NOW READING

Peran Komunitas Drone Terhadap Masa Depan Pilot Drone

 3513
+
 3513

Peran Komunitas Drone Terhadap Masa Depan Pilot Drone

by The Daily Oktagon
  • Salah satu device teknologi yang kian meluas di tengah masyarakat adalah drone.
  • Apakah penggunaan drone hanya sekadar tren yang mencuat lalu cepat meredup lagi? Atau drone memang kelak menjadi salah satu perangkat yang mendukung dan mempermudah keperluan individu pun sektor industri?
  • Bagaimana peran komunitas drone terhadap hal tersebut? Dan bagaimana potensi masa depan para pilot drone yang tergabung di komunitas drone?

Berawal dari penggunaannya untuk kepentingan militer, seiring waktu, teknologi drone mulai digunakan banyak orang awam, bahkan untuk sekadar hobi; ada yang untuk memuaskan minatnya di bidang fotografi atau produksi film, hingga mulai ada pula yang mengulik pemanfaatannya untuk keperluan bisnis atau retail.

Tapi, apapun tujuan pemakaiannya, penerbangan drone dianggap perlu diatur dalam perangkat etika dan regulasi—dirilis resmi oleh pemerintah, untuk memastikan efisiensi pengawasannya—yang mesti diikuti oleh para pengguna atau penerbang drone.

Bukan apa-apa, kalau misalkan tidak diatur, entah akan seperti apa potensi negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan drone ini. Mulai dari urusan keselamatan jika drone jatuh dan menghantam orang di bawahnya, hingga kasus hangat yang terjadi baru-baru ini: menggunakan drone untuk memasok narkoba ke rumah tahanan.

Maka itu, aturan sampai arahan atau pembinaan untuk para penerbang drone—atau juga akrab disebut pilot drone—menjadi krusial pentingnya. Jika seorang pilot drone sudah mendapatkan pembekalan terkait aturan penerbangan drone ini, ia juga jadi lebih tahu apa yang mesti dilakukan, serta membuatnya tidak repot dengan urusan persiapan sampai perizinan, saat ada keperluan menggunakan drone.

Baca juga tips membuat drone tetap awet dan selalu kinclong, di sini

Di sinilah komunitas Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) memaksimalkan perannya. Jika misal Anda adalah salah satu pengguna atau hobi menggunakan memainkan drone, komunitas ini bisa jadi tempat yang tepat untuk mendapatkan beragam pembinaan sekaligus memahami aturan pemerintah tadi.

Komunitas APDI sendiri merangkul penerbang amatir, semiprofesional, sampai yang profesional di Indonesia. Peresmian berdirinya komunitas ini pada Februari 2015 juga dinyatakan sebagai bentuk apresiasi terhadap pemerintah karena memerhatikan pengaturan penggunaan pesawat nirawak lewat Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM.90 Tahun 2015 Tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Tanpa Awak di Ruang Udara Indonesia.

Selain medium sosialisasi dan pengawasan penerapan aturan pemerintah terkait penerbangan drone, APDI juga jadi ruang berbagai aktivitas profesi dan hobi yang melibatkan pemakaian drone; seperti aerial video, fotografi, sampai pemetaan area.

komunitas drone indonesia

Ketua Umum APDI Awi Wicaksono bersama mantan Menteri Bappenas Andrinof Chaniago saat peresmian APDI di Taman Budaya Sentul City, Bogor, 2015 lalu. (Sumber foto: terbangterus.com)

Pandangan APDI tentang Tren Drone dan Potensi Penggunaannya

“Dari sisi konsumen, yang pasti jadi tren adalah smartdrone; karena orang tidak memerlukan keahlian tinggi untuk mengendalikan drone jenis ini, sebab biasanya sudah dilengkapi sensor ketinggian dan sensor penghalang, untuk si drone menghindari objek-objek tertentu secara otomatis,” ujar M. Akbar Marwan, Kepala Divisi Humas APDI, saat berbincang dengan The Daily Oktagon.

Menurutnya lagi, komunitas drone yang diikutinya merasakan kalau beberapa tahun ke depan, kebutuhan terhadap pilot drone akan makin meningkat, bahkan sangat pesat, kalau misal diperkirakan sampai lima tahun ke depan.

“Karena saat ini saja mulai banyak pihak yang request pilot drone. Dan ke depannya, makin banyak pilihan produk dan harga yang makin terjangkau, hingga berpotensi mendorong kebutuhan itu lebih besar lagi,” kata Akbar.

Diungkapkan Akbar juga, kalau peluang perkembangannya bukan hanya pada demand terhadap pilot drone, tapi juga tumbuhnya industri drone di Tanah Air. Karena kini, komponen drone sudah banyak dijual dan tak terlalu sulit ditemukan di Indonesia.

“Drone juga sudah menjadi common technology. Ada frame, flight controller, electronic speed controller, propeller, motor, dan software. Semuanya bisa dikonfigurasi,” imbuh Akbar; meski ia juga menganggap kalau dari sisi packaging atau tampilan memang belum cukup rapi sebagai produk massal.

“Tapi kalau ditanya bisa terbang atau enggak? Stabil atau enggak? Ya stabil. Apakah sebagai produk secara teknis bisa bersaing dengan kualitas teknis produk luar negeri? Bisa banget!” tandas Akbar.

Simak pula ulasan Walkera Rodeo 150 Mini yang mungil tapi memiliki kekuatan mumpuni, di sini

Akbar memberi contoh terkait drone yang digunakan buat pemetaan oleh perusahaan tertentu; biasanya perusahaan membeli drone dari luar negeri, dengan harga Rp 750 juta sampai Rp 1,5 miliar. Tapi begitu sampai di Indonesia, drone itu tidak terpakai, atau hanya jadi pajangan.

“Akhirnya justru drone yang dipakai adalah hasil rakitan lokal. Kenapa? Karena pilotnya ngeri kalau ngerbangin drone mahal. Sehingga perusahaan itu mengontak orang lokal untuk merakit drone dengan total nilai Rp 150 jutaan buat dipakai untuk keperluan lapangan,” jelas Akbar.

Maka itu Akbar menandaskan kalau kita mau melihat kesiapan Indonesia menjadi produsen untuk urusan drone, jawabannya adalah siap. Karena pada dasarnya, untuk mengembangkan drone secara teknis, expertise di Indonesia sudah oke. Bahkan, prototipe drone tanpa baling-baling pertama di dunia pun dikembangkan di dalam negeri oleh seorang pemuda berusia 18 tahun.

komunitas drone indonesia

Pengurus APDI bersama Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara. (Sumber foto: terbangterus.com)

Selanjutnya tinggal soal ragam pemanfaatannya; selain untuk keperluan pemetaan, fotografi, atau video, drone di masa mendatang akan makin lazim digunakan sebagai alat pendukung kebutuhan navigasi, transportasi, sampai prediksi cuaca. Akbar dari APDI misalnya, menceritakan kalau mahasiswanya kini sedang menggeluti teknologi AR Drone.

“Untuk menggerakkan AR Drone ini, mereka menggunakan sensor gerakan tangan. Lalu ada pula drone untuk mendeteksi cuaca, dan melihat imaginary kondisi pre and post fire; sehingga nantinya kita bisa melakukan deteksi wilayah-wilayah yang akan terkena dampak kebakaran hutan,” timpal Akbar, yang memang juga seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

Peran dan Posisi APDI sebagai Pemberdaya Pilot Drone

Mengantisipasi tren dan potensi penggunaannya yang makin beragam itu, APDI merasa harus fokus sebagai tempat para pilot drone tumbuh dan mengembangkan diri bersama, karena pilot drone diperkirakan akan jadi profesi spesialis yang menjanjikan.

Sampai sekarang saja, selain Angkatan Udara (AU), APDI juga banyak memenuhi permintaan untuk membantu proses penyeleksian pilot drone, untuk oil company sampai kontraktor. “Kalau ada demikian, biasanya kami langsung tanya detailnya, salary berapa, lalu kami informasikan ke anggota, kalau ada yang berminat, silakan,” kata Akbar dari APDI.

Meski sebetulnya posisi yang diambil APDI bukan sebagai agen pilot drone, tapi lebih menjadi mediator informasi dan edukasi penggunaan drone yang baik dan benar, juga bertanggung jawab. “Jangan sampai orang beli drone, lalu main begitu saja, tahu-tahu crash, jatuh, dan kena orang,” ujar Akbar.

Komunitas drone seperti APDI lebih fokus pada perannya untuk membantu pemerintah mengawasi regulasi penerbangan drone, dan sosialisasinya ke tengah masyarakat. “Maka itu, selain sosialisasi dan pembinaan, sekarang ada juga sertifikasi, sebagai salah satu bentuk responsibility kami terhadap masyarakat,” imbuh Akbar.

Maka itu juga APDI cukup giat memperluas jangkauan komunikasinya; dan sampai kini APDI sudah ada disetidaknya 10 provinsi; Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Bali; dengan jumlah anggota terdaftar yang aktif sampai 800 orang.

komunitas drone indonesia

Dan jika Anda adalah anggota aktif di APDI, beberapa manfaat yang bisa didapatkan—selain pembinaan terkait wawasan dan teknik menerbangkan drone dengan baik dan benar, bermartabat, serta bertanggung jawab—adalah sertifikasi quadcopter, dan juga bantuan atau dukungan jika ia mengalami masalah yang bukan kesengajaan si pilot.

Maksud quadcopter pada sertifikasi APDI sederhananya merujuk pada semua jenis drone yang memiliki empat baling-baling; seperti pada Walkera Runner 250, Xiro Xplorer V Black Drone, atau DJI Phantom 4.

Sementara mengenai pembinaan dan sertifikasi juga APDI ada beberapa program, seperti mendukung IDRF (Indonesia Drone Racing Federation) dalam kompetisi FPV (First Person View) Race di Aldiron, Jakarta; lalu aktif membantu pemerintah dalam kompetisi foto dan video udara via Kementerian Pariwisata. Ada pula kegiatan membantu pemerintah dalam mencari artefak di Gunung Padang, Cianjur.

Di level internasional, salah satu anggota APDI turut serta dalam kejuaraan di Malaysia; dan menang di kejuaraan itu. “Saya lupa itu kategori apa, tapi yang jelas kami menang di salah satu kategori,” ujar Akbar.

Saran dan Kiat dari APDI untuk Pengguna Drone

Kecakapan para anggota APDI terkait penggunaan drone pun bisa adopsi oleh banyak orang, asalkan memerhatikan beberapa hal—seperti yang dianjurkan pengurus APDI M. Akbar Marwan saat berbincang dengan The Daily Oktagon di kantor Oktagon, Gunung Sahari, Jakarta—berikut ini:

“Pertama, saat membeli unit drone, seseorang harus paham betul konsekuensinya agar tidak sembarangan main drone. Karena ada etika yang mesti dijalankan juga saat seseorang menerbangkan drone. Contoh, misal kita menerbangkan drone di atas rumah orang, jangan terlalu lama, karena orang bisa merasa tidak nyaman. Demi kenyamanan bersama, etika semacam itu harus diterapkan,” tandas Akbar.

Video aktivitas di acara gathering APDI; Akbar Marwan berbincang tentang teknis drone bersama beberapa penggiat APDI:


“Lalu kedua, jika seseorang memiliki atau membeli unit drone, sangan dianjurkan untuk bergabung dengan komunitas drone agar mendapatkan pembinaan yang proper. Pemerintah memang memiliki informasi terkait penggunaan, tapi biasanya dalam bentuk perangkat aturan; sementara informasi lebih teknis dan praktisnya bisa didapatkan dari komunitas. Maka itu, sangat penting buat para pengguna drone bergabung dengan komunitas drone,” urai Akbar.

Selanjutnya, rekomendasi APDI untuk pilot drone pemula adalah, sebaiknya membeli drone mainan yang kecil dulu, buat melatih dan membiasakan jempol. “Kalau sudah bisa dan biasa dengan yang kecil, biasanya yang lain juga bisa. Saya juga bisa karena biasa. Sama seperti atlet kan? Mereka jago karena latihan. Jadi latihan itu sangat penting, ditambah juga dengan kesabaran dan mental,” imbuhnya.

Selain itu juga, banyak sekali bidang yang memerlukan pilot drone saat ini, sampai beberapa tahun mendatang; mulai dari perminyakan, geografi, militer, sampai pariwisata; dan ini bisa makin dieksplor jika Anda berminat serius menjadi pilot drone. “Demikian juga untuk meng-endorse pariwisata Indonesia. Efek drone untuk pariwisata ini luar biasa. Sejauh ini sudah terasa, dan itu hasil kerja teman-teman di Kementerian Pariwisata,” kata Akbar.

Dari pandangan komunitas drone seperti APDI di atas, tak terbantahkan lagi kalau penggunaan drone yang berawal dari tren inipun makin meresap dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari sebagai hobi perorangan sampai keperluan industri.

Dan untuk mendukung keadaan itu, perlu disadari kalau keberadaan dan peran komunitas drone jadi penting untuk memastikan penggunaannya tidak dimanfaatkan untuk kegiatan negatif, selain memastikan aturan pemerintah terhadap penerbangan drone dijalankan dengan baik oleh para pemain drone.

Hal tersebut penting, karena masa depan pilot drone sangat potensial berkembang jadi profesi spesialis yang bakal makin banyak dibutuhkan oleh berbagai bidang; sehingga, saat tiba masa di mana Indonesia membutuhkan banyak pilot drone, para penggiat komunitas drone siap menjadi garda depan pemanfaatan drone yang lebih luas lagi di Indonesia.

Benarkah, Teal adalah drone paling gesit di dunia? Baca artikelnya, di sini

0 comments