NOW READING

Para Fotografer Senior Bicara tentang Foto Jurnalistik di Era New Media

 3696
+
 3696

Para Fotografer Senior Bicara tentang Foto Jurnalistik di Era New Media

by The Daily Oktagon

Internet tak hanya mencuri perhatian publik dari media massa konvensional, tetapi juga mengubah bentuk jurnalisme itu sendiri. Kehadiran Internet memungkinkan siapa saja menyampaikan informasi. Media konvensional seperti surat kabar, majalah, radio, dan televisi kini harus berkompetisi dengan blogger, pengguna media sosial, bahkan brand yang melakoni content marketing.

Hal tersebut berlaku juga bagi foto jurnalistik. Ini adalah bagian dari dunia jurnalistik yang menggunakan bahasa visual untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas. Hampir semua orang membawa smartphone yang bahkan kameranya sudah canggih. Dengan adanya media sosial dan koneksi Internet yang selalu tersedia, foto suatu peristiwa yang punya nilai berita dapat dibagikan segera. Jadi, siapa pun bisa menjadi pewarta foto.

The Daily Oktagon berkesempatan mewawancarai pakar di bidang ini. Nah, simak bagaimana para fotografer senior bicara tentang foto jurnalistik di era new media.

“Teknologi digital melahirkan kecepatan dan genre baru dalam jurnalistik, yaitu jurnalisme warga,” ujar pewarta foto senior Kantor Berita Antara, Oscar Motuloh.

Oscar_Motuloh

Oscar Motuloh

Menurut Oscar, salah satu primadona jurnalistik adalah kecepatan. Seiring pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, kecepatan bukan lagi milik jurnalis saja. Didukung maraknya penggunaan media sosial, kecepatan penyampaian informasi pun didominasi warga yang bukan berprofesi sebagai wartawan. Ini tidak mungkin dicapai kalau teknologi digital belum tercipta.

“Otomatis, warga bisa mengirim informasi dalam bentuk teks, tapi yang lebih menonjol adalah fotonya. Mungkin, sebelum wartawan datang, mereka sudah menyiarkan duluan,” kata Oscar.

Lantas, kehadiran jurnalisme warga mengancam eksistensi profesi jurnalis? Oscar tidak menganggapnya demikian. Baginya, jurnalisme warga bukanlah ancaman. Menyangkut jurnalistik sebagai sebuah perusahaan, jurnalisme warga termasuk di dalamnya. Di media sosial, para wartawan warga ini adalah tulang punggung yang berada di garis depan.

“Mereka adalah mitra dari dunia jurnalisme yang terus berkembang,” ucap dia.

Sebelum melanjutkan membaca, simak artikel menarik berikut, Upaya Masyarakat Fotografi Indonesia Majukan Industri

Pewarta Foto dan New Media
Teknologi digital memaksa jurnalistik berubah bentuk. Atau, lebih tepatnya beradaptasi dengan bentuk baru yang lebih digemari. Kehadiran new media yang kontennya dapat diakses secara selektif lewat Internet membuat media massa konvensional pelan-pelan melakukan transisi ke media baru. Entah itu menggunakan media lama dan baru sekaligus, maupun benar-benar mengusung media baru sepenuhnya.

“Kalau kita bicara ada koran besar beralih ke media baru, atau online, ini sebenarnya tidak berubah. Sama saja, bahkan persis,” kata Oscar. Dia melanjutkan, yang berubah hanya kemasannya.

Agar tidak ketinggalan arus gelombang perubahan media baru, jurnalis harus meningkatkan potensi diri dan melengkapi kemampuan lain yang menunjang. Seperti misalnya pewarta foto yang tidak sekadar memotret, tetapi juga melaporkan dan melakukan hal lain yang menjadi tuntutan media baru. Walaupun demikian, Oscar mengatakan, prioritasnya tetap pada medium masing-masing.

Ini pula yang dirasakan oleh Beawiharta Belly, pewarta foto Reuters. Media sosial adalah salah satu bagian dari media baru yang membuka kesempatan menjangkau publik yang lebih luas. Bahkan, sampai menggerakkan publik untuk melakukan sesuatu. Hasil jepretannya yang mendokumentasikan rombongan anak sekolah melewati jembatan gantung ‘Indiana Jones’ di Banten, awal 2012 silam, menuai tanggapan luar biasa.

Beawiharta_Belly

Beawiharta Belly karya Azman Jumat

Foto yang oleh Bea diunggah di akun Facebook, Twitter, serta blog-nya itu mendapat respon mengejutkan. Dalam kurun waktu singkat, foto tersebut dibagikan ribuan kali. Bahkan, kantor berita luar negeri seperti Daily News juga memuat foto itu. Foto jembatan rusak tersebut pertama kali diunggah oleh Asep Faturahman, pewarta foto Antara, di akun Twitter-nya.

Bea, bergabung dengan Reuters sejak 1999. Dia awalnya menganggap foto tersebut setting-an karena ia tidak percaya jembatan yang kondisinya rusak parah itu masih dilewati orang, terlebih lagi anak-anak sekolah. Didasari rasa penasaran, ia mendatangi lokasi jembatan ‘Indiana Jones’ yang berada di di Desa Sanghiang Tanjung, Kabupaten Lebak, Banten, dua hari setelah Asep, tepatnya Rabu 25 Januari 2012.

Jembatan__Indiana_Jones_

Jembatan Indiana Jones karya Beawiharta Belly

“Sampai akhirnya teman saya dari Institut Teknologi Bandung menelepon dan berniat memperbaiki jembatan itu,” kata Bea di Galeri Jalanan Bautanah, Cikini, Jakarta, 3 Oktober 2015. Dia pun minta diantar ke sana. Tetapi, Bea minta diberi jaminan bahwa ia benar-benar akan memperbaikinya. Dua bulan kemudian, jembatannya itu selesai diperbaiki.

Bea yang telah memotret sejak 1989 mengaku senang dengan dampak positif dari informasi yang tersebar viral di media baru tersebut. Jembatan yang membahayakan keselamatan anak-anak sekolah itu akhirnya diperbaiki. Namun, lebih dari itu, ia merasakan sesuatu yang lebih berarti.

“Ketika kita bisa membuat foto yang bercerita dan menggerakkan banyak orang untuk melakukan sedikit perubahan, kita bisa bilang, untuk inilah kita hidup,” ucap dia.

Foto_Beawiharta_1

Foto karya Beawiharta

Peran Pers Mengedukasi Warga
Dalam perkembangannya, mengutip buku Jurnalisme Masa Kini yang ditulis oleh Nurudin, jurnalisme warga dihadapi oleh berbagai tantangan. Misalnya masalah profesionalisme. Artinya, tidak semua orang, apalagi yang tidak terlatih, bisa membuat berita. Profesi jurnalis juga cenderung terikat oleh sistem dan terikat dengan hukum, lalu banyak pihak yang skeptis terhadap kualitas isi dari jurnalisme warga.

Sebagai bagian dari jurnalisme, tentu jurnalisme warga perlu dijaga kualitasnya. Salah satu pihak yang punya tanggung jawab dalam hal ini adalah pers. Caranya edukasinya bermacam-macam. Bisa lewat rubrik khusus untuk jurnalisme warga yang kontennya telah mengalami proses seleksi atau penyuntingan, agar hanya memuat topik-topik yang menarik dan layak dilaporkan. Atau edukasi lewat workshop jurnalistik.

Ini telah dilakukan oleh media arus utama. Salah satunya Tempo, yang rutin memberikan workshop jurnalistik, termasuk di dalamnya fotografi jurnalistik, yang terbuka untuk umum sejak 2011. Dijelaskan oleh Gunawan Wicaksono, pewarta foto Tempo, sebelumnya program pelatihan ini berjalan secara lepas. Namun, baru tahun ini, Tempo menggarapnya lebih serius di bawah bendera Tempo School of Photography (TSP).

Gunawan_Wicaksono_1

 Gunawan Wicaksono

Sekolah fotografi yang kelas pertamanya dimulai pada November 2015 ini menyediakan Kelas Jurnalistik. Dengan begitu, siapa saja, termasuk mereka yang punya minat pada jurnalisme warga, dapat meningkatkan kemampuan fotografi jurnalistik dengan mengikuti pelatihan ini. Kursus singkat yang membahas fotografi non-jurnalistik pun dibuka juga.

Hujan_Beras

Hujan Beras karya Gunawan Wicaksono

Saat Guntje, sapaan akrab Gunawan, mengajar di beberapa tempat, ada satu hal yang sering dia kritik. Banyak mahasiswa menganggap momen adalah yang terpenting. Buat mereka, hasil foto agak tidak fokus tidak apa-apa.

“Padahal, mengutip omongan almarhum Kartono Ryadi, pewarta foto Kompas, fotografi jurnalistik juga punya hak tampil indah,” ujar Guntje.

Karena itu, menurut salah satu mentor TSP ini, prioritas pewarta foto, baik profesional atau warga, memahami teknik dasar fotografi adalah hal penting. Namun, apa yang coba diajarkan TSP tidak semata-mata teknik saja, tetapi juga fotografi jurnalistik dari kaca mata dan pengalaman para pewarta fotonya.

Berbagai situasi yang mungkin jarang atau tidak pernah ditemui para pegiat foto akan ditularkan, seperti menyiasati liputan investigasi, mengakali pemotretan profil foto tokoh yang sulit. Bahkan, bagaimana membuat jaringan pewarta foto di daerah-daerah.

“Kalau teknik, mungkin Googling saja juga sudah dapat,” ucap Guntje yang merupakan putra fotografer legendaris Zaenal Effendy ini. Dia mengatakan, pada dasarnya, teknik fotografi dari tahun 1930-an sampai 2000-an tidak jauh berbeda.

Between_Dream_and_Reality

Between Dream and Reality karya Gunawan Wicaksono

Guntje mengatakan, ke depannya, peserta pelatihan diberikan apresiasi dalam bentuk pameran foto. Tidak hanya itu, akan dipilih siapa saja yang terbaik tiap angkatan. Nantinya, mereka punya kesempatan mengisi rubrik-rubrik di Tempo, sesuai kemampuannya.

Kalau mereka bagus, tidak tertutup kemungkinan para peserta akan ditawarkan posisi kontributor foto di Tempoatau diangkat sebagai karyawan. “Kalau bagus, kenapa tidak,” ujar Guntje.

Ramal_Nasib

Ramal Nasib karya Gunawan Wicaksono

Dia kembali menekankan, fotografi jurnalistik bukan hanya soal teknis maupun peralatan kamera serba canggih, tetapi lebih kepada rasa. Menurutnya, salah satu cara yang dapat dilakukan pewarta foto untuk meningkatkan kemampuannya bukan sekadar mengikuti pelatihan, tetapi juga memperkaya referensi. Dia mendorong agar sering melihat karya orang lain atau pewarta foto yang hebat, datang ke pameran, maupun membaca majalah dalam dan luar negeri.

“Fotografi terkait juga dengan photographic memory. Secara tidak sadar, terbentuk image bank di dalam kepala,” ucap Guntje.

Overcapacity

Overcapacity karya Gunawan Wicaksono

Ketika menghadapi suatu peristiwa, akan ada bayangan angle atau pencahayaan seperti apa yang dapat diterapkan. Guntje mengungkapkan, di awal kariernya banyak mengamati karya pewarta foto legendaris Indonesia, seperti Oscar, Bea, dan tentu saja mendiang ayahnya.

Pegiat foto tentu wajib membaca artikel berikut, Salon Foto Indonesia, Ajang Apresiasi Insan Fotografi

0 comments