NOW READING

Produksi Film Dokumenter Kini: Dari DSLR Sampai Mirrorless

 6820
+
 6820

Produksi Film Dokumenter Kini: Dari DSLR Sampai Mirrorless

by The Daily Oktagon

Para pecinta film pasti tidak asing lagi dengan film-film bersinematografi apik serta indah seperti Black Swan, Rush, dan Drive. Masing-masing dari film itu punya genre dan dilukis oleh sutradara yang berbeda. Namun, ketiganya punya satu kesamaan yang mungkin tidak disadari oleh sebagian orang awam. Pasalnya, para sinematografer ketiga film tersebut; Matthew Libatique, Anthony Dod Mantle, dan Newton Thomas Sigel, sama-sama “melukis” tiap adegan menggunakan kamera DSLR.

Di industri film dokumenter, produksi dengan kamera DSLR juga bukan lagi sesuatu yang langka. Kamera DSLR jadi pilihan para pembuat film dokumenter, khususnya mereka yang mencari bujet produksi lebih terjangkau. Namun, bukan berarti penggunaan kamera DSLR menyurutkan kualitas film. Beberapa film dokumenter dengan DSLR terbukti berhasil di ajang penghargaan. Salah satu yang terkenal sukses adalah Hell and Back Again (2011), yang berhasil membawa pulang Grand Jury Prize dan Cinematography Prize di Sundance Festival 2011.

Dengan sederet kesuksesan di atas, jika sebelumnya produksi film dengan kamera DSLR hanya identik pada film indie berbujet minimalis saja, rasanya paradigma itu harus diubah. Faktanya, sudah banyak film berbujet besar dengan ansambel pemain kelas wahid memilih syuting menggunakan DSLR.

Regular_Image_-_Nikon_D90_-_Sumber_wikimedia.org_

Seperti yang Anda ketahui, DSLR pertama yang memiliki kapasitas untuk merekam video adalah Nikon D90 yang dirilis pada 2008. Meski baru hadir dengan kualitas 720p, tetapi gebrakan ini cukup penting bagi industri perfilman. Para pembuat film terpikat pada ringkas dan praktisnya kamera DSLR, sementara kualitas gambar yang dihasilkan juga masih bisa dinikmati. Dengan kamera yang mudah digenggam, juru kamera bisa bergerak dengan leluasa dan pindah lokasi tanpa terlalu repot. Selain itu, harga yang lebih ramah ketimbang kamera produksi film konvensional membuat DSLR semakin jadi pilihan. Budget bisa ditekan.

Dengan rampingnya kamera yang digunakan, maka akan berdampak pada peralatan penunjang syuting yang menjadi lebih ringan. Misalnya, dengan kamera DSLR, juru kamera tak perlu lagi menggunakan dolly berukuran besar untuk membuat shot-shot jauh dan tinggi. Hanya perlu dolly yang juga ramping tetapi sesuai kebutuhan kamera.

Regular_Image_-_Canon_Lens_Kit

Ketika bicara fleksibilitas, sinematografer pun akan mendapat banyak keuntungan mengambil gambar dengan banyaknya pilihan lensa yang bisa digunakan. Ia bisa menggunakan lensa 50 mm untuk merekam berbagai adegan; medium shot, close-up shot, dan over-shoulder shot. Untuk adegan-adegan yang membutuhkan frame luas, hanya cukup menggantinya dengan lensa 16 mm atau 16-35 mm. Sedangkan, lensa dengan jangkauan 70-200 mm bisa menyelamatkan shot-shot dengan bidikan jauh. Dari penjelasan itu, kita sudah bisa menyelesaikan berbagai adegan syuting dengan tiga lensa saja.

Melihat fenomena itu, banyak produsen kamera DSLR mengambil terobosan baru dan penting dalam pemutakhiran kualitas merekam video. Sedikit demi sedikit, fitur yang dimiliki kamera DSLR bahkan mulai bisa mendekati kamera keluaran Alexa atau Red yang lebih ‘serius’.

Lexy Rambadeta adalah salah satu videografer yang langganan memproduksi konten video jurnalistik dan film dokumenter dengan DSLR sejak 2011. Saat itu, DSLR benar-benar menjawab kebutuhan praktis dan ringkas yang dibutuhkan para pembuat film yang butuh mobilitas tinggi. Videografer memiliki keleluasaan untuk merekam video dan mengambil stills dengan kualitas yang jauh lebih baik dari camcorder. Namun, menurut Lexy, yang terpenting adalah produksi dengan DSLR bisa memberinya banyak pilihan lensa.

Dalam produksi film, DSLR juga memiliki berbagai teknologi mutakhir yang memudahkan pengambilan gambar. Bagi Lexy, fitur lensa autofokus dan perekam audio dengan kualitas baik adalah yang terpenting.

“Selain itu, teknologi lain seperti stabilizer dan fitur koneksi nirkabel dengan perangkat lainnya juga sangat berguna selama syuting. Plus, semakin lama durasi perekaman video secara terus-menerus juga semakin baik. Terakhir, bisa langsung terkoneksi ke internet,” tutur Lexy.

Ketika syuting menggunakan kamera DSLR, dua hal penting yang sangat diperhatikan oleh Lexy tak jauh dari steady shot dan perekaman audio. Steady shot adalah mode atau fitur yang dirilis oleh Sony untuk menstabilkan gambar yang diterima oleh sensor kamera.

Regular_Image_-_DSLR_Audio_Setup

Untuk perekaman audio, saat ini sudah banyak teknologi yang membuat kualitas suara jauh lebih baik ketika pertama kali fitur video pada DSLR diluncurkan. Misalnya, fitur Audio Level Dial, Audio Input Switch, dan Audio Level Switch yang memudahkan seorang pengguna mengatur kualitas audio yang ingin dihasilkan.

“Sayangnya, syuting dengan kamera DSLR itu punya satu kelemahan. Biasanya, hasil gambar bakal sangat jelek kalau kamera bergerak atau goyang dengan cepat atau tidak stabil,” kata Lexy yang menganggap tripod dan perekam audio sebagai dua alat wajib ada saat syuting dengan DSLR.FILMDOKUMENTERMIRRORLESS

Pada pertengahan 2014, kehadiran kamera mirrorless membuat Lexy berpaling dari DSLR. Pada era itu, kamera mirrorless rilisan Sony mulai beredar dan marak digunakan oleh para videografer di Indonesia. Setelah melewati berbagai pemutakhiran, akhirnya mirrorless bisa menyusul keunggulan yang dimiliki DSLR di produksi video. Selain hadir dengan ukuran lebih ringkas, ringan dan kualitas video yang lebih baik. Beberapa brand, seperti Panasonic, bahkan mulai merilis mirrorless dengan kemampuan merekam video berkualitas 4K di bawah US$1000.

“Dulu memang DSLR pilihan bagus, tapi sekarang saya lebih tertarik pada kamera mirrorless. Saya pakai salah satu kamera mirrorless dari Sony. Ukurannya kecil dan bisa dikantongi, jadi lebih gampang (dari DSLR) secara mobilitas dan tidak menarik perhatian,” ujar sutradara yang merilis film Upeti Untuk Punggawa, Nasi Basi Untuk Kawula tahun 2001 silam.

Regular_Image_-_DSLR_dolly_-_sumber_dslrvideoshooter.com_

Lexy, yang kini selalu menggunakan mirrorless saat syuting, menikmati berbagai fitur yang ditawarkan, seperti sensor full-frame, steady shot, dan fasilitas memonitor audio dengan earphone. Dengan begitu, ia bisa langsung mengontrol kondisi audio yang direkam langsung dari kamera. Sesuatu yang belum ia temui di kamera DSLR. Di sisi konektivitas, kamera mirrorless juga dilengkapi dengan fitur nirkabel (Wi-Fi dan NFC) yang memudahkan transfer materi syuting ke perangkat lain.

“Kekurangan yang saat ini ada di mirrorless itu masih mudah panas untuk pemakaian di outdoor,” tambah Lexy yang melihat DSLR sudah tidak lagi ideal untuk produksi film saat ini.

Seperti diungkapkan Lexy, kamera DSLR dan mirrorless punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari segi harga pun kedua jenis kamera digital ini sudah sangat kompetitif. Sehingga para sinematografer kini—termasuk pembuat dokumenter—dihadapkan pada pilih beragam yang tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan bujet.

Regular_Image_-_Panasonic_G7_4K

0 comments