NOW READING

Perang Konsol Game Generasi Baru di Indonesia, Siapa Juara?

 1866
+
 1866

Perang Konsol Game Generasi Baru di Indonesia, Siapa Juara?

by The Daily Oktagon
  • Para produsen konsol game terus bersaing sengit di kancah game global. Ketiganya unggul dengan generasi terbaru yang memiliki kelebihan masing-masing
  • Menurut pengamat industri game Indonesia, PS4 mendominasi. Hal ini antara lain terbantu kedekatan brand yang sudah melekat di masyarakat sejak kesuksesan PS1 di Indonesia pada era 1990-an akhir.
  • Nintendo Switch yang masih ‘bayi’, masih relatif butuh waktu agar akhirnya bisa diterima perlahan di pasar.

Pasar konsol game di Indonesia bisa dibilang cukup pesat dan tak kalah agresif jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Walau demikian, brand kenamaan seperti Sony, Nintendo, dan Microsoft membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengukuhkan posisi pada industri konsol rumahan di Tanah Air.

Dinamika persaingan di antara mereka dalam merebut hati para gamer lokal pun sudah berulang kali terdengar. Nintendo misalnya, bisa dibilang salah satu dedengkot yang sudah lama mendominasi pasar game di Indonesia.

Sayang seiring waktu berjalan, geliat sang raksasa gaming asal Negeri Sakura itu mulai terseok. Penjualan konsol Wii U bahkan disebut tidak semulus yang diperkirakan.

Di saat yang sama, Sony dan Microsoft justru sempat berduel ketat dengan konsol unggulannya masing-masing, yakni PlayStation dan Xbox. Hingga kini, mereka sudah mengeluarkan konsol dalam 4 generasi.

Memasuki 2017, ketiganya kembali beradu dengan konsol terbarunya. Sony dengan PS4 (PlayStation 4), Xbox dengan Xbox One, dan Nintendo dengan konsol hybrid-nya, Nintendo Switch. Lantas, siapa yang mampu memenangkan persaingan konsol current generation di Indonesia? Simak ulasan The Daily Oktagon.

Teknologi Semakin Seru

Ketatnya persaingan tentu ditandai dengan berlombanya para produsen konsol dalam mengembangkan teknologi. Tentu ada perbedaan yang begitu jauh jika menilik perkembangan game di era sekarang dengan era sebelumnya.

Remy Fabian Subijakto, pengamat industri game misalnya melihat, bila dulu banyak konsol dengn game berstruktur linear seperti dilengkapi invincible walls dan loading screen, game sekarang menghadirkan struktur open-world yang menawarkan kebebasan bermain.

Misalnya saja pemain generasi sekarang memiliki kebebasan dalam memilih karakter dan cara bermain. “Tidak berhenti sampai situ saja, kini banyak juga developer yang mencoba memasukkan elemen online ke struktur open-world untuk memberikan pengalaman yang berbeda-beda bagi setiap pemain,” papar Remy.

Perbedaan signifikan perkembangan teknologi konsol game juga terlihat pada beberapa inovasi seperti motion controller dan Virtual Reality pada Nintendo Wii. Terkini tentu saja yang Nintendo Switch dengan konsep hybrid-console.

Selain itu, konsol menurut Remy kini sudah berperan lebih dari sekadar menawarkan game. Konsol generasi baru sudah mulai menjelma menjadi entertainment hub. “Sekarang pemain dapat menonton dan streaming (Netflix, Hulu, YouTube, Twitch), browsing, serta mendengar lagu (Spotify),” timpalnya.

Mau bernostalgia dengan konsol zaman dulu? Baca di sini

Urusan dominasi

Bicara persaingan tentu akan bicara pula soal dominasi konsol. Di mata Remy, jika membandingkan tiga konsol dari tiga pemain besar di Indonesia, yang paling dominan adalah PS4.

Ada sejumlah faktor yang menurutnya menentukan dominannya PS4 di Indonesia. Pertama, brand “PlayStation” sudah melekat di masyarakat luas sejak kesuksesan PS1 di Indonesia pada era 1990-an akhir hingga 2000-an awal.

Walau Nintendo sudah lebih dulu bermain di pasar konsol Indonesia, faktanya PS4 tetap konsisten dalam ‘memanjakan’ konsumen dengan harga dan konten yang cocok di Indonesia.

Pria yang sempat menjabat sebagai Editor in Chief Video Game Indonesia ini juga menilai peran pemasaran Sony Computer Entertainment di Indonesia dalam memasarkan konsol jagoannya itu juga besar.

Ia menunjuk pada aktivitas Sony yang kerap mengadakan sejumlah event baik peluncuran PS4, demo game, melakukan kerjasama dengan penjual lokal, lokalisasi konten game dan marketing, bahkan mengadakan meet up dengan konsumen.

Selain itu, game PS4 yang eksklusif juga menjadi daya tarik besar bagi pasar. “PS4 adalah satu-satunya konsol yang saat ini secara konsisten memberikan konten game yang beragam, mulai dari game multi-platform hingga game eksklusif,” ungkapnya.

Remy juga memperkuat argumennya lewat survei yang belum lama ini dilakukan Google yang menunjukkan, generasi milenial (usia 18-25 tahun) lebih memilih konsol PS4 dibandingkan Xbox One, sedangkan generasi Z (13-17 tahun) justru cenderung suka dengan Xbox One ketimbang PS4.

Aktor Dennis Adhiswara juga keranjingan game. Lihat kisahnya di artikel ini

Kompetitor Kurang Taring

Dominasi PS4 tentu akan terus mendapat gangguan dari kompetitor, namun Remy melihatnya PS4 akan terus menunjukkan taringnya di pasar konsol, tak hanya di Indonesia namun juga di dunia.

Strategi Microsoft mempersiapkan Xbox One versi upgrade dengan Project Scorpio pun ia anggap masih belum jadi kesempatan untuk menaklukkan Sony. “Padahal, Xbox One Project Scorpio menawarkan konten game eksklusif,” ceplosnya.

Peluncuran game ReCore untuk Xbox (Dok. Microsoft)

Bicara soal game eksklusif, lagi-lagi Xbox One harus bertekuk lutut dengan PS4. Remy membandingkan, berdasarkan daftar Top 50 Xbox One Games di Metacritic, hanya terdapat beberapa game eksklusif seperti Forza, Titanfall, serta game remake seperti Halo Master Chief Collection dan Rare Replay.

“Sedangkan di awal 2017, PS4 sudah merilis lima game eksklusif yang memiliki review bagus:Nioh, Yakuza 0, Gravity Rush 2, Nier Automata dan Horizon: Zero Dawn,” jelas pria yang saat ini menjadi Operations Manager di sebuah startup teknologi ini.

Nasib Switch

Lalu bagaimana dengan sang pendatang baru Nintendo Switch? Remy menilainya akan menjadi tren, kendati relatif belum akan bisa menyaingi PS4.

Meski Nintendo Switch menjadi konsol dengan penjualan tercepat di sejarah Nintendo, pasar masih harus melihat rencana mereka dalam tahun kedua dan ketiga.

Saat ini menurut Remy, banyak yang memandang Nintendo Switch sebagai konsol sekunder, artinya konsol pilihan kedua setelah konsumen memiliki PS4 atau Xbox One. “Namun positifnya, Switch tidak berada dalam perang konsol sehingga bisa memfokuskan diri untuk terus berkembang”.

Simak unboxing Nintendo Switch di artikel ini

Nasib Switch lanjut Remy masih harus dilihat dari rencana Nintendo dalam hal konten game di tahun kedua dan ketiga, serta paket harga yang ditawarkan di Indonesia.

Bila dilihat dari segi teknologi, tentu ada kemungkinan konsol hybrid untuk menjadi tren, karena mobile game adalah media yang tepat untuk dimainkan di konsol hybrid.

Salah satu alasannya menurut Remy, mobile game bisa berkembang adalah fleksibilitasnya untuk dimainkan di mana saja. “Saat ini banyak pemain konsol yang sulit meluangkan waktu bermain karena padatnya aktivitas. Tentu saja konsol hybrid bisa menjadi solusi,” jelas Remy.

Apakah dugaan tren ini akan benar-benar menjadi kenyataan? Kita tunggu saja.

0 comments