NOW READING

Pementasan Bunga Penutup Abad dan Fotografi Ala Tompi

 823
+
 823

Pementasan Bunga Penutup Abad dan Fotografi Ala Tompi

by The Daily Oktagon
  • Pementasan teater ternyata makin kuat daya magisnya jika dibaur dengan fotografi.
  • Hasil jepretan kamera yang dipamerkan seolah menambah kekuatan cerita, lewat tangkapan lensa yang memancarkan emosi para karakter yang terlibat di dalamnya.
  • Seperti pada pementasan Bunga Penutup Abad yang diadaptasi dari karya sastra Pramoedya Ananta Toer, dan pameran foto pendukungnya oleh penyanyi jazz Tompi.

Fotografi memegang peranan penting dalam pementasan teater. Berkat elemen ini, adegan demi adegan terbingkai manis dalam setiap bidikan. Begitu pun jika fotografi berbaur dengan pendalaman karakternya, masing-masing potret mampu menghadirkan kesan visual yang begitu kuat dan memikat.

Pada tiap pementasan teater juga biasanya menghadirkan pameran fotografi secara terpisah, yang memamerkan pengenalan karakter secara individu. Seperti pada pementasan Bunga Penutup Abad yang diadakan Agustus silam.

Ya, lakon teater adaptasi karya Pramoedya Ananta Toer itu menghelat pameran fotografi yang memperkenalkan deretan karakter pengisi kisah teaterikal ini dengan presentasi yang dramatis dan apik.

Yang juga menarik adalah, fotografer dibalik pameran itu, yang ternyata adalah Tompi. Ya, figur yang lebih dikenal sebagi penyanyi ini benar-benar menghayati perannya sebagai juru foto, dan berupaya menyampaikan makna mendalam dari tiap frame yang ia hasilkan.

Ia seperti ingin menunjukkan, kalau rangkaian foto hitam putihnya, benar-benar mewakili inti dari cerita dalam pertunjukan.

Baca juga ulasan Hasselblad X1D yang merupakan kamera mirrorless format medium pertama di dunia

bunga penutup abad tompi

Tak hanya bergelut di dunia musik jazz, ternyata Tompi memang menyukai fotografi, khususnya portrait dan human interest photography. Maka itu, pada The Daily Oktagon ia pun mengaku kalau project pameran untuk pementasan Bunga Penutup Abad ini memang sesuai dengan seleranya.

Bagaimana proses kreatif di balik talenta fotografi Tompi pada event ini? Kami pun mendapat kesempatan berbincang dengan Tompi dan mengulik prosesnya.

Menggali kekuatan karakter dan menunjukkannya lewat foto hitam putih

Pria kelahiran Lhokseumawe, Aceh, 22 September 1978 ini ini mengungkapkan, awal tergabung dengan event ini bermula saat ia dihubungi Happy Salma yang adalah produser eksekutif Bunga Penutup Abad.

“Happy follow Instagram saya (dr_tompi). Dari situ, ia mengatakan kalau ia menyukai feed foto-foto saya. Setelah diskusi, ia pun menanyakan ketertarikan saya untuk bergabung dalam pementasan ini,” ujar Tompi pada The Daily Oktagon sesaat sebelum acara di mulai di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis, 25 Agustus silam.

“Ketika diceritakan isi naskahnya, karena memang saya belum tahu ceritanya, saya pun tertarik dan tertantang untuk mengemas pementasan ini dengan perspektif ingin memperkenalkan karakternya lebih dalam pada penonton,” sambung pria yang juga berprofesi sebagai dokter bedah ini.

Selain portrait dan human interest photography, Tompi pun mengaku bahwa ia menyukai foto hitam putih. Menurutnya, warna itu cocok untuk merepresentasikan para karakter pengisi drama teaterikal yang disutradarai Wawan Sofwan ini.

bunga penutup abad tompi

“Foto dengan warna hitam putih mampu memaksimalkan pendalaman karakter, mood-nya juga jadi lebih kelihatan. Apalagi, drama pementasan ini memang bertema flashback, dan dominan bernuansa sendu dan melankolis,” ungkapnya.

Dari semua gaya penataan fotografi yang ia kemas, sekilas memang terlihat sama dengan karakteristik foto di akun Instagram-nya. Hal ini pun dibenarkan Tompi, bahwa hobi memotretnya merupakan kebetulan yang sama dengan keinginan Happy atas keterlibatannya pada event ini.

“Seperti tadi saya bilang, saya suka foto hitam putih, dan Happy pun suka konsep itu. Saya jadi enggak terlalu mengalami banyak kendala karena hampir semua elemen foto yang ditampilkan ini memang benar-benar saya geluti,” ungkapnya.

Berbekal kamera Hasselblad H5D dan Leica M4-2, hasil bidikan Tompi memang menunjukkan aliran mood yang berbeda-beda, tapi tetap menampilkan makna mendalam. Semua itu karena teknik detail shadow dan highlight benar-benar lihai ditunjukkan oleh Tompi.

Intip juga kamera Hasselblad H6D-50c di sini

“Saya memang suka bermain dengan shadow dan highlight. Kalau sudah hitam putih warnanya, dua elemen itu wajib jadi tool saya,” katanya.

bunga penutup abad tompi

Fotografi di mata Tompi

Dalam perbincangan tentang proses kreatif di balik deretan karya fotografinya di pementasan Bunga Penutup Abad, Tompi juga berbagi pandangannya tentang dunia fotografi. Menurutnya, tren fotografi di 2016 ini adalah kamera analog.

“Sekarang lagi banyak yang main analog. Saya sendiri suka motret dengan kamera analog. Padahal, awal-awal saya terjun ke dunia fotografi itu kenalnya sama kamera digital. Kamera pertama saya waktu masa kuliah itu Nikon D50. Tapi kini, perlahan saya justru kembali ke large format,” kenangnya.

Ia juga menyatakan, walaupun analog kembali jadi tren, masih banyak orang yang belum mengerti penggunaan kamera analog. Menurutnya, banyak yang terjebak pada mindset kalau perangkat analog itu sulit dan terkesan old school.

“Padahal sebetulnya tidak sesulit yang dibayangkan. Kita bisa memotret, menjalani prosesnya, dan melihat hasilnya. Enggak perlu sunting pascaproduksi, pokoknya gampang, enggak ribet. Kita pun bisa langsung mendapatkan hasil yang diinginkan,” tambahnya.

Tahap itu, menurutnya, sangat penting dipahami dalam fotografi. Tompi berujar kalau kini banyak orang lihai meng-edit foto atau melakukan pekerjaan pascaproduksi, tapi tidak benar-benar tahu cara memotret yang benar.

Simak pula artikel tentang komposisi memotret dengan Segitiga Gestalt

“Mereka mengabaikan prosesnya. Dan ini yang bikin orang-orang malas menggunakan analog, karena memang memaksa kita untuk enjoy the process,” timpalnya.

Tompi sendiri kini menggunakan beberapa kamera analog. Di antaranya ada Leica M4-2, M7, M-P, dan Leica IIIc, lalu Nikon F6, Hasselblad Xpan, 503cw, Rolleiflex 2.8F, Mamiya 7 II, Linhof 4×5, Graflex 4×5, dan Aeroliberator 4×5.

Ia juga mengaku kerap berbelanja aksesori penunjang di beberapa toko, termasuk salah satunya Oktagon, untuk mengoptimalkan aktivitas memotretnya.

“Saya sering banget beli beberapa aksesori yang dapat menyuplai film, seperti larutan untuk men-develop film, dan cuci scan laboratorium profesional,” tandasnya.

bunga penutup abad tompi

Minat terhadap fotografi dan kamera sebesar itu memang tidak akan bisa disembunyikan. Wajar saja kalau Happy Salma, produser eksekutif pementasan Bunga Penutup Abad sampai kecantol dengan hasil foto Tompi, dan ingin melibatkannya dalam pameran foto event tersebut.

Pementasan Bunga Penutup Abad sendiri merupakan kisah adaptasi dari tetralogi novel karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit pada era 1980-an.

Ceritanya tentang Annelies (yang diperankan Chelsea Islan) yang bepergian dari Surabaya menuju Belanda, lalu memadu kasih dengan Minke (Reza Rahadian).

bunga penutup abad tompi

Kisah manis tapi juga pahit Annelies dan Minke itu pun tertulis lewat surat-surat Panji Darman pada Nyai Ontosoroh (Happy Salma) dan Minke.

Sayangnya, Annelies mesti menutup usia di Belanda. Hal itu kemudian memukul batin Minke. Ia pun pergi ke Batavia, untuk menggeluti ilmu kedokteran.

Dalam rangka mengenang wanita pujannya itu, Minke pun membawa lukisan Annelies yang dibuat oleh Jean Marais.

Lukisan itu menyampaikan pesan: “Harus bisa berkisah tentang abad yang lewat, dan kilat mata tentang harapan mendatang, inilah yang disebut Bunga Penutup Abad.”

Ikuti juga laporan event menarik lainnya di The Daily Oktagon

0 comments