NOW READING

Penggunaan Profoto B1 untuk Pemotretan Pranikah

 2832
+
 2832

Penggunaan Profoto B1 untuk Pemotretan Pranikah

by The Daily Oktagon

Setiap pasangan yang merencanakan pernikahan tentu ingin momen bahagia mereka diabadikan dengan sempurna. Tak hanya saat resepsi, tapi juga sebelum pesta upacara atau pesta pernikahan berlangsung; sekadar untuk pengingat, tentang indahnya perjalanan mereka menuju pelaminan.

Potret kemesraan pasangan sebelum pernikahan ini pula yang lumrah kita kenal sebagai foto pranikah atau (pre-wedding photography), yang biasanya dilakoni oleh juru foto profesional. Si fotografer dalam foto pranikah ini punya andil penting untuk merefleksikan dan mengangkat aura cinta si pasangan ke dalam bingkai foto.

tempe

Menurut David Soong, pemilik sekaligus fotografer Axioo Wedding Photography, selain memang memiliki konsep kuat, hal lain yang juga perlu diperhatikan betul oleh fotografer pranikah adalah pencahayaan.

“Pencahayaan harus menyesuaikan konsep, hingga bisa menghasilkan foto yang indah,” ujar David ketika berbincang dengan The Daily Oktagon.

Hal senada terkait pencahayaan itu pun diungkapkan fotografer lain, Wari Artiko. Menurut lelaki yang akrab disapa Iko ini, pencahayaan sangat penting, hingga untuk mendapatkan pencahayaan maksimal dibutuhkan perangkat yang memiliki performa ciamik. “Tapi mengingat foto pranikah biasanya dilakukan di luar ruang, akan lebih baik jika perangkat lighting itu portabel,” ungkapnya.

ProfotoB_Battery_-_Sumber_thephoblographer.com_

Lalu perangkat apa yang biasa diandalkan fotografer seperti David atau Iko? Selama ini mereka mengaku menggunakan Profoto B1. Keduanya memilihnya karena perangkat off-camera flash itu unggul dari sisi fleksibilitas, portabilitas, namun tetap memiliki dampak pencahayaan yang kuat.

Terkait pengalaman mereka berdua menggunakan Profoto B1, David dan Iko pun berbagi pendapat tentang pencahayaan pada eksekusi foto pranikah yang bisa jadi panduan para pelaku foto pranikah dan peminatnya.

Apakah perlu membawa baterai cadangan?

Perangkat Profoto B1 tersedia dengan baterai yang bisa dicas ulang. Hal tersebut sangat berguna untuk sesi pemotretan luar ruang yang jauh dari colokan listrik. Ketika daya baterai habis di tengah pemotretan, kita bisa segera mengggantinya dengan baterai cadangan.

Soal baterai ini daya tahannya pun cukup baik. Sekali cas, baterainya bisa menjepret flash sampai 220 kali, sehingga satu baterai saja bisa jadi sudah cukup; dengan demikian bobot bawaan si fotografer pub berkurang dan total bebannya jadi lebih ringan.

“Profoto B1 ini powerful, baterainya juga kyat dipakai pemotretan sehalian,” kata David yang baru saja melakukan upgrade perlengkapan pencahayaannya ke Profoto B2.

Sementara Iko punya pendapat sendiri soal baterai cadangan tadi. Menurutnya, lebih baik tetap membawa baterai cadangan untuk persiapan, walau nantinya tidak terpakai; daripada tidak bawa tapi ternyata dibutuhkan.

Satu lampu saja cukup

Selain ketahanan baterai, keunggulan lain Profoto B1 terdapat pada kekuatan lampunya. Menurut Iko, satu lampu Profoto B1 saja sudah sangat terang untuk mendukung pemotretan sederhana.

“Ada dua teknik pencahayaan dalam pemotretan: crossing dengan dua lampu, bisa jadi dengan posisi lighting di depan dan di belakang objek, atau cukup menggunakan satu lampu. Dengan Profoto B1, satu lampu saja cukup,” ujar Iko menjelaskan.

ProfotoB1007_3_0_-_Sumber_thephoblographer.com_

Tapi ia pun mengimbuhkan dengan penekanan, untuk selalu kembali menyesuaikan dengan konsep dan hasil yang diinginkan.

Mengoptimalkan cahaya yang tersedia

Walau Profoto B1 cukup mumpuni untuk mendukung proyek foto pranikah dengan kemampuan dan portabilitasnya yang bikin bobot peralatan yang mesti dibawa fotografer jadi lebih ringkas, pencahayaan dalam foto pranikah sebaiknya tetap fleksibel dan mengedepankan kebutuhan serta kreativitas.

Menurut Iko, kata kuncinya adalah: ambil keputusan yang paling efektif sesuai situasi yang dihadapi.

“Misal memanfaatkan cahaya yang tersedia atau pencahayaan alami. Jika hal itu lebih pas dengan kebutuhan dan konsep, maka bisa jadi lebih baik dilakukan. Atau, bisa juga menggunakan on-camera bounce flash atau direct on-camera fill flash. Intinya tetap pada naluri dan skill si fotografer, bukan alatnya,” kata Iko memungkas perbincangan.

Profoto_B1_bag_-_Sumber_profoto.com_

0 comments