NOW READING

Pandangan Sandiaga Uno tentang Melebarnya Sayap Angel Investor di Tanah Air

 1850
+
 1850

Pandangan Sandiaga Uno tentang Melebarnya Sayap Angel Investor di Tanah Air

by The Daily Oktagon

Para ‘malaikat’ yang siap membantu startup atau disebut juga angel investor semakin banyak yang turun ke bumi. Tahun 2014 saja tercatat, di Eropa terdapat sekitar 260 ribu angel yang turun di kawasan Eropa.

Indonesia tentu juga tidak luput dari hadirnya para angel investor. Baik yang dilakukan oleh nama-nama perusahaan besar lewat venture investor seperti Lippo Group dan Sinar Mas, muncul pula jaringan angel investor yang terdiri atas para investor individu. Sebut saja Angel Investment Network Indonesia (Angin), kemudian pada akhir 2014, muncul nama Angel-eQ Network.

Menjadi seorang angel investor tentu bukan hanya perkara memberikan modal kepada perusahaan pemula, terlebih di antara para investor ini merupakan pengusaha yang datang bukan dari industri teknologi.

Sebelum lanjut, yuk baca artikel berikut, Kesempatan Berbisnis Melalui Internet of Things

Siapa tak kenal Sandiaga Uno? Pengusaha ternama yang merupakan tokoh penting di balik nama Saratoga Capital dan Recapital Advisors ini mengaku tidak khawatir dengan asingnya industri teknologi yang akan ia akan sentuh sebagai konsekuensi dirinya sebagai angel investor.

Sandi, begitu ia dipanggil, sebenarnya tidak benar-benar asing pada industri ini. Sebelumnya, ia pernah berinvestasi di salah satu perusahaan real estate online. Oleh karena itu dia pun percaya diri menggagas jaringan bernama Angel-eQ.

sandi_unoSandiaga Uno

Ternyata, bukan karena itu saja satu-satunya alasan dirinya mau terjun sebagai angel investor. Ia menyadari peluang dari perkembangan teknologi di Indonesia. Terutama dari statistik yang ada.

Sandi menyodorkan data tentang penetrasi Internet di Indonesia yang sudah mencapai 88 juta dan pengguna smartphone sudah lebih dari 281 juta, melebihi jumlah penduduk sendiri. Belum lagi, Indonesia menduduki peringkat keempat sebagai pengguna Facebook terbanyak di dunia, sehingga posisi ini sangat diakui di mata pemain digital global. Apalagi, kini konsep Internet of Things pun mulai diminati di Indonesia.

“Selain itu, saya menyaksikan sendiri impact dari peluang teknologi untuk mempermudah gaya hidup dan memberdayakan berbagai lapisan masyarakat,” ujar Sandi kepada The Daily Oktagon.

Dia pun menyebut contoh aplikasi seperti Go-Jek yang telah merevolusi transportasi paling populer di Jakarta. Ingin mengenal transportasi online baru di Jakarta? Baca ulasannya di sini.

Interaksinya dengan berbagai pelaku teknologi pun melengkapi pandangannya mengenai ranah teknologi di Indonesia. Sandi mengaku menjadi sangat tertarik dengan perusahaan teknologi yang disruptive. Menurutnya, perusahaan semacam ini memiliki peluang dan nyali untuk tidak hanya membangun bisnis, tapi juga untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.

“Saya tertantang untuk berinvestasi di perusahaan yang bernyali besar,” ucapnya.

Saatnya Menjadi Pemain

Bermunculnya para angel investor menurut Sandi menjadi peluang agar Indonesia, merujuk pada statistik tadi, tidak hanya menjadi pasar yang besar. Ini pun bisa menjadi pemain berkelas dunia. Arah menuju kesana, menurut dia, sudah mulai terlihat dari menjamurnya berbagai perusahaan teknologi startup berkelas, serta mendukung atau bahkan men-disrupt industri lain.

Sandi menyebut contoh Tiket.com atau Traveloka, yang dengan sukses mempermudah orang untuk bepergian. Sementara e-commerce marketplace tidak hanya mempermudah masyarkat berbelanja, tapi juga mengedepankan pengusaha kecil untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

“Intinya, jika sebuah startup memiliki produk yang bagus, strategi yang jelas dan dapat menawarkan solusi, maka mereka dapat berpotensi untuk menjadi besar,” kata Sandi.

Penggemar olah raga lari ini menilai, umumnya para startup di Tanah Air masih lemah pada faktor sumber daya manusia.

sandi2
Sandi bersama para kolega dan pendiri aplikasi Groceria

“Sayangnya, susah untuk mendapatkan developer berkelas dunia, sehingga ketika startup tersebut menjadi besar dan harus menangani ratusan bahkan ribuan pengguna, seringkali mereka kewalahan,” ujar Sandi.

Akibatnya, tak jarang para perusahaan kemudian merekrut developer dari luar negeri seperti India atau Eropa Timur. Oleh karena itu, Sandi melihat sangat penting untuk mendukung perkembangan startup Indonesia jika ada platform untuk knowledge exchange. Sehingga, developer lokaldapat terus menambah pengetahuan dan mengasah skill agar tidak selalu tergantung kepada tenaga luar.

SDM boleh jadi menjadi salah satu faktor penentu perkembangan sebuah startup. Namun, masih banyak faktor lain yang wajib diperhatikan sebelum memutuskan untuk mendukung sebuah perusahaan. Dia mencontohkan, misalnya akan melihat produknya.

“Apakah produk tersebut memiliki nilai tambahan dari kompetitor mereka?” ucap Sandi .

Yang tak kalah penting adalah tim perusahaan. Sandi mengaku harus mengetahui latar belakang para pendiri dan menilai kelayakan pengalaman dan track record di dibidangnya. Sementara strategi yang kuat dan jelas menjadi hal lain yang diperhitungkan. “Semua ingin menjadi perusahaan yang besar dan berpengaruh, tapi seorang entrepreneur harus memiliki strategi kuat untuk mencapai visi mereka,” ungkapnya.

Sementara itu, sebagai pengusaha lokal, tak serta merta membuat Sandi hanya mendukung startup dengan sentimen nasionalisme. Menurut dia, startup harus dapat memberikan solusi bagi sebuah isu di komunitasnya. Maka secara tidak langsung, ada unsur nasionalisme dibalik itu.

“Tapi, jika mereka memiliki aspirasi untuk go international, mungkin saya akan lebih kagum lagi,” Sandi menambahkan.

Iklim yang Sehat

Investasi ala angel investor memang tak semudah yang terlihat. Menurut Sandi, berbeda dengan venture capital, peran angel tidak hanya sebatas orang yang berani menanamkan dana kepada sebuah perusahaan, namun juga peran mereka sebagai mentor. “Seorang angel investor harus bersedia memberi arahan kepada startup, agar mereka dapat berkembang dan menjadi market leader,” katanya.

Sandi sendiri menilai, PR bagi para angel investor masih banyak, terutama untuk membangun komunitas yang sehat dan industri teknologi secara keseluruhan. “Mungkin banyak pengusaha besar yang menyadari pesatnya perkembangan teknologi di Indonesia, namun mungkin belum sepenuhnya mengetahui potensi ataupun resiko dari berinvestasi di startup“.

shutterstock_321793094Ilustrasi Startup

Sandi berharap, dengan terbentuknya jaringan seperti Angel-eQ, dapat menyebarkan pengetahuan mengenai angel investing dan berkontribusi terhadap ekosistem startup di Indonesia. PR tentu tak hanya menjadi milik para angel. Pemerintah, kata Sandi, juga harus berusaha membangun ekosistem yang sehat bagi industri teknologi di Indonesia.

Dia menyebutkan, pemerintah dapat mengambil contoh dari negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura yang menawarkan insentif pajak bagi para angel investor. “Jika dapat diterapkan, saya yakin pelan-pelan makin banyak individu dengan high net worth yang tertarik menjadi angel investor,” kata Sandi menutup pembicaraan.

Menarik bukan artikel mengenai perkembangan startup dan prospek ke depannya? Baca juga artikel menarik berikut yang dapat Anda jadikan inspirasi, Bagaimana Perkembangan Transportasi Online Menurut Para Pakar?

0 comments