NOW READING

Praktisi Kesehatan dan “Stetoskop” Digital ​Mereka

 3515
+
 3515

Praktisi Kesehatan dan “Stetoskop” Digital ​Mereka

by The Daily Oktagon
  • Dokter dan bidan semakin lekat dengan teknologi digital untuk mendukung profesinya
  • Memaksimalkan peran gadget, media sosial hingga akses jurnal ilmiah digital
  • Bicara tentang tren dokter dunia yang melakukan live streaming saat praktik

Kapan Anda terakhir berkunjung ke dokter? Jika jawabannya belum lama ini, mungkin Anda pernah “memergoki” dokter yang sesaat mengalihkan fokusnya ke smartphone atau tabletnya, ketika tengah melakukan konsultasi kesehatan.

Tentu jangan terburu-buru menilai dokter tersebut tengah tidak serius dengan pasiennya. Pasalnya, dokter pun kini sudah lekat dengan gaya hidup digital yang mendukung profesinya. Sebuah survey kecil dari Merck Manuals kepada 220 praktisi di Amerika Serikat misalnya, hampir semuanya setuju bahwa ketersediaan informasi kesehatan di mobile device mereka telah mengubah kedinamisan suasana tempat praktiknya dalam berbagai cara.

Dua dari tiga dokter peserta survey itu menyatakan menggunakan mobile device untuk mengakses informasi kesehatan lebih dari 10 kali dalam sehari. Maka mungkin saja berallihnya mata dokter dari pasien ke smartphonenya, karena sesungguhnya mereka tengah mencari informasi kesehatan yang lebih memadai.

Teknologi telah masuk hampir ke setiap sendi-sendi kehidupan manusia. Orang-orang dari berbagai bidang dan latar belakang, tak terkecuali bidang kesehatan, telah menjadi bagian dari pengguna teknologi. The Daily Oktagon pun berbincang dengan beberapa praktisi kesehatan, tentang gaya hidup digital mereka.

Dirga Sakti Rambe (Vaksinolog)

Selain untuk mengakses media sosial, browsing, dan email, Dokter Dirga yang merupakan vaksinolog pertama di Indonesia dan termuda di dunia ini juga menggunakan gadget untuk membaca kajian ilmiah. “Saya suka baca jurnal kedokteran, misalnya Medscape. Kadang-kadang buka YouTube,“ ujar dokter yang mengantongi titel Master di bidang Vaksinologi dari University of Siena, Italia itu.

kesehatan

Dirga Sakti Rambe (sumber: akun IG @dirgarambe

Dokter yang aktif di Twitter dengan nama akun @dirgarambe ini mengaku, dalam sehari ia bisa menggunakan gadget selama 2-3 jam. Ia sendiri sudah melayani “konsultasi” kesehatan via Twitter sejak 2011.

Tak heran jika ia tidak terlalu “tabu” dengan dampak teknologi terhadap dunia kedokteran saat ini, termasuk tren dokter di Barat yang mengunggah video, bahkan live streaming, ketika melakukan praktik. “Boleh-boleh saja selama tidak melanggar privasi pasien. Karena kerahasiaan pasien wajib dijaga,“ tutur dokter yang merupakan co-founder dan Chief Medical Officer VAXI, penyedia layanan vaksin profesional.

Penasaran, kami pun bertanya apakah ia tertarik untuk melakukan hal serupa? “Sampai saat ini belum terpikir untuk membuat itu. Tapi dalam waktu dekat saya akan buat vlog (video blog) tentang vaksin,“ pungkas dokter pengguna Samsung Galaxy S4 ini.

Bagaimana hubungan antara mahasiswa kedokteran dan kehidupan digital? Simak artikelnya  

I Made Cock Wirawan (Dokter Umum)

Bagi Dokter Made, dunia digital bukan hal yang asing. Ia adalah orang dibalik situs blogdokter.net dan akun Twitter @blogdokter. Kedua media sosial itu sudah ia asuh sejak 2007. Maka tak heran jika dalam kesehariannya ia menggunakan berbagai gadget untuk mendukung kelancaran profesinya.

Laptop merupakan perangkat teknologi yang sering ia gunakan. Namun, saat mobilitasnya tinggi, ia lebih sering menggunakan smartphone. “Saat mobile saya suka pake smartphone, sedangkan saat banyak yang harus diketik, saya pake laptop,“ jelasnya.

Laptop pula yang menjadi pilihan utama saat menulis di blog, “Lebih nyaman pakai laptop,” jawab dokter yang pernah meraih Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Award ini dengan singkat.

Mengenai aktivitas di media sosial, Made mengaku tak terlalu membatasi waktu berapa lama atau kapan ia membuka media sosial. “Yang jelas, kalau ada waktu senggang, saya buka media sosial,“ papar dokter yang tinggal di Tabanan, Bali ini.

kesehatan

Yunita Syarah (Bidan)

Berbeda dengan dua dokter di atas, Yunita Syarah gemar menggunakan lebih dari satu macam gadget. Selain smartphone, ia aktif menggunakan pemutar musik, kamera, juga laptop tentunya.

“Smartphone buat saya yang paling penting. Bukan sekadar untuk komunikasi, tapi juga saya gunakan untuk memotret, merekam, beraktivitas di dunia maya, main game, dan aktivitas lainnya. Semua yang saya perlukan, ada di smartphone,“ jelas pengguna iPhone dan kamera Canon ini.

Berbicara soal frekuensi penggunaan gadget, ia mengaku tak terlalu memerhatikan seberapa sering ia menggunakannya. “Hmm, paling sering sih pake gadget buat chatting, akses media sosial, sama buka jurnal kedokteran dan kebidanan,“ ujar peraih predikat cum laude dari Jurusan Kebidanan, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran tersebut.

Layaknya orang yang besar dalam generasi 90-an, Yunita suka menjajal beragam layanan di internet. Ia suka baca berita terkini di media online, hingga streaming musik dan TV. “Kalau ada waktu masih suka nulis di Tumblr, sama upload lagu di SoundCloud,“ papar wanita yang pandai bermain gitar dan piano ini.

Kalau tompi, dokter yang pandai bernyanyi dan memotret. Simak tentang album barunya di sini

kesehatan

Menanggapi tren dokter di Amerika Serikat yang melakukan video streaming atau mengunggah videonya ketika praktik, Yunita yang tak sungkan melayani konsultasi melalui aplikasi messaging sejak 2008 ini justru menganggapnya sebagai hal yang lumrah.

Hal seperti itu menurutnya sudah diterapkan sejak dirinya duduk di bangku kuliah, dan berlanjut ketika ia bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta. “Saya juga menerapkan hal serupa (video streaming), sehingga bisa diketahui tak hanya oleh mahasiswa, namun juga masyarakat luas.“

Dengan semakin eratnya hubungan teknologi digital di mata para praktisi, maka mungkin saja di masa depan, para dokter akan muncul di ruang praktiknya dengan membawa smartphone, bukan stetoskop. Kalau menurut Anda?

Mau tahu lebih lanjut tentang Internet of Things di dunia kesehatan? Baca di sini

 

0 comments