NOW READING

Patrick Fong, Produser Program Televisi yang “Hijrah” Menjadi Fotografer

 1353
+
 1353

Patrick Fong, Produser Program Televisi yang “Hijrah” Menjadi Fotografer

by The Daily Oktagon
  • Fotografer profesional asal Hong Kong, Patrick Fong, awalnya adalah seorang produser program televisi.
  • Ia lalu mendalami fotografi secara serius dan menekuninya secara profesional, dengan fokus di fotografi portrait, commercial, dan wedding.
  • Selain terus memperdalamnya, Patrick juga selalu mengikuti tren teknologi digital seperti mobile photography, sampai mobile game seperti Pokemon GO, untuk terus menyegarkan sumber inspirasinya.

Beberapa waktu lalu, produser multimedia independen asal Hong Kong yang kini aktif sebagai fotografer, Patrick Fong, bertandang ke Oktagon Store di kawasan Gunung Sahari, Jakarta.

Pria yang memiliki kepakaran dan spesialisasi di bidang fotografi portrait, commercial, dan wedding tersebut berbagi pengalamannya selama menekuni dunia fotografi dalam sebuah workshop yang digelar The Daily Oktagon, dengan tema “How To Get Better Lighting & Video Shooting“.

Sebelum workshop berlangsung, kami sempat berbincang dengan Patrick yang ternyata mengikuti salah satu tren mobile saat ini, yaitu bermain Pokemon GO.

Dengan segudang pengalaman sebagai produser program di stasiun televisi, ditambah dengan pemahamannya mengenai fotografi, Patrick mempunyai sudut pandang apik yang menarik dan inspiratif. Apa saja? Simak obrolan lengkapnya berikut ini:

Bagaimana Anda bisa terjun ke dunia fotografi?

Sebelum terjun ke dunia fotografi saya berkarier cukup lama di stasiun televisi. Kemudian suatu hari tiba-tiba saja terlintas di benak saya, “Saya ingin ada perubahan. Saya ingin sesuatu yang baru.”

Bukan cuma itu, orang-orang di sekeliling saya pun menilai latar belakang saya sebagai seorang produser, memungkinkan saya untuk mampu menghasilkan foto berkualitas. Mereka menilai, saya punya mata yang baik dan sense yang bagus dalam menghasilkan karya. Dari sini saya mulai mencoba untuk memotret.

patrick fong

Patrick Fong bercerita tentang pencahayaan dalam fotografi di Oktagon, kawasan Gunung Sahari, Jakarta, Selasa (9/8/2016).

Menurut saya tidak ada perbedaan signifikan antara profesi saya sebelumnya dan profesi saya saat ini sebagai fotografer. Keduanya secara umum sama saja. Toh sama-sama bergelut dengan kamera. Tapi, ada satu perbedaan mendasar yakni soal kontrol kamera.

Ketika saya mengawali karier di dunia fotografi, tentu harus saya akui bahwa kemampuan saya belum sebaik seperti sekarang.

Bagaimana Anda membentuk gaya fotografi? Siapa influencer Anda?

Saya tidak punya influencer secara spesifik. Tapi yang jelas, saya banyak belajar dari fotografer yang mengunggah karyanya di internet. Saya menyukai dan memelajari gaya mereka. Kemudian, lama-lama saya pun punya gaya saya sendiri.

Kepakaran Anda adalah fotografi portrait, commercial, dan wedding. Mengapa?

Seperti yang saya ceritakan di awal tadi, saya berkarier cukup lama di stasiun televisi, tepatnya untuk program reality show. Dari pengalaman itu, saya sudah cukup sering menangani fotografi commercial dan portrait. Hanya jenis fotografi wedding yang baru saya geluti setelah serius berkecimpung di dunia fotografi.

Alasannya, selain saya merasa bisa melakukannya, ketiga jenis itu juga penting diketahui dan diperdalam untuk menggeluti fotografi profesional. Lalu, di Hong Kong, ketiga kategori itu juga umum dan populer.

Anda juga mungkin tertarik mengikuti cerita figur lain seperti Evi Arbay yang gemar traveling, drone, sekaligus pegiat pemberdayaan remote area

karya patrick fong

Dari mana Anda mendapat inspirasi dan apa yang Anda lakukan agar tidak ketinggalan tren fotografi?

Ah, mudah saja kok. Pergi berkeliling dan berinteraksi dengan banyak orang. Jangan lupa, minta pendapat kepada orang-orang terdekat, misalnya para penggemar, kalau Anda sudah punya basis penggemar.

Selain itu, saya selalu mengusahakan diri untuk selalu mengikuti tren terkini dan mencari informasi yang tersebar di internet.

Perangkat dan software apa saja yang biasa Anda gunakan ketika memotret?

Dua tahun belakangan ini saya sedang bereksplorasi dengan Manfrotto LED Light. Saya juga menggunakan Manfrotto Digital Director. Masing-masing perangkat ini memiliki satu dedicated app. Kedua aplikasi tersebut sangat sering saya gunakan dalam menunjang aktivitas fotografi saya.

Kalau untuk software, biasanya saya menggunakan Lightroom. Kadang kala saya juga mengolah foto dengan Photoshop, utamanya untuk fotografi portrait, meski kini sudah lebih jarang dari sebelumnya. Permintaan orang kan macam-macam. Ada yang minta dibuat lebih kurus, misalnya.

foto patrick fong

Bagaimana Anda memandang mobile photography saat ini?

Dalam pandangan saya, penggunaan perangkat mobile atau smartphone untuk keperluan fotografi sangat bagus. Misalnya, kamera smartphone keluaran Apple dan Samsung, menurut saya, keduanya punya kemampuan di atas rata-rata bila dibandingkan dengan kamera smartphone lainnya.

Bahkan, kamera smartphone Samsung sudah mendukung foto dalam format mentah (raw). Selain itu, kita bisa langsung melakukan afterwork pada hasil jepretan kita, sehingga kualitasnya lebih bagus sebelum kita unggah ke internet.

Tapi perlu diperhatikan, hasil jepretan kamera smartphone bukan untuk dicetak. Kalau sekadar untuk dipamerkan di media sosial seperti Facebook, Instagram, kualitasnya sudah lebih dari cukup.

Ingin makin serius menggeluti fotografi dan berpikir untuk membuat studio foto sendiri? Cek artikel ini untuk mengetahui apa saja peralatan minimal yang diperlukan

foto patrick fong

Lantas, apakah menurut Anda mobile photography kelak akan menggantikan digital photography?

Tidak akan. Tentu saja hal itu tidak akan terjadi.

Mengapa?

Kelemahannya ada pada kualitas kamera smartphone itu sendiri. Sebagus apa pun, tetap saja kamera smartphone punya kelemahan.

Apa kelemahannya?

Bukankah dari waktu ke waktu kualitas kamera smartphone juga meningkat drastis? Selain Samsung Galaxy S7, LG G5, ada pula Huawei yang berkolaborasi dengan Leica untuk produk Huawei P9. Kemudian yang tengah hangat dibicarakan, Motorola dikabarkan menggandeng Hasselblad untuk produk Moto Z. Apa pendapat Anda?

Memang betul begitu. Seperti yang saya katakan tadi, pada dasarnya saya sepakat kalau kamera smartphone punya kemampuan di atas rata-rata, bila dibandingkan dengan kamera smartphone lainnya.

Tapi sekali lagi, yang ingin saya tekankan adalah, kamera smartphone punya keterbatasan semisal dalam aspek focal length. Lalu perlu diketahui juga bahwa sensor CMOS dan CCD di kamera smartphone dirancang dengan ukuran lebih kecil. Hal ini berimbas langsung pada penurunan kualitas jepretan.

Selain itu, harga smartphone tersebut relatif mahal, bukan? Hal ini berpengaruh pada satu hal yang juga tak kalah penting untuk dicatat: Tahukah Anda apa alasan orang-orang membeli smartphone tersebut?

Saya beri tahu Anda. Mereka cenderung ingin pamer kalau mereka punya smartphone dengan kamera bagus. Jarang di antara mereka yang betul-betul memerhatikan kualitas hasil jepretan kameranya.

foto patrick fong

Bicara soal tren terkini, Hong Kong adalah salah satu negara di mana Pokemon GO resmi dirilis. Apakah Anda main Pokemon GO?

Ya, tentu saja saya main Pokemon GO. Saat ini Pokemon GO sedang menjadi tren, sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengikuti tren ini.

Di mana lokasi favorit Anda untuk bermain Pokemon GO?

Di mana saja. Ketika saya ingin bermain Pokemon GO, saya memainkannya.

Apakah bermain Pokemon GO bisa memberi Anda inspirasi?

Bisa saja. Kemungkinan untuk hal itu ada, meski jujur saya akui saat ini belum. Tapi mungkin ke depannya mungkin saja ada.

Siapa tahu kelak, kegemaran Patrick Fong bermain Pokemon GO bisa mendatangan inspirasi untuknya. Yang jelas, game itu menginspirasi penggemarnya di Indonesia untuk membentuk komunitas. Simak ceritanya di sini

0 comments