NOW READING

Potret Tren Layanan Streaming Indonesia di Masa Mendatang

 1745
+
 1745

Potret Tren Layanan Streaming Indonesia di Masa Mendatang

by The Daily Oktagon

Jejaring sosial berbasis teks dan gambar sempat mengalami masa kejayaan beberapa tahun silam. Pengguna Internet doyan nge-twit, update status, dan unggah foto.

Kini, konten teks dan gambar bertransformasi menjadi satu dalam rupa video. Kiblatnya adalah YouTube. Namun, jejaring sosial besar seperti Facebook, Instagram, hingga Twitter, telah memperluas fiturnya agar video lebih banyak tampil.

Ini bukan lah hal baru mengingat BI Intelligence Research Senior Analyst, Cooper Smith, sempat memperkirakan pergeseran akan terjadi, di mana tayangan TV menurun dan konten video streaming meningkat.

Layanan-layanan video, musik, dan film streaming juga semakin banyak muncul, mulai dari lokal hingga asing. Beberapa di antaranya adalah IndiHome, useetv.com, First Media, MNC Play, Netflix, Apple Music, Spotify, Joox, dan Biznet.

Orang-orang pun kian senang melihat konten dengan tampilan visual, bergerak, atau interaktif. Artinya, aktivitas Internet kini tak lagi dikuasai oleh satu atau dua jenis layanan saja. Banyak pengguna Internet mulai memahami bahwa layanan streaming kini mengambil peran dalam mendukung gaya hidup digital mereka.

shutterstock_214462771
Semua orang yang terhubung Internet kini bisa membuat video apapun, mulai dari tips, resep makanan, tutorial yoga, hingga video iseng. Ini menjadi hiburan tersendiri bagi para pengguna Internet.

The Daily Oktagon mengajak Anda untuk melihat potret tren layanan streaming Indonesia di masa mendatang. Yuk, langsung simak ulasan menarik berikut.

“Layanan streaming populer berkat perbaikan jaringan yang dilakukan operator telekomunikasi. Namun, ia tak berdiri sendiri tanpa kehadiran jejaring sosial berbasis teks atau gambar. Banyak yang membagikan video lewat media sosial,” ungkap Pengamat Telematika, Heru Sutadi.

Apabila digali, layanan streaming telah menjelma menjadi tren masif. Mengacu riset Baidu pada kuartal kedua 2015, sebanyak 45,34 persen dari total koresponden di Tanah Air, mengakses video streaming.

Sementara, aplikasi video sebanyak 49 persen menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh pengguna internet mobile di Indonesia. Demikian menurut survei UC Web.

Lebih lanjut, Heru mengatakan tren ini tak akan ‘dimiliki’ oleh layanan streaming saja. Dalam kaitannya dengan gaya hidup digital, perangkat mobile akan berperan besar dalam pemanfaatan teknologi.

“Semua orang tak hanya bisa menonton film lewat perangkat. Mereka bisa bertransaksi online, melakukan pembayaran, dan menggunakan teknologi virtual reality dengan kamera 360 di masa mendatang,” ucap Heru.

shutterstock_333743132
Berbeda hal dengan di atas, Presiden Direktur sekaligus CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli justru menilai layanan streaming masih jauh dari sebuah tren dalam konteks video berdurasi panjang (long video).

Apa pasal? Penetrasi jaringan fixed broadband yang dinilai ideal untuk mendukung kegiatan streaming long video belum sebesar penetrasi wireless mobile broadband.

“Penggunaan fixed broadband dan wireless broadband akan beda penggunaannya. Fixed broadband akan berat ke heavy streaming. Long streaming masih belum clear. Namun, layanan streaming mobile untuk short video akan terus grow,” ujar dia.

Baca juga, Perkembangan Cara Baru Registrasi SIM Card

Menggerus Televisi

Pasar Indonesia sempat dibuat gempar dengan kehadiran layanan streaming video asing, Netflix, beberapa waktu lalu. Euphoria Netflix begitu terasa hingga tak lama kemudian Telkom memblokir layanannya karena sejumlah alasan.

Rasa-rasanya, kehadiran layanan streaming asing tak hanya berdampak terhadap layanan televisi berbayar berbasis kabel, tetapi penyedia streaming lokal. Hal ini juga yang dikemukakan Cooper Smith. “Layanan video streaming telah menjadi mainstream dan mengancam layanan TV kabel.

Padahal, asal tahu saja, jauh sebelum Netflix menginvasi pasar Indonesia, kita sebetulnya sudah lebih dulu memiliki layanan serupa, baik video maupun film. Sebut saja useetv.com, IndiHome, First Media, dan MNC Play.

shutterstock_380554231

Heru pun memprediksi demikian. “Sebelum streaming booming, layanan TV kabel memang tak besar pasarnya. Saat ini total pengguna layanan TV kabel hanya 3,5 juta. Itu karena pangsa free-to-air (FTA) masih mendominasi,” ucapnya.

Nah, kembali ke persoalan awal. Prediksi layanan streaming menggerus televisi semakin kuat. Perangkat mobile semakin tak terpisahkan dengan kehidupan sebagian besar orang. Smartphone, misalnya, yang sudah jadi candu bagi penggunannya.

Riset Google mengungkapkan rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu 5,5 jam per hari untuk menatap layar ponsel pintarnya. Faktor lain yang memperkuat adalah prediksi bahwa ketersediaan broadband akan semakin besar di masa mendatang.

Ciptakan Konten Lokal

Ketimbang berbicara pemanfaatan Internet untuk memaksimalkan digital lifestyle, Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jamalul Izza, justru lebih fokus terhadap pengembangan konten digital dalam negeri.

Diakuinya, penambahan infrastruktur di Tanah Air semakin membaik sehingga memungkinkan dalam mendorong perkembangan konten.

Sebetulnya, pencapaian penggguna Internet di Indonesia terbilang lumayan. Data APJII menyebutkan terdapat 88,1 juta pengguna Internet pada 2014, naik dari 71,2 juta di 2013. APJII memperkirakan pengguna Internet di Indonesia akan menembus 100 juta pada tahun ini.

“Karena konten terus berkembang, kami yakin pengguna akan semakin meningkat melihat perkembangan digital semakin bagus. Konsen kami adalah mendorong trafik lokal di Indonesia dengan munculnya konten konten lokal,” kata Jamal.

Tertarik menambah keuntungan dari tren digital lifestyle? Baca, Kesempatan Berbisis Melalui Internet of Things

0 comments