NOW READING

Pengaruh Tren Teknologi di Dunia Bisnis, dan Bagaimana Menghadapinya?

 3210
+
 3210

Pengaruh Tren Teknologi di Dunia Bisnis, dan Bagaimana Menghadapinya?

by The Daily Oktagon
  • Teknologi dan bisnis tak bisa dipisahkan. Tapi kini peran teknologi tidak lagi sebagai pendukung, melainkan jadi penggerak tren yang menantang inovasi di sektor bisnis.
  • Tren penggunaan teknologi mengubah perilaku banyak orang, yang akhirnya membuat pelaku bisnis mesti kreatif dan inovatif menghadapinya.
  • Meski begitu, mengadopsi teknologi tidak bisa dilakukan secara gegabah, perlu perhitungan cermat. Karena teknologi itu mungkin murah di mata konsumen, tapi tidak di mata investor.

Tak terelakkan, kalau teknologi terus berevolusi. Peran sertanya memberikan lebih banyak ruang baru bagi para pebisnis untuk terus berinovasi. Sinergi bisnis dan teknologi kini membuat banyak hal yang tadinya terasa tidak mungkin jadi lazim. Mulai dari proses yang lebih ringkas, sampai waktu yang makin singkat.

Hasil konektivitas bisnis dan teknologi ini pun makin mendorong perkembangan produk dan iklim usaha yang modern dan fleksibel. Hal itu pun terasa di Indonesia, di mana perkawinan bisnis dan teknologi kian jadi core system yang mempermudah segala hal hingga membuat pengembangan bisnis kita pesat.

Tapi sebetulnya, sejauh apa adaptasi teknologi dalam dunia bisnis di Indonesia, sekarang sampai beberapa tahun ke depan? Apakah pertumbuhannya yang pesat bisa diimbangi secara ideal oleh berbagai bentuk bisnis, mulai dari yang rintisan (startup) sampai tingkat korporasi yang biasanya sudah berjalan dengan sistem yang ajeg bertahun-tahun lamanya?

Baca juga tentang perkembangan bisnis startup yang tumbuh pesat di Yogyakarta

Teknologi menciptakan tren bisnis.

Menurut salah satu pebisnis andal Francis Wanandi, teknologi dan bisnis merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Founder & CEO Gold’s Gym Indonesia ini menerangkan pandangannya soal teknologi dan pengaruhnya terhadap tren perkembangan bisnis.

“Tren ini bisa kita sebut sebagai tren quantifiable generations, di mana generasi yang ingin mengukur segala sesuatu dengan target. Contoh dalam hal olahraga, semuanya harus diukur, seperti burning calories, lari dan semacamnya. Dunia fitness pun mengkombinasikan upaya pelaku dengan hasil berbentuk angka. Angka di sini menjadi target,” kata pria yang pernah bekerja di The Walt Disney Company ini

Intinya menurut Francis, teknologi menciptakan tren yang mempengaruhi banyak orang dan bisa dimanfaatkan dunia bisnis. Diungkapkannya juga kalau hal itu jadi lumrah terjadi karena perangkat dan koneksi internet berkembang makin baik untuk mendukung menguatnya ekosistem teknologi di Indonesia.

Peluang itu sekaligus juga jadi tantangan, karena kini banyak orang bisa menggunakan perangkat teknologi untuk kebutuhan gaya hidup digitalnya. Contohnya, kini semua orang bisa menghitung hasil kegiatan olahraganya secara praktis lewat berbagai device canggih yang mudah mereka temukan di pasaran.

teknologi dan olahraga

Belum lagi, ada banyak pilihan perangkat smartphone dengan connected apps yang bisa berfungsi sebagaipersonal coach, atau media lain serupa video instruksi olahraga, yang dengan koneksi 4G saat ini jadi mudah diakses untuk keperluan aktivitas kebugaran sehari-hari. Jadi pegiat bisnis juga mesti jeli dan inovatif memanfaatkan pergeseran perilaku ini, untuk menentukan langkah yang tepat.

“Lalu, zaman sekarang juga, semua sudah terhubung dengan media sosial. Generasi sekarang sudah terbiasa dengan berbagi hasil dari aktivitas olahraga yang mereka lakukan di media sosial,” sambungnya. Menurut Francis, kebiasaan memanfaatkan teknologi untuk berbagi hasil kegiatan olahraga merupakan apresiasi terhadap apa yang berhasil ia raih.

Dari kebiasaan itu pula jadi terbentuk komunitas. Pencapaian olahraga yang tadinya terbentuk secara individual, kini menjadi komunal. Maka itu pula kini banyak unit bisnis yang mulai fokus pada pengembangan komunitas, dan menganggapnya penting sebagai strategi membangun relasi dengan konsumen.

“Itu baru satu contoh dari segi kesehatan saja. Belum dari bidang lain. Jadi jelas, teknologi sampai masa mendatang akan terus membentuk tren yang begitu berpengaruh terhadap dunia bisnis,” lanjut Francis menandaskan.

Simak pula bahasan tentang smartwatch atau fitness tracker, mana yang sebaiknya dipilih untuk aktivitas kebugaran?

Teknologi tidak bisa diserap seluruhnya begitu saja. Human touch tetap penting.

Teknologi juga makin penting kedudukannya di dunia bisnis karena kemampuannya mempercepat pergerakan dan akselerasi bisnis. Masih menurut Francis Wanandi yang juga akrab dengan dunia teknologi, ia menuturkan kalau teknologi punya peran besar membuat bisnisnya tumbuh lebih cepat dari sebelumnya.

Tapi ia juga memperingatkan kalau hal itu tidak berarti para pebisnis harus benar-benar menyerap semua bentuk teknologi dan menerapkannya dalam waktu bersamaan. Pertimbangannya, ada beberapa hal soal teknologi yang memang bisa langsung membawa dampak positif, tapi ada yang sebaiknya ditahan atau disimpan dulu.

bisnis dan teknologi

“Kita mesti pintar mengadaptasi teknologi ke dalam lingkup bisnis, karena teknologi itu tidak cheap. Ya memang cheap kalau dilihat dari sudut pandang consumer, tapi tidak untuk investor. Kita mesti benar-benar paham kalau makin ke sini, cycle teknologi juga semakin pendek. Misal, kita investasi pada satu hal, dan besok ada yang coming up, maka investasi kita bisa saja jadi out of date. Maka itu, kalau saya tidak terlalu agresif juga untuk adopsi teknologi ke dalam operasional bisnis,” kata Francis memaparkan.

Pria kelahiran Zurich, Swiss, 18 Oktober 1969 ini pun menyatakan kalau yang penting buatnya adalah keseimbangan di antara teknologi dan human touch. Apalagi Francis yang menggenggam belasan unit bisnis di sektor kebugaran, kesehatan, dan ritel farmasi ini menilai kalau dunia kesehatan yang ia geluti tak bisa lepas dari personal touch.

“Kita memang tak bisa menghindari tekanan adopsi teknologi yang kian pesat. Apalagi semua orang cenderung attached pada gadget, dan hal itu sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi saya ingin tetap menyeimbangkan teknologi dan people touch ke dalam bidang fitness, karena tidak semua bisa dilakukan dengan bantuan robotik,” ujarnya.

Ikuti ulasan tentang LG Rolling Bot, robot mungil cerdas yang bersahabat

Optimalkan teknologi yang relevan dan sesuai kebutuhan.

Dampak teknologi untuk bisnis Francis Wanandi, seperti sempat ia ungkapkan di atas tentu berimbas pada usaha waralaba fitness-nya. Menurutnya, dua jenis teknologi yang relevan dan cocok dengan kebutuhan bisnisnya, serta sedang fenomenal saat ini adalah Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR); yang ia sebut juga akan jadi hal baru dan menyegarkan di dunia kebugaran.

“Dua hal itu (VR dan AR) inovasi yang menyegarkan. Jelas kami akan mengadopsinya ke instrumen kami sampai 2-3 tahun mendatang. Barangnya sudah ada, tinggal implementasinya saja,” kata Francis.

Ia pun tak menutup kemungkinan kalau tren kebugaran berbasis teknologi kelak akan sangat dipengaruhi perkembangan teknologi VR dan AR, meski saat ini penggunaannya belum meluas dan masih dalamprogress sampai benar-benar lazim. Karena kini peran personal touch dalam dunia fitness masih sangat dominan.

francis wanandi dan teknologi

Pemilik Gold’s Gym Indonesia, Francis Wanandi.

“Kini orang-orang masih butuh community. Tapi prediksi saya, lambat laun mereka akan beralih mengadopsi VR dan AR untuk kegiatan olahraga. Saat ini juga sudah banyak game yang media teknologi untuk berolahraga. Bentuknya banyak, ada misalnya sepeda yang menggunakan VR headset dan membuat suasana olahraga terasa lebih menantang,” ujar Francis.

Untuk menghadapi perkembangan dinamis dari relasi teknologi dan bisnis ini, menurut Francis Wanandi yang penting adalah memahami fleksibilitas, yang jadi kebutuhan konsumen bisnis. Ia optimistis kalau peran teknologi akan berperan makin besar dalam dunia bisnis.

“Keinginan banyak orang itu adalah sesuatu yang fleksibel, atau pilihan untuk mengatasi kendala atau keterbatasannya melakukan hal tertentu, dan gadget mereka kini makin mampu menjawab keinginan itu. Makanya mereka lekat dengan gadgetnya, dan behavior-nya kian terbentuk seperti itu. Maka, ke depan fleksibilitas akan jadi tuntutan konsumen. Contohnya, nantinya mereka hanya ingin personal trainer yang datang ke tempat mereka berada,” pungkasnya.

Simak bahasan khusus tentang Garmin Forerunner 235 yang bukan sekadar fitness tracker biasa

0 comments