NOW READING

Potensi Karir di Dunia Fotografi Era Digital

 6063
+
 6063

Potensi Karir di Dunia Fotografi Era Digital

by The Daily Oktagon

Kehadiran teknologi digital berhasil memangkas rangkaian panjang produksi di berbagai industri, termasuk fotografi.

Beberapa dekade lalu, seorang fotografer lapangan masih harus dibekali kemampuan cuci-cetak foto di kamar gelap. Saat ini, mungkin spesifikasi tersebut sudah tidak lagi menjadi prioritas saat mengirim fotografer ke lapangan. Dengan format digital, fotografer hanya perlu mengirim data foto via email untuk naik cetak atau terbit online.

Lebih jauh lagi, teknologi kamera digital juga menghadirkan fitur-fitur auto yang cukup canggih. Dalam mode full auto, fotografer bahkan cukup menekan tombol tanpa harus mengukur ISO, diafragma, hingga depth of field bidikan. Sekali jepret, gambar yang dihasilkan bisa jadi lebih baik daripada bidikan dengan mode manual.

Foto_Advan_-_HBCover2

Ironinya, salah satu yang gugur digerus perkembangan teknologi kamera digital justru pencetusnya sendiri. Steven J. Sasson, insinyur Kodak, melahirkan kamera digital pertama dengan resolusi hingga 10.000 piksel yang tersimpan dalam pita kaset. Namun, Kodak justru mengalami kemunduran perkembangan dan popularitas begitu perusahaan lain berhasil menghadirkan teknologi pencitraan digital yang lebih canggih. Mereka banyak ditinggalkan karena dianggap lebih repot dan kalah praktis ketimbang kompetitor sejenis.

Sejak runtuhnya fotografi film dan maraknya tren kamera digital, fotografi menjadi semakin “ramah” di mata masyarakat. Kini, melihat pelajar sekolah menenteng DSLR profesional, bukanlah pemandangan yang aneh. Hal yang sama juga mungkin terjadi dengan keluarga kecil yang pergi liburan dengan kamera ribuan piksel, atau selfie dengan kamera belasan bahkan puluhan juta. Sebuah kondisi yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh para pelopor dunia fotografi seperti Joseph Nicephore Niepce atau William Henry Fox Talbot.

Foto Tjandra 1

Lantas, bagaimana industri fotografi profesional ketika memotret menjadi sesuatu yang lumrah dan bisa dilakukan oleh biasa saja? Tjandra Moh Amin, fotografer komersil senior, menuturkan jika di era yang serba instan ini profesi fotografer sudah tidak lagi ada.

“Sekarang, anak SD sudah bisa bawa kamera digital. Keberadaan kamera digital sebenarnya enggak mencerdaskan. Banyak yang motret pakai auto dengan konsep ‘astrada’ alias ‘asal terang, model ada’,” ujar Tjandra Moh Amin.

Pandangan pesimis Tjandra berkaitan dengan job memotret sebuah iklan komersil pada 2014. Dari nilai proyek yang ia ajukan sebesar Rp150 juta, klien membanting harga hingga Rp25 juta dengan alasan produksi kamera digital yang lebih ringkas dan praktis. Padahal, kewajiban Tjandra saat itu harus foto 8 item produk sepeda di tiga lokasi dengan produksi yang menguras fisik.

Foto Tjandra 2

“Karena jenuh pakai kamera digital, sekarang saya balik pakai kamera analog lagi untuk foto komersil,” jelas Tjandra yang beberapa kali memproduksi foto olahraga untuk iklan minuman berenergi.

Pendapat senada pun disampaikan oleh fotografer fashion dan beauty Nurulita. Era digital di industri fotografi memang memberikan kemewahan berupa waktu belajar yang cepat. Para fotografer pemula tak perlu lagi raba-raba hasil jepretan sampai kemudian dicetak. Sayangnya, pemotretan dengan kamera digital bisa mengurangi unsur rasa dalam foto. Padahal, rasa adalah unsur paling penting dalam menghasilkan sebuah karya seni.

Foto_Nurulita

Meski teknologi digital yang canggih dan instan bisa membuat setiap orang mengambil gambar bagus, tetapi fotografer profesional memiliki keterampilan fotografi yang diimbangi jam terbang. Bagaimana pun juga, hasil foto yang diberikan oleh fotografer akan berbeda dari foto-foto dengan jepretan auto yang bukan fotografer.

“Meski instan, tetapi tidak berarti sama (atau seragam). Pada dasarnya setiap fotografer memiliki taste dan teknik yang berbeda-beda. Kalau saya sendiri, ketika memotret selalu lebih dominan memakai rasa dibanding pikiran. Jadi hasil foto saya itu dilukis dengan hati dan feeling,” tutur Nurulita.

Foto_Nurulita_-_Profil

The Rise of Mobile Photography

Daya juang fotografi profesional kembali diuji ketika perangkat mobile mulai serius menghadirkan kualitas kamera berpiksel besar dengan filter praktis. Di Amerika Serikat, foto yang diambil menggunakan kamera ponsel terus menunjukan perkembangan yang signifikan.

Kehadiran media sosial Instagram juga menjadi momentum bangkitnya industri fotografi mobile. Siapa saja bisa menghasilkan gambar dengan warna indah dan spesial dengan sekali tap. Dengan segala kepraktisan tersebut, sulit untuk dianulir jika fotografi mobile memiliki sumbangsih paling nyata terhadap “kacau”-nya fotografi profesional.

Demam Instagram juga melanda di Indonesia. Dengan pengguna social media yang jumlahnya cukup diperhitungkan di dunia, Instagrammer lokal pun cukup memiliki peran besar. Bahkan, salah satu akun Instagram Indonesia, Boylagi, mencuri perhatian perusahaan media sosial berbasis visual ini.

Processed with VSCOcam with a6 preset

Pemilik nama asli Boy Hardianto ini dilabeli sebagai #papainstameet oleh Community Manager Instagram untuk wilayah Asia. Tak segan-segan, pihak Instagram tersebut berkunjung langsung ke Indonesia untuk bertemu dengan boylagi untuk mengucapkan terima kasih.

“Dalam pelaksanaan World Wide Insta Meet kesembilan di Jakarta, saya tidak ingin ada alasan untuk mereka tidak datang karena kejauhan. Akhirnya, saya bikin di empat tempat; Kota Tua, Taman Mini, Kampus UI, dan Taman Menteng,” ujar Boy dikutip dari Poster.co.id.

Dengan perencanaan dan koordinasi yang baik, boylagi berhasil mengumpulkan 700 peserta di Jakarta. Dua minggu setelah WWIM kesembilan, Boy menerima email langsung dari Instagram yang berbunyi:

Dear boylagi, Terima kasih telah mengikuti WWIM di Jakarta. Sudah dikonfirmasikan bahwa WWIM ke sembilan di Jakarta paling banyak di dunia.”

Pencapaian itu membuat Boy, yang bukan fotografer profesional, mulai mendapat keuntungan dari hasil fotonya. Tak jarang foto yang ia unggah kini memuat endorsement seperti produk-produk fotografi, brand, hingga perusahaan travel. Profesi “Instagrammer” juga menjadi sesuatu yang menjanjikan bagi orang-orang yang minat pada fotografi.

A photo posted by boylagi (@boylagi) on

 

———

Sumber: https://instagram.com/boylagi/

0 comments