel Siegel.

nadiem makarim gojek alamanda santoso

Nadiem Makarim, CEO dan Founder Go-Jek, salah satu figur panutan Alamanda.

 

Ada juga role model lainnya, orang Tiongkok yang pernah kerja di Google, bisa dibilang early engineer di Google. Namanya Chade-Meng Tan. Dia bikin World Peace Department di Google. Career path dia mirip seperti saya.

Dia bekerja di departemen itu memang betul-betul ingin bring the happiness to all employee di Google. Hal serupa juga saya lakukan saat ini sekarang, keliling ke seluruh Indonesia membawa Go-Jek happiness story.

Menurut Anda, apa risiko terbesar kerja di startup teknologi?

Risiko sebenarnya justru ada pada orang-orang di dalam startup itu sendiri. Di saat kita dapat investasi besar, tantangannya ada di dalam diri kita. Di titik itu kita dituntut bisa tetap jalan ke satu kepercayaan yang sama.

Saya dengar dari orang-orang yang dapet investasi, investor itu pasang goal gila-gilaan. Kadang kita suka lupa untuk punya mindset, “Ayo ini kita mesti capai goal investor.” Mau tidak mau harus begitu, karena si investor yang punya uangnya.

Ibaratnya kita cuma pembantu. Sekali lagi yang penting adalah bagaimana caranya kita tetap tahu persis benang merah kita apa. Pokoknya balik lagi ke benang merah.

Apa pendapat Anda tentang perilaku digital orang Indonesia saat ini, mengingat jaringan 4G sudah menyelimuti banyak kota di Indonesia?

Teknologi betul-betul adiktif, nagih banget. Saya sendiri korban teknologi sebenarnya. Bisa dibilang, dalam satu hari, saya pegang ponsel dua per tiga hari.

Faktanya kalau notifikasi masuk ke ponsel kita, misalnya “You’ve been tagged by someone” di Facebook, otomatis kita klik notifikasi itu. Niat awal cuma buat cek notifikasi, akhirnya tanpa terasa kita buka home dan scroll linimasa sampai 15 menit mungkin setidaknya.

Lantas seharusnya bagaimana?

Ini bukan hanya bicara kondisi di Indonesia ya. Sebenarnya, secara global, tugas berikutnya dari teknologi adalah bagaimana caranya teknologi bisa memperbaiki kualitas seseorang. Makin banyak jaringan 4G masuk ke kota-kota di Indonesia, ya itu jauh lebih bagus.

Dulu saya bikin satu situs web bisa dapat Rp10 juta, meski pengerjaannya bisa makan waktu sebulan. Kenapa coba saya bisa dapat itu? Karena saya tahu teknologi.

Makanya, mungkin kalau jaringan 4G makin menyebar ke desa-desa, makin banyak orang tahu teknologi, sehingga peluang-peluang yang bisa dieksplorasi pun terbuka lebar.

alamanda santoso

Bagaimana Anda memandang kesuksesan?

Kesuksesan itu bagi saya berguna buat orang lain. Saya bahagia ketika melihat orang lain bahagia. Ada seorang rahib, namanya David. Dia bilang, bersyukur ketika mendapat hadiah adalah keliru.

Padahal seharusnya kita bersyukur dulu atas apa pun yang kita punya, niscaya kita akan bahagia. Apa pun yang kita dapat, ya bilang alhamdulillah. Bersyukurlah, pasti kita bahagia dari apa pun itu.

Ada pesan bagi mereka yang berencana atau sedang bergelut di startup teknologi?

Pesan saya, jangan berhenti belajar dari mana pun. Beberapa waktu lalu Go-Jek mengakuisisi perusahaan India. Langkah itu sebenarnya bukan untuk melumpuhkan programmer Indonesia, tapi kami justru membawa mereka yang sudah berpengalaman lebih banyak supaya kita bisa belajar dari mereka.

Selain itu, jangan cepat berpuas diri dan jangan sombong, keep humble. Waktu itu banyak berita menyebutkan programmer Indonesia sudah jauh lebih baik dari India.

Padahal kalau kita berpikir sehat, tidak bisa dimungkiri teknologi Indonesia masih jauh dibanding India dan Amerika Serikat. Mereka sudah membuat aplikasi seperti itu dari tahun berapa? Silicon Valley sudah muncul dari tahun berapa?

Terakhir, kita harus selalu merasa masih di bawah dan perlu belajar banyak dari siapa pun.

Baca juga tentang geliat industri digital kreatif di Yogyakarta berikut ini

0 comments