NOW READING

Pio Kharisma: Fotografer itu Harus Cerdik dan Terus Belajar!

 2062
+
 2062

Pio Kharisma: Fotografer itu Harus Cerdik dan Terus Belajar!

by The Daily Oktagon

“Fotografi panggung itu bukan sekadar memotret konser musik!”

Hal itu ditekankan fotografer Pio Kharisma. Menurutnya, fotografi panggung itu juga termasuk berbagai bentuk pertunjukan lain, seperti pementasan teater sampai aksi stand up comedy. Simak percakapan The Daily Oktagon dengan lelaki yang bekerja sebagai Chief Photographer Climax Photohouse ini.

Bagaimana cara menghasilkan foto panggung yang baik?
Banyak fotografer menetapkan patokan soal teknik mendapatkan foto bagus, salah satunya tidak menggunakan ISO lebih dari 1600; karena berpotensi membuat hasil foto tidak tajam (grainy).

Saya cenderung tidak sepakat soal itu, karena saya sendiri tidak menganut hasil foto harus bening dan tajam. Kalau menurut saya cahaya memang kurang terang, saya tetap hajar pakai ISO tinggi, bahkan tidak takut jika harus pakai ISO maksimal.

Foto bening ya oke, tapi foto bagus menurut saya bukan hanya soal bening atau tidak bening, melainkan berhasil atau tidaknya kita menangkap momen yang bagus. Dan terkait cara menghasilkan foto panggung yang baik, buat saya yang terpenting adalah latihan terus agar taste unik kita tergali.

Pio Karisma-Baim_Trio_-_Jkt_Blues_Festival

Ketika memotret, hasil akhir yang Anda inginkan seperti apa?
Pada dasarnya, saya suka sekali warna agak pastel, jadi tune yang saya buat di foto saya juga lebih ringan, semacam film indie Hollywood. Banyak juga yang mengira foto saya low contrast atau low saturation, padahal contrast dan saturation-nya sama.

Apakah Anda memilih jenis pertunjukan yang dipotret? Misal musik?

Saya tidak pernah memilih harus memotret apa atau siapa. Stage performance itu luas, dan Stage photography itu bisa jadi stand up comedy, teater, atau apapun aksi panggung lainnya.

Seperti yang Anda jelaskan, Anda juga banyak dikenal sebagai pemotret stand up comedy. Menurut Anda, bagaimana tantangan dalam memotret stage performance ini?
Justru lebih susah, karena stand up comedy itu kan tidak terlalu banyak gerak. Beda dengan konser. Kalau konser saya cuma gerak-gerakin kamera saja tanpa banyak berpindah tempat, karena objeknya memang sudah aktif bergerak. Sementara stand up comedy, saya harus pindah-pindah tempat untuk mencari angle dan membuat foto tersebut lebih hidup.

Coba ceritakan pengalaman seru selama memotret panggung
Saat memotret Metallica. Kenapa? Karena ya itu Metallica! Beruntungnya, saya tidak perlu lewat proses seleksi. Nah itu dia satu lagi, kalau ada tips yang penting untuk saya share adalah: Fotografer itu harus pintar cari akal.

Misal soal memotret Metallica tadi. Waktu itu saya mengontak kenalan saya yang ternyata adalah salah satu kru panggung konser Metallica. Saya menawarkannya untuk jadi juru foto kru, hingga harus muncul di venue sejak H-3 untuk memastikan wajah saya dikenali anggota kru lain dan orang-orang yang terlibat urusan konser Metallica. Walhasil, saat konser, saya pun dikenal, “Ya, ini fotografernya!”

Salah satu kesempatan seru lagi adalah saat memotret Tere. Saya memang suka Tere dan lagu-lagunya selalu ada di playlist musik saya. Tiba-tiba saya diajak teman yang punya project bareng Tere, dan saya pun bisa memotretnya.

Pio Karisma-Metallica Show

Wah seru juga. Kalau sebelum mulai fokus memotret seperti sekarang, kegiatannya apa saja?
Macam-macam, mulai dari siaran di salah satu stasion radio di Surabaya dan menangani berbagai event.

Lalu mengapa Anda memutuskan untuk menjadi fotografer? Kamera apa yang pertama kali Anda gunakan?
Awalan pingin memotret itu karena saya suka mengedit foto; waktu itu dengan Photoshop. Kebanyakan gambar yang saya edit adalah hasil googling. Saya merasakan sulitnya mencari gambar bagus dengan resulosi tinggi, ditambah lagi ketersediaan gambar gratis juga sangat terbatas.

Lalu saya pun berpikir, kenapa tidak memotret sendiri saja? Saya lalu mulai memotret pada 2009. Kamera pertama yang saya gunakan adalah Canon 1000D, fokusnya untuk belajar karena belum benar-benar terpikir akan serius berprofesi sebagai fotografer.

Kapan tepatnya mulai menjajaki dunia fotografi profesional?
Sekitar 2010. Saat itu saya diajak memotret behind the scene sebuah video klip. Dari situ jadi kenal grup The Dance Company. Mereka suka foto saya dan mulai mengajak saya memotret kegiatan mereka. Akhirnya kenal dengan banyak orang dan mulai memotret lebih banyak orang juga.

Apa kamera dan lensa andalan yang Anda gunakan saat ini?
Saat mulai serius, saya mulai menggunakan Canon 7D. Sekarang juga menggunakan Canon 5D Mark III. Untuk lensa, saya menggunakan 24-70 mm, 50 mm f.1,8, 70-200 mm f.4, dan lensa wide 10-18 mm.

Menurut Anda, apa yang membuat foto Anda berbeda?
Mungkin penggunaan lensa wide, karena saya suka dan hasilnya bisa jadi sangat unik. Bebeberapa angle menurut saya lebih dramatis bila diambil dengan lensa wide.

Salah satunya saya suka memotret close up dengan lensa wide. Memang jarang ada yang memotret seperti itu karena bisa menciptakan distorsi, tapi menurut saya distorsi itu justru membuat fotonya jadi lebih dramatis.

Misalnya lagi, saya suka memotret dengan kamera di bawah kaki vokalisnya. Kadang tidak lihat viewfinder, terus banyak jepret-jepret biar dapat yang terbaik.

Perangkat lunak editing apa yang biasa Anda gunakan? Dan kenapa menyukainya?
Saya suka sekali Lightroom, karena semua yang ingin saya lakukan sudah lengkap dalam aplikasi tersebut. Saya bukan fotografer yang suka manipulatif, dalam artian saya tidak pernah menambahkan subjek apapun di foto saya. Bagi saya, editing merupakan ruang make up untuk hasil foto. Oleh karena itu, Lightroom saja sudah cukup.

Jika ada kesempatan memilih, siapa yang ingin anda potret? Coba berikan alasannya.
Saya malah ingin memotret penyanyi dangdut yang baru-baru terkenal itu. Mereka belum ada yang motret kan? [Tertawa.]

Pernah suatu ketika, saat liburan, saya lihat organ tunggal dangdut dan saya langsung ambil kamera dan memotret di sana. Seru sekali!

0 comments