NOW READING

Perjalanan Sandy Wijaya dalam Travel Photography

 1159
+
 1159

Perjalanan Sandy Wijaya dalam Travel Photography

by The Daily Oktagon
  • Menjalani profesi sebagai travel photographer membuat Sandi Wijaya memiliki kisah perjalanan sendiri.
  • Mengelilingi jalur sutra membuatnya memahami dunia fotografi yang bukan hanya sekadar gambar bagus.
  • Fotografi juga perlu melihat aspek lain seperti menghargai dan menghormati budaya dan tradisi setempat.

Menekuni bidang fotografi adalah passion yang dimiliki seorang Sandy Wijaya. Langkahnya pun membawa dia menjelajahi jalur sutra dengan segala keindahannya.

Selama berkarier, Sandy sering berjalan-jalan ke beberapa negara, namun jalur sutra yang menjadi jalur antara Eropa dan Asia menjadi favoritnya. Ketekunannya dalam menggeluti dunia seni pada gambar ini pun memiliki berbagai gelar sebagai pakar fotografi. Salah satunya adalah Artist of FIAP, Fédération Internationale de l’Art Photographique atau The International Federation of Photographic Art. Pada acara workshop bersama Sandy Wijaya di Gedung Oktagon 7 Oktober lalu, kami berkesempatan berbincang tentang kecintaan dirinya terhadap dunia fotografi.

Awalnya, Anda memilih jurusan hukum semasa kuliah. Mengapa sekarang memilih sebagai fotografer?

Saya berpikir, awalnya pekerjaan yang berawal dari passion itu menyenangkan. Nah, passion saya itu ada di fotografi, jadi ujungnya pasti menyenangkan kalau bekerja di bidang ini. Saya sudah suka dengan fotografi sejak kelas tiga SMP.

Apa kamera yang dipakai pertama dan kamera yang dipakai sekarang?

Kamera saya pertama itu Nikon FM, zaman analog dulu. Kalau sekarang, untuk travelling saya pakai kamera mirrorless.

Kenapa memakai kamera mirrorless? Apakah karena saat travelling lebih membutuhkan cahaya natural?

Saya pakai itu karena ringkas, perkembangan teknologi juga membuat kualitasnya semakin tinggi. Kayaknya semua kamera pun saya anggapnya hampir mirip, jadi saya pilihnya yang ringkas dan simpledeh. Salah satunya juga karena kebutuhan cahaya yang natural untuk hasil fotonya.

Pada nama Anda, terdapat gelar seperti AFIAP di belakangnya. Bagaimana cara Anda mendapatkan gelar tersebut?

Gini, ada yang ikutan salon foto (ajang apresiasi fotografi dari suatu federasi yang melalui proses kurasi), ada yang ikutan ujian gelar. Nah, dua dari gelar saya itu melalui ujian gelar. Ujian gelar itu mengumpulkan foto seri (bercerita), lalu kita susun dengan rapi dan diajukan ke dewan penguji. Jadi prosesnya melalui dua hal itu.

Anda adalah seorang travel photographer. Lokasi mana yang menjadi favorit Anda sampai saat ini?

Saya paling suka dengan wilayah Silk Road (Jalur Sutra), khususnya Xinjiang di wilayah Tiongkok. Xinjiang ini adalah melting pot atau daerah yang menjadi pusat kebudayaan antar kebudayaan Timur Tengah. Kenapa disebut Central Asia? Karena memang pusatnya percampuran budaya timur dan barat itu ada di sana.

Cari uang dengan travelling? Buatlah blog dan lakukan hal-hal di artikel berikut.

Bagaimana perkembangan teknologi di negara tersebut?

Sebenarnya semua negara di Tiongkok pasti berkembang. Namun, masyarakatnya di sana masih tradisional sehingga terlihatnya belum berkembang.

Kalau daerah di luar Jalur Sutra sendiri, mana yang menjadi favorit Anda?

Sampai saat ini masih Jalur Sutra masih menjadi yang paling favorit. Tetapi kalau di luar itu, wilayah pegunungan Himalaya yang menjadi favorit untuk saya.

Lalu, apa makna fotografi menurut Sandy Wijaya?

Fotografi itu adalah seni untuk mengekspresikan diri kita sendiri, kita senangnya apa itulah yang kita tunjukkan. Kalau saya di travel photography, saya lebih menyenangi bagaimana saya bisa bergaul. Saya juga bisa melihat sisi lain dari berbagai hal. Jadi intinya, fotografi itu adalah medium ekspresi.

Melalui acara workshop hari ini, apa yang ingin Anda sampaikan kepada publik?

Travelling itu bukan mencari tempat baru, bukan juga mencari foto yang baru, tetapi mencari sudut pandang baru. Itu saja

Apa tip dan trik untuk menjadi travel photographer?

Sebelum menjadi fotografer, belajarlah untuk me-manusia-kan manusia terlebih dahulu. Ketika kita bertemu dengan banyak orang atau banyak suku, kita dihadapi dengan kultur yang berbeda. Nah, di situ harus ada rasa toleransi lebih tinggi dan tidak melakukan pembedaan meski perbedaan itu ada. Teknis memang sesuatu yang fundamental, tetapi banyak hal di luar itu yang lebih penting. Contohnya filosofinya, bagaimana kita mengetahui sebuah tempat atau kultur tertentu yang bisa kita pelajari. Hal ini lebih penting dibandingkan dengan memikirkan kamera, lensa atau eksposur yang seharusnya sudah dipahami oleh fotografer.

Baca juga: Oktagon Gelar Workshop Fotografi : Merekam Jalur Sutra dengan Kamera Hasselblad

Sandy Wijaya pun berencana untuk merilis buku mengenai fotografi Tibet pada tahun depan. Melalui workshop ini juga diharapkan bisa menjadi salah satu sarana pameran karyanya kepada publik. Sandy pun mengharapkan semakin banyaknya ruang pamer juga apresiator fotografi di Indonesia. Selain itu, semakin banyak juga fotografer yang bisa menentukan pilihannya dalam berkarya dengan tepat dan lebih matang.

0 comments